Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

MENGAKTIFKAN DIRI


Studio Metro TV, Minggu 31 Agustus 2008.

"Mas Wahyu aktif di MTSC?" tanya saya kepada kawan sebelah kursi, sebelum taping Mario Teguh Golden Ways dimulai.

Mas Wahyu --lengkapnya Wahyu Hidayat-- adalah orang yang "memfasilitasi" saya hingga berkesempatan mengikuti acara tersebut. MTSC sendiri merupakan kependekan dari Mario Teguh Super Club. Sebuah wadah para Super Member (SM) yang konon kabarnya hari ini sudah memiliki anggota lebih dari 600 orang, dan masih terus bertumbuh.

Mas Wahyu tersenyum. Memandang saya, sambil berkata, "Mengaktifkan diri, Mas." Nada bicaranya menunjukkan kerendahan hatinya.

Saya tercengang sejenak, sampai Mas Wahyu melanjutkan, "Kalau kita ingin seperti beliau (Mario Teguh --red), ini adalah salah satu cara 'mendekat' dan belajar langsung dengan beliau."

Ia melanjutkan, bahwa jika kita bisa "dekat" dan dipercaya, maka siapapun tak akan segan berbagi ilmu kepada kita.

Saya masih tercekat.

***

Saya suka jawaban Mas Wahyu tentang "mengaktifkan diri". Bukan sekedar "aktif".

Adakah Anda merasakan sesuatu yang berbeda dari jawaban Mas Wahyu?

***

Lantas, saya membuat beberapa analog. Hanya dalam pikiran saya sendiri.

"Dalam sebuah peristiwa positif, kita bisa saja terlibat. Tapi, melibatkan diri?"

Wow!

"Kita bisa saja aktif di sebuah proyek atau pekerjaan menuju sebuah target, karena memang itulah tugas kita. Sebagai anggota panitia sebuah kegiatan, misalnya. Tapi, mengaktifkan diri?"

Kita bisa pantas menjadi "seseorang" karena kondisi eksternal kita memang telah memungkinkannya. Semisal, kita menjadi "sesepuh" kampung, karena memang tak ada lagi yang lebih muda dari kita.

Tapi, "memantaskan diri" untuk bisa disebut sebagai seorang "sesepuh", pimpinan atau sosok panutan karena kebaikan serta kebijaksanaan pikir dan tindakan kita, kendati kita relatif masih muda dibanding yang lain?

Pasti luar biasa.

***

Saya merasa, ada sesuatu yang "lebih" dari jawaban Mas Wahyu.

Aktif dalam sebuah klub, sebuah komunitas, bisa saja terjadi karena dorongan berbagai faktor. Bisa faktor eksternal diri (keadaan yang "memaksa"), bisa juga faktor internal (diri kita sendiri).

Mengaktifkan diri, melibatkan diri, memantaskan diri, adalah bentuk dorongan internal. Motivasi dari dalam. Kemauan. Kesediaan, yang semua itu didasarkan pada kesadaran bahwa kita yang membutuhkannya. Bukan semata keadaan yang membutuhkan kita.

Dan bicara tentang motivasi --saya yakin kita punya pendapat yang sama--, motivasi internal dirilah yang jauh lebih permanen. Lebih "kekal" dan stabil. Karena permanently dan stabilitas itu pulalah, motivasi internal seringkali menjadi lebih kuat pengaruhnya dibanding motivasi eksternal yang seringkali naik turun, bahkan kadang antara ada dan tiada. Dan jika motivasi kita sangat kuat, maka hasil yang didapat, Insya Allah, akan jauh lebih baik.

***

Jawaban pendek Mas Wahyu atas pertanyaan saya, menunjukkan sebuah kualitas pribadi seseorang.

Saya rasa, hari ini saya mendapat pembelajaran lebih dari Mas Wahyu. Sepele tampaknya, tapi sangat berharga bagi saya.

Mas Wahyu, terima kasih pembelajarannya, terima kasih kesempatannya.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : www.datakarir.com

TARHIB RAMADHAN 1429 H


Assalamu'alaikum wr. wb.


Marhaban yaa Ramadhan,

Allahuma baariklana fi rajabna wa sya'ban wabalighna ramadhana.
Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikan kami kepada bulan Ramadhan.

Semoga Allah memanjangkan usia kita untuk menikmati keagungan bulan suci Ramadhan, menikmati malam-malam mulia dengan qiyamullail, dan menikmati detik-detik penuh ampunan dari Allah SWT.

Selamat menjalankan ibadah Ramadhan, mohon maaf lahir dan batin.



Wassalamu'alaikum wr. wb.

Fajar S Pramono dan keluarga

Kaligrafi : http://on2hood.files.wordpress.com

SILATURAHIM


Di komunitas Tangan Di Atas (TDA), istilah "silaturahim membawa berkah" sudah menjadi salah satu "keyakinan" dalam hidup.

Saya pun meyakini hal tersebut. Itu kenapa, saya bersemangat hadir dalam forum-forum mereka, kendati rasa letih akibat kerjaan rutin di kantor terus mendera.

Sabtu-Minggu yang diamini banyak pekerja kantor sebagai "hari keluarga" pun, kadangkala saya "curi" untuk kegiatan-kegiatan silaturahim seperti itu.

Dan Jakarta, saya akui sebuah kota yang sangat kondusif. Untuk apapun. Untuk hobi, untuk bekerja, untuk berbisnis, untuk mengembangkan diri, untuk beraktualisasi, dan sebagainya.

Di kota ini saya banyak bertemu "keajaiban". Bertemu dengan orang-orang hebat, berkawan dengan teman-teman yang luar biasa.

Minggu lalu, melalui kemauan untuk bersilaturahim dengan Pak Thomas Sugiarto pada Sabtu sebelumnya --di kantor beliau--, saya mendapatkan kesempatan untuk mengikuti Champion Champ bersama tim beliau. Dua hari satu malam di Ciawi. Dan untuk itu, "Jika Pak Fajar merasa Champion Champ tidak ada manfaatnya, tak perlu membayar", kata beliau. Saya sebenarnya sangat beruntung, karena sebenarnya kuota untuk acara tersebut sudah penuh. Tapi, Pak Thomas bersedia "menyisipkan" satu nama di sana. Nama saya. Tanpa saya minta.

Hanya sayang, karena suatu hal, justru saya yang terpaksa tidak dapat mengikutinya.

Sabtu kemarin, saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah seminar wirausaha di Hotel Sahid Jakarta. Juga acara Penyerahan ISMBEA (Indonesia Small and Medium Business Entrepreneur Award) 2008 di hotel yang sama, pada malam harinya.

Alhamdulillah, kesempatan untuk acara yang seharusnya berbayar tersebut saya dapatkan secara cuma-cuma. Padahal, sebelumnya saya secara resmi mendaftarkan diri, dengan kesediaan ber-"investasi" --sebuah istilah untuk mengganti kata "biaya pendaftaran", karena mengikuti acara seperti itu memang merupakan investasi dalam bentuk learning, actuating dan networking--.

Lepas dari masalah gratis atau tidak, semua itu bagi saya adalah kemudahan. Toh seringkali kita melihat, uang tak bisa membeli sebuah kesempatan, bukan?
Dan kemudahan meraih kesempatan itu, semua terwujud karena adanya eratnya tali silaturahim.

Dari pertemuan dengan seorang kawan dalam acara tersebut pula, Alhamdulillah, hari ini saya berkesempatan untuk ikut sekaligus melakukan taping di Metro TV untuk acara "Golden Ways"-nya Mario Teguh. Luar biasa menurut saya, karena Mario Teguh sendiri merupakan salah satu sosok yang saya kagumi dan saya sering jadikan "panutan" terkait dengan prinsip-prinsip hidupnya.

Lebih beruntung lagi, saya diijinkan mengajak anggota tim saya di kantor. Sungguh, sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya bisa mengajak teman-teman satu tim guna mengembangkan diri. Beberapa waktu lalu, saya berhasil meyakinkan atasan untuk mengikutkan mereka pada seminar-seminar Andrie Wongso, James Gwee, Tung Desem Waringin, Reza M Syarief, dsb. Juga memberi "pengalaman-pengalaman baru" kepada mereka melalui kegiatan-kegiatan yang mungkin selama ini belum mereka lakukan. Konferensi by YM! beberapa waktu lalu, presentasi di forum non formal, lepas dari agenda kantor, namun "menghasilkan" dan produktif juga bagi pekerjaan di kantor. Mengajak mereka ke forum-forum diskusi wirausaha, yang pada akhirnya memberi tambahan wawasan dan mindset yang baru di luar rutinitas kerja, dan sebagainya.

Proses demi proses dalam melakukan "branding" sebagai insan perbankan, juga coba saya tunjukkan kepada teman-teman. Mereka tahu persis bagaimana saya berproses ketika saya ingin menulis buku ataupun menulis artikel di media massa. Mulai dari darimana saya bisa kenal penerbit, dari mana saya memiliki ide, bagaimana mencari endorser, bagaimana "perjuangan" mendapatkan kata pengantar dari Safir Senduk, dan bagaimana saya seringkali "lupa diri" kalau lagi bersemangat.

Demi Tuhan dan Astaghfirullah, semoga ini bukan bentuk kesombongan diri. Saya hanya ingin mengatakan, saya berbahagia memiliki kesempatan, di mana kesempatan yang ada tidak hanya bisa dirasakan oleh saya sendiri. Saya bisa "menularkan" rasa bahagia ini ke teman-teman. Itu yang membuat saya semakin bahagia.

Kemudahan demi kemudahan yang saya dapatkan saat ini, tak ada yang lepas dari berkah sebuah silaturahim.

Saya berdoa, kesempatan demi kesempatan luar biasa akan terus menghampiri kami sekeluarga, sekaligus dapat "menularkan" berbagai kesempatan luar biasa tersebut kepada semakin banyak orang. Amien.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://demo.wanwas.org

SEBUAH KISAH, SEBUAH CERMIN (1) --Rhenald Kasali


Saya sudah berulang kali membaca kisah ini. Sungguh, tak terhitung. Dan sungguh pula, saya menangis --benar-benar menangis mengeluarkan air mata-- setiap kali membacanya.

Pertama, tentu karena isi kisah itu sendiri. Begitu menyentuh untuk saya. Kedua, karena kisah ini dialami oleh seorang Rhenald Kasali. Seorang yang tentunya merupakan sosok tegar, sosok beridealisme, sekaligus sosok yang sangat kuat empati dan simpati dalam perasaannya. Di tengah gunungan kesibukannya. Di tengah guliran waktu yang seolah senantiasa memburu jadwal-jadwalnya. Sungguh, saya tak menyangka orang sesibuk dan sepopuler Rhenald memiliki kisah seperti ini.

Entah saya yang cengeng, entah saya yang sok sensi. Yang jelas, bukan salah Rhenald, dan bukan salah Ida Arimurti yang memasukkan kisah ini ke dalam bukunya. Buku Renungan Ida Arimurti.

Tapi, saya memilih jujur. Saya memang menangis. Sebenar-benar tangisan. Terlebih jika saya membacanya, di "ruang semedi" saya. Menjelang mandi pagi...

Saya tidak akan mencuplik kisahnya. Saya bahkan seratus persen menyadurnya. Semata agar kisah ini tak kehilangan roh. Semata agar cerita ini tak kehilangan nyawa.



--- TEMAN SPIRITUAL ---
by Rhenald Kasali

Lebaran baru saja usai. Jalan-jalan di Jakarta masih sepi, toko-toko, dan kantor-kantor belum resmi dibuka. Hari itu, saya sedang mengendarai mobil menuju kampus Depok. Sudah sebulan ini, saya melakukan konsentrasi penuh untuk merampungkan buku saya yang kelak diberi judul Change.

