Selasa, 04 Agustus 2009

INIKAH KE-INDONESIA-AN KITA?


Foto ini kuambil tanggal 03 Agustus 2009 kemarin. Di sebuah tempat yang sedemikian ramai, sesak dengan hingar bingar orang dan kerumunan aktivitas, pada sebuah siang yang terik.

Agustus. Bulan Agustus. Rasanya, sebagai orang Indonesia, kosa kata dan deretan huruf yang membentuk kata "Agustus" itu, segera saja mengingatkan benak akan suatu kemeriahan peringatan kemerdekaan. Kosa kata dan deretan huruf yang --segera saja--mengulik kebangsaan kita. Nasionalisme. Patriotisme. Kepedulian kepada negara. Seberapapun kecilnya. Seberapapun minimalnya.

Lantas, jika pada Agustus ini engkau melihat foto di atas, adakah rasa nasionalisme-mu itu terusik?!

Bendera memang sekedar simbol. Tapi ia adalah simbol negara. Simbol sebuah entitas. Lambang sebuah kedaulatan, dan cermin sebuah kekuatan berdiri sebuah kelompok manusia dalam sebuah negara.

Lantas, benarkah sebegitu koyak Indonesia kita, sebagaimana koyaknya bendera Merah Putih-ku itu?

Kenapa aku berteriak? Karena kuyakin itu bukan simbol tentang betapa heroiknya kita ketika merebut kembali kemerdekaan. Kuyakin itu bukan lambang dari sebuah pengorbanan "seorang Indonesia" yang harus terkoyak-koyak hati dan fisik tubuhnya demi Indonesia.

Kuyakin itu justru simbol ketidakpedulian kita akan negara ini saat ini.

Koyaknya bendera, koyaknya bangsa, yang justru timbul karena ketidakmautahuan kita atasnya. Keapatisan kita untuk peduli padanya.

Jika mengurus bendera saja tak berkenan, apa yang mau kita harapkan dari seorang anggota negara bagi bangsanya? Ketika mengurus hal yang kecil saja kita tak hirau, bagaimana kita mengurus kompleksitas dalam berbagai masalah negara?

Ingat. Semua hal besar adalah akumulasi dari hal-hal yang kecil.

***

Sekali lagi, mari kita pandangi foto di atas.
Sekali lagi, okelah, mari kita sadari bahwa bendera memang sekedar simbol. Okelah, ia memang masih terus berkibar. Lambang sebuah ketegaran dan kekuatan tekad. Mungkin.

Tapi juga sekali lagi, mari kita pikirkan dan yakinkan diri, apakah sekoyak dan selusuh itu Indonesia kita, dan sebegitu tak pedulikah kita semua pada negara ini?

Wallahua'lam.



Salam perenungan untuk Agustus kita,

Fajar S Pramono

Minggu, 02 Agustus 2009

SELALU SAJA HARUS MEMILIIH


Jamak orang bilang, hidup adalah pilihan. Lebih tepatnya : selalu saja ada pilihan dalam perjalanan hidup ini.

Rutinitas perjalanan fisik saya dari rumah ke kantor setiap harinya, menciptakan analogi yang meyakinkan pernyataan tersebut.

Lihatlah. Sejak menetapkan moda jalan yang mau ditempuh --apakah melalui jalan reguler atau jalan tol--, itu sendiri sudah merupakan suatu pilihan. Ketika memilih jalan tol, maka deretan lajur gerbang tol adalah pilihan berikutnya. Apakah kita akan masuk melalui gardu 1, gardu 2, atau gardu 3 misalnya.

Ketika sudah di dalam wilayah jalan tol, pilihan-pilihan terus dihadirkan ke hadapan kita. Mau eksis di lajur 1 yang notabene "lajur lebih lambat", atau mau masuk ke lajur 4 yang notabene "lajur lebih cepat". "Lajur pendahulu".

Logika dan penamaan lajur itu sendiri memang mengisyaratkan kecepatan yang bisa diakselerasi, sekaligus mengisyaratkan panjang pendek waktu yang dapat dilalui. Logikanya, dengan memilih lajur kanan yang merupakan lajur bagi para pendahulu kendaraan lain, maka kita akan sampai tujuan lebih cepat, karena kecepatan kendaraan bisa dimaksimalkan di sana.

Namun, apakah senantiasa demikian hasilnya?

Ternyata tidak. Dalam sebuah rentang tujuan, selalu saja ada pilihan.

Ketika kendaraan di depan kita belum mengoptimalkan laju kecepatan kendaraannya kendati sudah berada di lajur paling kanan, maka kita harus memilih. Mengikuti kecepatan kendaraan di depan kita, atau bergeser lajur untuk mendahuluinya.

Ketika kita memutuskan untuk mendahului dari lajur kirinya, maka sesungguhnya kita sudah menempuh risiko yang lebih tinggi. Pertama, risiko atas "terlanggarnya" peraturan. Karena, peraturan standard berbunyi : dahului kendaraan di depan Anda dari sisi kanan. Kedua, risiko kekagetan seorang pengemudi yang didahului dari sisi kiri. Kalau Anda sering mengemudi, tentu bisa merasakan respon refleks dan keterkejutan otak serta otot tubuh kita yang sangat berbeda dengan ketika kita didahului dari sisi kanan --dalam konteks diserobot tak sopan sekalipun--. Kekagetan ini sendiri berpotensi risiko. Ketiga, risiko akibat laju kendaraan kita yang meningkat. Makin kencang kita berkendara, risiko bergerak linier dengannya.

Tapi, itu adalah pilihan.

Manakala kita sudah mengoptimalkan kecepatan, apakah itu berarti sebuah "garansi" kita akan sampai lebih dahulu di tujuan?

Ternyata tidak pula. Ketika rentang tujuan tersebut menghadirkan beberapa gerbang tol jangka pendek, maka kita kembali dihadapkan pada pilihan gardu. Lagi-lagi, gardu mana yang akan kita pilih sebagai pintu antrian, akan berkontribusi terhadap keseluruhan hasil proses perjalanan ini.

Pernahkah Anda berkendara berkecepatan tinggi, menyalip kanan kiri dan --seingat Anda-- bahkan tak ada yang menyalip Anda, lalu tiba-tiba menyadari bahwa kendaraan-kendaraan yang Anda dahului tadi telah menampakkan bemper belakang mobilnya di depan Anda lagi, yang berarti mereka ternyata sudah ada di depan Anda kembali?

Haha. Anda boleh jengkel, boleh keki, boleh masygul. Ke mana aja Anda selama itu?

