Banker on Writing

Ketika menulis adalah kebutuhan : katarsis, belajar dan berbagi

Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label motivasi. Tampilkan semua postingan

MENGUBAH PR MENJADI RP


"Apa bedanya seorang tentara waktu berangkat tugas ke Aceh, dan sepulang dari Aceh?" tanya sebuah anekdot.

Tak banyak orang di kantor yang bisa menjawab, ketika guyonan itu dilontarkan. Termasuk saya.

Sampai akhirnya, "Tentara ke Aceh bawa M-16, pulangnya bawa 16 M!" jawab si penanya sendiri.

Maksudnya?!

"Berangkat bawa senapan M-16, pulangnya bawa duit 16 M....," terangnya.

Lho?! Dari mana?!

"Dari mengawal ganja! Hahaha...," terangnya lagi.

***

Itu hanya sebuah anekdot, yang berkembang ketika Aceh lekat dengan GAM. Ketika Aceh "identik" dengan ladang ganja.

Cerita tentang M-16 dan 16 M itu sontak muncul dalam ingatan ketika beberapa waktu membaca status Facebook seorang sahabat : Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA (Tangan Di Atas). Ia menulis : "Bismillah...lanjut selesaikan PR untuk jadi RP...amin...". Juga catatan seorang kawan --Nur Habib-- tentang "Filsafat Bolak-Balik".

Apa hubungannya dengan anekdot di atas?

Enggak ada, memang. Saya hanya suka anekdot dan kata-kata "mutiara" yang gampang diingat dengan keunikannya. Lihat : M-16, 16 M. PR, RP. Saya terkesan, karena menurut saya, itu kalimat cerdas.

Tentang "Filsafat Bolak-Balik"-nya kawan Nur Habib, kapan-kapan saya sharing, dan kita bahas bersama.

***

Menyelesaikan PR untuk jadi RP. Hmm... menyelesaikan "Pekerjaan Rumah" agar menjadi "Rupiah". Great!

Mas Iim mengingatkan kita, bahwa banyak hal produktif yang bisa kita selesaikan. Bahwa banyak aktivitas yang bisa dijadikan ladang rejeki. Bahwa banyak pekerjaan tertunda, yang semestinya bisa segera memberikan hasil bagi kita.

Pemahaman ini tentu layak diperluas. Bahwa output produktivitas tentu tidak saja berupa materi. Uang. Ia bisa berupa apa saja yang positif bagi kehidupan kita.

Contoh : silaturahmi dengan teman. Ia mungkin tidak menghasilkan rupiah (baca : uang) kalau kita lakukan. Bisa jadi kita malah keluar uang. Untuk mentraktir misalnya. Tapi, berkah silaturahmi, bisa mewujud dalam hal yang lain. Networking bisnis, keliaran ide positif, pembelajaran tentang hal baru, sharing pengalaman, kesempatan, dan lain-lain.

Bagaimana dengan kesempatan berolahraga, misalnya? Ya, kesempatan itu sesungguhnya adalah "PR". Apa output-nya kalau kita kerjakan? Uang? Bukan. Kita bahkan mungkin membayar untuk menyewa gedung olahraga, membeli peralatan, dan lain-lain. Tapi, Insya Allah kita akan sehat. Dan sehat itu anugerah yang luar biasa, bukan?

Bangun pagi, membuat catatan yang (semoga) positif, lalu sharing. Dapet apa? Pahala, Insya Allah, amien. (Hehe...)

So, RP itu bukan sekadar uang. Ia bermakna "anugerah". Anugerah yang barokah.

Dan itu bisa diperoleh dari mana saja. Seorang istri yang dengan senang hati "mengerjakan PR" memasak untuk suaminya, Insya Allah beroleh pahala dan keharmonisan rumah tangga. Seorang karyawan yang "mengerjakan PR", yakni dengan ikhlas memberi bimbingan kepada teman kerja barunya, Insya Allah mendapatkan pahala, kehormatan dan kepantasan sebagai rekan kerja yang baik, sekaligus kehangatan sebuah "keluarga kantor".

Intinya : selama PR itu adalah kegiatan atau amalan positif, yang kemudian dikerjakan dengan baik dan ikhlas, maka ia pasti menghasilkan RP. Menghasilkan anugerah.

Itu janji Tuhan, bukan?

So, terima kasih Mas Iim, atas status-nya yang luar biasa.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com

MANTRA PENEMU

Siapa sesungguhnya yang telah membuat dunia ini semakin maju dari hari ke hari?

Jangan jawab : Tuhan. Itu sudah kemutlakan. Saat ini kita sedang bicara pada ranah makhluk. Manusia; spesifiknya.

Lihatlah manusia-manusia pembawa perubahan. Bill Gates. Steve Job. Mark Zuckerberg. Nelson Mandela. Atau yang "beraroma jadul", seperti Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Thomas Alfa Edison, Wright bersaudara, Henry Ford, Einstein. Masih banyak lagi tentunya.

Mereka berbeda jaman, berbeda bidang pengerjaan, tak sama geografis, berlainan jenis kelamin, berlainan kondisi ekonomi dan kepemilikan akses kekuasaan. Tapi, pasti ada yang membuat mereka bisa berperan penting pada masanya, dalam hidupnya.

Apa itu?

Rasa tak puas.

Hanya itu?

Tidak. Ada keyakinan bahwa mereka bisa berbuat lebih baik.

Itu yang "menyamakan" antar mereka, sekaligus membedakan dengan kita kebanyakan.

Kita seringkali berhenti pada rasa tak puas. Itu bagus, minimal lebih bagus daripada sekumpulan orang yang sekedar pasrah, tak ada inisiatif, bahkan mungkin tak punya opini. Apa yang ada di hadapannya-lah yang ia jalani.

Padahal, langkah lanjutan berupa upaya agar dunia ini menjadi lebih baik adalah keniscayaan, yang akan membuat dunia ini benar-benar semakin lebih baik.

Sudah banyak orang bicara : inovasi, atau mati.
Kata saya : dalam dunia yang terus berjalan ke depan, maka berhenti tak ada beda dengan berjalan mundur.

Bukankah begitu? Kita semakin tertinggal dari yang lain.

***

Sekarang, pertanyaan tertuju pada kita. Apakah kita tak ingin menjadi bagian dari pencipta perubahan, dan bukan sekadar menjadi pelaku perubahan yang telah dirintis orang lain?

Pencipta dan pelaku perubahan, sama-sama menjalani perubahan. Tapi pasti ada yang berbeda. Yakni, "derajat"-nya. Mana yang lebih tinggi? Pastilah si pencipta.

Nah. Dari buku The Greatness Guide karya Robin Sharma, terungkap sebuah "mantra penemu".

Seperti apa itu?

Simaklah : "Musuh dari yang terbaik adalah yang baik".

Anda bingung? Bagaimana sesuatu yang sudah baik masih bisa menjadi musuh?!

Sesuatu yang baik di sini, tak ubahnya sesuatu yang sudah mapan. Dan kemapanan terbukti seringkali membuat kita "tumpul", malas berinovasi, dan merasa puas.

Padahal, itulah "penyakit"! Penyakit bagi kemajuan yang berkesinambungan. Sementara, jelas kita ingin hidup ini semakin maju dari waktu ke waktu.

Karena itu, mari kita selalu ingat "mantra penemu" itu. Dan mari, kita selalu coba untuk bisa menjadi bagian dari penciptaan perubahan dunia.


Salam,

Fajar S Pramono


--Judul posting ini, saya cuplik persis seperti judul bab di buku Robin Sharma di atas. Saya kesulitan dan merasa tak pantas untuk menyebutnya dengan istilah yang lain--

Ilustrasi : http://openinno.files.wordpress.com

ALASAN


Sebuah inspirasi dari Reader Digest edisi Mei 2009, yang mengutip kata-kata Dr. Daniel T. Drubin :

"Setiap alasan yang pernah saya dengar, masuk akal bagi orang yang membuatnya."

***

Hmm... kecut senyum saya ketika membacanya. Bukan mencibir, tapi justru karena bener banget rasanya. Semua alasan itu masuk akal. Di mata siapa? Di mata si pembuat alasan itu sendiri!

Artinya? Artinya, ya belum tentu masuk akal bagi orang yang lain....

Apakah alasan capek itu membuat orang bisa memutuskan untuk sebuah janji penting yang telah terjadwal sebelumnya?

Bisa, dan masuk akal.

Di mata siapa? Di mata yang buat alasan dong. Lha di mata "lawan janji"-nya, yang telah bela-belain menyiapkan waktu dan bahkan menomorduakan keluarga untuk sementara pada weekend itu? Di mata para penepat janji yang senantiasa berprinsip bahwa janji adalah hutang?

Lalu, kesiangan. Apakah alasan tidur terlampau malam --bahkan masuk kepada dini hari-- bisa menjadi alasan bagi keterlambatan kita ke kantor?

Bisa. Masuk akal? Masuk akal.

Di mata siapa? Ya di mata yang terlambat dong. Lha di mata atasannya yang sangat disiplin? Lalu, ketika dicermati lagi bahwa keterlambatan tidurnya bukan karena lembur pekerjaan ekstra tapi "hanya" karena menuruti hobi nonton bola atau sekedar keasyikan ber-facebook hingga lupa waktu?

Tentu alasan itu menjadi sulit untuk diterima. Meskipun, tetap masuk akal bagi si pembuat alasan.

So, benar sekali kata Dr. Drubin tadi. Alasan, selalu dianggap masuk akal oleh si pembuat, tapi belum tentu bagi orang lain. Terlebih lagi bila ketidaktepatan berkomitmen itu menyebabkan kerugian pada orang lain tersebut.

***

Saya jadi ingat tulisan Mas Fauzi Rachmanto *), seorang pebisnis sekaligus pembaca dan penulis yang baik.

Suatu ketika ia "bicara" tentang CEM. Chronic Excuse Making.

