Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

PERGESERAN MINDSET


Sampai dengan saat ini, keluarga besar saya (dari garis keturunan bapak ibu saya), seolah (masih) ditakdirkan jadi pekerja. Bapak dan (almarhumah) ibu adalah guru. Pendidik. Anak pertama (kakak) kerja di BUMN terbaik versi Majalah Investor tahun 2007. Anak kedua alias saya kerja di The Best Bank kategori bank pemerintah tahun ini versi majalah yang sama. Anak ketiga kerja di perusahaan otomotif terkemuka, tak tahu rangking berapa di negeri ini. Anak keempat kerja di salah satu perusahaan multifinance terbesar juga. Bukan narsis, tapi Alhamdulillah.

Inti yang mau dikemukakan adalah : kami (masih) merupakan keluarga pekerja.

Tapi, beberapa tahun belakangan ini ada yang cukup menyenangkan menurut saya.

Apa itu? Kakak saya, saya sendiri dan juga adik saya hingga saat ini terus "kebingungan" mencari kegiatan sekaligus sumber penghasilan lain, tapi bukan dalam konteks sebagai pekerja. Ya, kami semua mempunyai keinginan yang sama : membuka usaha! Artinya, ada pergeseran mindset dari kami --anak-anak dalam trah Soepardino-- untuk memiliki aktivitas di kuadran B-nya Robert Kiyosaki.

Bukan apa-apa. Lingkungan masa kecil kami, tetangga-tetangga sekitar kami, hampir seluruhnya merupakan pekerja. Sebagian besar adalah guru. Hanya ada satu profesional (dokter), tapi si dokter pun tak sempat lama tinggal, digantikan (lagi-lagi) pekerja BUMN.

Saudara-saudara kami, baik dari Bapak maupun Ibu, yang masing-masing tak kurang dari "setengah lusin bersaudara", semuanya adalah pekerja.

Jadi, bisa Anda bayangkan, pola pikir dan karakter seperti apa yang membentuk kami hingga dewasa.

So, pergeseran pemikiran ke arah wirausaha adalah suatu prestasi tersendiri untuk keluarga kami. Alhamdulillah, beberapa unit usaha saat ini telah saya dan kakak miliki. Belum besar memang, tapi kami optimis akan menjadi besar.

Adik-adik yang kesemuanya bekerja, saat ini sedang merintis dengan melakukan layaknya feasibility study tentang jenis usaha yang menjadi minatnya. Yach, memang begitulah. "Otak kiri" kami memang tetap saja berjalan, kendati sudah banyak yang bilang, bahwa untuk memulai usaha, gunakan otak kanan!

Tapi, bagi kami it's okay. Bagi kami, berani tidak sama dengan nekat. Apalagi dengan sumber dana alias modal yang terbatas. Berani, adalah melangkah dengan pertimbangan. Nekat, adalah melangkah tanpa perhitungan.

Bagi kami, ini bukan sekadar "pembenaran", karena kami telah membuktikan untuk take action. Salahkan kami jika kami hanya berpikir, tanpa pernah berani take action.

Kami ingin menjadi orang yang berani. Otak kanan kami wajibkan untuk berfungsi, tapi jangan pernah tinggalkan otak kiri.

Kami punya prinsip seperti itu. Mungkin Purdie E Candra, Bang Jay (Zainal Abidin), Chairussalim, Budi Utoyo atau siapapun para penggerak pengusaha dengan "cara gila", tak akan setuju.

Tapi, inilah kami saat ini. Mungkin kami salah, tapi kami yakin masih benar. :)

So, please, beri masukan kepada kami.


Salam,

Fajar S Pramono

mimpi hari ini : PERPUSTAKAAN PRIBADI


Swear, saya selalu merasa... gimana gitu, jika melihat konsep-konsep pembuatan perpustakaan pribadi. Bukan perpustakaan besar milik pribadi yang mungkin bisa menyamai perpustakaan daerah atau bahkan nasional. Cukup perpustakaan kecil di rumah, yang menampung buku-buku koleksi sekaligus kesukaan saya dan keluarga.

Sebuah ruangan yang rapi, lengkap dengan buku-buku yang mudah dijangkau, disusun secara sistematis sehingga buku-buku itu mudah dicari, mudah dikelola, lengkap juga dengan kursi santai yang nyaman untuk membaca, meja unik dengan LCD besar yang selalu terkoneksi internet di atasnya, beberapa buah lampu baca untuk berbagai posisi baca, sirkulasi udara yang sangat lancar baik dalam konsep ber-AC maupun ber-AJ ("Angin Jendela"), kulkas kecil untuk menyimpan dan mendinginkan beragam minuman favorit, kalau perlu sekaligus pemanas air dan microwave ketika raga ini justru menginginkan asupan makanan dan minuman yang hangat. Juga terdapat perangkat audio visual yang mampu mengalirkan suara dan gambar yang berkualitas. Ah!
(ini bikin perpus ato bangun rumah? --red)

"Gairah" itu muncul lagi manakala ada ulasan mengenai "Merancang Perpustakaan dalam Rumah" di Harian SINDO, Selasa 29 Juli 2008. Hari ini saya juga sempatkan waktu untuk browsing gambar-gambar mengenai personal library di internet. Makin "greng" saya.

Saya pingin sekali segera merealisasikannya, sesederhana apapun. Jelas, masih akan sangat jauh dengan gambaran yang panjang lebar dan tinggi tadi.

Kebetulan saja, sejak minggu lalu ada satu ruangan (lebih tepatnya : kamar) yang kosong karena adik ipar yang sebelumnya ikut kami, balik ke kampung. Seminggu ini, tak ada fungsi apapun dari ruang itu, kecuali tempat menyimpan beberapa barang.

Mungkin nggak ya? Sanggup nggak ya, saya "menyulapnya" menjadi perpustakaan? Ah, tampaknya mesti melalui banyak pembahasan : biaya "renovasi", pengadaan rak-rak baru, instalasi mekanikal elektrikal... ah! Mimpi kali ya?! (dasar otak kanan! Hehe... --red)

Apalagi jika ingat, kalau rumah yang saya tempati sekarang adalah rumah dinas! Hahaha...

Tapi, sisi hati yang lain bilang, kenapa tidak?

Tak tahulah, mana yang akan saya kerjakan. Menyulapnya, atau tidak berbuat apa-apa.

Lalu, kenapa cerita di blog kalau tidak mau berbuat apa-apa?

Hehe.. setidaknya ini curhat. Biar saya malu. Kalau malunya dipikirin, siapa tau jadi mau berbuat. Hehehe...

Atau, ada yang punya masukan buat saya? Please...


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : http://i22.photobucket.com

ISTRI SAYA MULAI MENULIS


Minggu sore kemarin, selepas saya pulang dari kondangan bersama teman-teman kantor, saya mendapat "sambutan" dari istri, "Yah, Bunda berhasil menulis lebih dari dua lembar!" (Bunda adalah panggilan istri saya dalam keseharian di keluarga kami --Red)

Saya sempet bengong. "Tadi mau Bunda cetak, belum sempat. Kakak nggak sabar mau main game..." lanjutnya, "curhat".

"Dibaca ya, Yah!" tambahnya lagi.

Saya baru ngeh. Rupanya Bunda berhasil membuat sebuah artikel di komputer. Bukan di komputernya yang merupakan "keberhasilan" itu, tapi "dua lembar" itulah kata kunci-nya.

Ya, saya ingat sekali --entah berapa kali-- istri saya bercerita bahwa "mengarang" adalah salah satu hal yang paling sulit untuknya. Mungkin lebih baik disuruh membersihkan kelas seharian daripada harus membuat karangan atau tulisan. Terlalu hiperbolik kaleee... hehe.

Kalau membaca, saya akui kemauan bacanya luar biasa, kendati hanya terbatas bacaan yang girly, beraroma gosip dan kriminal, surat pembaca, dan novel. Khusus untuk novel, speed reading istri saya menang jauh dibanding saya. Novel yang saya harus selesaikan dalam beberapa hari, bisa ia lahap semalam saja. Luar biasanya, ia tetap bisa menceritakan isi novel itu secara detail.

Saya yang sering heran. Tapi saya menemukan sebuah hipotesa pembenaran (ini mah sekadar excuse... hehe) kenapa kecepatan baca saya untuk novel kurang begitu bagus : yakni karena saya terlalu memperhatikan gaya bahasa pengarang, dan selalu membayangkan "darimana ya, si pengarang kepikiran ide ini", "apa yang dipikirkan penulisnya ya, kok ceritanya dibelokkan ke arah sini, dikembangkan dengan bunga cerita yang begitu", juga "bagaimana bentukan genre bahasa khas si pengarang, bagus tidak struktur kalimatnya", dan sebagainya. Sementara, istri saya benar-benar fokus ke jalan cerita. Titik. Sehingga, bagian-bagian "tak penting" seperti bunga-bunga kalimat atau tambahan data mengenai suatu setting daerah misalnya, tak terlampau penting baginya. Yang penting, karakter dan kisah yang hinggap pada tokoh-tokoh cerita.

Meskipun sekadar excuse, tapi hal itu terbukti ketika ia harus membaca artikel-artikel yang cukup "serius". Berkebalikan, kecepatan baca saya jauh di atas dia. Nah, rupanya memang benar, salah satu penentu kecepatan baca ternyata memang minat akan tema tulisan.

Karena itu juga, istri saya termasuk salah satu orang yang paling sulit saya minta membaca karya-karya saya yang "sok serius" itu. Beberapa kali saya minta dia untuk membaca tulisan saya sebelum saya kirim. Tapi boleh dibilang, tak pernah terlaksana sampai pada akhirnya termuat di media. Baru setelah itu ia mau mencoba membaca. Tapi yang saya tahu, lebih banyak yang tak tuntas dibaca daripada yang diselesaikannya sampai kalimat terakhir, hehe... Yo wis, piye maneh! :)

Nah, ada cerita. Beberapa waktu lalu, tepatnya bulan Mei 2008, saya minta ia mulai coba-coba menulis. Sayang kan, kalau asupan-asupan wacana kehidupan yang masuk ke kepalanya tidak "ditumpahkan". Itu kata saya. Dengan jawaban yang sebenarnya sudah bisa saya duga, "Nggak bisa, Yah!".

"Mulai dari yang kecil-kecil dan ringan-ringan saja, Bun," kata saya. Saya mencontohkan rubrik seperti "Jujur Saja" di Majalah Femina, yang isinya tentang komentar satu atau dua kalimat saja.

"Nggak bisa ah!" Tetap saja kalimat itu yang terdengar.

Sampai akhirnya, saya buka femina-online.com, saya buatin email address, saya daftarkan sebagai member, lalu saya login. Saya tanyakan tentang komentar yang ia miliki seputar tema yang disodorkan minggu itu. Saya tulis komentar itu di email address-nya. Saya kirim saat itu juga.

Eh, tak dinyana, dua hari kemudian ada balasan di alamat email-nya, dari redaktur Femina, yang isinya bilang akan memuat komentar istri saya, dan kalau bisa minta foto yang size-nya lebih besar.

Dasar kami bukan "banci foto" (hehe... sori), kami tak punya stok foto yang bagus. Foto kami kebanyakan foto-foto keroyokan, hampir tak ada yang close up sendirian. Ya sudah, saya kirim seadanya. Mungkin memang tidak memenuhi syarat. Tak ada foto tak apalah, kata hati saya.

Dan benar, Alhamdulillah, komentar Bunda (yang saya tuliskan) dimuat di Femina No. 23/XXXVI tanggal 5 - 11 Juni 2008 lalu.