Ternyata, pilihan gardu tol lah yang mengkondisikannya. Anda ternyata "salah" memilih gardu tol, karena kebetulan gardu tol yang Anda pilih berantrian lebih panjang. Atau ternyata, pelayanan petugas tol di gardu Anda lebih lambat. Atau ternyata, ada sebuah mobil di deretan antrian Anda yang kehilangan kartu tolnya, sehingga terpaksa berurusan lebih lama secara administratif dengan penjaga pintu tol. Atau deretan pendek yang sudah Anda pilih, ternyata terdiri dari 8 kendaraan, sementara ada deretan yang terlihat lebih panjang, tapi sesungguhnya hanya terdiri dari 4 truk kontainer, sehingga antrian di tempat yang panjang tersebut justru lebih lancar.

Itulah pilihan. Begitu juga di jalan reguler. Jalan reguler yang kini sudah banyak menyediakan lebih dari satu jalur berkendara, menghadapkan hal yang sama bagi kita : pilihan.

Ketika kita berhasil menyalip sekaligus lima sampai enam kendaraan dari lajur sebelah kiri, sekonyong-konyong kita harus "terjebak" dalam stagnasi berkendara karena sebuah angkot berhenti menunggu penumpang di ujung depan sana. Walhasil, lima sampai enam kendaraan yang telah kita dahului tadi kembali mendahului kita dengan kecepatan yang lansam, yang "sopan", dan tak tampak grusa-grusu atau "nafsu" sebagaimana ketika kita mendahului mereka sebelumnya.

Haha. Kembali Anda boleh jengkel, boleh keki, dan boleh masygul.

Itulah pilihan.

So, pilihan ternyata selalu ada di hadapan Anda, setiap waktu, setiap saat, pada setiap jengkal kemajuan dan setiap jengkal proses perjalanan. Keberanian berkendara kencang, kemampuan kendaraan yang dibekali kecanggihan akselerasi, tak selamanya menjamin kecepatan mencapai tujuan. Ia --bagaimanapun-- sekedar item pendukung dan bagian dari ikhtiar kita. Kecermatan memilih justru menjadi bagian penting yang luar biasa menentukan. Sehingga, jangan pernah heran bahwa seorang bapak tua yang tampaknya sudah renta untuk menjadi "pembalap", menggunakan mobil butut yang tampaknya tak layak untuk bisa disebut "mobil cepat", ternyata bisa lebih dulu sampai ke tujuan yang sama dengan kita. Asam garam menentukan pilihan dalam proses perjalanan kehidupan, itulah yang membuat sang bapak menjadi "juara" dan "mengalahkan" kita.

Demikianlah. Kearifan dan ketepatan memilih dalam segala apa di depan kita, itulah intisari perenungan hari ini. Semoga memperkaya dan mencerahkan.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.investment.banten.go.id

Minggu, 10 Mei 2009

BULAN YANG MURAM


(Minggu (10/05/09) dini hari)

Bulan tampak muram//padahal sinarnya penuh//bulat tanpa cacat yang mencecap
Sebuah wajah terlihat buram//padahal dia cantik//padahal dia tampan
Suram pula masa depan//padahal ia ada//padahal dia nyata


***
Lantas, apa yang membuat mereka tampak muram, buram dan suram?

Jangan-jangan, bukan bulan yang muram. Bukan wajah perempuan ataupun laki-laki itu yang buram, dan bukan gambaran masa depan kita yang suram.

Jangan-jangan, kita sendiri yang membuat bulan itu jadi tampak muram, wajah seseorang terlihat lebih buram, dan masa depan kita menjadi bayangan suram yang seram.

+
Bulan yang bersinar penuh dan bulat, tampak muram karena adanya mendung di dekat permukaan bumi. Karena ada awan pekat di atas kita yang menimpali. Jauh dari permukaan bulan itu sendiri.

Kalau begitu, bukan bulan yang sebenarnya muram, tapi karena kita yang membiarkan mendung dan awan pekat menutupi pandangan kita. Sang bulan sendiri, tetap memantulkan cahaya matahari dengan sepenuh hati dan tawa riang gembira.

++
Wajah sang kawan, tak ada yang menampik bahwa ia cantik. Tak ada yang mengelak bahwa ia tampan. Lantas, kenapa terlihat buram?

Ternyata, karena hati kita yang iri, karena ia baru beroleh prestasi. Ternyata, karena hati kita dengki, karena ia lebih banyak dipuji. Sementara kita? Belum tampak prestasi, belum layak dipuji.

Ternyata, wajah mereka menjadi buram, karena tertutup oleh rasa tak simpati yang kita ciptakan sendiri.

+++
Masa depan yang tampak suram, karena kita tak percaya diri menghadapinya. Nasib buruk hari ini, seolah identik dengan nasib di masa mendatang. Padahal ia bisa berubah. Padahal ia bisa diubah.

Masa depan tak ada yang suram, bila kita bisa melihatnya dengan keoptimisan. Jika kita bisa hadapi dengan keyakinan. Keuletan. Kerja keras. Kerja cerdas.

Masa depan yang suram, ternyata tercipta oleh perasaan dan keyakinan yang tak benar oleh kita sendiri. Sementara sang masa depan, sesungguhnya siap memberi kenyamanan dan kebahagiaan.

***
Maka, singkirkan mendung dan awan pekat yang menutupi bulan itu. Buanglah rasa iri dan dengki yang membuat fitnah kejelekan di wajah sahabat itu. Kuburlah rasa pesimis dan ketidakyakinan kita atas masa depan yang gemilang.

Lalu lihat dan rasakan. Sinar sang bulan akan bisa kita terima penuh dalam kehangatan. Wajah semua orang akan terlihat cantik, tampan dan mengesankan. Masa depan, menjadi harapan yang menggembirakan.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://eriek.files.wordpress.com

Senin, 04 Mei 2009

ALASAN


Sebuah inspirasi dari Reader Digest edisi Mei 2009, yang mengutip kata-kata Dr. Daniel T. Drubin :

"Setiap alasan yang pernah saya dengar, masuk akal bagi orang yang membuatnya."

***

Hmm... kecut senyum saya ketika membacanya. Bukan mencibir, tapi justru karena bener banget rasanya. Semua alasan itu masuk akal. Di mata siapa? Di mata si pembuat alasan itu sendiri!

Artinya? Artinya, ya belum tentu masuk akal bagi orang yang lain....

Apakah alasan capek itu membuat orang bisa memutuskan untuk sebuah janji penting yang telah terjadwal sebelumnya?

Bisa, dan masuk akal.

Di mata siapa? Di mata yang buat alasan dong. Lha di mata "lawan janji"-nya, yang telah bela-belain menyiapkan waktu dan bahkan menomorduakan keluarga untuk sementara pada weekend itu? Di mata para penepat janji yang senantiasa berprinsip bahwa janji adalah hutang?

Lalu, kesiangan. Apakah alasan tidur terlampau malam --bahkan masuk kepada dini hari-- bisa menjadi alasan bagi keterlambatan kita ke kantor?

Bisa. Masuk akal? Masuk akal.

