Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

KEBERHASILAN ITU MENGIKAT


Pernahkan Anda merasa berhasil, dan setelah itu justru merasa ”kehilangan” gairah atau semangat?

Saya pernah. Tidak sekali, bahkan. Contohnya dalam hal menulis. Ketika berusaha dan berobsesi pingin ”menembus” Kompas atau Jawapos, maka semangat menulis sesuai dengan mainstream-nya Kompas atau Jawapos terus menggebu-gebu. Selesai menulis, kirim. Menulis lagi, kirim. Menulis lagi, kirim lagi. Begitu terus. Sampai suatu ketika, nongol-lah tulisan saya di sana.

Apa yang dirasakan? Ya, saya merasa berhasil!

Setelahnya? Ya, justru di situlah masalahnya. Setelah ”berhasil” menembus media yang dikenal ”susah” itu, saya justru ”larut”. Merasa puas. Saya merasa sudah membuktikan, saya bisa! Dan itu seolah ”cukup”.

Setelahnya, saya menjadi lebih suka menjadikannya ”kenangan indah”, daripada mengulangi keberhasilan-keberhasilan itu dengan segera menulis lagi, mengirimkannya lagi persis seperti sebelumnya. Yang terjadi, saya malah jadi stagnan. ”Terhanyut aku akan nostalgi...”, meminjam kata-kata Katon Bagaskara dalam Yogyakarta-nya Kla Project.

Ketika berusaha menjadi penulis kolom (lihat posting saya sebelumnya : Buku Kedua, Insya Allah), saya begitu bersemangat. Empat contoh tulisan kolom yang pada waktu itu saya ajukan ke Mas Is (Pemred majalah WK), saya selesaikan dalam satu malam! Hanya beberapa jam!

Begitu juga proses buku pertama. Realita, saya fokus membuat draft isi buku itu hanya dalam empat hari empat malam! Boleh dibilang, saya tidak tidur waktu itu. Bahkan mandi pun menggunakan pola minimalis! Haha!

Intinya, saya semangat sekali.

Namun setelah itu, setelah ”bisa”, semangat ”mengendur”.

Saat ini, meski setiap bulan tulisan saya muncul di Majalah WK, bahkan majalah DUIT! pun sudah bersedia memesan tulisan khusus untuk mendukung laporan utama-nya, semuanya menjadi seolah ”biasa” saja. Tak ada lagi ”sesuatu yang menantang”. Tak ada ”greg” seperti yang pada waktu itu saya rasakan.

Itulah kenapa, saat ini saya berusaha membuat tantangan-tangangan baru dalam kehidupan. Buku kedua, harus terbit tahun ini. Tulisan-tulisan saya, harus segera muncul di media lain. Termasuk karya sastra. Termasuk resensi. Blog saya, harus ”hidup”. Dan sebagainya.

Ketika tantangan ini muncul, hormon adrenalin dalam tubuh serasa bergolak. Ia meminta perhatian, untuk segera membuktikan kembali bahwa –tidak sekedar saya bisa– tapi ”saya bisa meraih yang lebih”!

Bicara tentang keberhasilan, saya rasa sangat bijak jika kita menyimak kata-kata Albert Camus : “Keberhasilan adalah sebuah ikatan. Keberhasilan saat ini mewajibkan seseorang mencapai hasil yang lebih tinggi lagi di masa depan.

Ya, keberhasilan, baik small winning maupun big winning, bukan tujuan akhir. Ia hanya terminal sementara. Ia harus memancing adanya tantangan baru bagi penciptaan keberhasilan-keberhasilan yang lebih besar. Yang small jadi big, yang sudah big jadi very big, dan seterusnya.

Keberhasilan boleh dinikmati, dan itu sangat wajar serta manusiawi. Namun, menjadi tidak baik manakala kita merasa “cukup’ dengan keberhasilan itu, sehingga kita lupa atas “kewajiban” membuat keberhasilan-keberhasilan baru, yang merupakan konsekuensi dari penciptaan keberhasilan sebelumnya.

Intinya, jangan pernah berhenti. Kesuksesan itu unlimited. Batasnya adalah langit!

Mari kita gapai bersama.


Salam pencerahan,

Fajar S Pramono

6 komentar:

Ini blog yg saya ikuti hampir tiap hari. Keep writing Mas, saya tunggu chicken soupnya setiap hari. Kita sparring partner lah. Sama2 bertekad utk konsisten nulis tiap hari.

"Mengikat makna setiap hari", kata Hernowo. Kata2 itulah yg memotivasi sy ngeblog tiap hari.

Salam sukses Mas Fajar. Saya suka kata2 dari Camus itu. Saya pinjam ya... Tks

 

salam

 

"Gak duwe udel sampeyan iku Cak", jare arek Suroboyo...

"Wach...Wach...salut atas semangat Sampeyan Cak"

Aku rutin Mas buka blog-nya Mas Fajar

Padahal jadi Jer Mene khan suibuk banget lho...

 

Yth. Uda Roni

Uda Roni, thanks atensi dan "dorongan"-nya.
(Jadi malu nih, diajak jadi sparring partner ama "guru", hehe...)

Btw, jawaban saya adalah, "Insya Allah saya siap, Uda!"

Saling mengingatkan ya...

 

Yth. Yustin Respati (Mbak kan? Hehe..)

Salam kenal.
Terima kasih sudah berjalan-jalan ke blog saya.

 

Yth. Cak Nanang

Haha.. isa ae Sampeyan, Cak!

Jujur saja, "kenekatan" ngajak Sampeyan nge-blog itu merupakan salah satu pemacu untuk bisa semakin membuktikan bahwa ngeblog itu asyik, ngeblog itu keren, dan ngeblog itu --Insya Allah-- membawa manfaat.

OK? Kalo Jer Mene bisa dan sempat, masak OA gak sempet? Hahaha!