Kecil, sedikit dan sederhana sekali memang. Saya hanya ingin membuktikan, "Ini lho, kalau kita mau, kita bisa kok!" Intinya, ayolah jadi pemain, jangan cuma jadi penonton saja di bidang tulis-menulis ini...

Dengan memperlihatkan seluruh proses penulisan, negosiasi, sampai dengan hasil pemuatan itu kepada istri saya waktu itu, saya merasa telah memberikan pembelajaran, bahwa sesungguhnya ia juga bisa kalau mau.

Selanjutnya saya tantang ia menulis untuk rubrik yang lebih besar. Misal ke Rubrik "Gado-Gado" di majalah yang sama, yang berisi kisah-kisah lucu dan menarik dalam keseharian seorang wanita atau ibu khususnya.

Bayangan yang muncul di benak istri saya pasti : wah, kalau sepanjang itu, susah!

Belakangan, seiring keasyikan saya menulis untuk blog, ia selalu saya "paksa" untuk ikut mendukung aktivitas saya, minimal dengan membacanya. "Masa orang lain membaca tulisan Ayah, istri sendiri malah nggak pernah mau baca...", hehe, begitulah "keluhan" saya ke dia.

Akhirnya memang ia mau baca. Nah, mungkin, melihat isi blog yang jauh lebih "santai" dibanding tulisan-tulisan saya untuk media selama ini, ia mau membacanya dengan tekun.

Dari dua kejadian itu --kemunculan namanya di Femina dan "kesimpulan" bahwa menulis tak harus seserius yang ia bayangkan dalam "pelajaran mengarang" di sekolahnya dulu, ia mau mencoba menulis.

Hasilnya, ya : dua lembar lebih kuarto A4, jarak baris 1,5 spasi! "Lhah, kalau dibikin spasi rangkap kan sudah 3 lembar tuh," kata saya. Itu berarti, cukup untuk syarat minimal sebuah artikel di "Gado-Gado" tadi.

Saya baca isinya dengan seksama. Bagus juga ceritanya. Hanya cara penulisannya yang masih belum "benar" versi saya. Tapi temanya oke. Hal-hal yang harus ditampilkan sebagai inti cerita juga oke. Di-"permak" sedikit, tampaknya jadi layak kirim nih, kata saya bersemangat.

"Bagus kok, Bun. Tuh kan, siapa bilang Bunda nggak bisa menulis...," komentar saya.

"Di-edit-in ya, Yah!" kata Bunda setelah saya berkomentar.

"Insya Allah," jawab saya.

Begitulah. Kendati sampai saat ini belum sempat mengedit (karena mengedit tulisan tanpa harus menghilangkan gaya tutur seseorang yang pasti punya kekhasan sendiri, tidak gampang lho!), saya bertekad memberi masukan untuk tulisan itu paling lambat hari Rabu. Kebetulan Rabu besok tanggal merah, bukan?

Jujur saja, saya senang. Saya sendiri, karena bekerja di komunitas orang-orang yang "asing" dengan dunia tulis menulis, saya merasa selalu butuh komunitas yang seide, sealiran, dan sama-sama berkeinginan kuat menekuni dunia tulis-menulis. Saya butuh "sparing partner" yang konstruktif. "Bersaing" untuk kepositifan.

Dengan adanya kemauan istri untuk memulai, berarti saya mulai ada partner yang dekat. Selama ini, di keluarga, saya baru bisa membentuk komunitas membaca, tapi belum sampai ke arah menulis. Mudah-mudahan inilah momentumnya.

Demikianlah. Pelajaran pertama : kalau kita mau mencoba, sangat mungkin baru kita akan tahu kalau kita bisa. Kemauan untuk take action, itu tetap yang terpenting.

Pelajaran kedua, komunitas itu penting, untuk saling mendukung, saling memacu, serta saling "berkompetisi" dalam konteks yang baik dan sehat.

PR alias pekerjaan rumahnya adalah, bagaimana menjaga semangat yang sudah mulai menyala ini tetap terus menyala, dan bahkan berkobar semakin besar. Saya ingat, "mendapatkan" seringkali lebih mudah dibanding "memelihara".


Semoga menginspirasi,

Fajar S Pramono


Notes :
Selamat buat Bunda! Ayah yakin, tak lama lagi akan ada nama Bunda di media-media yang selama ini hanya Bunda baca. Bunda akan jadi pemain, dan tak lagi hanya menjadi penonton! Amien...

ORGANISASI PEMBELAJAR


"In a learning organization, when one of us gets smarter, we all can get smarter."

Itu salah satu kalimat yang ditekankan Eileen Rachman dan Sylvina Savitri dari EXPERD, di artikelnya minggu lalu.

Dalam organisasi pembelajar, proses pembelajaran akan menular tanpa terasa dan perlahan, namun pasti pencerdasan sudah mencapai tingkat yang lebih tinggi tanpa perlu proses belajar secara harafiah.

Proses belajar secara harafiah ini antara lain keikutsertaan dalam kelas training, belajar dalam kelas S2 sampai PhD, dan sebagainya.

Menariknya, sebenarnya kita sudah banyak melakukan praktik belajar secara organisasi itu dalam komunitas, meskipun pelaksanaannya belum sistematis. Contoh, di komunitas-komunitas pembelajar atau diskusi. Komunitas Tangan Di Atas (TDA) misalnya. Atau di milis-milis seperti milis Safir Senduk dan Rekan (SSR), milis Rahasia Sukses Terbesar-nya Jennie S Bev, situs pembelajar.com, atau milis TDA sendiri. Juga mastermind-mastermind dari kelompok apapun yang banyak tumbuh belakangan ini.

Ada beberapa ciri dari sebuah "organisasi pembelajar" ini. Antara lain, para anggotanya semakin cenderung tidak "asbun" alias "asal bunyi". Mereka bertanggung jawab atas apa yang disampaikannya. Termasuk, bermanfaattidaknya sebuah komentar.

Ciri lain, setiap orang berusaha menyajikan pemikiran terbaiknya. Setiap orang juga akan menampilkan sikap "tidak pelit ilmu". Mereka yakin bahwa sikap, nilai dan ketrampilan merupakan kompetensi yang bisa ditularkan kepada sesamanya.

Suasana belajar tidak mewujud dalam suasana "belajar intensif" layaknya di kelas-kelas formal. Para anggota komunitas lebih cenderung mengedepankan diskusi yang seru, komunikasi yang intensif, keinginan untuk updating the information, serta selalu haus akan kesempatan belajar.

Secara "dramatis" Eileen menggambarkan : pertanyaan-pertanyaan seperti "Dari mana kamu dapat ide itu?", "Bagaimana sih caranya?", "Bagaimana kalau...", berkumandang di forum-forum, yang membuat forum itu seperti sebuah laboratorium raksasa yang tiada hentinya menyambut tantangan yang berasal dari masalah dan kesempatan yang terlihat.

Dan ini yang penting : kegagalan atau hampir gagal dan kesuksesan di lapanganlah yang menjadi fokus untuk memperoleh "lesson learned", bukan semata teori.

So, berbahagialah Anda yang telah memiliki kelompok-kelompok belajar informal, komunitas-komunitas yang berisi manusia-manusia pembelajar.

Belajar, memang tak harus dalam sebuah organisasi formal. Belajar bisa di mana saja, kapan saja, dalam situasi apapun, dan dari siapa saja. Bahkan, tak jarang organisasi pembelajar yang dibentuk secara formal akan membuat suasana menjadi kurang "customer friendly" dan kaku.

Padahal, organisasi pembelajar yang baik hanya akan tercipta bila suasana yang melingkupinya mampu mendorong pengembangan pribadi dan "personal mastery" secara utuh, bersemangat, memberi kesempatan pada problem solving, serta mengupayakan evaluasi yang jujur dan tulus.

Pertanyaannya sekarang, sudahkah Anda terlibat aktif dalam organisasi pembelajar seperti itu?

Ingat, di tengah kondisi dunia yang begitu kompetitif dan terus berubah, hanya individu dan organisasi yang senantiasa belajar-lah yang bisa survive. Titik. Tak ada tapi-tapian, tak ada koma-komaan.


Salam,

Fajar S Pramono


Foto : TDA Forum 060608

"KORBAN-KORBAN" AGUSTUSAN


Minggu pagi, kita obrolin yang santai yach?

Cerita tentang "korban-korban" Agustusan. Korban itu termasuk saya. Eh, terbalik : saya itu termasuk korban. Eh, yang bener yang mana sih? Hehe...

Intinya, kaki saya sekarang sakit sekali. Setelah dua kali hampir kram tapi "selamat dan sukses", pada akhirnya kaki kanan saya harus menerima "anugerah" yang lebih parah : urat paha yang tertarik. Tertarik yang urat paha. Halah! :)

Saya hanya salah satu dari sekian bapak-bapak di kompleks perumahan yang menjadi "korban" semangat Agustusan. Ada Pak H yang juga mendapat "anugerah" yang sama. Ada pak R yang ikut futsal sekali Sabtu pagi, main 2 x 10 menit alias 20 menit, tapi harus beristirahat total selama 2 hari! Itupun karena hari ketiga-nya musti ngantor. Senin. Ada juga Pak A, yang sekali ikut voli Sabtu sore minggu lalu, hingga Sabtu kemarin sore alias seminggu kemudian masih harus mengenakan tambahan asesoris berupa decker yang dililitkan di lututnya.

Jalan menjadi "pincang". Duduk menjadi tidak nyaman. Tasyahud akhir dalam sholat pun tak bisa dilakukan dengan sempurna.

Jadwal pertandingan yang begitu padat, merupakan salah satu penyebabnya. Minggu lalu saya cerita tentang pagi yang futsal, sore yang voli dan malam yang badminton, bukan?

Itulah. Jadwal bagi kami sebenarnya tak menjadi masalah, karena kami sangat sadar bahwa kami memang hanya longgar waktu di hari Sabtu dan Minggu.

Yang menjadi masalah adalah, semangat mengikuti pertandingan demi pertandingan tadi tidak diimbangi dengan kondisi fisik yang memadai akibat ketakbiasaan dan ketidakrutinan kami berolahraga. Sebagian besar begitu.

Sebagian lagi --termasuk saya-- sebenarnya cukup rutin berolah raga, minimal seminggu sekali. Ada yang rutin golf, ada yang rutin tenis, ada yang rutin bulutangkis, ada yang rutin jogging, dan ada yang rutin bermain catur. Eh, yang terakhir tak termasuk latihan fisik ya? Hihihi...

Masalah berikutnya adalah, karena kami merupakan atlet "debutan" yang menganut pola dadakan --sebagian lagi bahkan merupakan pemain panggilan, yang mau main hanya ketika ditelpon paksa dari lapangan--, maka kami secara sadar dan tidak sadar melupakan yang namanya pemanasan. Warming up.

So, ketika baru beberapa menit main, nafas ngos-ngosan, urat-urat dan otot-otot padha "kaget"! Walhasil, ada yang mau kram, dan yang paling banyak seperti saya : ketarik otot-nya.

Masalah berikutnya, karena "kemaruk" (baca : semangat) untuk ikut semua pertandingan, tenaga yang ada di tubuh ini menjadi terforsir. Over effort. So, kecapekan menjadi konsekuensinya.

Yach, bagaimanapun, harus ada hikmah yang bisa diambil.

Pertama, jelas, untuk apapun, kita perlu persiapan. Untuk olahraga, kita perlu pemanasan. Untuk bekerja, kita perlu persiapan. Untuk berbisnis, kita perlu perencanaan.

Bahkan, dalam bekerja atau berbisnis, pemanasan bisa bersifat lebih komprehensif, misalnya dengan on the job training ataupun magang, agar ketika benar-benar bekerja dan berbisnis, kita benar-benar sudah "matang". Tak ada kecanggungan, tak ada keterkejutan yang bisa saja menghambat akselerasi kerja atau bisnis tadi.