Di mata siapa? Ya di mata yang terlambat dong. Lha di mata atasannya yang sangat disiplin? Lalu, ketika dicermati lagi bahwa keterlambatan tidurnya bukan karena lembur pekerjaan ekstra tapi "hanya" karena menuruti hobi nonton bola atau sekedar keasyikan ber-facebook hingga lupa waktu?

Tentu alasan itu menjadi sulit untuk diterima. Meskipun, tetap masuk akal bagi si pembuat alasan.

So, benar sekali kata Dr. Drubin tadi. Alasan, selalu dianggap masuk akal oleh si pembuat, tapi belum tentu bagi orang lain. Terlebih lagi bila ketidaktepatan berkomitmen itu menyebabkan kerugian pada orang lain tersebut.

***

Saya jadi ingat tulisan Mas Fauzi Rachmanto *), seorang pebisnis sekaligus pembaca dan penulis yang baik.

Suatu ketika ia "bicara" tentang CEM. Chronic Excuse Making.

Apa itu? CEM adalah "penyakit" membuat alasan yang kronis. Disebut kronis, karena baginya selalu saja ada alasan untuk sesuatu yang tidak dikerjakan semestinya. Yang laptopnya "sok" rusak-lah ketika diminta membuat laporan, yang nggak ada mobil-lah ketika diminta mengunjungi klien, yang kena macet-lah Senin pagi itu, dan sebagainya.

Bukannya kita bisa ke rental atau menggunaan PC kantor untuk membuat laporan?
Bukannya kita masih bisa memanfaatkan angkutan umum untuk menemui sang klien?
Bukannya kemacetan Senin pagi merupakan sesuatu yang klasik, yang mestinya bisa kita hindari dengan berangkat lebih pagi dibanding hari yang lain?

Seorang pengidap CEM selalu berlindung di balik alasan-alasan, untuk menutupi hal-hal yang tidak mau atau tidak mampu ia kerjakan. Seolah-olah, dengan menyampaikan excuse, maka kewajiban yang harus dilaksanakan sudah terselesaikan. Begitu tegas Mas Fauzi.

***

Lantas, tak bolehkah ada yang namanya "alasan" itu?

Tentu boleh. Ada batasan-batasan tertentu yang memungkinkan sebuah alasan dikedepankan. Kapan itu? Saya sependapat dengan Mas Fauzi, yakni : ketika kita sudah berusaha sampai limit teratas kita pada saat itu. Ketika kita sudah berusaha maksimal. Ketika kita sudah berupaya sepenuh jiwa dan tenaga.

Kalau memang dalam satu wilayah yang kebetulan kita tinggali pada saat itu tak ada rental komputer, tak mungkin menjangkau kantor dalam satu hari perjalanan, tak ada orang lain yang memungkinkan untuk kita pinjami PC atau laptop lain, bahkan tak ada mesin ketik manual, atau memang laporan tersebut tidak memungkinkan untuk dibuat secara manual tangan, silakan ber-excuse.

Kalaulah memang domisili sang klien tidak mungkin dijangkau dengan menumpang mobil lain, memakai sepeda motor, angkutan umum, taksi, atau bahkan dengan ojek sekalipun, silakan ber-excuse.

Kalau kita sudah prepare menjelang Senin pagi, berangkat tidur lebih awal, membunyikan alarm agar bangun lebih pagi, menyiapkan segala sesuatunya sejak Minggu sore dan berbagai persiapan lainnya, lantas kita terhadang kemacetan panjang akibat adanya kecelakaan maut yang membuat kita terjebak di dalam kerumunan massa, di situ mungkin excuse bisa disampaikan.

So, persis seperti yang dikatakan Mas Fauzi. Ada dua"resep" untuk menghindari penyakit CEM ini. Pertama, ingat selalu bahwa excuse tidak dapat menggantikan hasil akhir. Kedua, cobalah sampai limit kita dahulu, sebelum menyampaikan excuse.

Sekali lagi, alasan selalu masuk akal, hanya bagi orang yang membuatnya. Ingat juga, bahwa banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa CEM adalah penghilang kesempatan untuk maju, pembuang peluang untuk menjadi besar, dan penghalang sejati bagi kesuksesan.


Salam,

Fajar S Pramono


*) http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/08/cem.html

Ilustrasi : http://4.bp.blogspot.com

Kamis, 30 April 2009

PROSES


"Mari kita menikmati proses, dan bersyukur!"
Ini ajakan posting kali ini.

***

Perjalanan berangkat kerja yang menciptakan pergantian suasana membuat saya teringat beberapa hal. Satu di antaranya adalah : kebahagiaan menikmati proses. Menikmati langkah demi langkah yang mau tak mau harus kita lalui dalam sebuah pencapaian tujuan.

Perjalanan tol Cawang-Cibitung, misalnya.

Dimulai dari kilometer 0 (nol) di Cawang, terus berjalan ke arah Cikampek, guna menuju sebuah tujuan : exit tol Cibitung, di seputaran kilometer 24.

Tujuan sudah jelas. Yakni, exit tol Cibitung. Perkiraan waktu pun sudah jelas. Lebih kurang, maksimal 30 menit perjalanan santai. Di luar kejadian force majour tentunya. Tekad pun sudah terangkai bulat.

Lalu, mari kita nikmati proses. Tengoklah panduan kilometer yang terpasang pada pagar pembatas antara jalur tol Cawang-Cikampek dan Cikampek-Cawang. Kilometer nol! Dan, perjalanan menuju tujuan pun kita mulai.

Dua ratus meter berjalan. 0/200. Artinya, kilometer ke-0 meter ke-200. Maju lagi, 0/400. Kilometer ke-0 meter ke-400. Artinya, perjalanan kita sudah maju 200 meter lagi. Begitu seterusnya. Kilometer 1. Kilometer 2. Kilometer 3..., 3/400..., 5/600..., 7/800..., 11/600..., terus..., teruuus..., dan terus nikmati perjalanan 200 meter demi 200 meter untuk menuju kilometer ke-24!

Nikmati setapak demi setapak langkah itu...
Sadari betapa menyenangkannya 200 meter demi 200 meter yang bisa kita raih dan kita capai dalam tahap demi tahapnya....
Syukuri kilometer demi kilometer yang telah kita lewati dalam rangka menuju tujuan kita di kilometer 24....
Yakinkan diri bahwa tujuan itu akan bisa kita capai dengan meneguhkan tekad dan pemahaman, bahwa kilometer ke-24 akan kita capai setelah kita lalui 200 meter demi 200 meter..., kilometer demi kilometer..., dan satu demi satu....
Sembari pastikan bahwa ketika kita berhati-hati, tak perlu terburu-buru karena cukupnya waktu pencapaian tujuan, kita akan sampai pada tujuan tersebut dalam waktu yang juga telah diperkirakan. Maksimal, 30 menit!

Nikmat sekali rasanya! Itu yang saya rasakan.

Atau ketika Anda yang tinggal di Jakarta berencana ke Semarang lewat jalur utara Jawa. Nikmati step by step yang pastinya akan Anda lalui. Cikampek, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan seterusnya, sampai ke tujuan akhir di Semarang.

Sesekali, cobalah sandingkan peta kendati Anda tidak memerlukan peta lagi karena sudah sangat hafal jalur yang akan Anda lalui itu. Coretlah kota demi kota yang ada pada jalur perjalanan Anda, satu demi satu, maka Anda akan bisa melihat lebih jelas bahwa, "Oo.. saya sudah menempuh seperempat jarak perjalanan menuju Semarang." Bahwa, "Alhamdulillah, saya sudah menempuh separuh perjalanan dari pencapaian tujuan saya : Semarang." Bahwa, "Puji Tuhan, tinggal beberapa kota kecamatan lagi yang harus saya lalui untuk menuju goal saya : Semarang. Terima kasih, Tuhan..."

Sekali lagi, nikmatilah proses!

Maka setidaknya kita akan punya beberapa hal :

Pertama, kita akan selalu diyakinkan, bahwa proses yang kita lalui adalah benar menuju tujuan yang telah ditetapkan. Ketika perjalanan ini dimulai dari nol dan tujuan kita adalah 24, maka pergerakan mulai dari angka 0, kemudian 1, lalu 2 dan seterusnya adalah sebuah indikasi bahwa kita melangkah maju dan benar.

Namun, jika kita sudah sampai kilometer 14 dan berikutnya kita lihat bahwa kita justru kembali berada pada kilometer 12, berarti ada yang salah. Kita mundur! Lalu, cobalah periksa, apa yang salah? Jangan-jangan kita salah arah? Jangan-jangan perjalanan ini melenceng dari tujuan yang telah ditetapkan? Jika benar bahwa kita salah arah, maka perbaiki langkah kita, dan pastikan kita kembali menuju track yang benar ke arah tujuan.

Kedua, kita akan tahu, sampai di mana kita dalam konteks perjalanan mencapai tujuan itu. Kita bisa gunakan "petunjuk kilometer" tadi sebagai bahan evaluasi jangka pendek.
"Ah, kita masih harus banyak berjuang!"
"Alhamdulillah, sudah separuh lebih perjalanan kita!"
"Tinggal sedikit lagi, maka saya akan mencapainya!"

Kesadaran bahwa kita menuju tujuan yang benar, akan semakin membangkitkan semangat kita dalam mewujudkan tujuan itu. Kesadaran bahwa semakin hari kita semakin dekat dengan tujuan kita, akan memompakan adrenalin luar biasa yang semakin memacu gelora semangat untuk menggapai tujuan.

Ketiga, kesyukuran. Dengan "mengevaluasi" langkah demi langkah dalam perjalanan kita, maka kita bisa merasakan bahwa kasih sayang Tuhan mengiringi perjalanan mencapai tujuan ini. Karena hanya dengan petunjuk dan keridloan-Nya, langkah demi langkah itu bisa kita lampaui. Tak ada 200 meter berikutnya jika Tuhan memang tidak berkehendak untuk kita. Dua ratus meter, sangat cukup bagi Tuhan untuk menghentikan perjalanan kita. Tuhan bisa beri kita kecelakaan. Tuhan bisa beri kita kerusakan mesin. Tuhan bisa beri kita ban yang kempes. Dan sebagainya.

Selalu ada wilayah kekuasaan Tuhan dalam setiap langkah kita. Dan itu adalah hak prerogatif Tuhan! Mau diberikan sebagai ujian, mau diberikan sebagai hukuman, atau bahkan mau diberikan sebagai anugerah, itu rahasia Tuhan.

Intinya, tanpa ridlo Beliau, tak akan ada pencapaian berikutnya.

Gambaran perjalanan di atas, sama sekali tak beda dengan perjalanan hidup kita. Kita punya tujuan, dan sesungguhnya kita punya "peta" tentang apa-apa yang harus kita lalui.

"Pecahlah" tujuan hidup ini dalam sebuah "tujuan-tujuan kecil". Tujuan-tujuan jangka pendek. Kalau tadi kita harus menempuh 24 kilometer, pecahlah tujuan tersebut menjadi "kita harus menuju kilometer 1". Menjelang sampai, tetapkan tujuan jangka pendek berikutnya : kilometer 2. Besyukurlah ketika kita mencapai kilometer 1, dan mulailah perjalanan selanjutnya. Begitu seterusnya.

Melalui tujuan-tujuan hidup jangka pendek yang tetap terkerangka dalam upaya pencapaian tujuan jangka panjang itulah, kita akan bisa menikmati proses, dan mendapatkan --setidaknya-- tiga hal di atas.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.adaevidencelibrary.com

Senin, 13 April 2009

BERKORBAN?


Malam tadi, saya dengar dari Mario Teguh, “Berkorban itu sesungguhnya lebih untuk menambah kemuliaan bagi diri kita sendiri.”

Ia mencontohkan –dalam bahasa saya-- : kalau kita memberikan sebagian harta kita untuk zakat, infaq, sodaqoh, sebenarnya kita justru sedang membayar kewajiban dalam rangka “membersihkan” harta kita, sehingga apa yang kita miliki menjadi barokah bagi kita. Dengan “kesyukuran” yang justru sering salah kaprah kita sebut dengan “pengorbanan” itu, kita berhak menunggu janji Tuhan : bersyukurlah, maka akan Ku-tambahkan nikmatmu.

Lalu, ketika kita “berkorban” untuk anak istri atau keluarga kita, kepada siapa sesungguhnya kebahagiaan itu akan kembali? Tak hanya kepada mereka yang kita “korbani”, bukan? Namun juga pada kita. Bahkan, seringkali perumpamaan seorang tua mengatakan, ”Meskipun kita lapar, betapa bahagianya melihat wajah anak-anak kita yang ceria karena mereka bisa menikmati nasi bungkus yang kita bawa pulang, yang sesungguhnya merupakan jatah lembur kita di kantor....”

Dengan demikian, adakah ”pengorbanan” itu yang sebenarnya?

Saya sepakat, bahwa istilah ”pengorbanan” sejatinya muncul karena adanya negative mindset yang mengatakan bahwa pengorbanan identik dengan sebuah pengurangan. Istilah ”berkorban”, bahkan seringkali mengandungkan sebuah unsur ”keterpaksaan”; betapapun kecilnya.