Kalau Anda pernah menulis buku, tentu tahu betapa banyak waktu yang harus dicurahkan. Seperti membangun sebuah rumah, pekerjaan yang memakan waktu justru terletak di ujung penyelesaian, yaitu tahap finishing. Dengan demikian, saya benar-benar konsentrasi, dari pagi hingga ke pagi lagi, setiap hari di kantor. Semua pekerjaan lain terpaksa ditunda. Saya benar-benar tenggelam dengan kertas, buku, komputer, dan dua orang staf yang membantu. Mereka juga terpaksa memperpendek waktu cuti mereka.

Tiba-tiba, persis di pintu tol Depok-Pasar Minggu, telepon genggam saya berdering. Saya melihat layar dan, ternyata, dari sekretaris saya yang sudah lebih dahulu berada di kantor.

"Pak, maaf, saya ganggu...," ujarnya.

"Ya, silakan, ada apa?" sahut saya.

"Ini, Pak, Adit meninggal pagi ini.... Tadi, ibunya memberi tahu...."

Saya segera menepikan kendaraan saya. Jantung saya tiba-tiba berdegup keras sekali. Sudah tiga hari ini, saya memang merasa tidak nyaman. Sekarang, jelas sudah penyebabnya. Perlahan-lahan, mata saya mulai lembap, saya benar-benar terpukul. Padahal, sewaktu ayahanda saya meninggal enam tahun yang silam, saya masih bisa bersikap tegar. Saya ingat betul pesan Ayah..., "Jangan cengeng, terima semuanya dengan kepala tegak."

Bahkan, saya masih bisa mengajar meski hati saya hancur berkeping-keping. Saat itu, di kampus Salemba, saya hanya berharap waktu cepat berlalu dan saya bisa kembali ke rumah jenazah di seberang jalan untuk memandang jasad Ayah yang terbujur kaku. Namun, saya bisa menahan tangis.

Kali ini, kepergian Aditya tidak bisa saya terima. Ia pergi terlalu cepat. Usianya baru 10 tahun. Hidupnya penuh penderitaan. Dan, saya pun belum sempat menyalaminya, hanya memberi semangat lewat telepon. Saya benar-benar berutang karena saya pernah berjanji akan menemuinya. Saya merasa benar-benar egois. Saya benar-benar menyesal tenggelam dalam pekerjaan.

Pantaslah seminggu ini saya merasa tidak nyaman. Sesekali, jantung saya berdetak tinggi. Setiap saat itu datang dan setiap saya mengeluh kepada istri di rumah, ia mencoba menenangkan saya, "Abang terlalu capai," katanya menghibur. Saya pikir, mungkin ada benarnya juga. Saya memang benar-benar kurang tidur dan mata saya letih memandangi huruf-huruf di depan monitor. Namun, dari jendela kamar, kami sering mendengar cuat-cuit suara burung hujan. Bunyinya tidak begitu enak didengar. Mungkin burung-burung itu cuma berharap agar hujan segera turun.

Akan tetapi, di tempat tidur, saat anak-anak dan istri saya sedang bercengkrama di kamar, mereka sering membahas bunyi suara burung itu. Bahkan, istri saya membenci bunyinya. Katanya, itu pertanda tidak baik. "Biasanya, ada orang yang akan mati," ujarnya. Setiap mendengar kalimat itu, kami semua terdiam. Kami seperti sedang mengheningkan cipta. Rasanya, semua anggota keluarga kami baik-baik. Dan, kami berdoa agar semua baik adanya.

Namun, burung itu terus bercuat-cuit. Bunyinya semakin lirih, terkadang, ada dan terkadang, ia pergi.

Oleh karena itu, ketika dikabarkan Adit sudah tiada, saya benar-benar terpukul. Sekretaris dan staf-staf saya di UI sangat mengenal anak ini. Mulanya, mungkin mereka merasa aneh juga mengapa saya begitu menaruh perhatian kepada anak tersebut. Keluarga bukan, tetangga juga tidak.

Saya masih ingat betul pertama kali saya melihat Adit. Seorang anak sekolah dasar, bercelana pendek merah dengan baju putih lengan pendek dan bertopi, memberi bunga untuk ibunya yang berusia setengah baya. Anak itu saya lihat di sebuah stasiun televisi setelah kuliah subuh. Pagi itu, saya tengah berada di luar kota, di kamar sebuah hotel, seorang diri.

Sejak ditinggal almarhum ayahnya yang gagal ginjal, ibunda Adit harus bersusah payah membesarkan anak-anaknya. Ia mengendarai sepeda menjajakan sayuran dari rumah ke rumah, begitu selesai mengantar Adit ke sekolah. Rumahnya dijual untuk biaya rumah sakit almarhum ayah Adit. Namun, hanya dalam tempo enam bulan sejak ayahnya meninggal, Adit didiagnosis menderita leukimia. Akibatnya, ia butuh biaya besar. Ia juga tidak bisa sekolah dengan lancar. Selain biaya, fisiknya juga melemah. Akan tetapi, ibunya tak putus asa. Sebagai rasa cintanya kepada sang ibunda, tiba-tiba, Adit didatangkan di stasiun televisi itu. Diantar kakak-kakaknya, Adit menghadiahi ibunya rangkaian bunga.

Sejak saat itu, pikiran saya tidak dapat melupakan Adit. Besoknya, saya segera menghubungi stasiun televisi itu dan meminta alamat Adit. Setelah susah payah mencari-cari, beberapa hari kemudian, sekretaris saya berputar-putar di daerah Tangerang mencari rumah Adit. Butuh upaya khusus untuk mencari rumahnya. Dari situ, saya jadi mengerti betapa berat penderitaan keluarga ini. Rumah kontrakannya kecil, kusam, dan mereka sering kesulitan darah untuk transfusi Adit.

Pernah Adit terpaksa menunggu berhari-hari untuk mendapatkan darah. Ia harus menunggu di koridor rumah sakit dan menyaksikan orang-orang yang sedang sekarat. Terkadang, darah tidak ada, padahal wajahnya sudah pucat pasi. Begitu dapat darah, Adit dapat menjadi segar kembali. Beberapa kali, saya menghubunginya melalui telepon dan terdengar ucapan syukur begitu selesai mendapat darah.

Adit tetap tidak mengetahui saya, selain mendengar nama saya. Sampai suatu ketika, ia memberi tahu ibunya dengan menunjuk sebuah tabloid yang memuat foto saya. Indra ketiganya begitu tajam dan ia memberi tahu ibunya bahwa itulah saya. Oleh karena itu, setiap kali melihat saya di media cetak, ia pun memberi tahu ibunya dan hal itu diceritakan ibunya lewat telepon kepada saya. Adit mengatakan keinginannya untuk bertemu dengan saya, tetapi saya masih sibuk mengedit buku. Saya berjanji habis Lebaran pasti akan datang.

Bulan puasa pada 2004, saya terus ngebut menyelesaikan buku itu. Namun, begitu ada jeda sebentar, saya minta disambungkan ke Adit. Saat-saat terakhir itu, saya sering mendengar Adit sedang tertidur. Hati saya pu tenang, seakan-akan saya mengatakan, "Masih ada waktu." Dan, saya pun memacu kerja saya dan ingin cepat-cepat selesai.

Sore itu, ibunda Adit memberi tahu bahwa Adit ingin mainan Tamiya, lalu esoknya, anak-anak sayapun segera mengirimkannya. Malam takbiran, Adit terlihat sedih tak punya baju baru. tetapi, begitu baju didapat, katanya, Adit gembira kembali.

Beberapa hari kemudian, 19 November 2004, kabar buruk itu saya terima. Adit sudah pergi.... Saya benar-benar terpukul. Setelah putar-putar Jakarta tak keruan, saya pun segera menuju Tangerang. Di rumahnya, saya berhasil mencium kening Adit, hanya beberapa saat sebelum jasadnya diantar ke pemakaman. Saya menangis sesegukan seperti seorang anak kecil. Dia adalah teman spiritual saya. Saya telah berusaha bekerja lebih keras, lebih cepat untuk bertemu, tetapi ia keburu pergi. Usianya belum genap 10 tahun.

Di ujung ruangan, saya melihat mainan pemberian kami yang disimpan dengan apik. Dari ibunda Adit, saya menjadi tahu betapa besar penderitaan yang dialami Adit, hari-hari menjelang kematiannya. Ia sudah mulai bosan dengan jarum-jarum infus dan keinginannya hanya satu, bertemu dengan saya. Sayang, saya tidak mampu memenuhinya. Dan, itulah yang membuat saya sangat terpukul.

Nama Adit saya abadikan pada halaman-halaman depan buku Change yang terbit pada 2005. Dan, kalau Anda pernah membaca buku karangan saya itu dan membaca puisi kecil "In Memoriam, Aditya Tri Kusumo Putro", inilah kisahnya.


In Memoriam, Aditya Tri Kusumo Putro
(Setelah bertarung dengan Leukimia, wafat 19 November 2004 dalam usia 10 tahun)

Sahabat kecil yang merindukan pertemuan itu,
Kau pergi begitu cepat, sebelum keinginanmu terkabul,
Karena aku berharap dan terus berharap...
Tapi kau bersih, bening dan meninggalkan
Kesan yang begitu dalam
Kau membersitkan pengalaman spiritual
Yang tak terlupakan
Kalau kelak kita bertemu lagi,
Aku akan menjadi teman mainmu yang baik...
Tak ada lagi jarum atau sinar yang menakutkanmu



Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : blogs.psychologytoday.com

IKHSAN BRILIANTO --potret sebuah kondusivitas dalam keluarga--


--- sebelum meneruskan membaca posting kali ini, ada baiknya kita tengok posting terdahulu : "Hasrat Merubah Diri", Selasa 17 Juni 2008. Tentang sebuah penyesalan. Juga tentang sebuah keinginan. Keinginan merubah dunia, yang pada akhirnya disadari, bahwa untuk itu ia harus merubah dirinya sendiri terlebih dahulu. Baru keluarga. Baru negeri. Baru dunia.... ---


***satu***

Adalah kisah keluarga Ikhsan Brilianto, seorang anak SMP usia 14 tahun, yang ingin saya ceritakan di sini.

Ikhsan adalah salah satu peserta termuda di antara ratusan peserta Lomba Karya Ilmiah Remaja Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LKIR-LIPI) bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Kemanusiaan. Ia baru kelas III, di sebuah SMP di Yogyakarta. SMP Negeri 5. Pawiyatan Gangsal Ngayogyakarta, istilah Ikhsan dalam profil friendster-nya.

Namun, siapa yang berani mengatakan, bahwa kemudaan juga berarti keminiman kualitas?

Terbukti, karya ilmiahnya yang berjudul "Bom Waktu Dunia Pariwisata di Yogyakarta (sebuah studi tentang praktik-praktik pramuwisata liar)" terpilih menjadi Juara Pertama untuk bidang sosial dan kemanusiaan tersebut.

Ikhsan berhak mengantongi 18 juta rupiah plus kesempatan menghadiri The 1st APEC Future Scientist Conference di Gyeongnam, Korea, akhir Agustus 2008 ini.

Tapi, bukan hadiah itu yang ingin saya ceritakan.

Dengan informasi yang saya akui masih sangat terbatas, saya ingin ceritakan, apa yang kira-kira bisa membuat Ikhsan dapat terus menciptakan prestasi demi prestasi. Berdasarkan curiculum vitae-nya, bukan kali ini saja ia mencetak prestasi. Awal 2007, ketika masih kelas I SMP, Ikhsan telah berhasil memperoleh Juara Harapan I Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR), dengan karyanya "Prospek Pedagang Klithikan sebagai Alternatif Wirausaha di Yogyakarta."