Kedua, untuk hal-hal baik, rutinitas diperlukan. Jika kita pekerjaan, kerjakan dalam jadwal yang tertata baik. Evaluasi secara periodik. Jika kita punya usaha, lakukan pembinaan SDM, monitoring kualitas kerja dan hasil kinerja secara berkala.

Jika tidak begitu, maka akan timbul kesulitan manakala kita akan melihat seperti apa sesungguhnya pola harian dalam menghasilkan kinerja. Tren pencapaian target. Baik pekerjaan kantor maupun hasil usaha. Jangan-jangan kita bahkan tidak tahu, apakah pekerjaan kita mendekati target, atau menjauhi target. Apakah usaha kita mendulang keuntungan, atau bahkan mencipta kerugian? Divisi-divisi usaha kita, apakah semuanya sudah menjadi profit center atau justru menjadi cost center? Tragis.

Ketiga, apapun itu, terlalu memforsir (over effort) seringkali kontraproduktif bagi harapan kita. Pekerjaan yang terlalu banyak dalam satu waktu sangat mungkin menghasilkan kualitas kerja yang rendah. Apalagi sudah menjadi salah satu "hukum universal", jika kecepatan kerja berbanding terbalik dengan kecermatan kerja.

Fokus bisnis yang terlalu banyak, justru tak jarang mengakibatkan tidak ada satu bisnis pun yang beroleh hasil maksimal. Semuanya "sedang-sedang" saja. Padahal, jika kita mau melakukannya secara bertahap, beralih fokus manakala bisnis yang satu benar-benar sudah "aman" dan optimal, bukan tidak mungkin semua bisnis yang kita jalani akan berbuah manis.

Tapi begitulah. Kita seringkali terlalu semangat, terlalu banyak keinginan, sehingga malah tak satupun yang mencapai tujuan. Justru "kesakitan" yang didapatkan.

Oya, semangat, obsesi, ambisi itu bagus. Tapi, sebagaimana Rasulullah katakan, hampir semua yang "terlalu" itu bisa berubah menjadi kurang baik. Terlalu semangat, seringkali menjadikan kita lupa pada "pagar-pagar" yang harusnya kita taati.

Memiliki obsesi dan ambisi adalah bagus, tapi obsesif dan ambisius belum tentu baik. Ia memungkinkan kita menempuh segala cara --termasuk yang "haram" sekalipun-- untuk mewujudkan obsesi dan ambisi itu dalam kenyataan.

Menurut saya begitu. Menurut Anda?


Salam pencerahan,

Fajar S Pramono


Foto : http://justcutts.com

NGURI-URI BASA JAWA --sekedar "menikmati" bahasa ibu


Entah kenapa, belakangan ini saya sangat senang membaca beberapa pustaka yang menggunakan basic bahasa ataupun yang hanya sekedar menggunakan basic tema kebudayaan Jawa.

Padahal, sejujur-jujurnya, saya tak begitu paham kebudayaan asli saya sendiri. Wayang kulit misalnya, Masya Allah. Mungkin saya hanya (sedikit) tahu tentang Pandawa dan Kurawa. Selebihnya hanya beberapa tokoh terkenal, seperti Semar dan para punakawan Bagong Petruk Gareng, Srikandi, Batara Kresna, Hanoman dan segelintir yang lain. Itu pun hanya "kenal nama". Orangnya, eh, wayangnya, seperti apa bentuknya, saya tidak hafal.

Salah satu pustaka yang "membakar" kegairahan saya membaca literatur berbahasa Jawa adalah Kumpulan Cerita Cekak (Kumpulan Cerita Pendek) Suparto Brata garapan (karya) 1960-2003. Kumpulan cerita pendek itu "diterbitake dening para putrane lan para mantune, minangka pisungsung mangayubagya tanggap warsane kaping 72 Pengarang Suparto Brata" (27 Februari 1932 - 27 Februari 2004).

Terjemahan bebasnya : "diterbitkan oleh para putra dan para menantu, dalam rangka menyambut peringatan ulang tahun ke-72 Pengarang Suparto Brata".

Semakin ke dalam, semakin membaca buku yang penerbitan resminya dilakukan oleh Penerbit Narasi Yogyakarta 2005 itu, saya semakin "larut". Asyik saja. Ada sesuatu yang sangat berbeda dengan membaca kumpulan-kumpulan cerpen kualitas nomor wahid berbahasa Indonesia (kebetulan, pada saat yang sama saya "menyanding" Cinta di Atas Perahu Cadik, Cerpen KOMPAS Pilihan 2007).

Ada sesuatu yang sangat lain. Campur aduk. Ada kenangan. Ada ingatan kepada kampung halaman. Ada kerinduan kepada nuansa kehidupan tempat kelahiran. Ada rasa kangen kepada kebersahajaan hidup para "priyayi" Jawa pada jaman dulu.

Ada juga desir yang "aneh". Yang lucu. Sekaligus yang bikin saya "malu". Kenapa? Karena ternyata, tak gampang untuk bisa memahami cerita-cerita ber-"bahasa ibu" versi saya itu. Padahal saya ini orang Jawa tulen. Wong Jawa ndeso, yang juga lahir dari Bapak Ibu orang Jawa. Ndeso juga. Ndeso, di mana keseharian kami identik dengan penggunaan bahasa Jawa yang kadang baik kadang benar. :)

Tapi, membaca karya-karya Suparto Brata, kok jadi "gagap" gini, ya? Dari situ, saya segera merasa sangat "bodoh" dan "memalukan", karena hal tersebut menunjukkan bahwa saya masih sangat minim pengetahuan dan pemaknaan akan bahasa yang sebenarnya menjadi keseharian saya hingga kini.

Ya, hingga kini. Karena, istri saya juga asli Solo, yang bahkan dikenal sebagai daerah yang sangat "halus" budi bahasanya. Keberadaan beberapa teman di kantor, juga masih memungkinkan saya untuk berkomunikasi dalam bahasa Jawa. Tetangga sekitar di kompleks saya tinggal, bahkan lebih banyak lagi yang setia menggunakan bahasa Jawa. So, tak ada alasan sebenarnya, jika tiba-tiba saya merasa "asing" dengan bahasa ibu itu.

Tapi, itulah yang terjadi. Saya tak bisa membaca secara cepat cerpen-cerpen yang ada. Saya seperti membaca literatur asing, yang sayang, kali ini tak ditemani kamus lengkap di sebelahnya. Mencermati kata demi kata, yang mungkin bagi saya justru merupakan kosakata-kosakata baru.

Lega atine! Rumah sakit mripat panggonane nyambutgawe bisa tetulung. Bisa ngobati. Malah ngenani wragade dibiyantu, digolekake urunan wragad saka para denatur yayasan rumah sakit mripat kono. Kanthi syarat, Ceplis apadene keluwargane Amet kudu pasrah-srah ing bab pengobatan mripat mau marang tim dhokter. Yen kasil ya ndadekake keunggulane para tim dhokter lan rumah sakite, nanging poma dipoma oprasi mripat kuwi jodher, Ceplis dalah keluwargane Amet ora kena nuntut apa-apa. Satemene syarat oprasi tetamba kaya mengkono kuwi lumrah, tumrap ing saben wong. Nanging yayasan perlu njlentrehake marang Ceplis supaya Ceplis luwih dening ngerti.

(Lega hatinya! Rumah sakit mata tempatnya bekerja bisa menolong. Bisa mengobati. Bahkan mengenai biayanya dibantu, dicarikan iuran (sumbangan) biaya dari para donatur yayasan rumah sakit mata itu. Dengan syarat, Ceplis dan keluarga Amet harus benar-benar pasrah tentang pengobatan mata tadi kepada tim dokter. Apabila berhasil akan menjadi keunggulan para (anggota) tim dokter dan rumah sakitnya, tetapi apabila operasi matanya gagal, Ceplis dan keluarga Amet tidak boleh menuntut apa-apa. Sebenarnya persyaratan operasi pengobatan seperti itu wajar, untuk setiap orang. Tapi yayasan perlu menjelaskan kepada Ceplis agar Ceplis benar-benar paham.)

Tuh, coba lihat. Itu cuplikan asal ambil dari halaman 61 cerpen Mripat (Mata) di buku yang judul bukunya berasal dari salah satu judul cerpen di dalamnya : Lelakone Si lan Man (Kisah Si dan Man).

Saya yakin, tidak sedikit dari Anda yang orang Jawa tidak dapat membaca selancar Anda membaca teks Bahasa Indonesia. Terlebih bagi Anda yang selama ini lebih banyak menggunakan bahasa nasional dalam kehidupan sehari-hari.

Atau ini :
Sawise sawatara atusan meter, daktoleh memburi, Ramda karo kanca-kancane ilang. Wong-wong mau ora nyabrangi prapatan. Terus, menyang endi? Gage sepedhaku dakwalik, dakonthel balik. Nyang endi, ya, ngiwa apa nengen?

(Sesudah sekitar ratusan meter, kutengok ke belakang, Ramda dan teman-temannya menghilang. Orang-orang tadi tidak menyeberangi perempatan. Lalu, ke mana? Cepat-cepat sepedaku kuputar, kugenjot lagi. Ke mana, ya, ke kiri atau ke kanan?)

Yang barusan saya cuplik dari cerpen Lagu Gandrung Wong Kampung (Lagak Cinta Orang Kampung). Tak terkatakan, bagi saya asyik sekali membaca pustaka berbahasa Jawa ini.


Tak mau kehilangan "keasyikan", saya ambil dari rak buku saya sebuah buku dari Penerbit Indonesia Cerdas, salah satu lini produk Galangpress. Buku karya Agung Webe, berjudul Javanese Wisdom; Berpikir dan Berjiwa Besar.

Buku ini mencoba mengambil saripati kearifan budaya Jawa tentang harmoni kehidupan. Unsur pokoknya diambil dari Serat Wulang Reh-nya Sri Paku Buwono IV, yang merupakan salah satu khasanah budaya Jawa keraton.

Dari halaman 113 :
Pitutur bener iku, sayektine apantes tiniru. Nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggone muruk, iku pantes sira anggo.

(Ajaran yang benar itu, sepantasnya ikutilah. Sekalipun diajarkan oleh orang biasa, jika cara mengajarinya tepat, itu pantas kau ikuti.)

Saya sepakat dengan terjemahan di buku itu, meskipun jika diartikan secara lebih harfiah, kata "pitutur" itu bisa saja dimaknai sebagai "ucapan", yang tingkatannya menjadi lebih "rendah" dibanding makna "ajaran".

Atau seperti yang ada di halaman 51 ini :
Angel tenan iya jaman samangkin, ingkang pantes kena ginuronan.
Akeh wong njaja ngelmune, lan arang ingkang manut.
Yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak, denarani luput.
Nanging ta asesenengan.
Nora kena den wor kakarepaneki, papancene periyangga.

(Memang sulit jaman sekarang, mencari guru sejati.
Banyak orang menjual ilmunya, dan jarang yang tepat.
Apabila ada yang benar-benar berilmu, dan memahami hukum, itu malah dibilang salah.
Namun itulah kodrat.
Kodrat manusia tidak bisa dijadikan satu, memang harus beda.)

Tuh kan, bagi Anda yang tadi mengaku masih gampang menterjemahkan, makin sulit kan? Jujur saja, saya sendiri masih memiliki "interpretasi" yang sedikit lain, meski inti temanya sama. Seperti kalimat "ingkang pantes kena ginuronan". Menurut saya, itu bukan "mencari guru sejati", tapi "yang pantas dijadikan guru". Kemudian "lan arang ingkang manut". Menurut saya, artinya "dan jarang yang menurut".

Tapi itulah keluwesan intrepretasi. Dan sebagai buku yang sudah "sah" serta melalui meja editorial, saya mengklaim bahwa terjemahan saya yang salah. Itu berarti pula pembenaran bahwa pemahaman saya terhadap bahasa ibu sendiri memang masih sangat rendah... Ironis ya?

Tapi, Javanese Wisdom berasal dari sebuah "kitab" yang mengandung unsur seni sangat tinggi, dan mengharuskan ketajaman intrepretasi sang penterjemah. Lekat dengan berbagai kiasan dan perlambang, sebagaimana kalimat-kalimat dalam Al-Qur'an dan Al-Hadits. Tentu tanpa pretensi untuk menyetarakan Al-Qur'an dan Al-Hadits dengan Serat Wulang Reh yang "hanya" buatan seorang Raja Jawa. (Mohon maaf, Sri Paduka!) :)


Apa yang ingin saya sampaikan di posting ini?

Ternyata mengasyikan sekali, mencoba menggali kembali budaya asli daerah kita, di tengah keseharian yang semakin "membutakan" kita dari "kebernenekmoyangan" kita di suatu daerah. Apalagi kita-kita yang saat ini sedang ada di rantau.

Makanya, saya juga senang membaca blog Mas Eben Ezer Siadari (http://sarimatondang.blogspot.com), yang sangat sering berkisah tentang segala sesuatu yang ada dan menjadi budaya di kampung halamannya, di Sarimatondang, Sumatera Utara sana.

Atau, seperti pada waktu Uda Roni Yuzirman bercerita tentang kenapa orang Minang suka "manggaleh" di blog beliau (http://roniyuzirman.blogspot.com) beberapa waktu lalu.

Nah, pada kesempatan ini, saya mengajak teman-teman untuk sesekali "menengok" kembali kepada budaya asli daerah kelahiran kita. Bukan untuk mengajak berpikir paternalistik atau bahkan berpikir sekuler kedaerahan, tapi sekedar untuk membuktikan, bahwa negeri kita benar-benar "kaya budaya". Agar kita tak selalu mengarahkan kepala kepada "kiblat-kiblat" yang beraroma Western, kebarat-baratan, dan sebagainya. Bahwa berbagai "ajaran" baik yang memang bersifat universal itu sebenarnya juga bisa kita temui dalam ranah adat budaya kita semua.

Cari dan temukan "keasyikan" di sana.

Walhasil, mari belajar dari mana saja, agar kita semakin "kaya", semakin "matang" dan tak keliru dalam menjalani kehidupan.

Ocre, Bro?


Salam,

Fajar S Pramono

REKOMENDASI TENTANG "MEMBACA"


Nambahin postingan tentang meningkatkan hobi membaca, rasanya ada beberapa media yang bisa saya rekomendasikan.

Pertama,
jika Anda ingin "tergerak" lebih rajin atau hobi membaca, ada buku "santai" tapi "dalem" dari Mas Hernowo, Judulnya "Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza". Buku ini diterbitkan oleh Penerbit KAIFA, Februari 2003. Sekarang, entah sudah cetakan yang ke berapa. Ia tergolong buku best seller. Di situ kita disodori pemahaman akan pentingnya "mengikat makna", baik dari membaca maupun menulis.

Kedua,
jika Anda ingin bisa membaca cepat (speed reading), setidaknya ada dua media yang saya rasakan membawa pengaruh cukup baik terhadap kemampuan baca saya. Mudah-mudah juga untuk Anda.
(1) Buku SPEED READING; Cara Membaca Cepat dan Efektif terbitan Gramedia Pustaka Utama. Penulisnya, Soedarso. Diterbitkan pertama kali tahun 1988, dan --lagi-lagi-- saya tak tahu saat ini sudah cetakan ke berapa. Yang pasti, buku yang saya miliki adalah cetakan kesembilan, Mei 2001.
Bahasanya enak, karena ditulis oleh "orang kita" sendiri. Penulis "domestik". Tentu saja sangat lain dengan karya terjemahan yang seringkali "membingungkan". :)

(2) CD Interaktif SPEED READING; Melejitkan Kemampuan Membaca Cepat, yang diluncurkan oleh Trustco Multimedia. Saya mendapatkannya pada saat Pesta Buku Jakarta 2008 lalu. Isinya cukup "asyik". Menarik diikuti, karena ada tes-tes untuk mendiagnosa kemampuan baca kita, sekaligus latihan-latihan untuk meningkatkannya.


Ketiga,
jika Anda ingin menggugah kesadaran diri akan "betapa penting dan berharganya buku sebagai jendela dunia dan pembuka cakrawala", saya merekomendasikan sebuah buku bagus. Sangat bagus malah, menurut saya. Judulnya BUKUKU KAKIKU. Diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2004, dalam rangka 30 tahun Penerbit Buku Gramedia.
Ada 24 penulis yang berkontribusi di buku itu. Mulai dari Ajip Rosidi, Asyumardi Azra, Budi Darma, Daoed Joesoef, Frans Magnis-Suseno, Fuad Hassan, Jakob Utama, Melani Budianta, Remy Silado, Sindhunata, hingga Yohanes Surya.

Bukan promosi, tapi jika ada waktu, ada baiknya dicoba untuk membaca. Semata untuk bersama membangun budaya baca di antara kita. Karena saya yakin seyakin-yakinnya, sangatlah banyak manfaat membaca daripada tidak membaca. :)

Pokoknya, IQRO'!


Salam buku,

Fajar S Pramono

MENINGKATKAN HOBI MEMBACA


Kalau Anda rajin membaca Kompas, Anda pasti sudah menemukan judul di atas pada Kompas edisi kemarin, Kamis 24 Juli 2008. Tapi belum tentu juga, karena artikel itu ada di rubrik Ragam, yang seringkali dilewati karena sebagian besar (bahkan hampir seluruhnya) berisi iklan-iklan baris.

Saya merasa artikel ini bagus untuk mengingatkan dan menyentil kita yang hobi beli bukunya lebih tinggi dibanding hobi bacanya. Hah, maksudnya?

Maksudnya, gairah membeli buku seringkali tidak imbang dengan kemampuan menyelesaikan bacaan buku itu sendiri.

Lihat saja prolog artikel tersebut :
"Banyak orang yang mengakui bahwa dirinya lebih senang membeli buku ketimbang membacanya. Tanpa terasa, koleksi buku yang ditumpuk telah menggunung dan semakin sulit untuk dihabiskan. Apakah hal ini juga dirasakan oleh Anda?"

Terus terang, saya merasakannya. Bukan gairah membaca sebenarnya yang kurang bagi saya, tapi kadang kesempatan untuk lebih banyak membaca yang terasa minim. Walhasil, kemauan beli buku layaknya deret ukur, sementara kemampuan menyelesaikan alias membacanya layaknya deret hitung. Perumpamaan yang... ceile! Berlebihan kaleee... hehe.

Tapi begitulah.

Lalu, seperti apa tips yang diberikan oleh artikel tadi?

~~1 Bepergian dengan buku.
Intinya, biasakan membawa minimal satu buku kemana pun kita pergi. Sisipkan dalam tas kita, atau taruh beberapa buku dalam mobil kita.
Buku-buku itu akan bisa menjadi teman manakala kita harus menunggu sesuatu atau seseorang, mengisi waktu dalam perjalanan naik bus umum, selagi pingin nyantai di warung kopi, lagi potong rambut di salon, atau bahkan menunggui istri belanja.
Tentang ini, saya pernah "mendirikan perpustakaan kecil" di mobil saya sewaktu saya bertugas di Gresik. Di dashboard belakang Prestige tahun 88 saya (eh, ada nggak sih, istilah "dashboard belakang"? Hehe...), berderet puluhan buku, yang pada akhirnya tidak saya nikmati sendiri, tapi juga jadi "pusat peminjaman buku" bagi teman-teman di kantor.
Sekarang, di mobil paling-paling hanya ada satu atau dua buku. Alhamdulillah-nya, kebiasaan membawa buku ini sudah diikuti oleh anak saya yang saat ini sudah kelas B di TK-nya. Dia mulai "mewarisi" kebiasaan ini.


~~2 Membuat daftar buku yang ingin dibaca.
Buat daftar buku yang menarik untuk dibaca, sekaligus bikin daftar buku yang sudah dibaca. Ini untuk selalu mengingatkan, bahwa kita punya "pe-er" untuk menyelesaikan acara "santap buku" dari buku-buku yang ada. Tips ini juga diharapkan bisa menjaga antusiasme, karena kita memiliki prioritas tentang buku yang akan dibaca.

~~3 Tentukan lamanya waktu yang akan digunakan untuk membaca sebuah buku.
Kenapa ini perlu? Tips ini layaknya "target" yang harus kita penuhi sendiri. Seperti saya, seringkali "nafsu besar tenaga kurang". Atau, "nafsu besar kesempatan kurang".
Saya yakin "target" ini sangat bisa kita penuhi jika kita komit. Bagaimana tidak, lha wong kita sendiri yang menentukan "target" itu... Iya nggak?
Kalau kesempatan kita hanya 30 menit sehari, ya sesuaikan "target" tadi dengan kondisi kita yang hanya bisa membaca dalam durasi waktu itu perharinya. Tak usah muluk-muluk, tapi realistis. Ini akan membuat kita lebih semangat, dibanding keinginan agar buku terbaca secepatnya.

~~4 Buatlah strategi membaca.
Dalam tips ini, strategi membaca ada dua. Pertama, memilih fokus pada satu buku hingga selesai membaca. Ini untuk meminimalisir godaan membaca buku yang lain, sementara buku pertama belum tuntas dibaca. Kebiasaan, jika kita sudah melirik buku lain yang kita anggap lebih menarik, kita tidak akan menyelesaikan bacaan buku yang pertama tadi. Bahkan sangat mungkin, buku kedua pun tak akan tuntas, karena kita bisa saja tergoda buku yang lain lagi dalam "perjalanan" membaca buku kedua tadi.
Strategi kedua, sengaja memilih membaca beberapa buku sekaligus. Biasanya, ini dilakukan untuk mengusir perasaan bosan terhadap suatu tema buku tertentu. Karenanya pula, buku-buku yang diputuskan untuk diselesaikan dalam waktu yang sama itu biasanya berbeda dari segi topik buku. Buku ekonomi makro, dijejerkan dengan buku motivasi, sekaligus dengan novel.
Tapi, jujur saja, ini pun tak gampang. Pertama, daya ingat kita harus luar biasa. Karena, keberadaan tema yang "melompat-lompat" cenderung membuat kita "lupa" akan bagian-bagian awal buku yang sementara kita "tinggalkan". Sementara, sistematika buku telah dibuat sedemikian rupa sebagai sebuah "urutan" agar pembaca lebih mudah mencerna isi bukunya. Seringkali kita harus mengulang beberapa bab sebelumnya ketika kita kembali menekuni buku yang sempat kita tinggalkan.
Kedua, dengan gaya penulisan yang berbeda-beda, tentu membutuhkan penyesuaian yang luwes juga dari kita pembaca. Dan ini tidak gampang. Kecenderungan dalam membaca, pembaca yang tekun akan "terseret" oleh genre dan gaya bahasa penulis, yang bisa saja "mengganggu" kemampuan sekaligus kecepatan baca seseorang. Walhasil, "pusing" lah awak! :)


~~5 Mulai dari hal yang kecil.
Maksudnya, tak perlu terlalu "ambisius" dalam "belajar membaca". Mulailah dari buku-buku yang tipis, ringan tema, dan yang pasti menarik bagi kita. Jadikan membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan dan tidak membebani. Jadikan membaca sebagai sebuah "cemilan" yang enak untuk dinikmati.
Jika sudah menjadi "kebutuhan", maka buku-buku yang lebih tebal, lebih "berat" temanya dan yang mungkin sesungguhnya kurang menarik bagi kita, bisa kita selesaikan tanpa beban. Karena membaca bukan lagi merupakan "paksaan" dari luar diri, tapi merupakan "kebutuhan" yang meniscayakan pemenuhan.