Jika kita memberikan sebagian rizki kita kepada sesama, maka yang di-mindset-kan adalah harta kita akan berkurang. Jika kita sebagai seorang kepala rumah tangga memberikan waktu dan tenaga kita untuk bekerja demi keluarga, maka kita katakan bahwa kesempatan untuk diri kita sendiri menjadi berkurang karenanya. Jika kita relakan sesuatu yang kita miliki kepada kekasih kita, maka kita menyebutnya bahwa kita telah berkorban untuknya.

Padahal, semua itu adalah ”kewajiban”. Tak ada pengurangan di sana. Siapapun yang memiliki harta dunia, memang diwajibkan menyisihkan sebahagiannya, karena dalam hartanya terdapat hak orang lain. Barang siapa berani mengajak berkeluarga hingga berketurunan, maka kewajibannyalah mencarikan nafkah bagi orang-orang yang kepadanya “dititipkan” kehidupannya. Bagi yang ingin mendapatkan keberlanjutan hubungan cinta dengan sang kekasih, maka wajib baginya untuk memberi dan melindungi.

Jadi, bagaimana kalau kita ganti kata “berkorban” dengan “kewajiban untuk memberi”? Ketika kewajiban itu dimaknai sebagai keharusan yang datangnya dari Sang Maha Pemberi Rizki, Sang Maha Pemberi Nafkah, Sang Maha Pemberi Cinta, maka kita bisa lepaskan unsur keterpaksaan. Serasa tak ada yang perlu ”dikorbankan” di situ.

Kita ini hanyalah ”jalan rizki” bagi orang-orang yang mungkin saat ini sedang kekurangan. Kita ini adalah ”sarana” bagi kenyamanan hidup yang memang telah menjadi ”jatah” dari Tuhan untuk anak istri kita. Kita sekedar ”saluran” cinta kasih dan perlindungan yang memang seharusnya menjadi hak bagi kekasih kita.

Jadi, tak perlu ada pamrih memang.

Kembali kepada konteks bahwa memberi adalah untuk meningkatkan kemuliaan diri, memang seolah ada sesuatu yang ”rancu”. Ketika ketanpapamrihan itu merupakan sesuatu yang akan kembali kepada kita, maka ia semestinya disebut dengan ”ikhtiar”. Upaya. Bukan pengorbanan. Upaya yang disertai dengan sebuah keikhlasan, di mana nantinya akan kita lengkapi dengan kepasrahan.

Ikhtiar untuk apa? Untuk membahagiakan diri kita sendiri, melalui kebahagiaan orang lain. Sekali lagi, melalui kebahagiaan orang lain. Bukan penderitaan orang lain.

Repotnya, saat ini banyak orang merasa bahagia karena merasa berhasil mengalahkan orang lain. Banyak caleg yang merasa begitu senang karena ia berhasil terpilih dan menyisihkan saingan-saingannya, bahkan dalam satu partainya sendiri. Banyak pengusaha yang merasa bahagia karena berhasil membuat bangkrut rival bisnisnya, sehingga ia bisa sendirian berkarya sebagai leader di bidangnya.

Mestinya, si caleg baru bisa berbahagia ketika ia bisa benar-benar mengabdikan dirinya bagi nusa bangsa, dan membuat rakyat di negara ini menjadi makmur sejahtera. Kenapa sih, si pengusaha tidak berbahagia ketika ia justru bisa mengangkat harkat martabat sesama pengusaha untuk bersama-sama menjadi kumpulan pengusaha yang sukses?


Salam perenungan,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://media.photobucket.com

Minggu, 12 April 2009

POTRET


Ketika membolak-balik halaman buku Sangguru; Menyapa Hati-nya Aribowo Suprajitno Adhi (2009), saya terpancang pada sebuah grafis ilustrasi beserta esai penjelasannya.

Ilustrasi berupa gambar seorang ibu yang berjalan terbungkuk-bungkuk karena membawa beban berat berupa tumpukan tinggi kardus bekas di punggungnya. Sekilas, kita akan sampai pada kesimpulan yang nyaris sama : ibu itu seorang pemulung, yang hidupnya berkesusahan.

Namun, esai penjelasannya bertuliskan kalimat yang sangat bijak : jika kita hanya melihat gambar tersebut, maka bisa jadi yang muncul adalah rasa kasihan, dan hidup si ibu yang tampak tak bahagia. Tapi, kesan ini bisa sangat lain ketika pada sore hari kita melihat sang ibu bersuka cita, bercengkerama bersama keluarganya. Hanya kebahagiaan dan kesukacitaan yang nampak pada keluarga itu, lepas dari kondisi ekonominya yang mungkin morat marit, karena kebahagiaan sesungguhnya memang tak selalu hadir seiring sejalan dengan kelimpahan materi.

Itu satu pelajaran.

Pelajaran kedua, berasal dari "kesimpulan" yang penulis buku itu sampaikan.

"Setiap potret atau snapshot kehidupan tidak bisa menjadi kesimpulan hidup yang kita jalani," tulisnya.

Benar juga! Kita tidak bisa memandang keseluruhan hidup si ibu tadi hanya dengan satu jepretan dan satu kali pandangan saja. Kita mungkin saja tak tahu, bahwa prosentase kebahagiaan dalam hidupnya selama 1 x 24 jam jauh didominasi kebahagiaan daripada "penderitaan" yang terlihat kasat mata.

Bahkan, apa yang terlihat kasat mata itu pun bisa jadi salah. Benarkah si ibu sangat merasa terpaksa ketika menjalani "ritual"-nya berupa mengumpulkan kardus bekas sebagaimana pemulung lainnya, dan lantas kemudian menjualnya kepada pengepul barang bekas? Sangat bisa jadi kita salah.

Ketika menyadari bahwa perjuangan mencari nafkah adalah sebuah ibadah dan konsekuensi untuk membahagiakan keluarga, maka seseorang akan bisa dengan sangat bahagia melakukannya. Ada keikhlasan di sana. Ada kerelaan yang menguatkan di sana.

So, bahagia tidaknya hidup seseorang, tak bisa kita lihat dari sepotong potret kehidupannya saja. Terlebih lagi, jika potret itu adalah potret dua dimensi yang tak mampu menjelaskan seperti apa isi hati obyek jepretan itu.

Selain tak bisa menjelaskan "dimensi ketiga", sebuah potret juga sekedar merupakan potongan suatu fase dalam kehidupan ini.

Ketika dalam potret itu kita terlihat kurus, apakah akan selalu demikian sepanjang hidup kita?

Ketika sebuah "potret" menggambarkan kesusahan hidup Anda di masa lalu, apakah potret itu akan selalu sama dengan gambaran Anda yang saat ini sudah hidup layak dan mapan secara ekonomi?

Sebaliknya, apakah ketika dalam potret masa lalu kita yang terlihat penuh kemakmuran, juga akan senantiasa terlihat samakah dengan potret kita saat ini?

Belum tentu.

Potret juga hanyalah sebuah penggalan episode kehidupan, yang tak bisa disimpulkan akan menjadi gambaran kondisi kita sepanjang waktu kehidupan.