Orisinalitas ide, kuatnya energi dalam penuangan ide, serta adanya tawaran solusi memang menjadi keunggulan karya-karya Ikhsan.

Di luar penelitian ilmiah, sejak SD Ikhsan juga telah mencetak banyak prestasi, seperti Juara 1 Siswa Teladan SD se-Kabupaten Bantul 2005, Juara 1 MTQ Pelajar se-Provinsi DIY untuk tingkat SD tahun 2005, Juara 1 Tari Klasik se-Kabupaten Bantul 2005, serta Juara 1 MTQ Pelajar Tingkat Provinsi Golongan Anak-anak tahun 2007.

Luar biasa, karena dari situ juga tampak adanya ketertarikan Ikhsan di bidang religi dan seni budaya, yang kini seringkali kita saksikan justru "dijauhi" anak-anak muda.


***dua***

Kembali ke pokok cerita, apa yang kira-kira membuat Ikhsan terus berprestasi?

Kondusivitas lingkungan keluarga!

Ya. Saya melihat, lingkungan keluarga Ikhsan sangat kondusif bagi proses pembelajaran sekaligus proses pembentukan karakter Ikhsan.

Ikhsan adalan anak bungsu dari pasangan Farida (51) yang guru ekonomi, dan Yati Utami (43) yang guru biologi.

Sebagai anak yang juga dilahirkan oleh pasangan guru, saya merasakan sendiri bagaimana pola pendidikan keluarga yang diajarkan sangatlah berbeda dengan anak dari keluarga lain. "Warna" dari sistem pembelajaran yang diberikan, sangat berbeda dengan teman-teman sebaya yang kebetulan anak dari seorang dokter, atau anak dari seorang wiraswastawan.

Benar kata agama. Anak ibarat kertas yang putih dan bersih. Mau diwarnai apa, semua tergantung dari orang tuanya.

Keseharian Ikhsan, memang sedikit berbeda dengan mayoritas teman sebayanya. Ia tetap mengaku suka game online. Suka playstation. Tapi, ia mengaku "tak terjebak".

Sehari-hari, ia suka menjelajahi dunia via internet. Yang berbeda lagi, sejak kecil, Ikhsan lebih senang berkumpul dan membicarakan hal-hal "penting" bersama orang tua dibanding bermain tak karuan.

Kini, di saat sebayanya lebih rajin berburu album-album pop, rock dan sejenisnya, Ikhsan lebih senang mendengarkan nasyid dan melagukan ayat-ayat Al-Qur'an (kiroah). Itu juga yang menyebabkan dirinya mantap menjadi vokalis nasyid di sekolahnya. Bahkan saat ini Ikhsan tengah serius untuk menghafal ayat-ayat Allah. Subhanallah.

Keseharian lain, ia rajin berlatih tari di Sanggar Tari Pujokusuman. Sebuah kegiatan, yang saya yakin banyak laki-laki sebayanya justru "malu" untuk melakukannya. Ingin tahu alasan Ikhsan berlatih menari? "Untuk melatih kesabaran dan menjaga keseimbangan otak," katanya. Sungguh, suatu jawaban yang sangat "dalam" dan filosofis, yang keluar dari mulut seorang anak 14 tahun.

Sang Ibu --Yati Utami-- sendiri mengaku tidak pernah membebani anak-anaknya dengan prestasi. Ia hanya menekankan, aksesori hidup sejatinya bukanlah benda. Pengalaman dan hikmah dari apa yang dialami dalam kehidupan, menurutnya jauh lebih penting. Dan itu lebih berharga sebagai bekal dalam mengarungi hidup dan kehidupan.

Tapi, lihatlah. Dengan penekanan pada pengalaman dan hikmah, prestasi demi prestasi justru ikut dengan sendirinya.

Sang Ibu, merupakan peraih Juara II Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) LIPI bidang Matematika, IPA dan Teknologi tahun 2007. Sang kakak satu-satunya --Kartika Afridah Fauziah (17)-- yang saat ini belajar di SMA 1 Yogyakarta, baru saja meraih Medali Perak pada Olimpiade Sains Nasional (OSN) VII di Makasar, yang baru berakhir Kami 14 Agustus 2008 lalu.

Ikhsan sendiri, mengaku mulai tertarik pada karya ilmiah dan riset setelah melihat modul penelitian dan salah satu karya ilmiah yang dibuat oleh kakaknya.


***tiga***

Adakah Anda merasa, kondisi di keluarga Ikhsan memiliki andil yang besar bagi pembentukan karakter sekaligus pencapaian-pencapaian prestasi Ikhsan?

Adakah Anda telah "membaca" sebuah kenyataan, bahwa lingkungan keluarga yang kondusif akan sangat berpengaruh pada kualitas para anggotanya?

Adakah Anda tergelitik, untuk melihat kepada keluarga kita masing-masing, kondisi seperti apa yang selama ini kita ciptakan?

Adakah Anda ingin, perubahan dunia bisa diawali --salah satunya-- dari keluarga Anda?

Saya sendiri merasa, "membaca", tergelitik, dan ingin....


Salam inspirasi,

Fajar S Pramono

Notes :
1/ Tentang Ikhsan, Anda bisa baca Kompas edisi Rabu 27 Agustus 2008, halaman 16. Berita lainnya, silakan googling dengan key word "Ikhsan Brilianto". Lebih dari dua halaman pertama, semua tentang Ikhsan dan prestasinya.

2/ Foto diambil dari friedster Ikhsan.

BERMIMPILAH


"Sekecil apapun kita, semiskin apapun kita, dan seburuk apapun kita, BERMIMPILAH. Jadikan mimpi kita sebagai harapan yang mungkin. Jangan membatasi mimpi kita karena mimpi akan mengantarkan kita pada kenyataan. Dan, hiduplah dengan mimpi itu. Hiduplah dengan tujuan itu. The purpose of life is the life with purpose."

--Tantowi Yahya, "I am a Big Dreamer", dalam buku Renungan Ida Arimurti--


Salam pencerahan,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : img.photobucket.com

"SSTI" dan "KOLOM WK"-KU


"Setiap menonton Suami-Suami Takut Istri, saya pasti inget tulisan Mas Fajar di WK," kata seorang kawan.

WK adalah "panggilan sayang" Majalah Wirausaha & Keuangan. Sebuah majalah kewirausahaan yang terbit bulanan.

Jujur saja, saya juga seneng menonton serial sitkom (situasi komedi) Suami-Suami Takut Istri alias SSTI di Trans TV. Bukan karena saya termasuk ISTI alias Ikatan Suami Takut Istri sehingga merasa "klop" atau "senasib" dengan para Pak RT, Bang Tigor, Uda Faisal dan Mas Karyo --tokoh-tokoh suami dalam SSTI--, tapi jauh dari itu : serial yang tayang setiap hari Senin-Jumat itu mampu memberi kesegaran tersendiri di jiwa, setelah otak ini lelah bekerja seharian. Lucu, dan cukup realistis kendati juga sering terlalu mengada-ada. Keberagaman latar belakang para tokoh juga menjadi hiburan tersendiri. Belum lagi kontradiksi yang ditunjukkan oleh tokoh Mang Dadang, yang justru "sukses" berpoligami dengan tiga istri kendati ia "hanya" seorang Satpam, yang seringkali digambarkan terhimpit masalah ekonomi. Itu adalah "warna" SSTI yang lain.

Sayangnya, sangat jarang bagi saya untuk bisa tiba di rumah pada jam tayang SSTI pada pukul 18.00 - 19.00 WIB itu.

Telepas dari pro-kontra bagus tidaknya materi SSTI (silakan ketik "Suami-Suami Takut Istri" di Google, akan Anda temukan berbagai pendapat yang pro dan kontra di dalamnya --red), tayangan tersebut memang selalu mengingatkan saya pada materi kolom yang dulu saya tulis setiap bulan itu.

Kesamaan atau kemiripannya ada pada setting tempat dan model penetapan para tokoh yang mengambil latar belakang etnik atau suku di nusantara tercinta ini.

Tentang setting tempat, SSTI mengambil latar sebuah RT kecil, dengan beberapa rumah petak di dalamnya. Obrolan dalam fokus cerita seringkali dilakukan di pos ronda RT setempat. Tempat para suami, bahkan juga para istri, seringkali berkumpul.

Dalam kolom saya, saya mengambil setting sebuah perumahan di ibukota. Di Jakarta. Seluruh obrolan yang menjadi tema kolom, dilakukan di apa yang saya sebut dengan istilah "balai kampung". Sebuah bangunan berupa pendopo yang saya gambarkan ada di tengah-tengah kampung. Sebuah "ruang serba guna" di sebuah perumahan, juga tempat warga berkumpul.

Nyaris sama persis.

Tentang penokohan, kalau di SSTI ada Pak RT (Sarmili) yang asli Betawi, Bang Tigor yang dari Batak, Mas Karyo yang Jawa dan Uda Faisal yang orang Minang (Padang), maka dalam kolom saya ada Bang Sinaga (Batak), Uda Mail (Minang/Padang), Bli Wayan (Bali) dan Mas Ndoet (representasi pencerita --saya--) yang orang Jawa.

Kalau DI SSTI ada tokoh pendukung yang bernama Mang Dadang yang direpresentasikan sebagai orang Sunda dan memerankan tokoh Satpam, maka dalam kolom saya juga ada Cak Rifan (representasi arek Suroboyo) yang "hanya" berperan sebagai penjual wedang jahe dan gorengan. Ia setia menemani malam-malam obrolan kami.

Bedanya, Mang Dadang masih bisa jadi pemeran utama dan ikut berlakon. Sementara Cak Rifan lebih sering hanya berperan sebagai "pemain tambahan" tanpa keikutsertaan dalam dialog.

Lagi-lagi, nyaris sama persis!

Nah, yang "menyakitkan" bagi saya, adalah ketika justru saya yang "dituduh" mencuri ide kolom saya dari tayangan SSTI tersebut. Dan itu tidak sekali dua manakala saya bertemu dengan teman-teman.

Kendati seringkali diungkap secara berkelakar, namun beberapa kali saya merasa "ke-ego-an" saya mengemuka. Jujur saja.

Bagaimana tidak? Saya berusaha menciptakan "sesuatu" yang beda, unik, tapi menarik dan tidak membosankan (karena saya memang "melamar" untuk menjadi penulis kolom tetap, sehingga dimungkinkan saya menulis untuk beberapa tahun ke depan). Tapi, ketika semua itu terwujud, justru datang "sesuatu" yang membuat saya seolah menjadi "tertuduh".

Saya penasaran. Saya sangat yakin bahwa "edisi" Bang Sinaga dkk (kolom saya) published lebih dulu dibanding tayangan SSTI.

Saya buka folder "sent" di Yahoo saya. Tercatat, saya mengirim konsep kolom tersebut ke Mas Isdiyanto (Pemred Majalah WK) pada tanggal 21 Maret 2007.

Ini isi email saya, yang saya lampiri beberapa file contoh kolom :

Salam hormat, Mas Isdiyanto.

Mas Is, saya kirim konsep artikel utk rubrik kolom yg
saya sebut sebagai "Seri Pengusaha dan Bank".

Jujur, kalau Mas Is berkenan, saya ingin kolom saya
ini "berbeda" dg kolom atau tulisan yang selama ini
ada di WK.

Pertama, tentang isi. Saya memang fokus kepada
hubungan pengusaha dengan bank, namun lebih kepada
pola/filosofi hubungan debitur-kreditur yang sering
terlupakan atau tidak disadari pentingnya.

Kedua,tentang cara penyampaian atau bertutur tulisan.
Seperti pernah saya sms-kan ke Mas Is, saya punya
konsep tulisan kolom ini lebih bersifat 'ringan,
santai, membumi', namun tetap tidak meninggalkan
kedalaman pembahasan.
Bahkan dari segi judul pun, saya mencoba konsisten
dengan judul "satu kata" kecuali untuk kata majemuk
dan peristilahan yang tak terpisahkan.