Nah, itu semua adalah "pemekaran" artikel di Kompas tadi. Kenapa "pemekaran"? Ya, karena awalnya, maksud saya adalah meringkas. Tapi beginilah saya : maunya meringkas, tapi hasilnya lebih panjang dari yang mau diringkas! Hahaha.. "penyakit", memang!

Mudah-mudahan bisa bermanfaat, terutama untuk saya sendiri! :)
Amien...


Salam buku,

Fajar S Pramono


Foto : http://nutrisibalitacerdas.com

MY BROTHER'S WINNINGS - sebuah loncatan kuantum


--didedikasikan spesial pake telor, untuk Mas Nanang B Setiawan--

Siang ini, saya mendengar sebuah kabar gembira. Kabar gembira, yang sesungguhnya sudah saya yakini akan semakin saya dengar dari "saudara ketemu gedhe" saya, Mas Nanang, ketika saya bertugas di Gresik, Jawa Timur.

Ia adalah praktisi bank, seperti saya. Tapi, tahun ini banyak sekali big and small winnings yang beliau dapatkan.

Pertama, saya mendengar aset propertinya bertambah. Hasil menabung secara gemi nastiti ngati-ati berbuah sebuah rumah kembali. Di sisi lain, tak satupun aset beliau yang "hilang". Luar biasa!

Kedua, beliau mulai berani menulis untuk media massa. Sejak kenal dengan beliau, saya sudah yakin banyak potensi yang terpendam dalam diri beliau.

Saya ingat sekali, sampai-sampai saya merasa harus menyebut namanya sebagai salah seorang "pelaksana" yang layak untuk dipromosikan menjadi seorang "staf" dengan grade jabatan yang lebih tinggi, sewaktu saya mengikuti assesment untuk promosi saya menjadi manajer. Saya ceritakan tentang beliau di hadapan tiga orang penguji saya. Saya ceritakan kenapa saya menjadikannya salah satu "guru" ketika saya menjadi seorang account officer di Gresik.

Tentang menulis, tak kurang dari empat artikelnya dimuat Harian Surya --salah satu koran terbesar di Jawa Timur--. Sampai saat ini pun, beliau tetap menulis, kendati beberapa kali saya mendengar keluhannya tentang kenapa tulisannya cukup lama tak termuat lagi. "Tenang saja, Mas. Sebentar lagi tulisan Mas Nanang akan muncul kembali!"

Ketiga, mindset-nya yang selama ini hanya berkutat sebagai employee, telah bergeser ke arah business owner. Ya, tahun ini beliau dan istrinya telah membuka sebuah usaha jasa penyediaan baju adat di rumahnya! Dan hasilnya, kata beliau, "Alhamdulillah.. laris manis, Mas!"

Keempat, beliau yang gemar belajar semakin "melek teknologi". Dimulai dari rajin YM (Yahoo Messenger)-an, dan saat ini beliau telah mendirikan sebuah blog!

Eits, jangan sinis tentang teknologi yang mungkin bagi sebagian orang sangat sepele ini. Saya memiliki address di YM karena "kompor" yang dinyalakannya untuk menyengat saya. Artinya, kalau Anda sinis, maka saya lebih layak untuk di-sinis-i. Bukan begitu? :)

Tentang blog, sebaliknya. "Kompor" saya yang saya nyalakan ke arahnya, sehingga beliau akhirnya menjadi seorang blogger aktif. Blognya dapat Anda buka dari daftar link yang ada di blog saya.

Kelima, hari ini, beliau mengaku sangat bahagia, karena beliau diterima sebagai salah satu dosen di Universitas Muhammadiyah Gresik, yang diijinkan mengajar hanya di hari Sabtu, di mana pekerjaan utamanya sebagai bankir sedang "off" alias libur.

Ini lebih luar biasa bagi saya. Saya ingat, salah satu yang saya inginkan pada waktu lulus kuliah, adalah menjadi staf pengajar perguruan tinggi. Tapi ah, ternyata, itu rejekinya Mas Nanang! Selamat ya, Cak!

Saya juga ingat, beberapa kali beliau menelpon menjelang tahap-tahap test yang akan beliau lalui untuk menjadi dosen. Di mana saya selalu mengatakan, "Pasti bisa, Mas!". Dan syukurlah, semua upaya dan do'a itu terkabul. Sekali lagi, selamat, Mas!

Sidang pembaca, saya menceritakan ini bukan tanpa tujuan. Salah satu yang pasti adalah : tak ada yang tak bisa jika kita memang mau berusaha.

Henry Ford selalu bilang : tak ada yang salah, apakah kamu mengatakan bisa, ataupun tidak bisa.

Pintu untuk "bisa" atau "tidak bisa", salah satu kuncinya ada di kita sendiri. Kunci satunya ada di Yang Maha Segala. Allah SWT. Tuhan YME.

Jika kita yakin akan bisa, Insya Allah, jalan menuju keberhasilan akan ditunjukkan oleh-Nya.

Saya rasa, pada kesempatan ini saya harus menyitir kata-kata Mario Teguh : "Pintu kesempatan tidak terbuka begitu saja. Pintu itu hanya menjadi tak terkunci. Soal membukanya atau tidak, adalah keputusan Anda."

So, buat Mas Nanang, saya pasti akan semakin sering mendengar keberhasilan demi keberhasilan dari Mas Nanang.

Semoga mengilhami dan menginspirasi kami semua. Amien.


Salam,

Fajar S Pramono

Foto : busyguyfitclub.com

ARNOLD KIM ---hidup itu memang pilihan---


Saya selalu salut pada orang-orang yang berani mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidupnya.

Contoh kecil di sekitar kita, salah satunya adalah keberanian untuk berpindah dari kuadran nyaman (pekerja) ke kuadran spekulatif (investor, pengusaha). Dalam istilah teman-teman komunitas, bermigrasi dari ranah Tangan Di Bawah (TDB) ke ranah Tangan Di Atas (TDA).

Kemarin, saya membaca sebuah artikel di Harian SINDO. Tentang Arnold Kim. Seorang dokter, yang rela meninggalkan profesinya untuk beralih menjadi seorang blogger penuh waktu.

Bukan apa-apa. Secara materi, penghasilannya sebagai seorang dokter telah mampu memberinya kehidupan yang cukup. Rumah enam lantai yang dimilikinya merupakan salah satu bukti "kesejahteraan"-nya sebagai dokter.

Dari segi "modal", diceritakan bahwa sang orang tua telah mengeluarkan tak kurang dari USD 200.000 atau lebih kurang 1,9 milyar rupiah untuk pendidikannya.

Tapi itulah. Hidup adalah pilihan.

Kim lebih memilih hidup bersama dunia internet yang sangat dicintainya. Ia lebih memilih mengembangkan MacRumors.com yang sudah dirintisnya sejak tahun 2000.

MacRumors sendiri merupakan situs yang khusus memberitakan berbagai rumor tentang Apple. Baik rumor tentang produk-produk baru Apple, tentang strategi ke depan Apple, dan sebagainya. Kenapa rumor yang diketengahkan? Karena, Apple merupakan salah satu perusahaan IT yang sangat "rapat" memegang rahasia perusahaan, termasuk rahasia tentang keberadaan produk baru dan ekspansi perusahaan Apple itu sendiri.

Sementara, di luaran kita tahu, sebegitu banyak peminat produk-produk dari Apple. "Kesenjangan" informasi inilah yang dimanfaatkan secara jeli oleh Kim sebagai "peluang bisnis".

Luar biasa menurut saya. Itulah hebatnya orang-orang besar. Ia mampu melihat "celah" yang orang lain tak bisa melihat, bahkan "mengendus"-nya. Ia adalah salah satu dari orang yang memilih jalan yang lebih sunyi tapi lebih menantang dibanding jalan yang sudah dilalui oleh banyak orang.

Ada beberapa hal yang bisa kita ambil dari kisah Kim.

Pertama, adanya keberanian memilih. Sekali lagi, hidup adalah pilihan.

Kedua, Kim memilih berkonsentrasi penuh ke MacRumors, karena "hidup di dunia internet " sudah menjadi "kegilaan" (passion) Kim sejak mengenal dunia itu. Tercatat, ia pernah mengenyam pendidikan komputer di Columbia University, yang mengenalkannya pada teori-teori pembangunan sebuah situs.

Ketiga, Kim berani, dan bukan nekat. Ia sudah memperhitungkan segala sesuatunya. Dari aspek materi misalnya, ia sangat yakin bahwa "pekerjaan"-nya sebagai blogger akan memberikan hasil yang berlipat dibanding penghasilannya sebagai dokter.

Tentang prospek bisnis itu sendiri, Kim juga sudah memperhitungkannya. Ia memutuskan "keluar" dari pekerjaannya sebagai dokter manakala situs yang dibangunnya relatif sudah "matang" dan menunjukkan hasil. Ia menghindari unsur spekulatif yang terlalu tinggi.

Artinya, Kim adalah risk taker. Banyak orang tak mampu berkembang atau berhasil karena ia lebih memilih sebagai safety player, daripada harus "deg-degan" sebagai risk taker. Padahal, "hukum" High Risk High Return telah menjadi asas universal --atau bahkan "hukum alam"-- yang diyakini hampir semua orang.

Keempat, seperti yang saya sampaikan di muka, Kim jeli melihat peluang bisnis. Ia mampu memandang sesuatu dari angle yang lain, sehingga membuat produknya "berbeda". Keunikan bisnis, memang menjadi salah satu "kunci sukses" bagi pengusaha di tengah kompetisi bisnis yang ketat. Ini juga pembelajaran bagi kita.

Kelima, adanya dukungan dari orang sekitar. Dalam kasus Kim, ia mendapat dukungan penuh dari orang tuanya.

Tentang ini, ada kisah menarik. Selain telah mengucurkan dana yang tidak sedikit untuk pendidikannya sebagai dokter, ayahnya sendiri adalah seorang dokter yang telah mengabdikan hampir seluruh hidupnya dalam profesi tersebut. Artinya, sang ayah pasti mempunyai alasan yang kuat untuk tetap bertahan sebagai dokter. Semestinya begitu.

Tapi, apa yang terjadi ketika Kim mengungkapkan keinginannya untuk bekerja penuh waktu sebagai blogger?

Ayahnya sangat mendukung pilihan Kim! Dan Kim sendiri mengakui, dukungan sang ayah itulah yang membuat mimpinya dapat terwujud! Sekali lagi, luar biasa.

Keenam, Kim memiliki alasan praktis, yang bagi orang-orang bepekerjaan rutin dan TDB seperti saya, sangat "menyentuh". Kim ingin bisa bekerja dari rumah, dan bisa menikmati jauh lebih banyak waktu bersama Penelope, putrinya yang masih berusia 14 bulan.

Ya ampun, "hikmah" kelima ini kan "nyambung" banget dengan postingan Uda Roni (http://roniyuzirman.blogspot.com) dua hari lalu tentang Fatherless Children? Coba link ke sana.