Apa itu? CEM adalah "penyakit" membuat alasan yang kronis. Disebut kronis, karena baginya selalu saja ada alasan untuk sesuatu yang tidak dikerjakan semestinya. Yang laptopnya "sok" rusak-lah ketika diminta membuat laporan, yang nggak ada mobil-lah ketika diminta mengunjungi klien, yang kena macet-lah Senin pagi itu, dan sebagainya.

Bukannya kita bisa ke rental atau menggunaan PC kantor untuk membuat laporan?
Bukannya kita masih bisa memanfaatkan angkutan umum untuk menemui sang klien?
Bukannya kemacetan Senin pagi merupakan sesuatu yang klasik, yang mestinya bisa kita hindari dengan berangkat lebih pagi dibanding hari yang lain?

Seorang pengidap CEM selalu berlindung di balik alasan-alasan, untuk menutupi hal-hal yang tidak mau atau tidak mampu ia kerjakan. Seolah-olah, dengan menyampaikan excuse, maka kewajiban yang harus dilaksanakan sudah terselesaikan. Begitu tegas Mas Fauzi.

***

Lantas, tak bolehkah ada yang namanya "alasan" itu?

Tentu boleh. Ada batasan-batasan tertentu yang memungkinkan sebuah alasan dikedepankan. Kapan itu? Saya sependapat dengan Mas Fauzi, yakni : ketika kita sudah berusaha sampai limit teratas kita pada saat itu. Ketika kita sudah berusaha maksimal. Ketika kita sudah berupaya sepenuh jiwa dan tenaga.

Kalau memang dalam satu wilayah yang kebetulan kita tinggali pada saat itu tak ada rental komputer, tak mungkin menjangkau kantor dalam satu hari perjalanan, tak ada orang lain yang memungkinkan untuk kita pinjami PC atau laptop lain, bahkan tak ada mesin ketik manual, atau memang laporan tersebut tidak memungkinkan untuk dibuat secara manual tangan, silakan ber-excuse.

Kalaulah memang domisili sang klien tidak mungkin dijangkau dengan menumpang mobil lain, memakai sepeda motor, angkutan umum, taksi, atau bahkan dengan ojek sekalipun, silakan ber-excuse.

Kalau kita sudah prepare menjelang Senin pagi, berangkat tidur lebih awal, membunyikan alarm agar bangun lebih pagi, menyiapkan segala sesuatunya sejak Minggu sore dan berbagai persiapan lainnya, lantas kita terhadang kemacetan panjang akibat adanya kecelakaan maut yang membuat kita terjebak di dalam kerumunan massa, di situ mungkin excuse bisa disampaikan.

So, persis seperti yang dikatakan Mas Fauzi. Ada dua"resep" untuk menghindari penyakit CEM ini. Pertama, ingat selalu bahwa excuse tidak dapat menggantikan hasil akhir. Kedua, cobalah sampai limit kita dahulu, sebelum menyampaikan excuse.

Sekali lagi, alasan selalu masuk akal, hanya bagi orang yang membuatnya. Ingat juga, bahwa banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa CEM adalah penghilang kesempatan untuk maju, pembuang peluang untuk menjadi besar, dan penghalang sejati bagi kesuksesan.


Salam,

Fajar S Pramono


*) http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/08/cem.html

Ilustrasi : http://4.bp.blogspot.com

MENGALAHKAN DIRI SENDIRI


Kalaulah ada pertanyaan : diri kita sendiri ini, musuh ataukah sahabat?

Kalau kita sering mendengar anjuran, "Cobalah bersahabat dengan diri Anda sendiri", apakah itu berarti pada suatu ketika diri kita ini adalah "musuh" kita sendiri? Mungkinkah kita bisa bermusuhan dengan diri kita sendiri?

Jika sekedar menjawab pertanyaan yang secara harfiah membingungkan itu, kita pasti akan bingung juga. So, mungkin hal itu lebih enak kalau diperjelas dengan contoh.

Ketika kuliah, saya indekost. Demi melihat seorang teman kost --kebetulan si teman ini masih kelas 3 SMA-- tak pernah mau belajar, bahkan terus saja menuruti keinginannya untuk bermain, nonton, dan sebagainya meskipun dalam waktu sangat dekat akan menghadapi ujian akhir, saya heran. Padahal juga, "historikal" hasil pendidikannya selama kelas 1 sampai dengan kelas 3 tidak pernah menunjukkan prestasi yang boleh dikata baik.

Pada akhirnya, saya menulis sebuah esai sederhana, yang ketika iseng saya kirim ke Harian Suara Merdeka, dimuat di rubrik "Esai Lepas" pada tanggal 25 Mei 1997. Judulnya sama dengan judul posting kali ini : Mengalahkan Diri Sendiri.

Dalam esai itu, saya mengatakan bahwa ada satu hal yang seringkali sangat berat untuk kita jalani, yakni yang saya sebut dengan "mengendalikan keinginan, kehendak dan nafsu untuk melakukan sesuatu, yang sekiranya akan menghambat cita-cita."

Dengan contoh kasus teman saya di atas, saya katakan bahwa teman tersebut tidak bisa mengalahkan keinginan untuk terus bermain yang tak bermanfaat, nonton yang semestinya bukan kebutuhan pokok atau minimal bisa ditunda terlebih dahulu, padahal kegiatan yang pada akhirnya dipilihnya itu bisa jadi membuat dia gagal dalam ujian akhir sekolahnya. Ketika itu gagal, maka sebuah cita-cita yang saya yakin sebenarnya ada tercetak dalam benak dia, akan terhambat pencapaiannya, atau bahkan sama sekali hanya jadi mimpi di siang bolong.

So, dalam case tersebut, saya mengatakan bahwa teman saya tadi belum bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk sesuatu yang jauh lebih penting. Pendek kata, ia belum bisa mengalahkan dirinya sendiri.

***

Saya kembali tersentak oleh pentingnya kesadaran itu ketika dini hari tadi saya mulai membaca buku The Last Lecture (Pesan Terakhir) karya Randy Pausch. Seorang profesor di Carnegie Mellon University, yang dibantu Jeffrey Zaslow --kolumnis di Wall Street Journal-- dalam penulisan bukunya itu.

Pausch, divonis bahwa usianya tinggal 6 bulan. Itu akibat kanker prankeas yang dideritanya. Ada sepuluh tumor yang menghinggapi levernya. Tapi lihatlah apa yang ia perbuat dalam "jatah hidup"-nya yang tinggal sedikit itu. Ia sama sekali tidak menyerah, dan justru mampu memanfaatkan waktu yang sempit itu menjadi sebuah prestasi yang luar biasa, yang membuat hidupnya jauh lebih baik, dan bahkan menginspirasi banyak sekali orang di dunia ini.

Poin utama yang saya peroleh adalah : Pausch tidak pernah menyerah, dan tidak pernah mau "mengalah" pada dirinya sendiri.

"Meski mudah saja kalau saya mau mengasihani diri, itu tidak ada baiknya untuk mereka, termasuk diri saya," kata Pausch.

"Mereka" yang dimaksudkan dalam kalimat Pausch tadi adalah istri dan ketiga anaknya.

***

Ada banyak cerita yang nyaris serupa, bahwa prestasi terbaik seringkali diperoleh justru dalam kondisi yang penuh keterbatasan.

Beberapa kisah pernah saya angkat dalam posting-posting saya. Kisah Ryan Farrington, seorang pelari muda Inggris yang sesungguhnya menderita distonia (posting tanggal 29/12/2008); Natalie du Toit, perenang maraton asal Afrika Selatan yang hanya memiliki satu kaki. Juga Maarten van der Weijden, perenang Belanda yang memperoleh emas dalam nomor renang 10 km maraton di Olimpiade Beijing 2008, yang sesungguhnya adalah penderita leukimia akut sejak 2001 (posting tanggal 23/08/2008).

Pertanyaan bagi kita semua : apakah kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri ini baru akan muncul dalam keadaan "terpaksa" ataupun dalam kondisi penuh "keterbatasan"?

Semestinya tidak. Jika dalam kondisi yang serba terbatas saja mereka bisa menorehkan prestasi dengan cara mengalahkan dirinya sendiri, kenapa kita yang relatively lebih lenjustru tidak bisa?

Bukankah ketika tidak ada kungkungan keterbatasan, dan di sisi lain kita mampu mengalahkan diri sendiri, maka hasil yang bisa diharapkan menjadi lebih tinggi?

Namun kawan, inilah yang banyak terjadi. Kesyukuran atas keserbaadaan kita justru seringkali tidak kita ungkapkan dalam bentuk maksimalitas usaha. Maksimalitas untuk mengatasi keinginan negatif, yang bisa mengalahkan kebutuhan positif.

So, kesimpulannya, diri kita sendiri bisa menjadi "musuh" ataupun "sahabat".

Lalu, kapan diri kita menjadi "musuh" bagi diri kita sendiri?

Tentu, ketika keinginan negatif kita yang jelas-jelas mampu menghambat pencapaian cita-cita kita, justru mendapat tempat yang lebih layak dan mendapat pemenuhan yang lebih maksimal dibanding kebutuhan positif yang menjamin pencapaian cita-cita tersebut.

Jadi, mau kita tetapkan sebagai apakah diri kita sendiri? Sebagai sahabat, atau sebagai musuh?

Mari belajar dari mereka.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : Randy Pausch bersama istri dan ketiga anaknya (http://a.abcnews.com)

SEEKING A PASSION


Hampir semua pakar, ahli,konsultan, motivator, senior atau apapun istilah yang merujuk pada tingkat kepintaran yang lebih, selalu menekankan adanya faktor passion dalam upaya menggapai kesuksesan.

"Fokuslah pada apa yang menjadi passion-mu, maka seolah kamu tidak sedang berbisnis. Sekedar melaksanakan hobi."

"Cintailah apa yang kamu kerjakan sehingga ia bisa menjadi passion-mu, dan kamu akan merasakan seolah sedang tidak bekerja."

"Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan passion, akan selalu menguatkan dirimu untuk terus menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik."

"Jadilah expert pada passion kamu, maka kamu akan selalu menuju pintu keberhasilan."

Begitu kata-kata para pakar itu.