Ketiga, tentang lay out. Saya ingin kolom saya
memiliki ciri yang khas dari segi lay out. Mulai dari
bentuk kolom, tipologi huruf, performa gambar, dsb.

Semua ini saya harapkan dapat menciptakan variasi
serta menghindarkan kejenuhan atas kolom-kolom yang
sudah ada, termasuk kalau kolom saya ini diperkenankan
tampil tiap bulan.

Mudah-mudahan, dg konsep 'ringan, santai namun bernas"
seperti itu, kolom berseri pengusaha dan bank bisa
menjadi ciri dan sesuatu yang ditunggu oleh pembaca
WK.

Bersama ini kami kirimkan 4 (empat) contoh file 'versi
cetak', masing-masing berjudul "Rumit", "Ngutang",
"Sahabat" dan "Tanya". Versi kirim (resmi dg format
artikel dan spasi rangkap) akan saya serahkan besok.

Jika Mas Is dan teman-teman Redaksi berkenan, maka
saya akan suplai tulisan sejenis dalam jumlah
sebagaimana yang dibutuhkan oleh Majalah WK. Bahkan,
siapa tahu dapat menjadi 'bahan baku' sebuah kumpulan
kolom.. :)

Mekaten, Mas Is. Terima kasih banyak!

Salam persahabatan,


FAJAR S PRAMONO


Demikianlah. Beberapa waktu kemudian, Mas Is menyatakan setuju.

Dan Alhamdulillah, mulai edisi April 2007, WK mulai memuat kolom saya. Alhamdulillah, sampai sekarang. Berarti sudah hampir satu setengah tahun. Dan bahkan, rencana buku saya yang kedua adalah kumpulan kolom yang telah termuat tersebut, ditambah banyak materi lain yang belum ter-publish di majalah.

Tentang konsep obrolan di kolom saya sendiri, saya terinspirasi oleh Bapak Ahmad Tohari, penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan penulis kolom serial "Mas Mantri" di Harian Suara Merdeka (Semarang) dulu. Saya punya salah satu buku kumpulan kolomnya : Mas Mantri Gugat (Yayasan Bentang Budaya, Oktober 2004). Model penceritaan Pak Ahmad Tohari melalui tokoh-tokoh Mas Mantri, Den Besus, Kang Martopacul dan Mbak Nyus itulah yang memberi warna dominan pada tulisan-tulisan saya di kolom WK.

Masih penasaran, saya buka Wikipedia Indonesia. Hasilnya :

Suami-suami Takut Istri adalah sitkom yang ditayangkan di Trans TV setiap Senin hingga Jumat pukul 18.00 WIB sejak 15 Oktober 2007. Serial ini digarap oleh rumah produksi Multivision Plus di bawah arahan sutradara Sofyan De Surza. Sitkom ini diperankan oleh Otis Pamutih sebagai Sarmili (Pak RT), Aty Fathiyah sebagai Sarmila (Bu RT), Marissa sebagai Sarmilila, Irfan Penyok sebagai Karyo, Putty Noor sebagai Sheila, Yanda Djaitov sebagai Tigor, Asri Pramawati sebagai Welas, Ramdan Setia sebagai Faisal, Melvy Noviza sebagai Deswita, Epy Kusnandar sebagai Mang Dadang, Desi Novitasari sebagai Pretty dan Ady Irwandi sebagai Garry.

Suami-suami Takut Istri mengangkat fenomena suami-suami yang tinggal di suatu area perumahan. Mereka semua memiliki kesamaan yaitu berada di bawah dominasi istri-istri mereka. Perasaan "senasib sepenanggungan" ini tumbuh makin kuat, sehingga mereka membentuk aliansi tidak resmi bagi suami-suami yang takut istri ini. Mereka saling mendukung dan mencela, saling menguatkan agar tidak lagi mau ditindas, walaupun seringkali sang pemberi nasihat justru masih takut istri juga. Para istri di komplek perumahan tersebut juga membentuk perkumpulan yang sama. Mereka saling memberi dukungan agar tidak kehilangan kendali atas suami-suami mereka.

Serial ini akan memasuki episode ke 150.[1] Setelah sukses di televisi, sitkom ini akan difilmkan[2] dan direncanakan akan ditayangkan pada Lebaran mendatang.[1]

[sunting] Pemeran

* Otis Pamutih sebagai Sarmili (Pak RT)
* Aty Fathiyah sebagai Sarmila (Bu RT)
* Marissa sebagai Sarmilila ( Anak Sarmili / Sarmila)
* Irfan Penyok sebagai Karyo ( Suami Sheila)
* Putty Noor sebagai Sheila
* Yanda Djaitov sebagai Tigor
* Asri Pramawati sebagai Welas
* Ramdan Setia sebagai Faisal
* Melvy Noviza sebagai Deswita
* Epy Kusnandar sebagai Dadang (Satpam Perumahan)
* Adi Irwandi sebagai Garry

Referensi

1. ^ a b "Suami-Suami Takut Istri Melangkah Ke Layar Lebar", 21 Cineplex. Diakses pada 2008-08-21.
2. ^ "'SUAMI-SUAMI TAKUT ISTRI' Diangkat ke Layar Lebar", KapanLagi.com, 2008-07-24. Diakses pada 2008-08-21.



Alhamdulillah, akhirnya memang "terbukti" bahwa kolom saya published duluan. Jika ditinjau dari segi naskah/konsep, sampai saat ini saya belum berhasil menemukan siapa penulis naskah atau pemilik idenya. Siapa tahu kenal dengan saya (eh, saya kenal dengan dia, hehe), lalu "mencuri" ide saya, atau siapa tahu ia ternyata pembaca setia majalah WK! Hehehe...

***

Saya merasa harus menulis tentang hal ini, mengingat sitkom SSTI semakin memiliki banyak penggemar. Kemarin (Sabtu, 22/08/08), Republika juga mengangkat SSTI dalam halaman "di balik layar"-nya. Sehalaman penuh. (Oya, di sana juga disebutkan bahwa SSTI "baru" memproduksi 216 episode, yang berarti memang belum ada setahun penayangan)

Di sisi lain, materi kolom saya, Insya Allah akan segera dibukukan. Artinya, dimungkinkan semakin banyak lagi menyapa pembaca.

Saya akui, terlalu jauh menyandingkan atau bahkan membandingkan publikasi melalui media buku, dengan publikasi melalui media audio visual. Saya tentu tidak layak "ge-er", bahwa orang-orang akan tahu kumpulan kolom saya sebagaimana dengan mudahnya mereka tahu apa dan bagaimana SSTI.

Tapi, ini adalah masalah orisinalitas ide. Saya merasa harus melakukan "klarifikasi". Agar saya tak perlu menjawab jika ada "tuduhan" atau sodoran pertanyaan yang membandingkan isi buku saya nanti dengan SSTI.

Cukup akan saya bilang, "Baca posting di blog saya, www.fajarspramono.blogspot.com tanggal 23 Agustus 2008."

Lebih simpel, kan? Iya, kalau semua yang nanya sudah melek teknologi.

Tapi hare gene? :)

Terangin lisan, dong!

Hah? Nerangin secara lisan berulang-ulang? Walah, cape deeeeh.... :)


Salam,

Fajar S Pramono

Notes :
-- Ilustrasi : www.transtv.co.id
-- Contoh tulisan saya, ada di posting setelah ini. Juga di posting tahun 2007 dan Januari 2008.

"MELAWAN" KETERBATASAN


"Saya tak pernah memikirkan memiliki kaki atau tidak. Hal terpenting ikut kompetisi adalah karena saya masih memiliki anggota badan yang lain," kata Natalie du Toit.

***


Deretan kalimat itu membuat saya merinding tadi malam.

Pertanyaannya, siapakah Natalie du Toit?

Jika Anda cukup mengikuti pemberitaan seputar Olimpiade Beijing 2008 ini, Anda pasti mengenalnya.

Ia adalah seorang perenang maraton asal Afrika Selatan, yang memperkuat negaranya di nomor 10 km maraton putri.

Lalu, apanya yang hebat, sampai membuat saya merinding?

Hebat dan luar biasanya adalah : Toit hanya memiliki satu kaki!

Pada perlombaan renang 10 km maraton Olimpiade yang diikuti oleh 25 atlet itu, Toit berada di urutan 16, dengan catatan waktu 2 jam 49,9 detik. Rekor Toit sendiri hanya 1 menit lebih lambat dari Larisa Ilchenko, sang peraih emas dari Rusia. Toit bahkan lebih cepat masuk finish dibanding atlet muda berbakat Amerika Serikat --Chloe Sutton-- yang saat ini berusia 16 tahun.

Toit lahir di Cape Town pada 29 Januari 1984. Ia sudah tampil di kompetisi internasional sejak 14 tahun. Hingga pada akhirnya, pada bulan Februari 2001, di saat usianya 17 tahun, ia mengalami kecelakaan. Skuter yang ia tumpangi dalam perjalanan menuju sekolah, tertabrak mobil. Dan akibat kecelakaan itu, Toit harus merelakan kaki kirinya diamputasi pada batas lututnya.

Luar biasanya, tiga bulan kemudian Toit sudah kembali berlatih di kolam renang. Ia hanya melakukan penyesuaian. Jika semula ia berkonsentrasi di nomor estafet, dengan satu kaki ia memilih nomor jarak jauh yang dinilai tidak terlampau membutuhkan kekuatan kaki.

Hebatnya motivasi dalam diri Toti, ia tidak mau sekedar tampil di arena-arena kompetisi untuk orang cacat, meskipun di sana ia terus menorehkan prestasi. Ia tetap bersikukuh bisa membawa nama negaranya dalam sebuah kompetisi untuk orang-orang "normal".

Kegigihannya membawa hasil. Pada kualifikasi di Sevilla, Spanyol, ia merebut tempat keempat, yang memberinya tiket ke Beijing.

Jadilah sebuah pemandangan yang sangat mengharukan sekaligus sangat inspiratif : seorang pemakai kaki palsu, berjalan tegak ke dalam arena lomba, dengan begitu tegar melepas kaki palsunya, mengambil start bersama "orang normal" yang lain, dan berakhir dengan hasil yang tidak terlampau mengecewakan.

Tentang hasil lomba itu sendiri, dengarkan kata-katanya.
"Saya telah berusaha semaksimal mungkin. Saya belum puas dengan hasil ini. Tapi saya akan kembali di 2012 nanti!" kata Toit berapi-api. 2012, adalah jadwal Olimpiade yang rencananya akan dilaksanakan di London.

Lihatlah nyala semangat Toit. Tak sedikitpun ia mengeluhkan keterbatasannya. Tak sekalipun ia mempersoalkan kekurangannya. Tak ada kata-kata yang mengarah kepada sebuah pemakluman publik, bahwa ia "layak kalah" dengan kondisinya itu.

***


Masih dari Olimpiade Beijing, tengoklah juga Maarten van der Weijden. Perenang putra Belanda pada nomor yang sama dengan Toit. Nomor 10 km maraton.

Pada 2001, dokter memvonis bahwa Weijden menderita leukimia akut.Tapi, dua tahun kemudian, ia menunjukkan semangat yang sangat tinggi untuk tetap bertahan hidup. Bahkan digambarkan, ia seolah ingin melepaskan diri dari malaikat maut, dengan mengepakkan kaki dan tangannya lebih cepat, lebih cepat dan lebih cepat lagi.

Pada Olimpiade Beijing, ia meraih emas dengan catatan waktu 1 jam 51 menit 51,6 detik. Lebih cepat dari David Davies dan Thomas Lurz dari Inggris dan Jerman yang berada di urutan kedua dan ketiga.