Jujur saja, posting Uda Roni waktu itu cukup membuat saya "terhenyak", dan mengingatkan suasana hati saya ketika membaca Sajian Utama Majalah SWA Sembada N0.01/XXIV/9-23 Januari 2008, tentang "CEO JUGA MANUSIA BIASA; Mereka Gila Kerja, Keputusan Mereka Sangat Menentukan. Tapi, Mereka Juga Sangat Dibutuhkan dan Didambakan Keluarga."

Di majalah itu, ada Rusdi Kirana (CEO Lion Air) yang sering merasa kesepian di apartemennya, karena anak istrinya tidak tinggal bersama di apartemen tersebut. Kesepian, yang akhirnya membuat Rusdi sering memilih tetap di kantor sampai dini hari. Bukan karena beban pekerjaan, tapi menunggu kantuk menyerang, sehingga sesampai di apartemen ia bisa langsung tidur. Agar "kesepian" yang pasti akan menghinggapinya bisa tertepiskan.

Ada juga Hermawan Kartajaya yang mengaku menyesal karena kepemilikan waktu yang sangat minim untuk keluarga.

Ada juga Rosan P. Roeslan, Presiden Direktur PT. Recapital yang beberapa kali terpaksa harus "mengungsikan" keluarga ke Hotel Gran Kemang milik Recapital karena ia tak mungkin pulang akibat tugas-tugas yang urgen dan strategik.

Dalam keseharian saja, Rosan baru bisa pulang selepas jam 22.00, karena masih banyak agenda yang harus dilakukan bersama klien selepas Maghrib hingga malam itu.

Ah! Tentang kehidupan yang "begitu" dan kisah fatherless children, mungkin bisa jadi posting tersendiri di lain waktu.

Kembali ke Kim.

Ketujuh, Kim telah membuktikan bahwa menjadi blogger bisa menciptakan "kekayaan" secara materi. "Hanya dengan membuat blog Anda menarik, dan menciptakan 'lalu lintas' pengunjung sebanyak mungkin!" Itu inti dari resepnya.

Wah, sebagai blogger pemula, ini pasti memompa semangat untuk belajar lebih jauh tentang kedasyatan salah satu perangkat di dunia maya ini.

Bukan tidak mungkin lho, setelah ada dokter yang memilih jadi blogger, kelak ada banker yang memilih jalur hidupnya sebagai blogger! Hahaha!

Ini saja dulu ya. Karena, yang ada sekarang, justru seorang blogger yang harus "berubah" menjadi banker dulu, alias musti ngantor! Musti kerja! Hehe...


Salam,

Fajar S Pramono

BUKU-BUKU SEDANG MARAH KEPADA SAYA


Buku-buku sedang marah kepada saya.

Ya, sangat mungkin begitu. Kemarin pagi, saya kecarian (wah, yang ini bahasa Indonesia versi "Medan"! Hehe...) sebuah buku. Tepatnya majalah. Intisari Mei 2008. Sebagai catatan, Intisari memang saya perlakukan seperti buku karena isinya yang luar biasa, sehingga sangat patut dikoleksi. Itu kenapa saya masih menyimpan edisi-edisi mulai dari saya lajang hingga sekarang (Eits, ini bukan promosi. Ini cuma cerita)

Kemarin siang, sebuah buku juga "marah" kepada saya. Tak seperti biasa, ia "jatuh" di kamar mandi. Basah sebagian. So, mohon maaf untuk Ika Natassa dan Gramedia Pustaka Utama dengan Divortiare-nya. Betewe, sekarang sudah kering dan "baik-baik saja" kok, hehehe...

Dua hari sebelumnya, novel Bilangan Fu-nya Ayu Utami, terbitan Kepustakaan Populer Gramedia Juni 2008, juga "marah" dengan "cara"-nya yang lain. Marja, Yuda dan Parang Jati --beberapa tokoh utama dalam novel setebal lebih dari 536 halaman itu-- "menyediakan diri"-nya untuk dicorat-coret oleh anak saya yang usianya belum genap dua tahun! Tak tanggung-tanggung, spidol tebal-nya yang "dipersilahkan" untuk membuat "tato benang kusut" di tubuh bukunya.

Tak terhitung beberapa buku yang selama ini seolah tak pernah "jalan-jalan" dari rak, tiba-tiba saja "bersembunyi" ketika saya mebutuhkannya untuk referensi.

Ya, buku-buku itu sedang marah kepada saya.

Balas marahkan saya kepada mereka?

Tentu saja tidak. Saya paham betul mereka. Saya ngeh banget atas "tabiat" mereka yang berubah belakangan ini.

Pertama, karena saya tidak memperlakukan mereka sebagaimana mestinya. Buku-buku itu saya tumpuk tanpa "sentuhan sayang". Buku-buku itu saya "tebar" di berbagai sudut rumah, bukan agar dapat dibaca oleh lebih banyak orang, tapi karena "malas"-nya saya belakangan ini.

Kedua, masih cukup banyak buku-buku baru yang tak saya tuntaskan membaca. Sebagai buku yang dibeli untuk dibaca, sangat wajar jika mereka "protes". Laksana kalung intan berpermata, sepatu nomor satu dari Italy dan sebagainya, mereka akan merasa jauh berharga apabila mereka "digunakan", daripada sekadar dijadikan koleksi.

Bukupun demikian. Khittah-nya sebagai obyek baca, tentu lebih terbahagiakan apabila ia dibeli untuk dibaca. Bukan sekedar ditumpuk. Mereka merasa lebih berharga jika "tugas utama"-nya memberi pencerahan kepada manusia bisa terwujud. Lebih baik ditaruh di persewaan buku dengan banyak pembaca, daripada hanya nangkring di rak buku berkaca tanpa sentuhan pembaca. Lebih baik "bulukan" karena dibaca, daripada rapi karena tak tersentuh.

Karenanya, melalui media yang lebih luas dan unlimited ini, saya menyampaikan permohonan maaf yang tak terhingga kepada buku-buku saya. Saya akan lebih banyak lagi sisihkan waktu untuk teman-teman buku. Saya akan rapikan teman-teman semua, saya akan baca teman-teman semua, saya akan ambil seluruh manfaat yang memang bisa teman-teman berikan kepada saya.

Saya janji. Dan please, "ingat"-kan saya lagi dengan segudang "cara" kalian, jika saya masih saja "ndableg". OK?

Terima kasih atas "peringatan"-nya.


Salam buku,

Fajar S Pramono

NB : Foto diambil dari http://musafirmuda.blogspot.com

SEVEN SOCIAL SINS


Pada buku Harus Bisa!-nya Dino Patti Djalal yang sempat saya rekomendasikan di postingan sebelum ini, saya menemukan sebuah catatan mutiara dari Mahatma Gandhi, yang diukir di dinding di lokasi makam beliau, di India. Tentang Tujuh Dosa Sosial.

Selengkapnya, sebagai berikut :

SEVEN SOCIAL SINS

Politics without principle
Wealth without work
Pleasure without conscience
Knowledge without character
Commerce without morality
Science without humanity
Worship without sacrifice

---Quoted by Mahatma Gandhi in 'Young India', 1925---

Saya suka. Karena untaian kalimat-kalimat itu memuat berbagai "keharusan" yang mengikuti berbagai kondisi. "Keharusan" agar apa yang kita miliki dan lakukan mendapat berkah. Dari mulai penciptaan kehormatan diri, kepemilikan ilmu pengetahuan, hak atas kesenangan, perilaku politik, moralitas dalam berdagang, hingga kepada upaya pencapaian kekayaan.

Singkat padat. Simpel, tapi mampu merambah berbagai aspek sosial, yang saya yakin itu semua tak jauh dari apa yang kita lakukan dalam keseharian.

Saya merasa diingatkan.

Semoga pula Anda.


Salam perenungan,

Fajar S Pramono

Note :
Ada buku tentang kesaksian para pengikut dan "musuh-musuh" Mahatma Gandhi, yang bisa menggambarkan seperti apa Gandhi dalam kehidupan sosial beliau semasa hidup.
Judulnya "Ajaran-Ajaran Mahatma Gandhi", ditulis oleh Ved Mehta. Cetakan I-nya diterbitkan oleh Pustaka Pelajar pada Maret 2002.
Kendati terjemahan yang dilakukan oleh Siti Farida cukup membingungkan, namun saripati yang ingin dikisahkan masih bisa ditangkap. Perlu sedikit "kerja keras" memang... :).
Mohon maaf, Bu Siti Farida dan Pustaka Pelajar! :)
Salam buku!

Foto :http://clubs.unlv.edu

AGUSTUSAN!


+
Ya. Kegiatan dalam rangka perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus --lebih asyik disebut dengan "Agustusan" tampaknya, hehe-- di kampung saya sudah dimulai. Hari ini.

Tercatat, ada tiga jadwal yang musti saya ikuti hari ini : pagi futsal, sore voli, malam nanti badminton. Begitu juga besok pagi. Selasa depan, mulai tenis.

Hehe.. saya memang suka "allround". Maunya semua bisa, tapi minim prestasi! Hahaha!

Agustusan tahun ini lain bagi saya. Meskipun sebenarnya, Agustusan tahun lalu saya sudah tinggal di kampung yang sekarang.

Bicara tentang kampung, kampung saya saat ini memang "unik". Pertama, RT kami adalah RT terbesar di wilayah RW kami. Bagaimana tidak, RT kami merupakan gabungan dari 3 buah RT sekaligus!

Ya, penggabungan itu muncul akibat ketiga wilayah RT kami merupakan bagian dari sebuah kompleks yang berisi rumah-rumah dinas dari institusi yang sama. So, karena adanya kesamaan "demografis", tiga RT yang ada dijadikan satu.

Nha, kondisi ini yang cukup membuat saya cukup memiliki "beban moral" manakala beberapa waktu lalu saya didaulat untuk mewakili Ketua RT dalam pemilihan Ketua RW. Pemilihan itu dilakukan layaknya "Pilkada", di mana setiap RT membawa aspirasi warga RT. Amanah itu membuat saya merasa memiliki beban tersendiri : jumlah yang saya wakili tiga kali lebih banyak daripada Ketua RT yang lain!

Keunikan kedua, sebagai rumah dinas, maka lomba-lomba dan pertandingan tadi tidak hanya dilaksanakan antar blok, tapi juga melibatkan "blok" security dan "blok" sebuah anak perusahaan sekaligus perusahaan outsourcing yang membawahi petugas kebersihan, pekerja teknis, cleaning service, dan sebagainya.

Keunikan lain alias yang ketiga, mengingat "keterbatasan" waktu penghuni blok, berbagai lomba yang diadakan selalu menggunakan format "bebas gender" alias campuran. Mau futsal, yang bapak-bapak hanya ada dua orang, dan selebihnya ibu-ibu, ya ayo; mainkan saja!

So, pemandangan yang tidak aneh jika Anda akan melihat ibu-ibu bertanding voli atau futsal melawan bapak-bapak Satpam yang kekar-kekar itu. Haha!

Fleksibilitas lainnya adalah, kalau ada tim yang "kurang orang", maka ia boleh-boleh saja "pinjam" atlet dari blok lain, asal lawannya bisa setuju! Huenak tenan to? Hehe...

++
Nah, kenapa Agustusan ini terasa "lain" bagi saya?

Jujur, sudah lama sekali, setidaknya sudah 15 tahun saya tidak terlampau aktif di kegiatan Agustusan seperti kali ini.

1992 sampai 1998, saya "keasyikan" kuliah. Karena kuliah di luar kota, kost pula, maka saya tidak banyak kesempatan untuk ikut lomba-lomba Agustusan. Paling-paling pas upacaranya.

Lepas 1998, saya mulai bekerja, dan itu ternyata lebih "menutup" kesempatan untuk aktif Agustusan. Karena ternyata, institusi tempat saya bekerja tidak menciptakan ritual khusus bagi perayaan kemerdekaan negeri tercinta ini. Mungkin masalah waktu dan kebijaksanaan. Jadi, lagi-lagi, yang ada hanya tirakatan dan upacara.

Di kampung tempat saya tinggal setelah bekerja dulu, kalaupun diadakan lomba-lomba, keterikatan dengan pekerjaan tidak memungkinkan saya ikut aktif lagi. Bahkan kampung saya sewaktu saya bertugas di Denpasar, Gianyar dan Medan, tak memperlihatkan aktivitas apapun menjelang 17 Agustus itu. "Tragis" ya? Lagi-lagi, kasihan Indonesia. :)

Nah, baru tahun lalu, ketika keluarga kami berdiam di kompleks rumah dinas yang sekarang, suasana itu mulai terasa.

Lebih terasa bagi saya, yang sebelum meninggalkan kampung asal di 1992 itu, boleh dibilang tak pernah lepas dari berbagai kegiatan nasionalisme ala kampung. Ya ikut lomba, ya jadi panitia, ya menyiapkan segala sesuatunya, sampai ikut "parade senja" setiap 17 Agustus sore di lapangan bola dekat rumah.

Nah, baru 2007 lalu saya berkesempatan mengikuti berbagai ritual seperti itu lagi. Dimulai dari partisipasi dalam lomba-lomba, sampai malam puncak peringatan di mana semua dari kami di kompleks memakai dresscode merah putih! Luar biasa menurut saya.

Tahun ini, "amnesia kebangsaan" saya mulai hilang. "Ingatan" demi "ingatan" di mana saya merasa bangga sekali dengan INDONESIA muncul kembali.

Sebenarnya, titik balik kemunculannya pada saat "Pilkada RW" kemarin. Semula saya merasa sangat "asing" di forum-forum seperti itu. Padahal "forum kenegaraan" semacam itu dulu sering sekali saya ikuti. Saya sebut "forum kenegaraan", karena ia memikirkan bangsa. Memikirkan negara.

Seputar Agustusan, tahun ini saya dipercaya menjadi panitia inti di kampung. Sempat canggung juga, karena mengkoordinasi anggota komunitas masyarakat di era individualisme seperti sekarang ini, apalagi sebagian besar anggota masyarakat itu merupakan pejabat institusi yang senantiasa sibuk, sangat berbeda dengan mengkoordinir teman-teman di kampung. Betatapun katroknya mereka, tapi ber-gotong royong dalam "aksi sosial" dengan mereka jauh lebih mudah.

Jujur, saya merasakan "nostalgia" yang indah kali ini. Saya merasakan "getar-getar kebangsaan" itu kembali. Dan saya senang. Dan saya bahagia. Dan saya bersemangat.

+++
Bicara rasa kebangsaan, saya masih saja bangga menjadi manusia Indonesia. Saya bangga dengan Indonesia, meskipun seringkali --sangat sering, bahkan-- tidak bangga dengan pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat negaranya.

Bukan di pucuk pimpinan alias presidennya, karena saya bisa memahami betapa susahnya berbagai pengambilan kebijakan untuk negeri yang heterogen dan penuh kepentingan politik ini. Penuh dinamika, penuh dilematika.

Jujur, yang sangat jarang saya banggakan adalah wakil rakyat, yang entah, mewakili "rakyat" yang mana. Padahal, mereka menjadi bagian dari pengambilan keputusan dan kebijakan bagi negeri ini.

Tapi, ah, tidak pada tempat dan saatnya, saya bicara tentang itu. Melakukan apa yang terbaik bisa saya lakukan untuk negeri ini, itu saja sementara yang saya lakukan. Mencintai Indonesia dengan cara kita sendiri. Dengan potensi apa saja yang ada di dalam diri.

Saya berpikir, kalau semua kita berusaha memberi yang terbaik, rasanya akan tercipta akselerasi bagi kemajuan negeri ini. Rasanya begitu. Rasanya sih... :)

++++
Ya, begitulah. Beginilah. Begonolah. Begunulah.

Tak tahu, ada yang bisa "diambil" nggak, dari posting kali ini. Yang pasti, saya sedang semangat menikmati Agustusan tahun ini.

Semoga, itu pula yang akan kembali saya rasakan tahun-tahun mendatang. Amien.

Tabik. Kepareng. Saya mau badminton dulu...

Hidup Blok B! Hidup RT 09! Hidup RW 05! Hidup Rawasari! Hidup Jakarta Pusat! Hidup DKI Jakarta! HIDUP INDONESIA!

(Lhah, kok jadi berpikir "individual" dan "kedaerahan" lagi sih?! Hehe...)


Salam Agustusan,

Fajar S Pramono


Note :
Bicara tentang "kebangsaan", ada 2 buku bagus tentang pemimpin-pemimpin kita :

1)
Harus Bisa!; Seni Memimpin Ala SBY; Catatan Harian Dr. Dino Patti Jalal, Red & White Publishing, 2008.
Isinya tentang kisah-kisah di balik pengambilan keputusan oleh SBY sebagai pemimpin negeri.


2)
The True Life of Habibie; Cerita di Balik Kesuksesan, karya A. Makmur Makka, Pustaka IIman, 2008.
Yang ini semacam "biografi" mantan Presiden Habibie. Di sana ada kisah tentang prinsip-prinsip hidup Habibie, pandangan kebangsaan dan eksistensinya dalam dunia teknologi.

Keduanya bagus, dan menurut saya, bisa meningkatkan citarasa kebangsaan kita.
Mari kita baca bersama. Nggak tebal kok, masing-masing "hanya" 417 dan 456 halaman, di luar indeks, prolog dan epilog! :)

DITEKEN, UNTUK DITEKAN


LISTRIK INDUSTRI BISA DIPUTUS.
Peraturan Bersama Pengalihan Jam Kerja Diteken.

Itu judul dan subjudul sebuah headline di halaman pertama Harian Sindo, Selasa 15 Juli 2008.

Saya tak akan berbicara tentang listrik yang sedang krisis. Meskipun kadang merasa konyol, karena kita yang tadinya biasa mendengar "Maaf, minyak habis" ketika kita mencari bahan bakar dan sumber energi, maka saat ini kita bisa mendengar, atau bahkan ngomong ke investor asing, "Maaf, listrik habis!".

Walah, malu.

Yang mau saya diskusikan justru adanya kata "diteken". Ketika peraturan bersama diteken, berarti semua sepakat bahwa penggunaan listrik harus ditekan. Pengalihan waktu kerja, penghematan penggunaan di berbagai ranah mulai dari rumah tinggal, perkantoran hingga pabrikasi dan industri, semuanya dilakukan agar penggunaan listrik dapat ditekan.

Jadi, "diteken" untuk "ditekan".

Nah, sadarkah bahwa banyak hal yang "diteken" untuk menunjukkan bahwa ada pihak yang siap "ditekan"? Ini tema postingnya.

"Teken" berarti tanda tangan, penekenan sama artinya dengan penandatanganan.

Ketika anda teken kontrak, berarti Anda dan "lawan kontrak" Anda merupakan pihak-pihak yang siap "ditekan" oleh isi kontrak itu sendiri.

Anda pengusaha. Anda teken kontrak, menyanggupi pengiriman 3 kontainer baju muslim ke Malaysia tiap bulan selama setahun. Artinya, setiap bulan dalam setahun --atau bahkan setiap harinya-- Anda harus siap "ditekan" oleh kewajiban membuat model, menyiapkan bahan baku, memproduksi, mengontrol kualitas, melakukan packaging, mengirimkan, dan memastikan bahwa barang diterima secara tepat waktu. Ada harus siap "bekerja dalam tekanan" dengan adanya kesanggupan Anda.

Saya teken kontrak dengan perusahaan saya. Dalam hal ini, saya siap menjadi pekerja yang baik dan benar. Layaknya Bahasa Indonesia lah : harus baik dan benar. :)

Artinya, berbagai tugas yang ada, seberat apapun, saya harus siap melaksanakannya. Saya harus siap "ditekan". Saya harus siap berada dalam kondisi underpressure.

Sebagai artis, Anda sudah teken kontrak untuk menyanyi di pedalaman Kalimantan sana. Cuaca tak begitu baik untuk perjalanan udara maupun laut dari Jakarta. Tapi, karena Anda sudah menyatakan sanggup, selama masih dimungkinkan perjalanan ke sana, Anda harus siap. Ketakutan harus dihilangkan. Kekhawatiran harus dilenyapkan. Perjalanan yang mendebarkan harus dinikmati.

Seandainya boleh memilih, dalam kondisi seperti itu, Anda tentu lebih memilih tetap di apartemen, menonton film di saluran televisi asing, berselimut sekaligus berharap menikmati hembusan AC yang dingin. Nyaman.

Tapi, kesepakatan sudah "diteken". Berarti Anda harus siap "ditekan". Oleh keadaan. Oleh kewajiban bernyanyi. Oleh profesionalitas.

KONSEKUENSI.
Akhirnya, kata inilah yang paling tepat untuk menganalogkan istilah "tekanan" di atas. Ada sesuatu yang disepakati, berarti ada konsekuensi yang harus ditepati.

Anda memilih jalur sebagai pengusaha, pekerja perusahaan, artis, atau apapun; semua memiliki konsekuensi. Dalam perwujudan konsekuensi itulah, kadangkala kita harus siap dengan "tekanan-tekanan".

Bagaimana agar "tekanan" itu tidak mengintimidasi keseharian kita? Ya, bekerjalah dengan efektif dan efisien. Bekerjalah dengan kesadaran, dengan hati, bahwa konsekuensi takkan terelakkan di ranah kehidupan apapun.

Kita berani "dilahirkan" di dunia ini pun, langsung berhadapan dengan konsekuensi sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kita harus taat pada berbagai aturan yang Tuhan buat, bukan?

"Teken", memang lekat dengan "tekan". Diteken, ditekan. Hukum alam juga, menurut saya.

Tapi dengan kesadaran, maka konsekuensi tidak akan terasa sebagai sebuah "tekanan".


Salam perenungan,

Fajar S Pramono

"SARAPAN PAGI" -- undur diri --


>>0<<
SARAPAN PAGI 170707 : "Jika Anda ingin meraih level kebahagiaan, maka atasi ego Anda. Buatlah sebuah keputusan berani untuk melepas perasaan ingin selalu menguasai, ingin selalu disetujui, dan ingin selalu dipuji. Di tiga area itulah egoisme kerap beraksi."
(Deepak Chopra, Penulis India)

>>1<<

Kalimat di atas, adalah "SARAPAN PAGI" yang pertama kali saya sampaikan ke teman-teman satu tim di kantor.

Alhamdulillah, sudah setahun persis ini, sampai dengan "SARAPAN PAGI 160708" yang saya sampaikan kemarin pagi, saya bisa "setia" pada komitmen saya.

Ya, sejak tanggal 17 Juli 2007 lalu, saya berkomitmen kepada diri saya sendiri untuk selalu memberi "sarapan pagi" kepada 7 orang teman satu tim marketing saya.

"SARAPAN PAGI" adalah deretan kata-kata (saya menyebutnya "kalimat-kalimat emas") yang secara sengaja maupun tidak sengaja saya temukan dalam keseharian saya. Dari buku, dari media audio visual, dari koran, majalah, bahkan dari obrolan dengan orang lain. Dari mana saja.

Selama "ia" bisa mencerahkan dan dalam pandangan saya tidak bertentangan dengan akidah, saya akan "ikat" ia sebagai sebuah hidangan "sarapan pagi" untuk saya sendiri dan teman satu tim.