Masalahnya adalah, bahwa ternyata tidak mudah bagi semua orang untuk tahu passion-nya sendiri. Juga, masih banyak orang yang bahkan tidak tahu bidang apa yang menjadi expert-nya. Betul itu!

Dalam perjalanan yang menciptakan persahabatan yang lebih luas, saya pun menemukan kelompok orang yang demikian, yang tak kalah dalam segi jumlah ketika dibandingkan dengan orang-orang yang merasa telah menemukan passion-nya. Atau bahkan, jangan-jangan, kelompok yang "tak tahu passion" ini lebih banyak anggotanya? Wallahu a'lam.

So, adalah kurang bijak bagi mereka yang sudah bisa berjalan di atas passion, mengembangkan dirinya berdasarkan passion, atau setidaknya tahu cara menggali passion dalam dirinya, tapi tidak mengkomunikasikannya kepada mereka yang belum tahu.

Saya berusaha mencobanya, dalam tataran yang paling rendah. Mudah-mudahan upaya saya ini bisa mengurangi jumlah orang yang "kurang bijak" itu, hehe.

Mengingat pelaksanaan passion adalah hal yang paling dekat untuk mengantarkan kepada keahlian/kecakapan (expert)--dan pada akhirnya kesuksesan--, maka saya akan mengarahkannya pada bagaimana cara kita mengetahui passion, dan pada akhirnya paham di bidang apa kita bisa expert.

Ada dua masukan sederhana dari dua orang pakar motivasi. Yang pertama, dari Pak Jamil Azzaini. Seorang Inspirator Gerakan Sukses-Mulia, yang juga Direktur PT. Kubik Kreasi Sisilain. Gagasan dan pemikirannya dapat disimak di Trijaya Network setiap hari Kamis pukul 17.00 - 18.30 WIB.

Ini saya sebut, pencarian passion dari dalam diri (internal). Saya ambil dari buku terbarunya Pak Jamil : Tuhan, Inilah Proposal Hidupku (Gramedia, 2009).

Pertama, daftarlah semua kegiatan yang telah Anda jalani dan banyak menghabiskan waktu.

Kedua, kelompokkanlah kegiatan-kegiatan itu ke dalam tiga bagian : kegiatan yang Anda kuasai, kegiatan yang Anda cintai dan kegiatan yang menghasilkan. Satu kegiatan bisa termasuk dalam tiga bagian tersebut.

Ketiga, pilih dari daftar tersebut, satu, dua atau tiga hal yang paling Anda kuasai, Anda cintai dan sekaligus menghasilkan.

Dan, itulah diri Anda. Itulah passion Anda, yang sangat memungkinkan Anda untuk menjadi expert di bidangnya. Mengerjakan passion, sekaligus tetap menghasilkan.

Setelahnya --tulis Pak Jamil-- mulailah mengalokasikan waktu Anda sebanyak-banyaknya untuk bidang tersebut.

Bidang yang lain? Delegasikan saja pada orang lain yang memang expert di bidang lain itu.

Gampang kan? Silakan dicoba.

Masukan yang kedua, datang dari Pak Mario Teguh. Saya mendapatkannya dalam Mario Teguh Golden Ways bertema "The Power of Imaginary Regrets", tadi malam (08/02/09), dan saya menyebutnya sebagai faktor eksternal, karena pengetahuan akan kehebatan kita ini justru kita yakinkan pada diri sendiri melalui respon orang lain terhadap apa yang kita lakukan.

Lakukanlah segala sesuatu, apapun itu, namun juga perhatikan tingkat keseringan orang-orang untuk mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal di bawah ini :

Pertama : ucapan "Terima kasih". Semakin banyak orang yang mengucapkan terima kasih, merupakan indikasi awal bagi "kepuasan" orang lain terhadap apa yang Anda lakukan.

Kedua : desis ataupun teriakan "Wow!". Jika banyak orang yang merespon apa yang Anda lakukan dengan ungkapan "wow", ini adalah indikasi untuk menunjukkan bahwa Anda memang jago di bidang itu. "Ketakjuban" mereka adalah indikasi pengakuan terhadap kehebatan Anda.

Ketiga : bersedia membayar Anda. Kesediaan orang lain untuk mengeluarkan effort berupa biaya kepada Anda secara ikhlas untuk melakukan sesuatu, menunjukkan adanya tingkat kepakaran yang dibutuhkan oleh orang lain tersebut. Mereka tidak hanya mengakui kehebatan Anda, tapi bahkan meletakkan kehebatan itu pada kerangka profesionalitas. Kepakaran.

Keempat : pengakuan "Hanya Anda yang bisa!". Ungkapan ini lebih menunjukkan personal branding kita atas kepakaran kita dalam sebuah bidang. Dan ini berarti, tingkat ke-expert-an kita --bisa jadi-- sudah di atas rata-rata.

Kelima : ungkapan "Untung ada Anda!". Hmm.. di tingkat ini, Anda seolah seorang "peri penyelamat", yang telah membuat proses hidup orang lain menjadi lebih lancar menuju tujuannya. Istilah "untung ada Anda" bahkan menunjukkan sesuatu yang semula dibayangkan bersifat tidak mungkin (impossible), tanpa harapan (hopeless), menjadi sesuatu yang mungkin dan berpengharapan.

Gampang juga, ya? Silakan dicoba juga.

Maka dari itu, mari kita coba inventarisir berbagai respon orang terhadap apa-apa yang telah kita lakukan selama ini.

Adakah beberapa contoh ungkapan atau tindakan orang lain itu secara kuat mengindikasikan kehebatan kita?

Jika ada, itulah diri kita. Itulah kehebatan kita, dan itulah expert kita.

Mudah-mudahan, uraian di atas bisa membantu Anda untuk menemukannya.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.affiliatespeedway.com

KETIKA "TERPAKSA" KALAH....


"Kalau kena tampar, hendaklah dari tangan yang bercincin," kata petuah lama.

Apa maksudnya?

Konon itu berarti, kalau dikalahkan atau dihinakan, lebih baik oleh pihak yang memang lebih kuat, lebih mampu, atau lebih terhormat daripada kita sendiri.

Itulah konteks yang saya baca dari tulisan Nuim Khaiyat dalam buku Dunia di Mata Nuim Khaiyath (2009). Ia sedang "berbicara" masalah Janji Amerika dan Dinasti Bush, yang bercerita tentang "hilangnya tongkat orang tua" bernama Amerika untuk kedua kalinya akibat nafsu besar dalam konflik Timur Tengah (Irak), ketika mencuplik petuah di atas (hal.93).

Saya tak akan mengaitkan petuah itu untuk kasus Amerika. Saya hanya tertarik untuk mengambilnya sebagai "roh" posting hari ini. Tentang kekalahan. Tentang kita jika suatu saat "terpaksa kalah".

Lepas dari aura optimisme yang harus selalu ada dalam langkah kehidupan kita sehari-hari, rasanya tak ada yang salah jika kita tetap memperbincangkan masalah kekalahan.

Sebuah pertandingan, sebuah kompetisi atau persaingan, sebuah perseteruan, tak selamanya bisa menghasilkan kemenangan bersama ataupun win-win solution. Dalam apa saja. Olahraga, olimpiade science, cerdas cermat, persaingan pasar bisnis, tender proyek, bahkan persaingan dalam "memperebutkan" pasangan hidup, dsb. Ada saatnya, harus ada "pemenang". Sehingga pihak lainnya terpaksa menerima sebutan sebagai pihak yang "kalah".

Dalam hal yang demikian, rasanya menjadi sangat bijak petuah orang tua jaman dahulu itu. Kalau terpaksa kalah, kalahlah dari yang memang lebih baik.

Berarti, kapan kita "boleh" terpaksa kalah?

Pertama, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, prepare sesiap mungkin, belajar seoptimal mungkin, berlatih sekuat mungkin, dan berdo'a sekhusyuk mungkin.

Kalau Anda kalah kendati sudah melakukan semua itu semua, tetap berbahagialah. Karena Anda memang kalah dari yang lebih baik. Mungkin usaha Anda, persiapan Anda, belajar Anda, latihan Anda dan do'a Anda masih bisa ditingkatkan dari ukuran "maksimal" atau "optimal" versi Anda sekarang ini.

Jika saat ini Anda menganggap latihan 6 jam perhari adalah maksimal, mungkin sebenarnya "maksimal yang benar" adalah 8 jam per hari. Dan ini mungkin dilakukan oleh si pemenang.

Kalau do'a Anda tak pernah lupa dipanjatkan setelah sholat wajib, mungkin sang juara menambahkan doa-doa-nya melalui sarana sholat malam.

Artinya, sesungguhnya masih ada "batas atas" yang lebih tinggi dari ukuran kemaksimalan kita.

So, mari kita tengok, adakah batas atas yang lebih tinggi dari usaha yang sudah kita lakukan untuk menghadapi "pertandingan" itu.

Kedua, kita sesungguhnya tetap jadi "pemenang" jika kita telah melakukan persiapan terbaik atau maksimal tadi. Minimal, kita menang melawan ketidakmauan untuk berlatih, ketidakmauan untuk belajar, bersiap dan berdo'a. Minimal, kita telah menang melawan "nafsu buruk" kita : males-malesan, berlatih asal-asalan, dan keinginan menuruti "bisikan" untuk tidak memohon kepada Tuhan.

Ketiga, tak ada istilah "kalah" sesungguhnya, jika segala usaha, latihan, persiapan, belajar dan do'a tadi telah membuat kita mampu menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Konteks kekalahan dalam bertanding atau berkompetisi, bergeser menjadi konteks kemenangan melawan masa lalu. Bukankan menjadi keinginan kita bersama, bahwa kita ingin selalu menjadi yang lebih baik dari hari ke hari?

Keempat, kalaupun harus disebut "kalah", semua itu harus berujung pada tuntutan diri untuk menginstropeksi diri, memperbaiki diri, dan senantiasa membuat diri ini lebih maju. Jika sebuah kekalahan tidak menjadi alasan untuk "nglokro", putus harapan, patah semangat, lupa Tuhan, dan justru menjadi pemacu untuk lebih baik, maka sesungguhnya kita tidak "kalah". Kita tetap menang.