Kemenangan Weijden pun cukup dramatis, karena sejak start hingga beberapa ratus meter menjelang finish, David masih memimpin. Dengan kekuatan motivasi yang luar biasa tinggi, Weijden mampu menyusul David, dan menempatkan diri sebagai peraih emas.

Dapatkan Anda membayangkan bagaimana seorang Van der Weijden bisa "mengalahkan" keterbatasan dan justru menjadikannya sangat kuat?

Ia mengaku sangat lelah dengan kondisi sakitnya. Bahkan, ia mengaku sangat tersiksa. Sudah tujuh tahun lamanya, ia harus menahan sakit ketika penyakitnya itu kambuh. "Saat berbaring di rumah sakit, saya tak dapat lagi menggambarkan rasa sakit itu," katanya.

Bahkan katanya, "Saat Anda berbaring kesakitan di rumah sakit seperti saya, Anda tak akan bisa berpikir apa yang akan terjadi minggu depan atau bulan depan. Pasti hanya tentang apa yang terjadi satu jam lagi...."

Luar biasa, Weijden. Semoga raihan emasmu bisa menjadi obat mujarab bagi penyakitmu. Semoga pula, penghargaan sebagai yang nomor satu bisa membayar semua "penderitaan" yang engkau alami selama ini. Aku berharap, Tuhan memberi "mukjizat" kesembuhan dan kesehatan untuk kamu... amien.

Do'a saya, juga untuk Toit.

***


Salam inspirasional,

Fajar S Pramono


Photos : www.daylife.com, uk.eurosport.yahoo.com, english.people.com.

MALEA PRINKA DEVARAZZAQ


Pagi tadi, saya telpon Bapak yang saat ini ada di Surabaya. Saya sangat terharu, mendengar suara beliau yang tampak sangat bahagia, sangat gembira, menyambut hadirnya seorang cucu baru.

Ya, di usia beliau yang baru 65 tahun, adik kami --Ndarie dan Djoko sang suami-- "menghadiahi" Bapak seorang cucu laki-laki. Cucu yang kelima.

Alhamdulillah, Malea Prinka Devarazzaq, lahir pada tanggal 21 Agustus 2008 pukul 01.30 WIB di Yogyakarta. Berat 3,5 kg, panjang 50 cm.

Kata ibunya, Malea berarti "laki-laki". Prinka berarti "suatu hasil karya". Devarazzaq berarti "pembawa rizki dari Allah". Semoga harapan dan doa dalam nama itu bisa terwujud.

Buat Ndarie dan Djoko, selamat ya! Semoga Malea (eh, panggilannya siapa sih?) menjadi anak yang sholeh, berbakti pada orang tua dan agama. Kami yakin, kehadiran si kecil akan memberi warna tersendiri dalam kehidupan kalian. Amien.

Buat Mbah Kung alias Mbah Pardino, selamat juga ya! Udah punya cucu cowok empat ya! Ehm... jadi, bagaimanapun, Faya masih yang paling cantik kan, Mbah! Hehe.

Buat keluarga besar kami, selamat. Telah bergabung seorang "kader" generasi masa depan, yang Insya Allah akan terus membawa nama baik bagi keluarga besar kita. Amien.

Buat saya sendiri, selamat juga ya, tambah keponakan! Hehehe...


Salam,

Fajar S Pramono


Foto : Ndarie-Djoko beserta Mbak Rina dan Bapak seusai ijab kabul.

TENTANG UANG


Saya masih jengkel.
Sebuah perasaan yang tidak baik, yang sebenarnya justru semakin "makan hati" jika dipiara.

Sebenarnya, jengkel ini sudah sejak beberapa hari lalu. Ketika dengan mata kepala telinga sendiri, saya melihat dan mendengar secara langsung seorang kaya, sukses dan populer begitu "meremehkan" integritas semua orang. Sekali lagi, semua orang!

Ia seolah tak sadar bahwa kami (ya, saya tidak sendiri, --bertiga--), justru kemudian memiliki penilaian yang sangat negatif tentang mereka. Ya, mereka merasa bisa "membeli" orang. "Membeli" integritas. "Membeli" prinsip.

Dan, orang-orang yang ia contohkan dapat ia "beli" adalah orang-orang seprofesi kami! Agar orang-orang itu mau mengangkangi rules of the game di institusi. Korps. Jauh dari itu, mengkhianati integritas. Bahkan mencoba memantati prinsip yang telah dibangun dalam sebuah ketetapan hati.

Astaghfirullahal'adziim. Kami tetap tersenyum. Tetap sabar, meskipun saya pribadi merasa "diinjak-injak".

Saya mencoba melupakan, karena sejatinya tak sekali dua saya bertemu orang yang seperti itu.

Tapi, kok ya kebetulan. Ndilalah-nya, kata orang Jawa. Kok kemarin lusa --tak sampai seminggu kemudian--, saya bertemu lagi orang yang memiliki prinsip serupa tapi tak sama. Yang merasa semuanya akan bisa diatur jika ia punya uang.

Walah-walah... mungkin ini yang menyebabkan Pak Tung Desem Waringin banyak bertemu dengan orang yang menganggap bahwa "uang adalah akar kejahatan."

"Dia yang berpendapat bahwa uang dapat melakukan segalanya, mungkin layak dicurigai melakukan segalanya demi uang," begitu kata Benjamin Franklin.

Saya nggak tahu, apakah saya salah dalam memaknai petuah itu. Atau bahkan, saya salah karena menganggap bahwa petuah itu benar.

Padahal, kata Pak Tung, kata Pak Adi Gunawan, kalau kita menganggap uang sebagai sebuah sumber perilaku negatif (semisal "kejahatan" tadi), kita tak akan dihampiri oleh uang. Pendeknya, kita nggak akan kaya.

Tapi, kalau dengan kepemilikan lantas orang merasa bisa "membeli" segalanya, apalagi jika untuk kepemilikan itu seseorang menghalalkan segala cara, apa iya saya bisa setuju?

Mungkinkah yang lebih tepat memang "Saat ini, segalanya memang (seolah) perlu uang. Tapi uang bukan segalanya."

Saya cenderung setuju yang barusan. Saya butuh uang, tapi saya perlu yang namanya "berkah". Berkah itu bisa diperoleh dari cara mendapatkannya, juga dari cara memanfaatkannya.

Bukan begitu? So, adakah kata-kata "mutiara" yang paling tepat untuk menggambarkan seputaran hal ikhwal "uang" ini?

Please, mohon sharing dari pembaca. Saya yakin, dengan ungkapan yang tepat, akan membuat saya semakin mantap mencari dan --nantinya-- menggunakan uang. Termasuk, siapa tahu, bisa menghilangkan kejengkelan saya seperti saat ini. :)


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : http://cari.uang.di.internet.googlepages.com

KARENA SAYA PERCAYA FAYA


Kepercayaan, memang harus kita berikan kepada orang lain, selama memang orang lain tersebut dapat kita yakini kapabilitas dan kompetensinya. Jika kepercayaan itu diberikan pada saat yang tepat dan kepada orang yang tepat pula, maka keberhasilan dan kesuksesan adalah hasil yang akan didapat.

Kepercayaan itu pula yang saya berikan kepada anak saya Faya, dan para instruktur flying fox di Kinasih Conference, Resort and Outbound di Caringin, Bogor, kemarin. Ya, salah satu rangkaian acara yang disediakan oleh pihak Kinasih kepada kami --warga komplek rumah dinas-- saat kami mengadakan acara puncak HUT RI ke-63 di sana, adalah kesempatan untuk menjajal asyiknya meluncur dari ketinggian dengan menggantung layaknya kelelawar itu.

Saya tengah bermain futsal ketika istri menelpon.

"Yah, Faya pingin ikut flying fox nih!" katanya dari arena outbound di dekat istal kuda.

"Ya udah, gak papa," kata saya datar. Saya pikir, kenapa tidak. Terus terang, bayangan saya "lari" ke flying fox yang dikhususkan untuk anak-anak, yang biasanya tak terlampau tinggi seperti kami lihat di Taman Bunga Mekarsari.

"Tinggi banget lho, Yah! Naiknya saja 14 meter! Takut ada apa-apa di tengah-tengah...," kata istri saya lagi setengah berteriak.

Empat belas meter? Bayangan saya masih saja "normal".

"Nggak usah khawatir, kan ada petugasnya... tenang saja!" balas saya juga setengah berteriak, beriring dengan nafas yang masih kembang kempis akibat terlalu bersemangat bermain futsal.

Saya tutup telpon. Saya tenang saja. Saya sangat percaya pada kemampuan Faya. Juga kepada kesiapan para petugas berikut segala perlengkapan dan peralatan flying fox, yang saya yakin sudah diuji dan terus dimonitor kondisinya.

Selesai futsal, rasanya kok pingin ke arena outbound ya... Akhirnya, setelah minum teh hangat, saya berjalan ke lokasi flying fox yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat saya bermain futsal.

Dari jauh, telah terlihat kerumunan mereka yang ber-flying fox. Ada juga yang justru berkuda. Semakin dekat, dan demi melihat tingginya "menara" flying fox, Subhanallah!, kata hati saya.

Tinggi sekali! Sangat berbeda dengan yang saya bayangkan, tak seperti yang selama ini saya lihat untuk anak-anak seusia Faya. Sampai di sana, saya sudah melihat anak saya dalam posisi siap "terbang"!

Wow! Pertama, yang saya bayangkan, bagaimana dia bisa kuat naik tangga besi yang tegak lurus setinggi 14 meter, dengan jarak antar anak tangga yang lebarnya nyaris sama dengan separuh tinggi tubuhnya itu? Beberapa anak yang lebih besar dari dia, bahkan "gugur" dan minta turun ketika mereka belum sampai ke ujung tangga.

Sementara Faya? Ia adalah peserta paling kecil (bayangkan, masih TK lho!) yang berani dan bahkan dengan tenangnya berhasil menapaki rangkaian anak tangga yang tingginya lebih dari 12 kali tinggi badannya tadi! Apalagi jika melihat jarak luncur yang tak begitu panjang. Tak sampai 100 meter. Artinya, kemiringan luncurnya tergolong cukup tajam. Tak ada anak sebayanya yang berani mencoba. Bahkan yang laki-laki sekalipun. Luar biasa.

Hebat! Dalam hati, saya memuji Faya. Bukan karena ia anak saya, jika saya memujinya.

Pada intinya, saya yakin dan kenal betul "tabiat" anak saya yang pertama itu. Jika diberi kepercayaan, maka ia akan maksimal. Tapi, jika kami meragukan, maka hasilnya memang seringkali setengah-setengah.

Dan hasilnya, Faya meluncur dengan sangat sukses, diiringi tatapan mata yang seolah tak percaya dari para orang tua, yang di antara mereka sendiripun, cukup banyak tak berani mencoba.

Begitu menginjak tanah kembali, Faya tersenyum. Tak ada warna pucat di wajahnya. Tak tampak ada ketegangan yang berlebihan.

"Gimana, Kakak? Nggak takut?" tanya saya sambil toast dengannya. Faya menggeleng mantap.

Beberapa saat setelah itu, giliran saya mencoba. Cukup tinggi dan melelahkan untuk mencapai ujung menara, sehingga penghargaan untuk keberhasilan Faya dari saya kembali bertambah. Melihat pemandangan di bawah dari papan berukuran lebih kurang 1 meter persegi di ketinggian 14 meter, saya kira wajar, jika tak semua orang berani melakukannya.