Banyak contoh kasus yang menunjukkan hal tersebut.

Seorang sahabat --Hendrik Lim-- berkisah dalam bukunya rehat dulu lah... (2007). Ia memiliki seorang kawan yang ter-PHK berkali-kali, namun justru menjadikannya semakin sukses.

Dari sebuah perusahaan pembiayaan yang tak terlampau besar, si kawan ter-PHK akibat krisis moneter. Terpaksa ia menganggur. Namun, dari pesangon yang tak terlampau mengecewakan, justru ia mampu melunasi kredit kepemilikan rumahnya.

Akhirnya ia masuk ke sebuah bank milik Bakrie Group. Beberapa tahun kemudian, bank tersebut terpaksa diserahkan kepada BPPN. Si kawan pun terpaksa menganggur kembali. Namun, ajaibnya, pesangonnya sangat manis, sehingga si kawan ini justru bisa melunasi kredit mobilnya.

Nasib baik terus berpihak. Ia termasuk yang direkrut oleh BPPN, dengan status pekerja kontrak lima tahun. Ketika BPPN dilikuidasi oleh pemerintah, ia kembali menerima pesangon yang menggembirakan. Ia bahkan pindah rumah ke sebuah kawasan yang jauh lebih elite.

Nasib baik terus menaungi si kawan ini. Dari BPPN, ia termasuk orang yang direkrut sebagai staf ahli PPA, lembaga "penerus" BPPN. Saat ini, olah raganya sudah berganti menjadi golf, mobilnya sudah berganti menjadi Mercy. Padahal ketika di perusahaan pertama, ia terpaksa lebih banyak naik ojek!

Jadi, tak ada kesimpulan yang bisa dibuat dengan satu snapshot saja. Satu kepingan puzzle, tak bisa menggambarkan seperti apa gambar utuh puzzle tersebut.

Tentu kita punya banyak contoh di sekitar kita. Baik tentang orang yang "tak terlihat sebagaimana dia terlihat" --seperti ibu tadi--, ataupun seseorang yang berubah nasib secara signifikan dalam hidupnya --seperti kawan rekan Hendrik Lim tadi--.

Sekali lagi, jangan pernah menyimpulkan apapun, hanya dari selembar potret saja. Ada rahasia dan kekuatan Tuhan di sana.


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi ; http://www.swaberita.com

Kamis, 09 April 2009

MENGALAHKAN DIRI SENDIRI


Kalaulah ada pertanyaan : diri kita sendiri ini, musuh ataukah sahabat?

Kalau kita sering mendengar anjuran, "Cobalah bersahabat dengan diri Anda sendiri", apakah itu berarti pada suatu ketika diri kita ini adalah "musuh" kita sendiri? Mungkinkah kita bisa bermusuhan dengan diri kita sendiri?

Jika sekedar menjawab pertanyaan yang secara harfiah membingungkan itu, kita pasti akan bingung juga. So, mungkin hal itu lebih enak kalau diperjelas dengan contoh.

Ketika kuliah, saya indekost. Demi melihat seorang teman kost --kebetulan si teman ini masih kelas 3 SMA-- tak pernah mau belajar, bahkan terus saja menuruti keinginannya untuk bermain, nonton, dan sebagainya meskipun dalam waktu sangat dekat akan menghadapi ujian akhir, saya heran. Padahal juga, "historikal" hasil pendidikannya selama kelas 1 sampai dengan kelas 3 tidak pernah menunjukkan prestasi yang boleh dikata baik.

Pada akhirnya, saya menulis sebuah esai sederhana, yang ketika iseng saya kirim ke Harian Suara Merdeka, dimuat di rubrik "Esai Lepas" pada tanggal 25 Mei 1997. Judulnya sama dengan judul posting kali ini : Mengalahkan Diri Sendiri.

Dalam esai itu, saya mengatakan bahwa ada satu hal yang seringkali sangat berat untuk kita jalani, yakni yang saya sebut dengan "mengendalikan keinginan, kehendak dan nafsu untuk melakukan sesuatu, yang sekiranya akan menghambat cita-cita."

Dengan contoh kasus teman saya di atas, saya katakan bahwa teman tersebut tidak bisa mengalahkan keinginan untuk terus bermain yang tak bermanfaat, nonton yang semestinya bukan kebutuhan pokok atau minimal bisa ditunda terlebih dahulu, padahal kegiatan yang pada akhirnya dipilihnya itu bisa jadi membuat dia gagal dalam ujian akhir sekolahnya. Ketika itu gagal, maka sebuah cita-cita yang saya yakin sebenarnya ada tercetak dalam benak dia, akan terhambat pencapaiannya, atau bahkan sama sekali hanya jadi mimpi di siang bolong.

So, dalam case tersebut, saya mengatakan bahwa teman saya tadi belum bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk sesuatu yang jauh lebih penting. Pendek kata, ia belum bisa mengalahkan dirinya sendiri.

***

Saya kembali tersentak oleh pentingnya kesadaran itu ketika dini hari tadi saya mulai membaca buku The Last Lecture (Pesan Terakhir) karya Randy Pausch. Seorang profesor di Carnegie Mellon University, yang dibantu Jeffrey Zaslow --kolumnis di Wall Street Journal-- dalam penulisan bukunya itu.

Pausch, divonis bahwa usianya tinggal 6 bulan. Itu akibat kanker prankeas yang dideritanya. Ada sepuluh tumor yang menghinggapi levernya. Tapi lihatlah apa yang ia perbuat dalam "jatah hidup"-nya yang tinggal sedikit itu. Ia sama sekali tidak menyerah, dan justru mampu memanfaatkan waktu yang sempit itu menjadi sebuah prestasi yang luar biasa, yang membuat hidupnya jauh lebih baik, dan bahkan menginspirasi banyak sekali orang di dunia ini.

Poin utama yang saya peroleh adalah : Pausch tidak pernah menyerah, dan tidak pernah mau "mengalah" pada dirinya sendiri.

"Meski mudah saja kalau saya mau mengasihani diri, itu tidak ada baiknya untuk mereka, termasuk diri saya," kata Pausch.

"Mereka" yang dimaksudkan dalam kalimat Pausch tadi adalah istri dan ketiga anaknya.

***

Ada banyak cerita yang nyaris serupa, bahwa prestasi terbaik seringkali diperoleh justru dalam kondisi yang penuh keterbatasan.

Beberapa kisah pernah saya angkat dalam posting-posting saya. Kisah Ryan Farrington, seorang pelari muda Inggris yang sesungguhnya menderita distonia (posting tanggal 29/12/2008); Natalie du Toit, perenang maraton asal Afrika Selatan yang hanya memiliki satu kaki. Juga Maarten van der Weijden, perenang Belanda yang memperoleh emas dalam nomor renang 10 km maraton di Olimpiade Beijing 2008, yang sesungguhnya adalah penderita leukimia akut sejak 2001 (posting tanggal 23/08/2008).