Kelima, selalu ingatlah : menang dan kalah dalam kehidupan di dunia adalah sebuah keniscayaan. Selalu ada orang yang lebih baik dari orang yang lainnya. Dan "pertandingan dunia" itu memang tak selalu membuka pintu bagi semuanya untuk menjadi pemenang.

Lalu, di mana kemenangan bisa menjadi milik semua orang? Di mata Tuhan kita. Dan ini yang terpenting. Di mata Beliau, kita semua bisa menjadi pemenang. Hanya "kompetisi" yang Tuhan buat lah, yang memungkinkan kita semua jadi pemenang.

Pesan posting : so, untuk yang terakhir ini, jangan sampai --naudzubillahi min dzalik-- kita tidak menjadi pemenangnya. Kita semua, tanpa kecuali. Karena Tuhan menyediakan luasan tempat yang tak terbatas untuk para pemenang kehidupan dunia sekaligus akhirat ini.

Namun, kendati luasannya tak terbatas, tidaklah gampang untuk bisa menjadi pemenang di mata Sang Maha Segala. Dan itu menjadi pe-er buat kita semua.

Terutama, saya sendiri.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www1.istockphoto.com

FILOSOFI SUKSES SOHO


Saya memang agak terlambat membuka majalah SWA No. 03, edisi 5-18 Februari 2009, kendati sudah sejak awal bulan itu sang majalah tergeletak di meja kantor.

Edisi kali itu mengambil topik utama tentang Lompatan Kuantum SOHO Group, sebuah perusahaan raksasa bidang farmasi yang dalam 5 tahun terakhir mampu melejitkan dirinya dari posisi 13 menjadi 3 besar perusahaan sejenis, dengan omzet yang mampu menembus Rp 1 triliun per tahun.

Sesungguhnya saya belum tertarik untuk langsung membaca sajian utama ketika membuka majalah itu. Seperti biasa, saya hanya membolak-balik halaman secara sekilas dari arah belakang, hingga pada akhirnya mata saya justru tertumbuk pada ilustrasi foto yang ada di liputan tentang SOHO Group di atas. Bukan (baca : belum) pada materi sajian utama itu sendiri.

Seperti apa sih, ilustrasi foto itu?

Saya pingin mengunduhnya untuk posting ini sebenarnya, tapi hasil browsing di http://swa.co.id tidak memunculkan gambar dimaksud.

Begini gambarannya : ada dua foto, yang pertama foto Andreas Halim Djamwari dan Tan Eng Liang --keduanya adalah Presiden Direktur dan Komisaris Utama Grup SOHO--, dan yang satu foto Tan Eng Liang dan istrinya, dalam sebuah acara kebersamaan dengan para karyawannya.

Yang menarik bagi saya, adalah logo dan tulisan pada kaos yang menjadi "seragam" dalam acara itu.

Apa tulisannya? SUCCESS; Step Up your Career to Create Excellence for Self and SOHO Group. Bersebelahan dengan gambar simbol orang yang sedang "bergerak".

Saya baca berulang kali.
Hmm... sangat super! Sangat bagus, menurut saya.

Mari kita maknai bersama.

Dalam terjemahan saya yang kurang lancar bahasa Inggris ini, itu berarti : jejakkan langkah lebih tinggi dalam karirmu, untuk menciptakan keutamaan (kesempurnaan) bagi diri dan Grup SOHO.

Jika kita memahami filosofi pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), maka "motto", "semboyan", "slogan" atau apapun namanya seperti itu sangat cerdas, dan luar biasa ketinggian filosofinya.

Bayangkan. Tuntutan untuk meningkatkan kemampuan bekerja, meningkatkan kapabilitas individu, meningkatkan hasil kinerja, dan sejenisnya, pasti merupakan sebuah tuntutan yang wajar, dan hampir menjadi kemutlakan bagi setiap organisasi.

Namun, lihatlah "tujuan" di belakangnya. Huruf S dari 2 huruf S yang terakhir dalam kata SUCCESS diterjemahkan sebagai SELF terlebih dahulu, baru S sebagai SOHO Group. Tidak SOHO Group dulu, baru SELF. Padahal, dari segi huruf pertama kata, bisa saja itu dilakukan.

Tapi saya yakin, penempatan "SELF" mendahului "SOHO Group" merupakan olah pikir dan hasil pemikiran --bahkan bentukan karakter-- yang khas dan bukan dipolitisir oleh manajemen SOHO Group. Saya yakin pula, bahwa pola pikir seperti itulah yang mendasari pola manajerial dalam perusahaan selama ini.

Semua orang, baik pemilik, pengurus maupun karyawan di seluruh tingkatannya diajak bekerja secara maksimal, terus mengembangkan diri, sesungguhnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Artinya, karyawan sebagai individulah yang paling akan merasakan manfaatnya dari pengembangan diri dan karir itu. Semakin baik kinerjanya, maka efek positif atau manfaat yang diperoleh akan langsung dirasakan oleh dirinya sendiri. Oleh si karyawan.

Dan sebagai sebuah kerja organisasi, maka kebaikan dan kemampuan kerja yang terus meningkat itu, pada akhirnya akan berimbas juga ke perusahaan.

Bagi saya, manajemen yang membuat "motto" itu sangat jenius. Ia berhasil mengulik "ego" yang pasti dimiliki setiap orang, yaitu ego untuk mengerjakan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya.

Dan ketika semua karyawan bersedia berbuat yang terbaik, maka perusahaan secara otomatis akan merasakan dampak positif yang luar biasa. Konsekuensinya, perusahaan harus benar-benar berkomitmen dan bisa menghargai setiap perkembangan kemampuan karyawannya tersebut.

Bagi SOHO, itu tentu tidak masalah, karena memang, penghargaan terhadap SDM merupakan salah satu fokus utama dalam pengembangan perusahaan. Mereka sangat memahami hal tersebut, dan benar-benar mengejawantahkannya di lapangan.

Simak saja wawancara SWA dengan Tan Eng Liang. "Kekuatan SOHO sebenarnya adalah manusianya," katanya.

"Saya meyakini, jika semua karyawan termotivasi, maka akan ada added value yang besar bagi perusahaan. Jadi, jika kami perhatikan mereka, maka mereka akan perhatikan kami. Jika mereka termotivasi, maka mereka akan bekerja lebih daripada yang dirasakan," lanjutnya.

Itulah kenapa, pertengahan Desember lalu, perusahaan memberi "kejutan" dengan membagikan 3,6 milyar rupiah, yang dibagi secara "mendadak" sebesar Rp 1 juta kepada masing-masing karyawan dalam acara family gathering di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.

Ketika ditanya "judul" pemberian itu? Jawabnya adalah "Nggak ada judulnya. Pokoknya, kasih saja." Begitu kata Andreas Halim Djamwari.

Berbagai reward yang jelas bagi yang berprestasi, dilibatkannya karyawan dalam penetapan merek dagang --bahkan dilombakan antar karyawan--, tentu menumbuhkembangkan sense of belonging alias rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan.

Hmm.. satu lagi sebuah sebuah tauladan yang baik bagi kita. Entah kita yang ada di perusahaan berorientasi laba, maupun nirlaba. Intinya, penghargaan terhadap SDM adalah mutlak adanya, dan hal itu sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.

Itu saja.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.kingonsurya.com

NICHE


"Find your niche, so you find your place in the world." Temukan cerukmu, maka akan kau temukan tempatmu di dunia. *)

Hmm... pertanyaannya : pastikah selalu ada ceruk buat kita?

Pandangan optimis mengatakan : pasti ada!

Kenapa?
Karena sesungguhnya kita semua memiliki keunikan, perbedaan, kekhasan dan kemampuan masing-masing, di antara 50-an milyar penduduk bumi. Bukankah sepasang saudara kembar identik pun tetap memiliki perbedaan? Bukankah Anda belum pernah mendengar ada sidik jari yang sama dari sekian banyak data di rumah sakit maupun kepolisian di muka bumi ini?

Kemampuan, kekhasan, keunikan dan kepemilikan perbedaan itulah yang memungkinkan selalu adanya ceruk (niche) buat kita.

Butet Kertaradjasa berhasil dalam monolog-nya, karena ia mampu mendayagunakan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia menjadi populer karena kepiawaiannya menirukan suara dan berbagai gaya tokoh nasional.

Safir Senduk berhasil menjadi leader dalam hal perencanaan keuangan, karena ia berhasil melihat niche dalam berbagai kasus masalah keuangan keluarga.

Purdie E Chandra berhasil menjadi pelopor "pemanfaatan otak kanan" dengan tips "nekat"-nya dalam berwirausaha.

Andi F Noya dan Wimar Witoelar sukses sebagai host and presenter karena kepandaiannya menyatukan pengetahuan, wawasan dan daya kritis serta kepemilikan empatinya terhadap sesama anak bangsa.

Itang Yunazs sukses memasarkan baju koko Preview-nya karena memiliki kemampuan melihat akan perlunya penampilan modis dan "alternatif" dari baju muslim kaum pria yang semula "begitu-begitu" saja.

George Crum di New York berhasil menjadi "dedengkot" dan pioneer keripik kentang dunia karena kemampuannya melihat peluang dari komplain pelanggannya.

Aa Gym pernah sukses sebagai pendakwah karena ia berhasil memberi "taste" yang berbeda dalam ceramah-ceramahnya. Membumi, dan sangat mendasar.

Dahlan Iskan berhasil menciptakan gurita media-nya di berbagai pelosok daerah dengan kejeliannya melihat kebutuhan masyarakat lokal akan berita ke-lokal-annya. Maka, dibuatnya "radar-radar" berita sebagai kepanjangan kaki gurita Jawa Pos Group.

Andrea Hirata dan Habbiburrahman El Shirazy sukses dalam debut-debut novelnya karena berhasil menawarkan hal yang berbeda di tengah kejenuhan materi sastra yang cenderung kurang edukatif dan religius.