***

Inti yang mau saya sampaikan adalah, berikan kepercayaan kepada orang yang tepat. Faya saya anggap orang yang tepat, karena saya sangat tahu dan yakin akan kemampuan dan keberaniannya. Saya juga berikan kepercayaan yang sangat tinggi kepada para petugas, bahwa ia akan mampu "menyelamatkan" dan mengantar anak saya kepada keberhasilan. Saya juga percaya kepada "sistem", yakni prosedur dan rule keselamatan, sekaligus juga kepada kualitas peralatan yang digunakan.

Bagaimana tidak? "Nyawa" kami tergantung pada mereka. Keselamatan kami seolah kami "serahkan" pada mereka. Saya bisa saja tak percaya kepada mereka. Tapi, jika tak percaya, kami tak mungkin bisa melakukannya sendiri. Dan itu berarti, keberhasilan tak akan pernah hinggap pada kita.

***

Memang, dalam kehidupan ini, banyak hal yang menuntut pemberian kepercayaan dari satu orang ke orang yang lain. Banyak hal yang tak akan mampu kita lakukan sendiri menuju keberhasilan, tanpa melibatkan bantuan dan kerjasama dengan orang lain.

Pada saat itulah, kepercayaan harus kita berikan. Namun bagaimanapun, pastikan kepercayaan itu kita berikan kepada orang yang tepat, dan kepada "sistem" yang benar.

Selanjutnya, usahakan secara maksimal hasil kerja yang berlandaskan kepercayaan tadi. Selebihnya lagi, serahkan pada Yang di Atas. Allah SWT. Tuhan yang Maha Esa.

Jikalau terjadi "kebelumberhasilan", maka itu adalah kehendak Tuhan, yang harus diyakini sebagai jalan terbaik bagi kita. Sangat mungkin, itu adalah rencana Tuhan untuk memberi jalan lain yang jauh lebih baik.

OK?


Salam,

Fajar S Pramono

Notes :
"Penghargaan" saya untuk Faya semakin tinggi, demi melihat "perjuangan"-nya menapaki tangga demi tangga dalam rekaman video yang dibuat ibunya.
"Kakak hebat! Ayah bangga sama Kakak Faya!" kata saya ketika bersama Faya, Fazza dan ibunya melihat rekaman tersebut tadi malam.

[Foto : Faya dan ibunya, setelah "terbang".]

MERDEKAAAA...!!!!!!




DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-63
-- 17 Agustus 1945 - 17 Agustus 2008 --

Sebuah renungan :
Benarkah setiap warga negara Indonesia telah merasakan dan mampu menikmati kemerdekaan itu?

Semoga jawabannya adalah : sudah. Amien.
Kalaupun belum, masih ada waktu dan kesempatan untuk mencapainya. Bersegeralah!

Kemerdekaan, ada di hati. Kemerdekaan, ada di diri. Kemerdekaan secara maknawi.


Salam kemerdekaan, MERDEKA...!!!!

Fajar S Pramono

Foto : http://deen10february.files.wordpress.com

PENGALAMAN BARU


Ber-SMS, berkirim email, tentu bukan sesuatu yang asing. Tapi chatting, ber-YM, termasuk sesuatu yang cukup jarang saya lakukan. Alasannya simpel : saya sering tak punya banyak waktu untuk ndogrog di depan internet pada jam-jam di mana orang lain justru banyak menghidupkan YM-nya.

Saat-saat "jam buka" mereka, adalah saat saya "jalan-jalan" dalam bertugas. Mobile. YM on SMS sdh saya lakukan, tapi seringkali cukup mengganggu kenyamanan saya. Karena, "jalan-jalan" saya hampir sama artinya dengan "saya sedang bersama nasabah atau calon nasabah", yang tentunya tak akan senang jika saya justru asyik membalas message ketika berdiskusi. Kurang sopan rasanya, apalagi jika waktu-waktu untuk jumpa darat alias kebersamaan dengan nasabah atau calon nasabah tadi merupakan waktu yang selama sulit untuk didapatkan.

Tapi, kemarin saya mendapat pengalaman baru. Dengan kesediaan saya menjadi narasumber untuk acara Y!M Business Conference bersama sahabat-sahabat TDA, mau tak mau saya harus menyiapkan waktu khusus untuknya. Apalagi itu masuk "jam kantor".

Bagi sebagian orang, pengalaman yang seperti ini adalah sesuatu yang "ketinggalan jaman". Tak ada yang "baru". Tapi, bagi yang belum pernah, tetap saja sesuatu yang baru yang mengasyikkan. Mengundang penasaran. Bukankah majalah kumal edisi dua tahun lalu bisa menjadi sumber ilmu yang "baru" jika sebelumnya memang kita belum membaca isinya?

Dan benar, saya prepare serius untuk acara tersebut. Jauh hari sebelumnya, saya siapkan "SDM pendukung". Pertama, untuk mengantisipasi sekaligus mengatasi problem akibat ke-gaptek-an saya terhadap IT. Kedua, tim untuk lebih memperkaya materi ataupun jawaban-jawaban pada saat konferensi berlangsung.

Walhasil, tim saya minta untuk mencari tempat yang nyaman, yang cozy, syukur-syukur punya akses gratis alias wi-fi. Kalaupun tak ada, musti disiapkan konektor eksternal. Saya memang tidak mau di kantor, karena jelas saya akan "terganggu" oleh telepon-telepon internal maupun dari luar kantor, "terganggu" oleh tamu-tamu yang seringkali tiba-tiba datang, "terganggu" oleh tugas-tugas yang tak jarang datang mendadak dan harus mendapat penyelesaian pada kesempatan pertama, dsb.

Walhasil berikutnya, teman-teman kantor berhasil "menemukan" sebuah tempat yang cukup menarik. Sebuah kedai (cafe) kopi yang tak terlampau ramai, dekat dengan kantor, ber-wifi, dan nyaman.

So, oke. "Tim inti" siap. Tapi, mengingat ini sebuah pengalaman baru yang saya pandang sebagai "sesuatu" yang bisa dibagi (sekaligus pengalaman baru untuk presentasi dan marketing dalam koridor "pekerjaan kantor"), akhirnya saya memutuskan untuk mengajak semua anggota marketing team (bahkan para trainee) di bidang kredit. Saya merasa, "ilmu" ini harus ditularkan. Harus dibagi. Tak hanya ilmu yang berupa materi dalam diskusinya, tapi juga ilmu baru jika dipandang dalam konteks cara pemasaran produk.

Alhamdulillah, konferensi berjalan dengan lancar. Saya mendapat pencerahan baru, baik pengalaman maupun materi. Seluruh anggota tim saya pun mengaku mendapatkan hal serupa. Alhamdulillah. Saya melihat mereka memang cukup antusias ketika saya ceritakan tentang rencana acara tersebut.

So, lepas dari materi, saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman TDA yang telah memberi kepercayaan dan "ilmu"-nya. Mas AR Junaedi, Mas Jonru, Mas Edy, Mas Lutfiel, dan tentunya Pak Presiden --Mas Iim-- dan pentolan-pentolan TDA lainnya. Juga kepada teman-teman di kantor : Ricky, Sisca, Kelik, Agni dan Agnes. Kehadiran kalian sangat membantu. Saya senang dengan kekompakan kita.


Salam,

Fajar S Pramono


Notes :
Lebih seneng lagi, malamnya saya berkesempatan hadir di acara TDA Forum di Hotel Sofyan Betawi. Saya ketemu lagi dengan beberapa peserta diskusi by Y!M siang hari itu. Wah, pertemuan menjadi lebih seru dari biasanya...
Diskusi siang di dunia maya seolah berlanjut di dunia nyata, dan ujung-ujungnya : "Kapan kira-kira kita bisa lakukan akad kredit nih?" Hahaha!
Atau seperti lontaran komentar Uda Roni, "Wah, kayaknya banyak 'closing' nih!"
Hahaha...!


Ilustrasi : cybernetnews.com

KESEMPATAN BERBAGI DI TDA Y!M BIZ CONFERENCE


Alhamdulillah, saya kembali memiliki kesempatan berbagi dengan teman-teman komunitas Tangan Di Atas (TDA) siang nanti. Undangannya sudah "disebar" sebagaimana di bawah ini, dan Alhamdulillah lagi, sebagaimana disampaikan oleh moderator di milis TDA, kuota 50 orang telah terisi penuh, bahkan kabarnya terpaksa ada yang tidak bisa ikut.

Bagi saya, ini sebuah "pengalaman baru". Kalau selama ini saya hanya biasa berbagi di forum atau seminar, via email dan sms (one on one), via tulisan dan buku, kali ini saya bisa berbagi secara dua arah dengan 50 sahabat secara langsung melalui dunia maya.

Insya Allah, apa yang dibicarakan nanti akan banyak bermanfaat. Amien.

Nukilan undangannya sebagai berikut :

Hello Rekan TDA-ers,

Assalamu'alaikum wr. wb.

Semoga email ini menjumpai rekan semua dalam keadaan kesehatan prima, bahagia dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Amiien

TDA Ym Business Conference edisi Agustus 2008 ini akan menghadirkan nara sumber seorang banker BRI, penulis buku Rahasia Sukses Ngutang di Bank, Kolumnis Majalah WK, Duit!, Majalah Pengusaha dan berbagai Media lain.

Bagi rekan yang saat ini akan memulai bahkan mengembangkan bisnis, dan menganggap modal sebagai kendala, temukan jawabannya disini.

Akan dikupas habis tips dan trik dalam berhubungan dengan bank hingga bisa memperoleh "dana segar" yang dibutuhkan. Juga apa saja yang harus dilakukan dan yang jangan dilakukan agar kredit dan bank benar-benar bisa menjadi tim sukses bagi usaha Anda.

Menghadirkan Bapak Fajar S Pramono
Tema: 20 Jurus Jitu Menembus Bank

Jumat, 15 Agustus 2008
Jam 14.00 - 16.00
Host Moderator: Bp Eddy Sulastomo & Arif Budiyono
Pembawa Acara: Bp. Lutfiel Hakim & Bp Jonru

Segera daftarkan diri Anda dengan mengirim email dengan subject: Daftar TDA Biz Conf, kirim ke Bp Eddy: arkananta_tours@yahoo.com cc ke Bp Arif: ab_djamsa@yahoo.com Sebutkan Nama dan YM ID Anda

Peserta dibatasi 50 orang saja, first come first serve. Silakan mulai mendaftar sekarang.

Ok, terima kasih atas perhatian dan partisipasinya. Sukses buat rekan semua!

Wassalam,
AR Junaedi
a/n Team TDA Ym Business Conference


OK, sampai jumpa nanti siang!


Salam,

Fajar S Pramono

INVESTASI PERASAAN


Jika Anda seorang salesman, pernahkan Anda merasa "malu" saat menawarkan produk yang Anda bawa?

Atau, pernahkah Anda merasa, bahwa produk yang Anda tawarkan tidak sesuai dengan level obyek persuasi Anda, sehingga Anda merasa kehilangan pede?

Pernahkah juga, Anda dengan "berani" dan percaya diri tetap "menjajakan" produk Anda meskipun Anda tahu itu sulit dan mengharuskan Anda "berkorban perasaan"?

Pernahkan Anda merasa dihindari orang, di-ping pong kesana-kemari, menunggu tanpa kepastian, ditertawakan oleh kolega, dicemooh, atau bahkan dihina orang ketika Anda mencoba fokus pada goal (tujuan) Anda?

Kalau Anda pernah mengalaminya, itu bagus. Berarti Anda sudah memiliki pengalaman luar biasa, dan bahkan telah memiliki satu jenis investasi terbaik.

Investasi? Investasi apaan?