Pertanyaan bagi kita semua : apakah kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri ini baru akan muncul dalam keadaan "terpaksa" ataupun dalam kondisi penuh "keterbatasan"?

Semestinya tidak. Jika dalam kondisi yang serba terbatas saja mereka bisa menorehkan prestasi dengan cara mengalahkan dirinya sendiri, kenapa kita yang relatively lebih lenjustru tidak bisa?

Bukankah ketika tidak ada kungkungan keterbatasan, dan di sisi lain kita mampu mengalahkan diri sendiri, maka hasil yang bisa diharapkan menjadi lebih tinggi?

Namun kawan, inilah yang banyak terjadi. Kesyukuran atas keserbaadaan kita justru seringkali tidak kita ungkapkan dalam bentuk maksimalitas usaha. Maksimalitas untuk mengatasi keinginan negatif, yang bisa mengalahkan kebutuhan positif.

So, kesimpulannya, diri kita sendiri bisa menjadi "musuh" ataupun "sahabat".

Lalu, kapan diri kita menjadi "musuh" bagi diri kita sendiri?

Tentu, ketika keinginan negatif kita yang jelas-jelas mampu menghambat pencapaian cita-cita kita, justru mendapat tempat yang lebih layak dan mendapat pemenuhan yang lebih maksimal dibanding kebutuhan positif yang menjamin pencapaian cita-cita tersebut.

Jadi, mau kita tetapkan sebagai apakah diri kita sendiri? Sebagai sahabat, atau sebagai musuh?

Mari belajar dari mereka.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : Randy Pausch bersama istri dan ketiga anaknya (http://a.abcnews.com)

Selasa, 07 April 2009

PEDOMAN LENGKAP KULINER JOGJA


Judul : Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja
Penulis : Suryo Sukendro
Penerbit : Media Pressindo, Yogyakarta
Terbit : Cetakan I, 2009
Tebal : iv + 123 halaman


Dunia wisata kini telah berkembang ke arah wisata kuliner. Jika dulu hanya lokasi dan obyek wisata berdasarkan keindahan atau keunikan alam yang dikunjungi, kini wisata bersama berdasarkan keunikan dan kekhasan makanan di sebuah daerah laris dilakukan dan mampu ”dijual” oleh para pemandu wisata.

Bersamaan dengan itu pula, semakin banyak muncul literatur-literatur berbasis makanan ataupun keunikan makanan dari suatu daerah tertentu. Bandung, Surabaya, Solo dan Jogja merupakan salah sedikit dari banyak daerah lain di Jawa yang memiliki kekhasan dan bahkan ”keagungan” suatu jenis makanan. Di luar Jawa, tentu kita tak dapat menafikan kegairahan wisata kuliner di Makasar, Manado ataupun Medan.

Di antara deretan literatur berupa buku petunjuk wisata kuliner, buku Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja ini hadir. Buku yang ditulis Suryo Sukendro ini melengkapi beberapa literatur lain yang telah mengangkat kesohoran makanan asli Jogja, seperti Wisata Jajan Yogyakarta yang diterbitkan oleh Intisari, atau minimal berupa Katalog Kuliner Jogja yang digagas KABARE Magazine. Itu belum termasuk berbagai buku lain yang isinya merupakan ”kolaborasi” berbagai makanan khas berbagai daerah di luar Jakarta.

Apa sebenarnya manfaat yang bisa diambil oleh kita –terutama orang Jogja sendiri? Pertama jelas, ini adalah wahana promosi ”gratis” bagi para pengusaha kuliner di daerah bekas Kerajaan Mataram ini. Tak hanya itu, kehadiran buku kuliner ini serta merta memercikkan keinginan untuk sekaligus mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal masih sangat kental nuansa kerajaan dan budaya Jawa-nya.

Kedua, buku-buku seperti ini merupakan tour guide yang sangat efektif. Apalagi dalam beberapa literatur di atas, disertakan pula peta-peta lokasi di mana obyek wisata kuliner itu berada. Khusus untuk buku terbitan Media Pressindo ini, guidance-nya jauh lebih lengkap. Selain denah lokasi untuk masing-masing obyek, ia juga memuat daftar jalur bis di Jogja, jalur dan halte bus Trans Jogja, jadwal kereta api serta pesawat dari dan menuju Jogja, daftar hotel, bahkan nomor-nomor telepon penting di kota pelajar ini.

Dengan ukuran buku yang tak terlampau besar dan tak terlampau tebal, maka buku ini bisa benar-benar digunakan sebagai buku saku wisata Yogyakarta.

Manfaat ketiga, buku semacam ini bisa berperan sebagai salah satu pelestari kebudayaan dan kekhasan makanan Jogja. Sebab, tak mudah bagi siapapun untuk bisa mempertahankan kekhasan makanan daerah di manapun, terlebih lagi jika harus bicara tentang generasi yang mau tak mau harus berganti.

Ingatan ataupun memorabilia sebagaimana dimunculkan oleh buku semacam ini tentu sangat membantu bagi generasi penerus untuk bisa terus menciptakan nuansa nostalgia tanpa harus tertinggal oleh gerak roda jaman yang semakin modern. Karena perlu diingat, bahwa kekhasan tidak hanya sekedar muncul dari rasa khas makanan itu sendiri, tapi juga nuansa asli yang melingkupi kesehariannya.

Khusus buku ini sendiri, kekomplitan data juga muncul dari kejelian penulis untuk mengangkat beberapa makanan khas yang belum dimunculkan beberapa buku sebelumnya. Seperti enting-enting gepuk cap Macan, geplak, jadah tempe, lumpia nyamleng, juga yangko.

Secara keseluruhan, buku ini akan mampu menjadi pegangan para wisatawan, ataupun bacaan bagi mereka yang ingin sekedar bernostalgia dengan kota Jogja. Sayangnya, foto-foto yang ada tidak ditampilkan secara berwarna. Padahal, sebagaimana produk fashion, keindahan fotografi dan ”pewarnaan” makanan dalam sebuah ”daftar menu” sangat mempengaruhi selera para pembaca dan calon penikmatnya.


Salam buku,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : hasil scanning

Minggu, 05 April 2009

PROVOKASI UNTUK (CALON) POLITISI


Judul : Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!
Penulis : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Penerbit Mizan, Bandung
Terbit : Cetakan 1, Maret 2009
Tebal : xxiv + 130 halaman


“Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema : ‘Jauhi politik’. Dengan subtema ‘Kerja! Kerja! Kerja!’.
Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa Negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet.”


Itu kata-kata Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group pada sampul belakang buku The MarkPlus Festival karya Hermawan Kartajaya (JP Books, 2008).