Bicara musik rap tanah air, siapa yang bisa menafikan nama Iwa K? Tak lain karena ia yang berani menasbihkan dirinya sebagai rapper Indonesia, sebelum pada akhirnya diikuti banyak musisi lain.

Susi Air sukses dalam jasa penerbangan jarak pendek, karena mampu melihat celah peluang dari kebutuhan publik dalam industri penerbangan domestik.

Siapa yang tak kenal Ronny Pattinasarany? Rudy Hartono ataupun Susi Susanti? Chris John? Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin? Bondan Winarno dengan "mak nyus"-nya? Tukul Arwana? Kaos Joger atau Dagadu Djogdja?

Mereka sukses karena mereka berhasil melihat ceruk, untuk kemudian kemudian mengisinya, menekuninya, melatih kemampuan di atasnya, terus disiplin mengembangkannya, berkomitmen dalam ke-jatuhbangun-annya, dan berusaha mem-publish-nya ke hadapan khalayak.

Bagaimana dengan kita?

Yang terjadi, seringkali kita melihat ceruk, tapi gamang dalam mengeksekusinya.

Pada akhirnya, ceruk itu diisi oleh orang lain, yang kemudian sukses, dan kita hanya bisa menjadi pengekor, atau bahkan sekedar penonton.

Betul, bahwa setiap orang membawa rejeki-nya masing-masing. Tapi, rejeki itu disiapkan oleh Tuhan di ujung perjalanan kita sehari-hari. Tuhan sudah menjatahnya untuk kita. Pertanyaannya, apakah kita mau berupaya untuk berjalan menuju ujung pencapaian itu? Bersediakah kita menjemput rejeki itu dengan melakukan apa yang disebut sebagai "usaha"?

Jika tidak, dengan kewenangan-Nya yang mutlak, bisa saja Tuhan memberikannya pada orang lain. Bukan kepada kita. Sebaliknya, sangat mungkin, Tuhan akan menambahkan rejeki kita, demi melihat kegigihan usaha kita.

So, niche selalu ada. Mari coba kita cari ceruk itu. Mari juga segera kita isi, dan segera akan kita temukan, tempat terbaik kita di dunia, sekaligus di hadapan Sang Pencipta, sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia.


Salam,

Fajar S Pramono


*) dari artikel Saudara Andi Odang, di Majalah LuarBiasa No. 2, Februari 2009.

Ilustrasi : http://www.buraak.com

KEINGINAN 24 KARAT


Di status Facebook (Fb) saya kemarin Jum'at (13/02/09) --Friday the 13th, kata Safir Senduk di Fb juga-- saya menulis : "Fajar S seneng, tadi malem dapet beli dua buku terakhir Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group). Ada yg suka tulisan beliau juga?"

Ya, saya memang senang dengan tulisan-tulisan Dahlan Iskan yang selalu kritis menyikapi kondisi. Ketika sekedar bercerita tentang pengalamannya pun, gaya pengisahannya membuat saya terhipnotis. Tak mau berhenti membacanya. Juga cara beliau "mengikat makna" dari apa yang dilihat dan dirasakan.

Dan, benar kan, baru halaman 4 dari buku "Menegakkan Akal Sehat", saya sudah menemukan insight baru, tentang "Keinginan 24 Karat akan Menghasilkan Emas".

Sebenarnya saya sudah pernah membaca artikel ini di Jawa Pos Online (www.jawapos.com). Tapi, begitulah saya, lebih cepat meresapkan tulisan verbal dalam bentuk buku or cetakan ketimbang dalam bentuk e-book ataupun e-paper.

Kembali ke topik, apa "Keinginan 24 Karat" itu?

Tak lain, keinginan yang sangat besar, yang bahkan sudah menjelma menjadi obsesi dan merasuk dalam emosi, untuk menggapai atau mendapatkan sesuatu. Dalam kadarnya yang 24 karat, maka upaya pemenuhan yang dilakukan akan dicobaupayakan semaksimal mungkin. Kalo belum mentok, belum berhenti.

Dahlan Iskan berkaca dari pengalaman sederhananya --lebih tepat keinginan sederhananya-- untuk sekedar makan ikan di sebuah retoran kecil bernama Handayani di Jalan Haji Hayun, Palu.

Sederhana, bukan? Pasti Anda akan menjawab : ya.

Tapi, kondisi sesungguhnya menjadi tidak sederhana manakala keinginan itu muncul di Bandara di Balikpapan, hanya karena tahu bahwa ada jadwal penerbangan ke Palu satu jam kemudian, terhitung dari waktu kedatangannya di Balikpapan dari Jakarta hari itu. Menjadi tidak sederhana manakala keinginan itu harus berkonsekuensi pada penundaan acara beliau di Balikpapan. Menjadi tidak sederhana karena beliau bersikukuh untuk menunda jadwal makan malam yang seharusnya sudah masuk "jatuh tempo", mengingat beliau tidak boleh telat makan sebagaimana kata dokter yang mengawal masa penyembuhan "sakit hati"-nya.

Menjadi tidak sederhana pula ketika pesawat Batavia Airlines yang terjadwal berangkat pukul 19.00, molor berulang kali hingga nantinya baru bisa take off pukul 21.30. Menjadi semakin tidak sederhana ketika semua itu berarti pesawat baru bisa mendarat di Palu pukul 22.20, dan mereka baru akan sampai ke restoran sekitar pukul 23.00. Jam di mana restoran itu sendiri sudah tiba pada jadwal menutup pintunya.

Tapi, Dahlan Iskan mengaku, keinginannya sangat tinggi. 24 karat. Karenanya, dalam kurun waktu itu, ia --dibantu teman-temannya-- melakukan segala sesuatu yang memungkinkan keinginan tokoh pers ini terwujud. Mulai dari menelpon teman di Palu supaya bersedia merayu sang pemilik restoran agar tidak menutup pintu sampai rombongannya datang, meminta kesediaan pemilik restoran untuk tetap mau memasak di tengah keletihannnya menjelang tengah malam, juga memonitor kondisi kesehatan Dahlan Iskan lantaran kenekatannya menahan lapar sampai lewat beberapa jam dari jadwal yang seharusnya.

Dan, inilah yang didapat Dahlan Iskan : Restoran Handayani menunggunya. Bahkan, lantaran sempat "heboh", rencana kedatangannya diketahui beberapa koleganya di Palu, yang kemudian ikut bergabung makan. Akhirnya, malam itu berakhir "happy ending". Makan ikan keturutan, kenikmatan ter-reguk, kondisi kesehatan tak terganggu, bertemu teman-teman yang menyenangkan, yang bahkan sempat berkolaborasi dengan pemilik restoran dalam memasak sebuah menu spesial, dan pada akhirnya jadi bisa menengok progress pembangunan Gedung Graha Pena Palu milik Jawapos Group.

Dahlan Iskan sangat puas. Sangat menikmati hasilnya. Ia merasa "sukses".

Dalam istilah Dahlan : itulah buah dari keinginannya yang 24 karat. Dengan kadar karat maksimal itu, maka yang didapatkannya adalah emas murni. Benar-benar emas.

Maka, ia mengatakan : siapa saja yang punya keinginan, sebaiknya ditanyakan dulu ke dirinya sendiri. Berapa karatkah keinginannya itu? 18 karat? 20 karat? 22 karat? Atau, 24 karat?

Masing-masing karat akan menentukan derajat kesuksesannya.

Ia mencontohkan, jika keinginannya hanya 18 karat, pasti ia sudah akan tergoda oleh lapar di Balikpapan, dan akhirnya "menyerah" dengan makan malam di sana. Apalagi menurutnya, baru saja dibuka cabang rumah makan masakan Tiuchu, restoran favoritnya di Pontianak.

So, menurut akal sehatnya, keinginan yang 24 karat-lah, yang akan benar-benar menghasilkan emas. Kalau ada orang ingin memperoleh sukses terbesar, tapi kadar keinginannya hanya 18 karat, di mana letak akal sehatnya?

Dan, saya setuju dengannya.


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.businesspundit.com

MELATIH MENTAL


Kapan sebenarnya, atau kapan sih, momen paling efektif bagi kita untuk melatih sebuah mental tertentu? Misalnya, mental bertanding, mental juara, mental untuk tampil dengan percaya diri?

Jawabnya : pada saat orang itu ikut bertanding. Pada saat individu itu terus menapak ke tangga juara. Pada saat orang-orang itu mencoba untuk benar-benar melakukan action di sebuah forum or pertunjukan.

Ya. Tanpa ikut bertanding, tanpa berani menapakkan langkah dari hulu ke hilir juara, tanpa keberanian untuk mulai mencoba, maka mental itu akan sulit terbentuk.

Melatih mental tanpa melakukan action sebagai tindak lanjutnya, sama saja belajar berenang tanpa pernah nyebur ke kolam. Persis sama dengan belajar pede dari sekolah kepribadian tanpa pernah tampil di muka umum.

Kalau seperti itu, kapan konstruksi mental yang diinginkan bisa benar-benar terwujud?

Semalam, saya meyakini telah terjadi perubahan mental dari teman-teman satu tim saya di kantor. Bukan urusan pekerjaan, tapi urusan untuk tampil menghibur di depan audience.

Ceritanya, ada kesempatan untuk menampilkan kebisaan atau atraksi atau apapun, dalam sebuah malam kebersamaan. Waktu yang hanya dua hari pasca pemberitahuan --di tengah tumpukan pekerjaan, efektifnya bahkan hanya dua jam!-- untuk latihan, sempat membuat kawan-kawan tampak bingung. Belum yakin dengan apa yang akan ditampilkan.

Saya, atau tepatnya antar kami, terus memompa keberanian, karena memang pada akhirnya kami sepakat untuk tampil "gila". All out, yang tentu berbeda sekali dengan "karakter" keseharian kami yang seringkali harus tampil serius, dengan dahi yang berkerut.