Ya, dalam menggapai tujuan, ada beberapa investasi yang bisa seringkali harus kita lakukan. Pertama, investasi waktu. Beberapa contoh ada di postingan saya yang berjudul "Sabar". Kedua, Investasi uang. Siau chien pu cu, ta chien pu ju. Itu kata pepatah China. Uang kecil tidak keluar, uang besar tidak akan masuk. Bahkan ada yang mengatakan : ta chien pu cu, keng ta chien pu ju. Uang besar tidak keluar, uang yang lebih besar tidak akan masuk. Intinya, harus ada pengorbanan. Semakin besar yang diinginkan, semakin besar pengorbanan yang seringkali harus diberikan.

Yang ketiga, investasi perasaan. Contoh-contoh atau pertanyaan-pertanyaan yang saya kemukakan di awal posting di atas, adalah contoh investasi perasaan.

Kenapa disebut investasi? Karena ternyata, dari kesediaan kita untuk "berkorban" perasaan itulah, kesuksesan menjadi lekat dengan kita. Keberhasilan menjadi sahabat dekat kita.

So, selama tujuan kita memang baik, kenapa harus merasa berkorban perasaan? Bahasakan "pengorbanan" itu sebagai investasi. Tanamkan dalam diri, bahwa apa yang kita kerjakan untuk mencapai tujuan itu adalah sebuah kemuliaan. Sebuah pekerjaan yang bernilai. Lakukan dengan sabar dan ulet.

Berpikirlah positif : "Pekerjaan ini memang sulit, untuk itulah dibutuhkan orang hebat seperti saya!". Atau, "Tujuan saya yang sangat mulia, memang hanya bisa diraih oleh orang-orang ulet seperti saya!" Selalu buatlah diri kita bangga, dengan selalu fokus pada tujuan.

Ingat, "Kalau Anda keras terhadap diri Anda, maka kehidupan akan lunak kepada Anda. Tapi, jika Anda lunak terhadap diri Anda, maka kehidupan akan keras kepada Anda."

Mudahkah untuk dilakukan?

Tentu tidak. Mari kita belajar bersama. Terus belajar.


Salam,

Fajar S Pramono


Notes :
Tema posting serta beberapa nukilan di atas berasal dari buku Your Great Success Starts from Now!-nya Bapak Thomas Sugiharto.

Alhamdulillah, dua hari lalu Pak Thomas telpon saya, berdiskusi, dan siang ini mengajak makan siang saya di Pasific Place. Saya yakin, banyak hal bermanfaat yang bisa saya dapat dari beliau.

Ilustrasi : http://vinadanvani.files.wordpress.com

BLOGGER YANG BAIK


Masih dari buku "Renungan Ida Arimurti", ada blockquote yang menarik bagi saya.

Demikian :
"Penyiar yang baik adalah penyiar yang selalu memberikan update tentang apapun pada pendengarnya. Oleh sebab itu, jangan pelit melahap semua media : buku, majalah, internet, televisi, radio, atau apapun untuk mendapat referensi informasi. Jadilah penyiar yang pintar, jangan menjual kebodohan."

Di mana letak "menarik"-nya?

Bagi saya, ada dua. (1) dari segi isinya, (2) saya tertarik untuk "mempelesetkan" kata "penyiar" dan "pendengar" dalam blockquote tersebut.

Bagaimana bila diganti dengan "blogger" dan "pembaca"?

"Blogger yang baik adalah blogger yang selalu memberikan update tentang apapun pada pembacanya. Oleh sebab itu, jangan pelit melahap semua media : buku, majalah, internet, televisi, radio, atau apapun untuk mendapat referensi informasi. Jadilah blogger yang pintar, jangan menjual kebodohan."

Atau kita ganti jadi "penulis" dan "pembaca"?

"Penulis yang baik adalah penulis yang selalu memberikan update tentang apapun pada pembacanya. Oleh sebab itu, jangan pelit melahap semua media : buku, majalah, internet, televisi, radio, atau apapun untuk mendapat referensi informasi. Jadilah penulis yang pintar, jangan menjual kebodohan."

Wah, rasanya, untuk blogger atau penulis seperti saya, yang memang suka "menulis bebas" tanpa keharusan spesifikasi tema, bisa sangat relevan. Bahkan tampaknya, kalaupun kita adalah blogger atau penulis tema-tema tertentu, blockquote tersebut masih bisa tetap relevan.

Saya, sebagai bankir, juga jadi tergelitik untuk mencoba mengganti kata "penyiar" dan "pendengar" itu menjadi "bankir" dan "nasabah".

"Bankir yang baik adalah bankir yang selalu memberikan update tentang apapun pada nasabahnya. Oleh sebab itu, jangan pelit melahap semua media : buku, majalah, internet, televisi, radio, atau apapun untuk mendapat referensi informasi. Jadilah bankir yang pintar, jangan menjual kebodohan."

Maksa kaleee.... Ah, nggak juga rasanya!
Cocok-cocok aja tuh! :)


Salam,

Fajar S Pramono

Foto : www.wikieducator.org

KEY TO SUCCESS --sekali lagi, dari Rhenald Kasali--


"Ada tiga hal yang mendorong orang untuk sukses dalam berkarya : pernah mengalami kegagalan atau kekecewaan, komitmen yang kuat, dan mencintai apa yang dikerjakan."

Begitu kata Sang Begawan Perubahan, Rhenald Kasali pada endorsement buku "RENUNGAN IDA ARIMURTI; Membuat Hidup Jadi Lebih Berarti", Penerbit Hikmah, Juli 2008.

Ida Arimurti sendiri adalah seorang perempuan penyiar dengan jam terbang 25 tahun, dan saat ini mengelola sekaligus membawakan sendiri acara bertajuk "Renungan Ida Arimurti" di Delta FM setiap pukul 16.00 - 20.00 WIB.

Saya yakin tak ada yang akan menggugat apa yang dikatakan Rhenald.

Lanjutannya, "Saya tidak tahu apakah Ida pernah kecewa sehingga kariernya berkembang di corong radio dengan begitu mengesankan, tapi saya tahu ia begitu mencintai profesinya dan mempunyai komitmen yang luar biasa."

Artinya, di antara tiga "kunci sukses" yang dikatakannya, Rhenald "baru" yakin terhadap dua pendorong sukses Ida : mencintai pekerjaan dan adanya komitmen yang tinggi.

"Hanya" dengan dua pendorong saja, Ida dinilai telah sukses luar biasa sebagai penyiar.

Saya yakin, jika kita memiliki salah satu pendorong semangat di antara ketiga pendorong tadi, maka kesuksesan bisa menjadi milik kita. Memiliki dua pendorong, tentu lebih baik dibanding hanya memiliki satu pendorong. Bagaimana kalau ketiganya kita miliki?

Tentang kekecewaan atau kegagalan, tak perlu lah diistilahkan dengan "dendam", meskinpun dendam terhadap kegagalan bisa dikategorikan "dendam positif". Intinya, belajar dari pengalaman yang kurang baik, dan tak ingin pengalaman itu terulang.

Tentang komitmen, tak usah lah saya mengulang. Beberapa posting terdahulu telah memberi contoh, bahwa komitmen (beiringan dengan konsistensi) merupakan kunci sukses yang sangat menentukan.

Tentang cinta pekerjaan, juga sudah jelas. Beberapa kali saya posting masalah passion dalam menggapai kesuksesan. Jika apa yang kita kerjakan memang merupakan passion kita, sesuatu yang memang kita sukai, maka Insya Allah hasilnya akan lebih baik. Karena memang sangat menyenangkan, apa yang disebut "bekerja dengan cinta".


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : www.pde.state.pa.us

BILANGAN REJEKI --masih tentang sebuah rumusan--


Masih tentang rumusan "1 - a > 1" dan "1 : a > 1", maka ada satu makna lain yang bisa disampaikan.

Bilangan 1 tak hanya berarti "bilangan ilmu", tapi juga merupakan "bilangan rejeki". Bilangan rizki. Bilangan rezeki.

Konsepsi dan pemaknaannya, sama persis dengan konsepsi dan pemaknaan tentang bilangan ilmu pada posting sebelum ini. Rizki, jika sebahagiannya diberikan secara tepat kepada orang yang kekurangan dan memang membutuhkan --sebagaimana simbol minus (-) dan pecahan dalam diri "a"--, maka ia justru akan menjadikan rizki kita bertambah dan berlimpah.

Saya rasa, tak perlu teori dan dalil lebih banyak tentang hal ini. Jika Anda tak percaya, mari kita coba dan lakukan bersama.

Kuncinya hanya satu : ikhlas!


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : www.kloster-denkendorf.de

BILANGAN ILMU --sebuah rumusan--


Membaca Ayu Utami, pencipta "Bilangan Fu" sekaligus penemu rumus "1 : a = 1 x a = 1, dan a bukan 1" (Bilangan Fu, 2008, hal. 14), di mana "Fu adalah dengan siapa Hu sebelumnya mengikatkan diri, sebelum radiasi memisahkan mereka" (ibid, 2008, hal. 524), saya langsung terinspirasi untuk membuat rumus tentang suatu bilangan.


Saya menyebutnya "bilangan ilmu". Saya tak tahu, apakah sudah ada yang "menemukannya" sebelum ini. Jika merujuk makna rumus yang akan saya perkenalkan, tentu ini bukanlah "barang baru". Tapi, bentukan rumusnya, bisa jadi ini ide orisinil.

Rumusan tentang bilangan ilmu :


1 - a > 1 dan 1 : a > 1



--- rumusan pertama, yakni 1 - a > 1 ---

Jika Ayu Utami berusaha menjawab "bilangan apakah a?", maka saya tidak peduli "siapakah a". "a" boleh bilangan seberapa kecil, sekaligus boleh seberapa besar. Bebas, tak berbatas. Maka tak perlulah Anda risaukan "a".

Bilangan ilmu saya adalah sang "1". Ilmu itu sendiri.

Apa makna 1 - a? Artinya, kalau ilmu yang kita miliki kita berikan atau "diambil" oleh orang lain, maka ilmu kita tidak akan berkurang. Bahkan akan bertambah.

Dalam rumusan asli matematika, untuk menghasilkan 1 - a > 1, maka a harus bersifat negatif. Contoh : 1 - (-1) = 2. Atau 1 - (-0,5) = 1,5.

Simbol negatif (minus), adalah simbol orang atau manusia yang butuh ilmu. Haus ilmu. "Kekurangan" ilmu. Karena di situlah ilmu akan menjadi benar-benar bermanfaat. Di situlah sang ilmu akan menemukan eksistensi alamiahnya.

Ilmu memang akan jauh sangat bermanfaat jika diberikan kepada orang yang "haus", di mana orang tersebut akan dengan senang hati menerima masukan.


--- rumusan kedua, yakni 1 : a > 1 ---

Angka "1" adalah ilmu. Bagaimana jika ilmu yang kita miliki, kita bagi kepada orang lain? Sama dengan ilmu yang kita berikan pada orang lain, ilmu yang kita "bagi-bagi" tidak akan berkurang sedikitpun dari kita. Justru kata bijak selalu meyakinkan kita, bahwa ilmu kita akan bertambah jika dengan ikhlas dan sukacita kita bagikan dan sebarkan ke orang lain.

Bagaimana dengan rumusan asli matematika-nya? Untuk bisa menghasilkan angka yang lebih besar, maka angka 1 harus dibagi dengan pecahan atau angka berapapun yang lebih kecil dari angka satu. Contoh : 1 : (1/2) = 2. Atau 1 : (1/4) = 4. Atau 1 : (3/4) = 1,33.

Pecahan ataupun angka yang belum genap menjadi "`1" adalah simbol kepemilikan ilmu yang "belum utuh" dari seseorang. Artinya, sekali lagi, seseorang tersebut memang membutuhkan tambahan ilmu untuk "menggenapkannya". Membuatnya jadi "utuh". Membuatnya jadi "satu".