"SARAPAN PAGI" sendiri merupakan istilah yang saya pilih, dengan dasar filosofis, bahwa apa yang kita "makan" pada pagi hari merupakan salah satu "penentu" seperti apa kita (minimal) dalam sehari itu. Ia adalah "bekal". "Modal".

Saya ingin teman-teman selalu memperoleh sarapan yang "terbaik" : yakni sarapan yang menginspirasi. Yang memotivasi. Yang mencerahkan. Yang membuat seseorang sekaligus bisa "introspeksi". Berkaca. Dan syukur-syukur, bisa berubah ke arah yang lebih baik.

Dalam catatan saya, sempat tiga atau empat kali saya "telat" memberikan sarapan pagi. Bukan karena tak siap dengan "menu sarapan", tapi lebih karena faktor lupa. Sempat juga beberapa kali "sarapan pagi" terpaksa berubah menjadi menu "makan siang" (bahkan juga pernah untuk "makan malam"), karena kealpaan tadi.

Lupa itu adalah lupa mengirimkan. Maklum, saya memilih cara "manual", dengan mengirimkannya lewat SMS ke nomor HP teman-teman, setiap pagi. Sengaja saya tidak memakai reminder atau sistem automatic apapun, karena ada tujuan di balik cara "manual" itu.

>>2<<
Apa tujuan saya dengan "SARAPAN PAGI" itu?

Pertama, mengingatkan saya sendiri. Deretan kata yang menggugah, merupakan salah satu "petuah" terbaik yang bisa saya dapatkan, dalam rangka menuju kehidupan yang lebih baik.

Kedua, seiring dengan posisi saya di kantor, saya ingin selalu memberikan "yang terbaik" kepada teman-teman tim. Dalam pada itu juga, saya ingin berbagi.

Ketiga, dengan komitmen untuk memberi "sarapan pagi" setiap hari, maka mau tak mau, sempat atau tidak sempat, saya harus "memiliki" stok sarapan pagi, minimal untuk hari itu. Itu membuat saya lebih giat membaca, lebih peka menangkap makna, lebih bersedia mendengarkan. Intinya, saya menjadi lebih rajin "belajar" dari sumber apapun, dan lebih sensitif dalam "mengikat makna".

Keempat, dengan cara "manual" yang saya ceritakan di atas, maka mau tak mau, sempat atau tidak sempat, saya harus membacanya (minimal sekali) dalam hari itu. Saya harus memastikan bahwa menu "sarapan pagi" hari itu bergizi. Dari memastikan, berarti secara tidak langsung saya membaca, mencoba menyerap makna, dan berusaha untuk berbuat yang sesuai dengan isinya. Artinya, itu juga pembelajaran yang kontinu untuk saya. Singkatnya, hari itu saya juga "belajar".

Kelima, "SARAPAN PAGI" adalah sarana untuk "menampar" diri saya sendiri. Artinya begini. Kalau saya bisa "memberi" motivasi, memberi arahan, memberi pencerahan dan bahkan prinsip-prinsip baru dalam hidup ini kepada teman-teman, maka saya akan --bahkan harus-- merasa malu jika ternyata saya sendiri tidak bisa menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Artinya, kalau saya mengingatkan orang lain untuk berbuat baik dan terus semangat, maka saya sendiri harus bisa menunjukkan bahwa saya adalah orang yang juga selalu berusaha menjadi "orang baik" dan penuh semangat juga. Malu dong, kalau hanya bisa ngomong, sementara tak ada "bukti" dari aksi kita sendiri.

>>3<<
Sampai dengan kemarin pagi, berarti sudah ada 365 sharing yang bisa saya berikan. Insya Allah, tak ada pengulangan menu dari 365 "sarapan pagi" itu. Yang ada hanya pengulangan tema.

Saya sendiri tak berharap muluk semua itu bisa diresapi, bisa diaplikasikan, atau bahkan bisa "mengubah" mereka.

Tidak. Saya membayangkan, jika 10 saja yang bisa digunakan sebagai prinsip baru dalam hidup kami, itu sudah sangat baik. Tak bisa 10, ya 5. Tak sanggup 5, ya 1. Kalau satu pun tak ada yang "nyanthol", tak apa. Ini bagian dari ikhtiar saya. Toh,semua itu hanya salah satu "metode" kepemimpinan yang saya ciptakan sendiri. Bukan permintaan dari siapapun.

Tapi saya yakin, pasti ada yang bisa kami jadikan pedoman untuk menjadi lebih baik dalam hidup ini. Insya Allah.

>>4<<
Mulai hari ini, saya "pamit" kepada teman-teman satu tim, saya tidak akan melakukan hal seperti itu lagi. 365 messages, bukan angka yang sedikit untuk bisa dibaca-baca kembali. Saya berharap, hari ke-366 ini menjadi awal sebuah siklus.

Kepada teman-teman, silakan dibaca dan "diputar" kembali menu "sarapan pagi" yang ada. Saya merasa, bukan saatnya lagi saya memberikan suapan "sarapan pagi". Syukur-syukur, ada yang bisa "menggantikan" saya, sehingga asupan "sarapan pagi" saya menjadi lebih bergizi dan bervariasi lagi. 365 pesan, hanyalah pengingat, bahwa kita selalu harus terus belajar, bahwa kita harus terus berusaha menjadi lebih baik.


Salam pembelajaran,

Fajar S Pramono


Foto : oier.multiply.com

JANGAN BIARKAN OTAK KAMU KOSONG!


Jangan berpikir saya sedang arogan, apalagi menggurui.

Judul di atas adalah kalimat yang ada di pembatas buku terbitan GagasMedia, dalam rangka Kampanye Gemar Membaca dan Menulis GagasMedia. Semalam saya mendapatkannya sebagai "bonus" buku Black Interview, karya Andre Syahreza.

Saya suka kalimatnya yang tegas banget. Lugas. Sedikit sarkastis memang. Apalagi untuk judul sebuah posting! Hehe...

"IT'S FUN TO READ AND WRITE!"

Itu deretan kalimat di bawahnya. Masih tegas. Masih lugas.

Ya, membaca dan menulis itu memang kegiatan yang FUN-NY dan FUN-KY kok! Maka, kadangkala, teman-teman yang sudah bisa "menjiwai" aktivitas baca-tulis heran. Bukannya baca-tulis sudah menjadi keseharian kita juga sejak kecil? Sekolah, harus membaca dan menulis. Jadi pekerja kantoran, begitu juga. Jadi pengusaha, sama saja. Jadi profesional, inggih sami mawon.

Tapi tentu, bukan "sekadar" itu yang dimaksud. Baca dan tulis diharapkan bisa menjadi "hobi" yang secara kuantitas dan kualitas lebih dalam dari sekedar "kewajiban" baca-tulis sehari-hari.

Membaca, berarti mengisi pikiran kita. Biar tidak kosong, seperti kata pembatas buku tadi. Menulis, berarti "mengikat makna", meminjam istilah Hernowo. Menulis, berarti menuangkan apa yang sudah ada di otak ke ranah media yang lain.

Merujuk "teori kendi"-nya Mas Nurudin yang dosen di Universitas Muhammadiyah Malang sono, kita harus terus membaca, agar selalu ada yang bisa "dituang". Dengan media analogi yang sama (kendi), maka kita perlu menulis alias "menuangkan", agar otak kita senantiasa memiliki ruang untuk diisi kembali. Ilustrasinya, mana bisa ilmu pengetahuan wawasan dan apapun yang sifatnya baru masuk ke otak kita, jika otak kita "penuh"? So, membaca dan menulis itu "satu kesatuan".

Saya mendukung kampanye GagasMedia tadi.

Ayo membaca. Ayo menulis. Tak perlu waktu lama, Anda akan sangat merasakan manfaatnya. Bagi jiwa, bagi tubuh. Bagi otak juga, tentunya.

So, tak boleh heran lagi jika di mobil selalu ada "stok" buku untuk dibaca kala memungkinkan. Tak perlu bengong jika melihat isi tas kantor lebih banyak memuat buku daripada kerjaan kantor itu sendiri.

Tak perlu heran juga jika "harta" di rumah lebih banyak buku ketimbang furniture. Tak perlu kaget juga jika Anda mendapat kado berupa buku dari saya, bukannya cincin emas permata berlian.

Pertama, karena saya yakin buku sangat bermanfaat. Kedua, "Cincin emas dengan permata dan berlian itu mahal banget, tau!"

Hahaha!


Salam baca, salam tulis,

Fajar S Pramono

KUR, KUR, KUUUUR....!!!


Untuk siapa dan dalam rangka apa KUR alias Kredit Usaha Rakyat diluncurkan?

Ya, KUR memang diluncurkan untuk para pengusaha UKM yang usahanya feasible, tapi belum bankable. Artinya, usahanya layak dibiayai, namun terkendala masalah bank teknis.

Apa saja kendala bank teknis itu? Misalnya, usaha yang belum berusia lebih dari 2 tahun. Kemudian, ketiadaan atau kurangnya agunan tambahan. Kemudian lagi, belum terpenuhinya aspek legalitas alias perijinan.

Dalam rangka apa sih, KUR diluncurkan? Pastinya, dalam rangka mengakomodasi kebutuhan permodalan bagi para pelaku UKM tadi, supaya bisa "tersentuh" oleh pembiayaan dari lembaga perbankan.

Memang, ada beberapa agenda atau misi yang terselip di belakang peluncuran KUR oleh Presiden SBY ini. Salah satunya, dari adanya pembatasan plafond maksimal. Yakni, maksimal 500 juta rupiah.

Kenapa? Karena salah satu misi peluncuran produk KUR ini adalah untuk pemerataan. Semakin "kecil" plafond maksimalnya, diharapkan semakin banyak pelaku UKM yang bisa "disentuh" tadi. Ini juga terkait dengan dana APBN yang disalurkan kepada lembaga penjamin kredit sebagai pendukung dari coverage agunan.

Nah, masalahnya, belakangan ini, saya semakin sering menerima pengajuan KUR dari mereka yang feasible sekaligus bankable.

Ada nasabah yang sudah mendapat kredit em-em-an alias milyaran rupiah di bank lain, maunya minta KUR juga. Maunya dapat tambahan, dengan persyaratan minimal.

Ada yang punya aset banyak, legalitas oke, usaha bagus, tapi hanya mau jika dikasih KUR. Intinya, karena ia keberatan "menitipkan" asetnya untuk agunan.

Ada yang "pura-pura miskin". Ada yang sok "oon". Ada juga yang terus terang.

Dari sudut pandang pengusaha, KUR ini memang penuh "kemudahan".

Bukan apa-apa. Tapi, kalau itu yang terjadi, mau dikemanakan tujuan dan misi peluncuran KUR ini?

Sebagai pengusaha yang feasible dan bankable, mestinya kita "bersyukur". Sebagai pelaku bisnis yang baik, mestinya tidak keberatan, kalau pengusaha yang lain juga bisa maju. Sebagai warga negara dan bagian bangsa Indonesia, mestinya bangga, kalau semakin banyak pengusaha UKM yang mampu berkembang.

"Mengaku" sebagai pengusaha yang feasible sekaligus bankable, juga merupakan bentuk syukur kita kepada Sang Pemberi Hidup. Pada Allah SWT. Pada Tuhan Yang Maha Esa. Kalau pada kelanjutannya kita justru seolah "mengingkari" kesuksesan itu, bisa-bisa --ini bukan mendo'akan, hehe-- nanti kita "kualat", trus jadi kurang sukses lagi....

Intinya, mari kita sadari bersama. KUR ini untuk siapa, dan dalam rangka apa.
Beri kesempatan untuk semua. Mari maju bersama. Untuk kita, untuk Indonesia.

Oke, Bro?



Salam,

Fajar S Pramono