Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

KARENA SAYA PERCAYA FAYA


Kepercayaan, memang harus kita berikan kepada orang lain, selama memang orang lain tersebut dapat kita yakini kapabilitas dan kompetensinya. Jika kepercayaan itu diberikan pada saat yang tepat dan kepada orang yang tepat pula, maka keberhasilan dan kesuksesan adalah hasil yang akan didapat.

Kepercayaan itu pula yang saya berikan kepada anak saya Faya, dan para instruktur flying fox di Kinasih Conference, Resort and Outbound di Caringin, Bogor, kemarin. Ya, salah satu rangkaian acara yang disediakan oleh pihak Kinasih kepada kami --warga komplek rumah dinas-- saat kami mengadakan acara puncak HUT RI ke-63 di sana, adalah kesempatan untuk menjajal asyiknya meluncur dari ketinggian dengan menggantung layaknya kelelawar itu.

Saya tengah bermain futsal ketika istri menelpon.

"Yah, Faya pingin ikut flying fox nih!" katanya dari arena outbound di dekat istal kuda.

"Ya udah, gak papa," kata saya datar. Saya pikir, kenapa tidak. Terus terang, bayangan saya "lari" ke flying fox yang dikhususkan untuk anak-anak, yang biasanya tak terlampau tinggi seperti kami lihat di Taman Bunga Mekarsari.

"Tinggi banget lho, Yah! Naiknya saja 14 meter! Takut ada apa-apa di tengah-tengah...," kata istri saya lagi setengah berteriak.

Empat belas meter? Bayangan saya masih saja "normal".

"Nggak usah khawatir, kan ada petugasnya... tenang saja!" balas saya juga setengah berteriak, beriring dengan nafas yang masih kembang kempis akibat terlalu bersemangat bermain futsal.

Saya tutup telpon. Saya tenang saja. Saya sangat percaya pada kemampuan Faya. Juga kepada kesiapan para petugas berikut segala perlengkapan dan peralatan flying fox, yang saya yakin sudah diuji dan terus dimonitor kondisinya.

Selesai futsal, rasanya kok pingin ke arena outbound ya... Akhirnya, setelah minum teh hangat, saya berjalan ke lokasi flying fox yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat saya bermain futsal.

Dari jauh, telah terlihat kerumunan mereka yang ber-flying fox. Ada juga yang justru berkuda. Semakin dekat, dan demi melihat tingginya "menara" flying fox, Subhanallah!, kata hati saya.

Tinggi sekali! Sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, tak seperti yang selama ini saya lihat untuk anak-anak seusia Faya. Sampai di sana, saya sudah melihat anak saya dalam posisi siap "terbang"!

Wow! Pertama, yang saya bayangkan, bagaimana dia bisa kuat naik tangga besi yang tegak lurus setinggi 14 meter, dengan jarak antar anak tangga yang lebarnya nyaris sama dengan separuh tinggi tubuhnya itu? Beberapa anak yang lebih besar dari dia, bahkan "gugur" dan minta turun ketika mereka belum sampai ke ujung tangga.

Sementara Faya? Ia adalah peserta paling kecil (bayangkan, masih TK lho!) yang berani dan bahkan dengan tenangnya berhasil menapaki rangkaian anak tangga yang tingginya lebih dari 12 kali tinggi badannya tadi! Apalagi jika melihat jarak luncur yang tak begitu panjang. Tak sampai 100 meter. Artinya, kemiringan luncurnya tergolong cukup tajam. Tak ada anak sebayanya yang berani mencoba. Bahkan yang laki-laki sekalipun. Luar biasa.

Hebat! Dalam hati, saya memuji Faya. Bukan karena ia anak saya, jika saya memujinya.

Pada intinya, saya yakin dan kenal betul "tabiat" anak saya yang pertama itu. Jika diberi kepercayaan, maka ia akan maksimal. Tapi, jika kami meragukan, maka hasilnya memang seringkali setengah-setengah.

Dan hasilnya, Faya meluncur dengan sangat sukses, diiringi tatapan mata yang seolah tak percaya dari para orang tua, yang di antara mereka sendiripun, cukup banyak tak berani mencoba.

Begitu menginjak tanah kembali, Faya tersenyum. Tak ada warna pucat di wajahnya. Tak tampak ada ketegangan yang berlebihan.

"Gimana, Kakak? Nggak takut?" tanya saya sambil toast dengannya. Faya menggeleng mantap.

Beberapa saat setelah itu, giliran saya mencoba. Cukup tinggi dan melelahkan untuk mencapai ujung menara, sehingga penghargaan untuk keberhasilan Faya dari saya kembali bertambah. Melihat pemandangan di bawah dari papan berukuran lebih kurang 1 meter persegi di ketinggian 14 meter, saya kira wajar, jika tak semua orang berani melakukannya.

***

Inti yang mau saya sampaikan adalah, berikan kepercayaan kepada orang yang tepat. Faya saya anggap orang yang tepat, karena saya sangat tahu dan yakin akan kemampuan dan keberaniannya. Saya juga berikan kepercayaan yang sangat tinggi kepada para petugas, bahwa ia akan mampu "menyelamatkan" dan mengantar anak saya kepada keberhasilan. Saya juga percaya kepada "sistem", yakni prosedur dan rule keselamatan, sekaligus juga kepada kualitas peralatan yang digunakan.

Bagaimana tidak? "Nyawa" kami tergantung pada mereka. Keselamatan kami seolah kami "serahkan" pada mereka. Saya bisa saja tak percaya kepada mereka. Tapi, jika tak percaya, kami tak mungkin bisa melakukannya sendiri. Dan itu berarti, keberhasilan tak akan pernah hinggap pada kita.

***

Memang, dalam kehidupan ini, banyak hal yang menuntut pemberian kepercayaan dari satu orang ke orang yang lain. Banyak hal yang tak akan mampu kita lakukan sendiri menuju keberhasilan, tanpa melibatkan bantuan dan kerjasama dengan orang lain.

Pada saat itulah, kepercayaan harus kita berikan. Namun bagaimanapun, pastikan kepercayaan itu kita berikan kepada orang yang tepat, dan kepada "sistem" yang benar.

Selanjutnya, usahakan secara maksimal hasil kerja yang berlandaskan kepercayaan tadi. Selebihnya lagi, serahkan pada Yang di Atas. Allah SWT. Tuhan yang Maha Esa.

Jikalau terjadi "kebelumberhasilan", maka itu adalah kehendak Tuhan, yang harus diyakini sebagai jalan terbaik bagi kita. Sangat mungkin, itu adalah rencana Tuhan untuk memberi jalan lain yang jauh lebih baik.

OK?


Salam,

Fajar S Pramono

Notes :
"Penghargaan" saya untuk Faya semakin tinggi, demi melihat "perjuangan"-nya menapaki tangga demi tangga dalam rekaman video yang dibuat ibunya.
"Kakak hebat! Ayah bangga sama Kakak Faya!" kata saya ketika bersama Faya, Fazza dan ibunya melihat rekaman tersebut tadi malam.

[Foto : Faya dan ibunya, setelah "terbang".]

2 komentar:

selamat ya buat ade faya yang udah berani naik flying fox. Kaka Caca baru berani naik flying fox saat kelas 1 SD loh, waktu TK setiap diajakin, selalu takut :)

 

halo kakak Caca.. ternyata enak ya, main flying fox. Kata Ayah, memang nggak perlu ada yang ditakuti kok.

Kak Caca, kapan-kapan kita ketemuan ya...

---Faya---