--- ....?!"&%^(#)@_*.... ---

Mengacu pada petuah bijak yang selama ini telah kita ketahui bersama, maka rumusan itu setidaknya bisa menjadi formula yang mudah dan tepat untuk dijadikan pengingat sekaligus peyakin diri, bahwa ilmu kita tidak akan berkurang sedikitpun jika kita berikan atau kita bagikan kepada orang yang memang membutuhkannya. Bahkan jikapun dengan jalan "dicuri" oleh orang yang membutuhkan tersebut.

Ilmu kita justru akan bertambah. Kita justru akan semakin "kaya". Bahkan saya mempercayai hal tersebut sebagai "Hukum Tuhan".

Jika dianggap berlebihan, saya mohon maaf. Jika dianggap ngayawara (mengada-ada), saya mohon disadarkan. Jika dianggap saya menulis ini dalam ektase tidur dan dalam kubangan mimpi, mohon dibangunkan.

Bagi saya, " 1 - a > 1 dan 1 : a > 1" adalah rumusan "master piece". Saya mendapatkannya ketika saya membaca "Bilangan Fu"-nya Ayu Utami sembari melakukan ritual di dalam kamar mandi (sorry, Ayu!), Ahad tanggal 10 Agustus 2008, antara pukul 09.00 - 09.30 WIB, di rumah dinas Jl. Pramukasari IV Blok B No. 21, Jakarta Pusat.

Tolong kabari saya, jika Anda memang sudah pernah melihat atau membaca rumusan seperti di atas sebelumnya. Saya akan mencoretnya dari ke-masterpiece-an saya, semata karena memang keterbatasan saya untuk mengetahuinya.


Salam,

Fajar S Pramono

Ilustrasi : www1.istockphoto.com

SUSAHKAH UNTUK BERBUAT BAIK?


Koran Tempo, Sabtu, 09 Agustus 2008 kemarin mengisahkan sebuah peristiwa "tragis", tentang "perjuangan" menegakkan kebaikan. Saya mengistilahkannya sebagai "jihad", dalam kerangka makna sekecil apapun. Bukankan berbuat baik di jalan Tuhan adalah sebuah "jihad"?

Ceritanya sederhana. Adalah Linda Buchanan, seorang perempuan, seorang nyonya berusia 58 tahun yang sehari-harinya bekerja sebagai konsultan senior di DBM, sebuah perusahaan milik Amerika serikat di Central London.

Seperti biasa, Rabu pagi lalu, ia berada di sebuah peron kereta api ber-rel listrik di Farningham Road. Dalam rangka berangkat kerja. Di situlah dia kembali bertemu dengan dua orang yang dengan "suka cita" merokok di pelataran stasiun --yang jelas-jelas terdapat larangan merokok. Seperti dua hari sebelumnya --Senin Selasa--, Buchanan menegur kedua pemuda tersebut.

Kali itu kedua pemuda berubah gusar, dan membalas dengan memberi isyarat cabul kepada Buchanan. Buchanan berbalik dan mengatakan agar kedua pemuda tersebut bersikap dewasa.

Tapi apa yang terjadi? Kedua pemuda brengsek tersebut justru mendorong Buchanan ke arah rel kereta listrik bertegangan 750 volt!

Untung kesigapan petugas dan orang-orang di sekitarnya luar biasa. Penumpang lain segera menolong Buchanan yang sudah terjerembab, sementara petugas segera memutus aliran listrik, sekaligus menghentikan semua kereta yang hendak masuk ke stasiun.

Buchanan memang selamat. Tapi pergelangan tangannya patah, selain beberapa luka lecet di kakinya. Ia juga mengaku bahwa saat ini jiwanya masih terguncang. Sementara dua pelakunya, melarikan diri. Menjadi buron.

***

Dari sumber yang sama, tercatat nama Kevin Johnson (22 tahun), seorang bapak satu anak yang harus meregang nyawa akibat ditusuk mati oleh sekelompok orang ketika bapak muda itu meminta mereka tidak membuat keributan di luar rumahnya.

Ada juga Garry Newlove, ayah tiga anak, yang tewas akibat ditinju dan ditendang sekelompok pemabuk yang merusak mobil istrinya di Warrington, Cheshire.

Ada lagi, yakni Stan Dixon, purnawirawan 60 tahun yang diserang sekelompok pemuda hanya karena meminta gerombolan pemuda itu berhenti menyumpahi seorang perempuan di sebuah bus di Horden, County Durham.

***

Bukan kecelakaan ataupun akibat fisik yang menimpa Buchanan, Johnson, Newlove ataupun Dixon yang ingin saya ekspos. Tapi, sebuah makna, bahwa seringkali, tak mudah untuk berbuat baik. Apalagi terhadap orang-orang yang menganggap lazim dilakukannya sebuah kesalahan. Atau ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang sangat permisif terhadap pelanggaran.

Pernahkan Anda diteriaki atau di-klakson keras-keras dan berulang-ulang dari mobil-mobil di arah belakang kita hanya karena kita dengan sabar menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau di sebuah perempatan kecil yang sepi? Dimaki-maki hanya karena kita ingin patuh pada arti warna lampu yang telah disosialisasikan kepada kita sejak jaman kita bersekolah dasar, meskipun tak ada polisi yang sedang bertugas?

Saya pernah, dan tidak sekali dua kali.

Atau pernahkah justru kita yang dipelototin, disumpah-sumpahi dengan kata-kata kotor oleh pengendara kendaraan lain yang nekat melanggar lampu merah dari arah berlawanan dan nyaris bertabrakan dengan kita yang patuh pada lampu hijau?

Saya pernah, dan tidak sekali dua kali.

Pernahkan Anda mendengar cerita, bahwa seseorang pegawai yang jujur justru diancam dipecat --setidaknya akan dikucilkan-- oleh atasan dan kawan-kawannya karena "menemukan" dan melaporkan tindak korupsi dari hulu ke hilir dari sebuah proses pengucuran dana pemerintah melalui perusahannya?

Kalau yang ini, saya tidak mengalami sendiri. Saya mendengar dari salah seorang kawan saya, seorang sahabat yang berusaha menegakkan idealisme dan integritas dirinya.

***

So, apa jadinya jika kondisi seperti itu terus berlanjut? Mau dibawa kemanakah kehidupan dunia ini? Wallahu a'lam bishowab.

Hanya satu keyakinan : niat dan perbuatan baik, tak akan pernah kalah oleh niat dan perbuatan buruk. Kalaupun secara kasat mata "kalah" di dunia yang fana ini, akan ada kehidupan lain yang akan membuktikan, bahwa kebaikan dan kebenaran tetaplah di atas segalanya.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://whataday.blogsome.com

'TERTIPU"


Jum'at kemarin, saya "tertipu". Sebenarnya bukan tertipu sih, tapi memang kalah pinter ama penjual barang yang kebetulan kemarin saya beli secara "tak sengaja".

Tak usahlah saya bilang barang apa itu. Karena peristiwa "tertipu" ini bikin saya malu. Malu ama diri sendiri, malu ama temen, malu ama keluarga. Juga bikin saya nyesel. "Gela" kata orang Jawa. Yang pasti, saya membeli barang konsumtif.

Di mana letak "kalah pinter"-nya? Ya, seperti transaksi jual beli biasa, saya "ketiban" harga yang terlampau tinggi. Kalah bargaining dalam tawar-menawar, karena mengikuti emosi berupa rasa suka yang "berlebihan" kepada barang yang baru saja saya liat itu. Telanjur sayang, kata orang. Juga karena nggak paham "harga dasar"-nya.

Akhirnya, saya membeli dengan harga terlampau tinggi. Itu intinya. Padahal, dalam hati, saya merasa sudah bisa menawar cukup banyak. Eh, pinternya si penjual, harga yang semula ditawarkannya ternyata sudah jauh berlipat dari harga aslinya.

Kok saya tau kalo akhirnya saya membeli dengan harga terlalu tinggi?

Begitu. Eh, begini. Sepulang dari membeli barang tersebut, saya tunjukkan itu barang ke seorang temen, yang memang kebetulan punya hobi mengkoleksi barang semacam yang saya beli. Apa katanya?

"Kayaknya kemahalan deh, Pak!" kata temen saya sambil menggelengkan kepalanya.

Saya "greg"! Perasaan saya langsung berubah. Dari seneng menjadi nggak enak. Jangan-jangan..., jangan-jangan..., saya "tertipu".

"Apa iya?" tanya saya.

"Kita liat saja di internet, Pak," kata teman saya lagi.

Deg, deg, deg. Saya makin "jelek" aja pikirannya.

Klik, klik, klik... jreeeeng!!! Dan... benar! Harga jual resminya sebenarnya hanya 68% dari harga beli saya! Bukan sok gaya, kalau prosentase itu dari puluhan ribu atau ratusan ribu saja, mungkin tidak terlampau merisaukan. Yang terjadi, ini sudah pake akhiran jut-jutan. :(

Walah, walah... kemahalan memang. Dan bagi saya : saya "ketipu". :) Saya harus mengaku "kalah pinter" dengan penjual.

Yach, mau gimana lagi. Itu rejeki mereka, para penjual. Saya ikhlaskan saja.

Tapi, biarpun ikhlas, nggak boleh dong, "dibiarkan" saja. Artinya, dibiarkan tanpa hikmah.

So, hikmahnya antara lain :

(1)
Mantapkan tujuan, dan teguhlah pada tujuan itu.

Karena jujur, tujuan saya ke toko itu tadi bukan untuk belanja barang yang membuat saya merasa "ketipu" tadi. Saya punya obyek yang sebetulnya sudah saya tetapkan untuk saya cari. Detail onyeknya sudah ada di saku. Hanya kebetulan, saya tidak menemukannya di beberapa toko, sehingga saya iseng "melihat-lihat". Dan dasar mata ini yang "lapar", dari iseng melihat, jadi iseng bertanya, lanjut iseng mencoba, dan akhirnya (tidak iseng lagi) membeli. Membeli, dengan harga yang terlampau tinggi tadi. Yang bahkan, jika dibandingkan rencana semula, budget yang harus saya keluarkan menjadi hampir 3 kali lipat!

(2)
Telitilah, dan cari informasi lengkap sebelum memutuskan untuk membeli.

Jujur lagi, saya merasa konyol. Bagaimana tidak, "hari gini", beli barang yang jelas-jelas selalu updating di internet, saya maen "hantam kromo" saja di lapangan. Enggak survey dulu. Enggak browsing dulu. Kalau saya berada di jaman baheula, atau ada di kampung yang saluran telkom belum sampe, atau yang sinyal operartor seluler masih blank, sehingga nggak bisa akses internet, ya wajar.

Lha ini, saya di Jakarta; tempat di mana-mana ada WIFI gratis, tempat warnet-warnet bertebaran, tempat survey yang bejibun berdiri, dan tinggal klik karena laptop selalu ada di tas, masih berlaku "konvensial" begitu... ya salah sendiri! Iya nggak?

(3)
Hati-hati membeli barang konsumtif.

Menyesal, kalo untuk barang konsumtif, memang susah. Saya bertekad nyari "ganti rugi". Artinya, saya harus bisa "menghasilkan" kompensasi sejumlah "kerugian" yang saya keluarkan. Kalo yang saya beli kemarin barang produktif, mungkin bisa dimaksimalkan dalam mencari keuntungan. Lha kalo barang konsumtif? Dijual lagi, jelas lebih murah. Dikembalikan, sudah tidak boleh. Ditukar, pasti hanya dengan barang yang sesungguhnya juga hanya "selevel" barang yang telanjur saya beli. Artinya, "rugi" atau "makin rugi"! Wah, bener-bener pilihan yang "menyesakkan".

Sebagai curhat, yach, minimal 3 hikmah itulah.
Hikmah yang lain, tambahin ya! :)


Salam,

Fajar S Pramono