Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

DITEKEN, UNTUK DITEKAN


LISTRIK INDUSTRI BISA DIPUTUS.
Peraturan Bersama Pengalihan Jam Kerja Diteken.

Itu judul dan subjudul sebuah headline di halaman pertama Harian Sindo, Selasa 15 Juli 2008.

Saya tak akan berbicara tentang listrik yang sedang krisis. Meskipun kadang merasa konyol, karena kita yang tadinya biasa mendengar "Maaf, minyak habis" ketika kita mencari bahan bakar dan sumber energi, maka saat ini kita bisa mendengar, atau bahkan ngomong ke investor asing, "Maaf, listrik habis!".

Walah, malu.

Yang mau saya diskusikan justru adanya kata "diteken". Ketika peraturan bersama diteken, berarti semua sepakat bahwa penggunaan listrik harus ditekan. Pengalihan waktu kerja, penghematan penggunaan di berbagai ranah mulai dari rumah tinggal, perkantoran hingga pabrikasi dan industri, semuanya dilakukan agar penggunaan listrik dapat ditekan.

Jadi, "diteken" untuk "ditekan".

Nah, sadarkah bahwa banyak hal yang "diteken" untuk menunjukkan bahwa ada pihak yang siap "ditekan"? Ini tema postingnya.

"Teken" berarti tanda tangan, penekenan sama artinya dengan penandatanganan.

Ketika anda teken kontrak, berarti Anda dan "lawan kontrak" Anda merupakan pihak-pihak yang siap "ditekan" oleh isi kontrak itu sendiri.

Anda pengusaha. Anda teken kontrak, menyanggupi pengiriman 3 kontainer baju muslim ke Malaysia tiap bulan selama setahun. Artinya, setiap bulan dalam setahun --atau bahkan setiap harinya-- Anda harus siap "ditekan" oleh kewajiban membuat model, menyiapkan bahan baku, memproduksi, mengontrol kualitas, melakukan packaging, mengirimkan, dan memastikan bahwa barang diterima secara tepat waktu. Ada harus siap "bekerja dalam tekanan" dengan adanya kesanggupan Anda.

Saya teken kontrak dengan perusahaan saya. Dalam hal ini, saya siap menjadi pekerja yang baik dan benar. Layaknya Bahasa Indonesia lah : harus baik dan benar. :)

Artinya, berbagai tugas yang ada, seberat apapun, saya harus siap melaksanakannya. Saya harus siap "ditekan". Saya harus siap berada dalam kondisi underpressure.

Sebagai artis, Anda sudah teken kontrak untuk menyanyi di pedalaman Kalimantan sana. Cuaca tak begitu baik untuk perjalanan udara maupun laut dari Jakarta. Tapi, karena Anda sudah menyatakan sanggup, selama masih dimungkinkan perjalanan ke sana, Anda harus siap. Ketakutan harus dihilangkan. Kekhawatiran harus dilenyapkan. Perjalanan yang mendebarkan harus dinikmati.

Seandainya boleh memilih, dalam kondisi seperti itu, Anda tentu lebih memilih tetap di apartemen, menonton film di saluran televisi asing, berselimut sekaligus berharap menikmati hembusan AC yang dingin. Nyaman.

Tapi, kesepakatan sudah "diteken". Berarti Anda harus siap "ditekan". Oleh keadaan. Oleh kewajiban bernyanyi. Oleh profesionalitas.

KONSEKUENSI.
Akhirnya, kata inilah yang paling tepat untuk menganalogkan istilah "tekanan" di atas. Ada sesuatu yang disepakati, berarti ada konsekuensi yang harus ditepati.

Anda memilih jalur sebagai pengusaha, pekerja perusahaan, artis, atau apapun; semua memiliki konsekuensi. Dalam perwujudan konsekuensi itulah, kadangkala kita harus siap dengan "tekanan-tekanan".

Bagaimana agar "tekanan" itu tidak mengintimidasi keseharian kita? Ya, bekerjalah dengan efektif dan efisien. Bekerjalah dengan kesadaran, dengan hati, bahwa konsekuensi takkan terelakkan di ranah kehidupan apapun.

Kita berani "dilahirkan" di dunia ini pun, langsung berhadapan dengan konsekuensi sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Kita harus taat pada berbagai aturan yang Tuhan buat, bukan?

"Teken", memang lekat dengan "tekan". Diteken, ditekan. Hukum alam juga, menurut saya.

Tapi dengan kesadaran, maka konsekuensi tidak akan terasa sebagai sebuah "tekanan".


Salam perenungan,

Fajar S Pramono

0 komentar: