Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

BEING OR HAVING


Dari sebuah data lama milik John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang dikutip Wandi S Brata dalam Be Wero-nya (2003), terkuak kenyataan bahwa "mitos" di mana orang Barat lebih mementingkan having daripada being dalam bekerja adalah salah.

Secara sederhana, having adalah sebuah konteks ke-materialisme-an. Keinginan untuk memiliki materi. Sementara being, lebih pada keinginan berkonteks spiritual, yakni "dimanusiakan".

Mitos tentang orang Barat itu konon berkebalikan dengan mitosnya orang Timur. Kata si konon, orang Timur itu mementingkan being daripada having.

Sementara mitos yang pragmatis dan sangat realistis, justru mitos dari orang Cina. Kalau untuk orang Cina, sebisa mungkin being by having, dan having by first being.

***

Kesimpulan Wandi S Brata di buku itu sendiri berintikan bahwa sesungguhnya having itu penting, karena ia menjadi salah satu sumber motivasi dalam hidup.

Namun, saya tidak akan mengantar Anda ke arah kesimpulan itu, yang berarti saya sekedar menyalin tulisan Wandi ke postingan ini.

Tidak. Saya justru akan berhenti pada data John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang dipublikasikan dalam Reinventing the Corporation (1985) itu.

Data lama itu menyebutkan, tentang apa yang membuat orang-orang merasa puas di tempat bekerja. Rupanya, setidaknya ada 13 faktor teratas yang menjadi pendapat para respondennya :

(1) bekerja dengan prang yang memperlakukan saya dengan hormat

(2) pekerjaannya menarik

(3) pengakuan terhadap kinerja yang baik

(4) kesempatan untuk mengembangkan diri

(5) bekerja pada orang yang ingin tahu saya punya ide apa untuk meraih prestasi bersama

(6) kesempatan untuk berpikir sendiri, dan tidak melulu mengikuti petunjuk

(7) paham rentetan pekerjaan dan dapat melihat hasil akhir dari sesuatu yang saya lakukan

(8) bekerja bagi pimpinan yang efisien

(9) pekerjaannya tidak terlalu mudah

(10) merasa tahu apa yang sedang berlangsung di dunia dan tempat kerja

(11) keamanan kerja

(12) gaji tinggi

(13) manfaat pribadi

Lihatlah. Bahwa ternyata, faktor-faktor yang berkategori having ada di nomor bontot : nomor 11 sampai dengan 13! Sementara faktor pertama sampai dengan ke-10, seluruhnya merupakan faktor-faktor dalam kategori being.

Apa artinya? Ya, bahwa orang yang bekerja selalu mementingkan dirinya untuk "dimanusiakan", diuwongke --kata orang Jawa, dan diakui eksistensinya sebagai manusia yang bekerja dalam perusahaan. Sementara keuntungan pribadi, merupakan prioritas pilihan yang kesekian.

Karena itu pula, kita sering mendapatkan betapa loyal seorang pekerja dalam sebuah perusahaan, kendati dalam hal salary ia bisa saja mendapatkan yang lebih di tempat lain.

Perlu diingat juga, bahwa "kenyamanan kerja" juga tidak identik dengan pekerjaan yang gampang. Lihat point (9) data tadi. Orang justru suka pekerjaan yang "tidak telalu mudah", karena secara hakiki, seseorang pasti ingin menunjukkan segala yang ia bisa. Segala potensi yang ada dalam dirinya.

***

Apa pelajaran yang bisa kita petik dari data itu?

Jika Anda pemimpin, pimpinlah orang-orang dalam tim Anda sebagai seorang manusia utuh. Seseorang, yang justru akan lebih bahagia jika dimanusiakan, daripada sekedar mendapatkan materi tinggi tapi harus menelan kesewenangan dan merelakan harkat martabatnya diinjak dan diperdaya.

Jika Anda pemilik bisnis, seorang pengusaha, maka perlakukan karyawan Anda sebagai manusia yang tanpa-nya, usaha Anda tidak akan sebaik dan semaju sekarang.

Jika Anda pemimpin ataupun pengusaha, maka perlakukan klien Anda, customer Anda, pelanggan Anda, tamu Anda dan siapapun yang berhubungan dengan Anda dengan pendekatan kemanusiaan.

Having, memang tidak kalah penting daripada being. Tapi ia bisa menjadi tak berarti manakala ke-being-annya tak didapatkan. Syukur-syukur, seperti mitosnya orang Cina yang diamini Wandi, kedua-duanya bisa diperoleh.

Bukan begitu?

Ya iya lah... masa ya iya dong.
Duren aja dibe-lah, bukan dibe-dong....


Salam,

Fajar S Pramono


NB :
Badan lagi sakit neh. Penyakit lama kambuh : terforsir. Jadinya, kecapean deh. Kamis sampai Jum'at malam di Pekanbaru. Full agenda. Balik Jakarta, dua jam kemudian --malam itu juga-- langsung berangkat ke Solo dengan kendaraan sendiri. Pulang Senin pagi, langsung dihajar tumpukan pekerjaan. Tapi gak papa, selama saya masih "dimanusiakan" ama perusahaan... hahaha!

Ilustrasi : www.odyssei.com

2 komentar:

jgn sakit bos.... masih dimanusiakan oleh perusahaan, jadi jika ada jatah untuk berobat, segera ke dokter!!! selamat di tempat kerja baru....

 

Haha.. soal sakit, memang aku sendiri yang super-ndableg!

Kesuperndableganku ini akan kuceritakan dalam posting tersendiri. Siapa tau bisa jadi ide cerpen buat Mas Nur! Haha...