Rupanya, provokasi untuk (calon) politisi tak hanya dikampanyekan oleh Dahlan Iskan. Terbaru, seorang Arvan Pradiansyah –public speaker, motivator, kolumnis, penulis buku best seller, yang kini menjabat sebagai Managing Director dari sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang SDM, kepemimpinan dan life management—mengkampanyekan hal yang sama.

Tak tanggung-tanggung, ia mensosialisasikan provokasinya secara lugas dan tanpa tedheng aling-aling dalam buku terbarunya : Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!

Ada yang berbeda dengan buku Arvan kali ini. Arvan yang biasanya bertutur secara lembut, santun dan bahkan cenderung ”berbunga” dalam pemilihan kata dan kalimat dalam empat bukunya sebelum ini –You Are a Leader, Life is Beautiful, Cherish Every Moment dan The 7 Laws of Happiness--, kali ini terlihat cukup ”emosional”.

Dimulai dari pilihan judul, ia sudah tampak berani dan seolah ”menantang” sebuah arus yang jelas-jelas tengah bergerak ke hilir tertentu : Pemilihan Umum. Baik itu Pemilu Legislatif yang dilaksanakan 9 April 2009 ini, maupun pemilihan presiden yang akan diselenggarakan sesudahnya.

Provokasi Arvan juga langsung mengemuka demi melihat pilihan judul bab yang menohok para (calon) politisi. Lihatlah di antaranya : Jadi Caleg, Buat Apa?; Poli + Tikus; Penyakit Politisi Kita : AIDS; Saya Tidak Akan Mau Jadi Politisi; Kepentingan Rakyat? Hareee Geneee...; Kita Lebih Beruntung daripada Politisi; dan Kalau Mau Kaya, Jangan Jadi Politisi!
Sebagai ”pakar” kebahagiaan, tentu Arvan tak lupa untuk membahas case yang diangkatnya kali ini dari sudut pandang Laws of Happiness, dalam bab Politik vs Kebahagiaan.

Kapan politisi merasa berbahagia? Menurut Arvan, pertama, ketika lawan politiknya mengalami masalah. Kedua, ketika mereka mendapat keberuntungan dan kemenangan. Sebaliknya, ada dua hal pula yang tidak membahagiakan bagi politisi. Pertama, ketika lawan politiknya menang, dan kedua, ketika mereka mengalami musibah.

Kesimpulannya, rumus kebahagiaan bagi para politisi adalah : (1) susah kalau melihat lawan politik senang, dan (2) senang kalau melihat lawan politik susah.

Padahal, kata Arvan, kebahagiaan karena alasan yang ”buruk” pada dasarnya bukanlah kebahagiaan. Ketika Anda berhasil korupsi, apakah Anda berbahagia? Ketika Anda berselingkuh dan rumah tangga tetap utuh, apakah itu kebahagiaan?

Bukan. Itu adalah kesenangan. Dan kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan. Dalam bab tersebut, Arvan menunjukkan perbedaannya.

Kelugasan Arvan juga tampak pada sinismenya tentang janji para politisi untuk sesegera mungkin berjuang untuk rakyat begitu mereka terpilih sebagai legislator. Ia sangat yakin, bahwa dengan pola kampanye yang jor-joran dan menghabiskan begitu banyak ”modal” sebagaimana tampak pada kampanye di negeri ini, maka diyakini akan ada sebuah ”perjuangan lain” sebelum para politisi itu benar-benar bekerja untuk rakyat. Apa perjuangan lain itu? Yakni, berjuang untuk mengembalikan ”modal” yang telah dikeluarkannya sebelum terpilih.

Sebuah logika yang sangat sederhana. Sebuah paradigma bisnis yang mendasar. Dus, kasus Al Amin Nasution, Yusuf Emir Faisal, Agus Tjondro ataupun Abdul Hadi Djamal adalah buktinya.

Tentang intisari politik itu sendiri, Arvan mengatakan, rumus dalam politik hanya satu : kepentingan. Dalam politik, memang tak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan politik. Padahal, semestinya yang abadi dalam kehidupan ini hanya satu : Tuhan. Sehingga, kalau para politisi menganggap kepentingan adalah keabadian, maka kepentingan sesaat telah menjadi Tuhan bagi para politisi tersebut. Dan ini adalah kesalahan yang mendasar!

Masih menurut Arvan, semestinya lembaga legislatif diisi oleh orang-orang profesional dalam bidangnya. Namun, demi melihat kondisi legislatif yang lekat dengan berbagai kepentingan yang pada akhirnya harus mengorbankan profesionalisme, para profesional itu lebih memilih berkarir di dunia swasta, di mana mereka benar-benar mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya secara obyektif.
Ketika para profesional itu memilih tidak masuk ke DPR atau DPRD, lantas siapa yang masuk ke sana? Silakan Anda jawab sendiri, kata Arvan.

Masalahnya sekarang, apakah sebegitu buruknya insan politik di negeri ini? Apakah di antara sebegitu banyak politisi tak ada politisi yang baik?

Kalau itu ditanyakan pada Arvan, maka ia akan menjawab tegas : ya. Lalu, insan-insan yang senantiasa ”bersih” dan senantiasa concern terhadap kepentingan rakyat, disebut apakah mereka?

Arvan tak menampik, tetap saja ada insan perpolitikan negeri yang baik. Namun, mereka itu bukanlah politisi. Mereka itu adalah negarawan, yang bagi Arvan, sangat berbeda –bahkan berlawanan– dari ”sekedar” politikus.

Membaca provokasi Arvan, kita disadarkan pada masih banyaknya kebusukan-kebusukan perilaku –bahkan prinsip hidup—yang berkelindan dalam gerak langkah politisi negeri ini. Sinis, bahkan sarkastis memang, apa yang dikatakan Arvan. Tapi, menurut saya, semua itu sangat bagus sebagai bahan perenungan untuk siapapun yang yang berniat untuk tampil dalam panggung politik.

Arvan juga mengingatkan kita, bahwa ketika kebahagiaan jangka panjang menjadi salah satu goal (tujuan) dalam hidup ini, maka ada berbagai permasalahan yang harus kita pikirkan lebih jauh, daripada sekedar mencari kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu dan sementara. Toh, dunia politik bukanlah dunia yang harus dijauhi, jika memang ia dijalankan dalam konteksnya yang baik dan bermartabat.

Sebagai sebuah provokasi, saya rasa pilihan bentuk tulisan yang lugas dari Arvan ini merupakan pilihan yang tepat. Sebuah pilihan, yang justru bisa memperjelas penyadaran-penyadaran dasar yang seharusnya dimiliki oleh siapapun kita. Baik yang apolitis, sekedar pengamat, maupun mereka yang sudah telanjur masuk dalam pusaran politik.


Salam buku,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : hasil scanning