Sempat tidak pede, dan bahkan teman-teman belum bisa membayangkan seperti apa mereka nanti di pentas. Saya bilang, kita are the best! Kita paling siap, dan pasti akan tampil baik sesuai rencana.

Benarlah. Eng ing eeeng.... jreng! Tampillah kami malam tadi. Dengan bekal pede yang sudah mulai merasuk, kami benar-benar tampil all out. Hasilnya? Luar biasa! Kami dinilai tampil paling baik, dan menang! Alhamdulillah....

Tapi bukan itu. Yang penting saya ceritakan adalah, bahwa saya melihat sebuah perubahan besar terhadap teman-teman. Yang semula nggak yakin bisa tampil baik, menjadi yakin. Yang semula merasa kurang pedhe, jadi sangat pede. Yang semula deg-degan dan khawatir akan kesuksesan, menjadi percaya dan mantap bahwa "kita memang bisa!". "Penghargaan" berupa kemenangan dan antusiasme audience membuktikan semua itu.

Keyakinan, kepercayaan diri dan ketetapan hati bahwa "kita memang bisa!" tadi saya yakini tak akan muncul secepat dan seefektif itu terbentuknya, jika kami tak berani untuk mulai mencoba. Kalau hanya membayangkan di atas kertas atau di dalam benak, saya tak yakin mental itu akan terlatih.

Saya bahkan yakin, setelah ini, semua personel akan berubah menjadi sangat pede jika ada permintaan tampil. Tak ada malu-malu yang kontraproduktif lagi. Tak ada ragu-ragu bahwa mereka bisa berbuat yang terbaik.

Semoga semua itu merasuk ke kepercayaan diri dalam bekerja. Amien.

Dan itu, memang pe-er buat kami.


Salam,

Fajar S Pramono


--Thanks to Ricky Andriano yang sangat mendukung kami dalam "latihan mental" ini. You're the best, Rick!--


Ilustrasi : http://kiatpenjualan.com

AMAN REHMAN : MASIH KECIL MALAHAN...


Ya. Aman Rehman namanya. Belum layak disebut sebagai "pemuda", rasanya. Masih kecil malahan. Delapan tahun. Saya "menemukan"-nya di Koran Sindo edisi hari ini (Minggu, 25/01/09).

Emangnya, ada apa dengan si Aman Rehman ini?

Yup! Ini terkait dengan posting "Pemuda-Pemuda Luar Biasa" sebelum ini. Kalau di sana diceritakan tentang Jon Favreau dan Jason Wu yang berumur 27 dan 26 tahun yang terbukti menjadi salah satu pendukung keberhasilan Barack Obama dan penampilan cerdas Michelle Obama dalam pemilihan dan pelantikan Presiden AS, maka Aman Rehman ini adalah dosen termuda di dunia!

Kalau Jon Favreau bisa menjadi pimpinan dari beberapa penulis skrip pidato presiden yang notabene lebih "senior" dan Jason Wu dapat mendampingkan karyanya yang dipakai Michelle Obama dengan karya Isabel Toledo yang sudah berkarier di New York selama 25 tahun (hanya selisih satu tahun dengan umur Wu), maka Aman Rehman bahkan dipercaya mengajar para mahasiswa jurusan seni yang berusia jauh di atasnya, di Dehradun's College, India.

So, ada komentar? Jeniusitas, mungkin. Fasilitas? Tidak pada awalnya. Karena, Aman terlahir dalam keluarga biasa --bahkan pas-pasan--. Ayahnya, M Rehman, adalah seorang montir sepeda motor yang berpenghasilan sekitar 60 poundsterling tiap bulannya. Uang itu yang harus bisa ia manfaatkan untuk menghidupi istrinya --Shabnam Rehman-- beserta ketiga anaknya.

Lalu, apa yang membuat Aman sebegitu hebat, selain --mungkin-- jeniusitas?

Berani mencoba, latihan dan belajar secara rutin! Lihatlah bagaimana ia mulai mengenal komputer dengan berlandaskan rasa penasaran ketika melihat sang kakak menggunakan komputer bekas yang dibeli ayahnya untuk kakak tertuanya itu. Lihatlah bagaimana ia bersabar dan diam-diam belajar secara autodidak setiap kakaknya pergi untuk kuliah. Lihatlah bagaimana ia bersikap sangat tekun manakala selama delapan jam per hari di hari libur ia duduk di depan komputernya, dan empat jam setiap hari di hari ia harus sekolah.

Dengan karya animasi pertama yang ia ciptakan di usia 4 tahun dan kini telah berkembang menjadi lebih dari 1000 film animasi, layaklah ia disebut sebagai "anak ajaib". Beberapa pihak menyebutnya "Bill Gates kecil".

Yang pasti, ada ketekunan di dalam diri Aman. Ketekunan itulah yang mampu mempercepat proses pematangannya.

Hmm... saya jadi berpikir lagi. Apakah masih ada sumber daya yang bisa saya maksimalkan dan lebih tekuni untuk mempercepat proses keberhasilan dalam hidup ini? Saya yakin ada. Mungkin, saya sekedar belum menyadarinya.

Dan itu sangat mungkin juga terjadi pada Anda. So, bagaimana kalau kita sama-sama coba menggali lebih dalam lagi potensi diri kita?


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.firstorlando.com

PEMUDA-PEMUDA LUAR BIASA

Satu lagi, bukti bahwa pemuda merupakan salah satu aset yang luar biasa. Aset diri, aset keluarga, aset bangsa. Sebuah pembuktian, bahwa karya dan kemampuan generasi muda, tak melulu kalah dengan karya dam kemampuan orang tua, yang kadang lebih sering mengandalkan frasa "senioritas".

Adalah Jon Favreau dan Jason Wu, salah dua dari sebegitu banyak orang muda yang luar biasa.

Pertanyaannya, siapakah mereka?

Seiring dengan gegap gempitanya pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika serikat ke-44, kedua nama itu mengemuka.

***


Yang pertama, Jon Favreau, adalah ketua tim penulis naskah pidato Presiden AS termuda sepanjang sejarah. Kemampuan menulis lulusan Holy Cross Worcester, Massachussetts ini memang luar biasa.

Favreau yang paling hobi mengenakan jeans dan kaos, serta menulis dengan laptop dan Blackberry di Starbuck sambil minum kopi, telah menjadi penulis pidato Obama sejak 2004, tak lama sesudah Obama terpilih sebagai Senator Illinois.

Selama itu dirinya tak muncul ke permukaan, hingga publik mulai sadar bahwa betapa "bertenaga dan berkarakternya" pidato-pidato Presiden AS kulit hitam pertama itu. Isi pidato-pidato Obama itu pula yang turut berperan banyak bagi keberhasilan Obama melangkah ke Gedung Putih.

Hebatnya, sebagai Director of Speechwriting, maka ia akan menjadi pemimpin bagi belasan pakar penulisan naskah pidato lainnya yang lebih tua, yang lebih "senior".

Berapa umur Jon Favreau?

Dua puluh tujuh tahun! Belum genap, bahkan. Ya. Ia lahir pada tanggal 6 Juni 1981. Dalam kapasitasnya yang demikian, masih adakah yang menganggapnya seorang "yunior" hanya karena kemudaan usianya?

***


Yang kedua, Jason Wu.

Kalau Favreau banyak berperan membantu Barack Obama, maka nama yang terakhir ini berperan penting bagi keanggunan dan kepantasan seorang Michelle Obama --istri Barack Obama-- sebagai pendamping presiden sekaligus ibu negara.

Sebagai apa Jason Wu? Ia adalah perancang gaun indah white chiffon berpundak satu yang berkilauan, yang digunakan Michelle saat mendampingi sang suami di pesta inaugurasi di Washington's Convention Center, Selasa (20/01/09) lalu.

Dan berapa umur Wu?

Dua puluh enam tahun! Betul, karena ia lahir di Taiwan (Taipei) tahun 1982. Sejak kecil, Wu memang sangat tertarik dengan bidang seni sketsa busana. Dengan tekad yang sangat kuat, Wu mengikuti pendidikan di sekolah fesyen bergengsi Parsons School of Design di Paris, dan berteman dengan Narciso Rodriguez; perancang busana kelas dunia.

***

Tentu masih banyak orang muda lain yang juga luar biasa. Tapi, mungkin kita tak pernah menyangka, bahwa beberapa "orang penting" di belakang keluarga Obama --yang saat ini tengah merajai publikasi media-- adalah kawula muda di bawah 30 tahun.

Satu lagi motivasi bagi kita bersama. Tak ada alasan umur untuk menjadi yang terbaik. Tak ada istilah "terlalu muda", atau juga "terlalu tua". Mari kita bentuk diri kita menjadi yang terbaik di setiap usia kita. Tak ada kata "belum waktunya", atau juga kata "terlambat".

Saya sendiri, 34 tahun lebih 4 bulan. Apa yang sudah bisa saya berikan kepada "dunia"? Entahlah. Rasanya, belum ada. Tapi yang pasti, gelora semangat itu ada dan menyala-nyala. Insya Allah, dan semoga!


Salam,

Fajar S Pramono


Foto 1 : Jon Favreau, dari http://bp0.blogger.com
Foto 2 : Jason Wu, dari http://www.nydailynews.com

REFORM AWARD UNTUK SLANK


Pulang kantor, baru saya dengar di radio mobil bahwa Slank menerima penghargaan yang dinamakan Reform Award dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se-Jabotabek, atas kepeduliannya dalam sosialisasi pemberantasan korupsi.

Penasaran, kubawa keluar koran Jurnal Nasional sewaktu aku mampir untuk ngiras (makan di tempat) Indomie Goreng di warung tenda Mas Agus di pinggir Jalan Pramuka, hanya beberapa puluh meter sebelum rumah yang saya tinggali. Saya memang niat mau nyantai dulu di situ.

Dan memang benar. Ada berita foto yang cukup besar di halaman 8. Reform Award diterimakan hari Kamis (08/01/09), dan diterima oleh seluruh personel Slank yang hadir lengkap saat itu.

Saya ikut senang, karena kebetulan saya adalah salah satu penggemar mereka. Satu "prestasi" lagi mereka peroleh.

***

Siapakah Slank?

Saya yakin tak ada yang tak tahu tentang nama Slank ini. Minimal mendengar, bahkan saya yakin sebenarnya sangat familier di telinga setiap orang muda Indonesia. Orang tua juga; mungkin.

Ya, Slank yang bercikal bakal dari grup band bernama Cikini Stones Complex (CSC) dan terhitung sudah 14 kali ganti personil --dari Bimo Setiawan alias Bimbim (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal) pada formasi pertama hingga Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar) pada formasi terakhir-- itu memang sudah bisa digolongkan sebagai grup band legendaris.

Mereka "lahir" pada Desember 1983, dan sampai sekarang masih eksis, bahkan tetap terkategorikan sebagai band papan atas. Tak kurang dari 18 album telah mereka keluarkan. Dari Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy) di tahun 1990 sampai The Big Hip di tahun 2008 ini.

Selain kehebatan itu, tentu semua juga ingat cerita negatif tentang mereka. Cerita negatif, yang pada akhirnya ber-ending sangat membanggakan. Ya, seputar keberhasilan mereka lepas dari jeratan narkoba yang menghinggapi hampir seluruh personilnya, hingga pentasbihan diri Slank sebagai duta anti narkoba, dengan dukungan penuh Sang Bunda Iffet tersayang. Seorang ibu yang benar-benar mampu berperan sebagai orang tua, manajer dan pengarah kehidupan anak-anak Slank.

Kisah sukses mereka memang sangat inspiratif.

Saya masih sangat ingat, ketika tahun 1993 saya dan teman-teman di fakultas mengundang mereka manggung di Solo. Sejak kedatangan, saya berkesempatan menemani mereka. Saat datang, makan, jumpa pers dan wawancara di radio, di hotel, di kampus, bahkan nongkrong berdua dengan Kaka di warung soto depan hotel.

Saya ingat, ada "syarat" yang mereka kemukakan secara kelakar tapi serius, yakni kesediaan panitia menyediakan Ciu Bekonang. Ciu adalah minuman keras lokal Solo (lebih tepatnya Sukoharjo), yang bagi penduduk setempat dikenal punya daya mabuk yang cukup tinggi.

Mereka meng-"oplos" ciu dengan --entah apa-- yang dibawanya dari Jakarta. Istilah mengoplos mungkin kurang pas. Lebih tepat, mengkombinasikan. "Mengkolaborasikan". Mungkin dengan cimeng. Mungkin dengan bubuk narkoba. Saya nggak tahu pasti.

Hasilnya, salah seorang kawan yang "raja mabuk" di kampus saya pun fly hanya karena membaui asap yang keluar dari lintingan manual anak-anak Slank, berbarengan dengan "upacara" minum-minum. Baru asapnya doang, sang jagoan pun terkapar. Bahkan tak sanggup bangun di waktu ia harus bangun!

Intinya, dulu anak-anak Slank memang sempat "rusak". Rusak parah. Namun ternyata, mereka bisa melalui ujian berat itu, hingga pada akhirnya mereka tidak ada lagi ketergantungan sedikitpun dengan obat-obatan terlarang.

***

Apa yang sesungguhnya mau saya sampaikan adalah : tak ada imej negatif atau citra jelek yang tak bisa kita lepaskan dari diri kita, jika kita memang mau berubah. Slank telah membuktikannya.

Tak perlu waktu yang terlalu lama bagi Slank untuk mengubah imej dari the loser (karena kenakalannya" dan kekalahannya melawan godaan narkoba), untuk kemudian menjadi the winner --bahkan the hero-- untuk berbagai hal positif. Sebagaimana kita tahu, Slank tak hanya lekat dengan kisah heroik keterbebasan mereka dari narkoba, tapi juga konsistensinya dalam menyerukan gerakan antikorupsi. Mereka bahkan berkesempatan manggung di KPK, dan juga bernyanyi bersama Ketua KPK Antasari Azhar. Juga penghargaan dari Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, berupa penghargaan “Inspirator Anak Bangsa”.

Kalau Slank yang sempat "rusak parah", kini bisa menjadi "teladan" bagi kita dengan komitmen dan kekonsistenannya untuk berubah, apalagi kita yang mungkin sebagiannya tidak pernah rusak; ataupun kalau pernah rusak tidak sampai kepada tingkatan yang "parah"?

So, jangan terlampau sedih bila kita saat ini masih memiliki cap negatif. Baik di dalam lingkungan keluarga, kelas, kantor, masyarakat kampung, atau bahkan kelompok masyarakat yang lebih besar. Yang terpenting, kita mau merubah imej itu atau tidak. Kalau ya, segera laksanakan sekarang juga. Kemudian, jaga komitmen dan konsistensinya.

Tuhan Maha Bijaksana, dan saya yakin, Ia akan menunjukkan "Sang Saat", "Sang Waktu" itu untuk kita. Saat di mana imej kita menjadi baik, dan bahkan ketika orang mengingat keburukan kita, maka yang diambil sebagai hikmah adalah kemampuan kita untuk membalik itu semua. Membalik segala sesuatu yang buruk, menjadi baik dan baik sekali.

Hmm... yakin bahwa kita bisa, bukan?


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://photos-867.friendster.com

REMY SYLADO DAN ERIKA


Siapa Remy Silado?

Meskipun --katakanlah-- Anda bukan peminat tinggi di bidang sastra, saya yakin Anda pernah mendengar nama besar sang satrawan ini. Ya, ia adalah seorang novelis, seorang penyair dan seorang seniman berkarakter "unik", di antaranya adalah kesukaannya berbaju serba putih.

Karya-karya luar biasa sekaligus master piece sastrawan bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong alias Yapi Tambayong dan juga sering menulis dengan nama pena Alif Danya Munsyi untuk tulisan-tulisan kebahasaannya antara lain adalah Ca Bau Kan, Sam Po Kong, Kerudung Merah Kirmizi, Kembang Jepun, Parijs van Java, 9 Oktober 1740, Siau Ling, Menunggu Matahari Melbourne, Mimi lan Mintuna, dua seri Novel Pangeran Diponegoro, Boulevard de Clichy, kumpulan esai bahasa 9 dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing, Bahasa Menunjukkan Bangsa, Kamus Bahasa dan Budaya Manado, kumpulan Puisi Mbeling, puisi-puisi dalam Kerygma dan Martyria, juga Sang FX.

Lalu, siapakah Erika?

Sepintas, ia mirip nama seorang wanita. Istrinya kah? Kekasihnya kah?

Bukan. Meskipun bukan istri atau kekasih, ia pasti akan mengakui bahwa sang Erika adalah tambatan hatinya. Sebuah nama yang sangat berarti baginya. Bahkan sampai sekarang tetap ada di relung cintanya.

Lalu, siapakah Erika?

Ia adalah sebuah merk mesin tik produksi Jerman pada awal 1940-an, yang menjadi mesin tik pertama yang bisa dimiliki Remy Sylado ketika menjadi wartawan di Semarang.

Mesin tik Erika inilah yang membuat lelaki kelahiran Makassar 12 Juli 1945 itu tidak pernah bisa berhenti berkarya, dan memulai ranah pengembaraannya di jagad sastra Indonesia.

Kecintaannya pada Erika, menciptakan kecintaan yang dalam pada sebuah alat bernama mesin tik. Dan tahukah Anda, jika di balik kesuksesan dan hasil karyanya yang luar biasa hingga saat ini, seorang Remy tak pernah mau berkarya dengan mesin tulis modern selayaknya komputer atau notebook, dan tetap setia pada pijitan jari di atas tuts mesin tiknya?

"Bagi saya, kenyamanan menggunakan mesin tik tidak bisa tergantikan. Suara tuts ketika ditekan seolah menjadi musik pengiring saat menulis, yang dapat memicu ide-ide cerita baru," katanya di majalah Reader's Digest edisi November 2008.

Mesin tik, bagi Remy, seolah adalah "nyawa" kepenulisannya. Kini ia mengaku tengah mengetik novel terbarunya menggunakan mesin tik. Kali ini bukan bersama yang terkasih Erika, tapi bersama "saudara laki-laki"-nya, alias Brother. Di penghujung tuturannya, ia menegaskan, "Dan sampai kapan pun saya akan terus menggunakan mesin tik untuk menghasilkan lebih banyak karya sastra."

***


Ada pelajaran dari kisah Remy dan Erika?

Setidaknya kita bisa menangkap, bahwa tak selamanya sebuah hasil kerja yang bagus harus didukung oleh kekuatan teknologi. Harus di-back up oleh fasilitas yang "wah". Harus ditopang oleh "modal" yang tidak sedikit.

Remy, tentu tidak akan menemui kendala jika sekedar ingin punya PC ataupun notebook. Tapi, saya yakin dia sendiri akan sangsi, adakah karya ciptaannya akan sebagus jika ia menggunakan mesin tik manual? Belum tentu. Sisi emosionalnya yang bicara.

Itu juga sebabnya sekarang, banyak orang mencoba kembali kepada "khittah"-nya. Banyak yang ingin "kembali ke alam" misalnya. Rumah, kantor, dan sebagainya, dikonsep tanpa meninggalkan keasrian alam. Karena apa? Karena nuansa alam akan mampu menyejukkan jiwa. Mneyegarkan otak. Tanaman hijau, bau pupuk kandang, kicauan burung, bunyi gemericik air, tak akan bisa tergantikan oleh tanaman plastik, aroma parfum bernuansa kotoran hewan, rekaman suara burung ataupun kaset tentang gemericik air.

Menyenangkan juga, banyak orang juga mencoba kembali kepada "khittah" spiritualitasnya. Para generasi sukses, kembali "mengingat" Tuhan, manakala perjuangannya ke arah sukses terpaksa banyak meninggalkan kesempatannya bercengkerama dengan Tuhan. Kepedulian sosial, kesediaan berderma dan bersedekah, program Corporate Social Responsibility, semuanya menunjukkan kesadaran bahwa kita ini hanyalah "pelaku hidup", yang tak bisa meninggalkan sisi kemanusiaan dan ke-Tuhan-annya.

Semua itu demi pencapaian yang lebih baik.

***


Kembali kepada Remy dan Erika.

Rasanya, tak ada alasan lagi untuk menunda sukses, hanya karena kebelumadaan fasilitas. Ide kreatif, ide bisnis, juga ide kesuksesan bisa muncul di mana saja. Tak pandang tempat, ada fasilitas ataupun tidak. So, jangan hanya karena ketiadaan itu, kita menunda sukses. Laksanakan segera, dalam kondisi seperti apapun itu. Manfaatkan apa yang sudah tersedia di sekitar kita. Syukur-syukur, jika pada kemudiannya kita bisa melengkapinya dengan fasilitas terbaik.

Karena, kunci kesuksesan antara lain adalah : mulai dari sekarang.

Menurut Anda?


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi :
- Remy Sylado : http://www.kapanlagi.com
- Erika Typewriter : http://farm1.static.flickr.com

SELALU MENUJU YANG TERBAIK


Edisi khusus akhir tahun Majalah Berita Mingguan TEMPO, edisi 22-28 Desember 2008 menampilkan 10 Tokoh 2008; Mereka Bekerja dengan Hati Menggerakkan Daerah.
Kebetulan, jajaran redaksi TEMPO memang melakukan pemilihan dengan kriteria sosok tokoh yang berbuat positif dan menginspirasi. Bukan sekedar yang terbaik, yang dalam konteks luasnya bahkan terdengar lebih "heroik" --memimjam istilah mereka sendiri--, yakni "turut merawat Indonesia ke arah yang lebih baik".

Tapi, bukan profil kesepuluh tokoh itu yang hendak saya bahas. Bukan juga tentang ke-heroik-an mereka dalam "merawat Indonesia".

Saya hanya mencoba mengambil hikmah, setelah jiwa narsis saya membayangkan diri saya sendiri : kapan ya, bisa "diakui" seperti itu?

Hey, jangan diketawain dong, Mas, Mbak, Pak, Bu ataupun Dik. Mengkhayal boleh dan halal kan? Hehe... Apalagi kata Eyang Einstein, "Imajinasi lebih penting dari pengetahuan."

Nah lo, terbukti banyak kenyataan yang bermula dari khayalan. Bahkan "ajaran" LoA pun mengatakan, apa yang terjadi adalah apa yang kita pikirkan. Yang kita bayangkan. Secara physicly, visualisasi itu kan kayak orang ngalamun atau mengkhayal to? Hehe...

***

Kembali ke lap... top!

Konsep tentang yang terbaik. Keinginan menjadi kelompok "yang terbaik". Semua sah saja.

Pertanyaannya, bagaimana bisa menjadi yang terbaik?

Saya kira kuncinya sederhana, dan bisa dilaksanakan atau "dilatih" step by step.

Tak usah membayangkan yang tersulit, kalau sesungguhnya kita bahkan bisa melakukan yang termudah. Sekali lagi, melakukan. Bukan sekedar membayangkan.

Begini. Inti dasarnya : selalu berbuatlah yang terbaik. Ini mutlak.

Kemudian, berkaitan dengan "ajaran" step by step, tak usah muluk-muluk. Berusahalah menjadi kelompok "yang terbaik", di dalam bidang yang Anda lakoni saat ini, dalam lingkungan yang seperti apapun. Sekecil apapun.

Misalnya begini. Anda marketer di kantor. Seluruhnya, ada 20 marketer. Maka, mulailah untuk menjadi 10 marketer terbaik. Terlalu gampang? Naikkan target Anda menjadi 5 terbaik. Masih terlalu gampang juga? Bagaimana kalau 3 terbaik? Terlalu enteng? Ya sudah kalau begitu, target Anda adalah "yang terbaik". Nomor satu. Number one. Numero uno (bener nggak artinya? hehe).

Setelah menjadi yang terbaik, kembangkan target menjadi 10 besar marketer terbaik, se-kantor wilayah misalnya. Kalau 10 besar tercapai, buat lagi target yang lebih menantang. 5 terbaik, 3 terbaik, atau 1 terbaik lagi.

Tercapai? Bagaimana kalau secara nasional? 10 marketer terbaik nasional; berani? Kalau tak banyak aral, tingkatkan lagi menjadi 5 terbaik, dan seterusnya sampai menjadi 1 terbaik.

Banyak contoh yang bisa dikemukakan. Di lingkungan, jadilah 10 kepala keluarga teraktif dalam kegiatan kampung. Jadilah 10 orang yang paling disukai warga kompleks. Jadilah 10 orang yang paling sedikit meninggalkan kewajiban siskamling.

Kalau Anda masih sekolah atau kuliah, jadilah yang terbaik di kelas. Kemudian antar kelas. Kemudian antar sekolah. Kemudian antar sekolah antar kabupaten. Kemudian antar sekolah antar propinsi. Emangnya yang bisa antar propinsi cuman bis antar kota saja apa? Hehe....

Sekali lagi : di segala bidang yang kita lakoni, di dalam lingkungan yang seperti apapun.

Intinya adalah menjadi kelompok "yang terbaik", untuk kemudian menuju "satu yang terbaik". Dari semula "terbaik" di satu bidang saja, menjadi yang terbaik di banyak bidang. Dari yang terbaik di banyak bidang, menjadi yang terbaik di semua bidang.

***

Muluk sekali ya? Mungkin iya. Saya pun tidak menyalahkan statement itu.

Masalahnya, bukan statement atawa pencapaian itu sendiri yang menjadi ukuran dan tujuan.

Begini lagi. Jika kita selalu memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik, maka secara otomatis kita akan menjadi orang yang berusaha semakin hari semakin baik. Karena, selalu saja ada pesaing sehat untuk itu. Kalau kita tidak fight, tentu "gelar" terbaik itu tidak akan menjadi milik kita. Ia akan menjadi milik orang lain yang ber-fighting spirit tinggi.

Keberanian untuk fight, dalam artian positif, menuntut pengembangan diri yang terus menerus. Pengembangan diri yang terus menerus, bukankah merupakan suatu kondisi yang sangat sangat amat amat baik sekali, kalau tak boleh dibilang sangat sangat sangat sangat amat amat amat amat baik sekali?

Apalagi kalau lingkungan kita memang dipenuhi orang-orang yang memiliki mental fight yang tinggi. Maka semua akan berlomba untuk semakin baik. Standar "yang terbaik" pun juga terus meninggi. Dengan menafikan istilah "kalah-menang", maka kesemua "kontestan" akan terus berkembang ke arah yang lebih baik.

Bukankah konsep ini konsep yang menyenangkan dan menguntungkan pribadi pelakunya?

Kalau jawaban Anda "iya", kenapa juga tidak segera mulai mencanangkan diri untuk selalu menjadi 10, 5, 3 atau bahkan 1 yang terbaik; diawali di sebuah bidang, ke 3 bidang yang lain, ke 5 bidang yang lain lagi, dan pada akhirnya di semua bidang?

Ingatlah selalu : langsung tidak langsung, Anda akan terus berkembang menjadi lebih baik. Sadar atau tidak sadar.

Cobalah! Dan Anda akan percaya.


Salam introspektif,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://api.ning.com

PREDIKSI PENGANGGURAN 2009 : semoga apa, ya?!


Headline harian KONTAN hari ini (Sabtu, 20/12/08) : Tahun Baru Banyak Penganggur Baru.

Glek! Mau kemana Indonesiaku? Mau dikemanakan rakyatmu?

80.000 buruh industri tekstil dan produk tekstil kehilangan pekerjaan. Industri alas kaki kehilangan 30.000 pekerja sampai tahun depan. Otomotif akan mengurangi shift, dari 3 shift menjadi 1 shift. Industri sawit juga akan memberhentikan 300.000 buruh tahun depan. 10% tenaga di bidang konstruksi akan menganggur.

Glek lagi!

Sekitar 1,5 juta pekerja bakal kehilangan pekerjaan. Pendapatan industri TPT bakal menurun 50%. Pendapatan industri alas kaki bakal turun hingga 20%. Tahun depan, penjualan otomotif bakal terpangkas 30%.

GLEK! GLEK!

Pahit kerongkongan ini. Makin susah untuk menelan ludah. Kalau itu prediksi pengamat, mungkin saya masih tak terlampau "glek". Lha ini, yang ngomong bos Apindo sendiri. Asosiasi Pengusaha Indonesia. Bapak Sofyan Wanandi.

Kemudian juga, Pak Benny Soetrisno, yang Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Lalu Pak Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Terus juga, Pak Gunadi Sidhuwinata, Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI).

Mereka bisa ngomong, karena memang merekalah --para pengusaha itu-- yang terpaksa melakukan rasionalisasi --bahasa halus untuk PHK--. Mereka pelaku, bukan sekedar pengamat, sehingga prediksi ini dikhawatirkan menjadi kenyataan. Contoh konkritnya, dari prediksi 80.000 PHK di industri TPT, yang sudah dilakukan hingga Desember ini adalah 30.000. Dari prediksi 30.000 PHK di industri alas kaki, hingga akhir tahun ini sudah terbukti tak kurang dari angka 10.000 pekerja ter-PHK. Waduh!

Terus, saya ingin berdoa. Cuma bingung, semoga apa ya?

Semoga prediksi itu tidak menjadi kenyataan, atau biarkan semua itu terjadi, dengan hikmah indah di sebaliknya?

Hikmah apa? Ya, siapa tahu dengan PHK itu, the power of kepepet-nya orang Indonesia muncul. Ide-ide brilian keluar. Entrepreneur-entrepreneur baru tercipta. Kalau selama ini banyak orang mencari pekerjaan, nantinya banyak orang mencipta lapangan pekerjaan. Quantum Leap yang diharapkan Dr. Ir. Ciputra terwujud : banyak orang mewujud menjadi entrepreneur, yang beliau yakini bukan hanya mengubah masa depan orang itu sendiri, tapi bahkan mengubah masa depan bangsa ini.

Duh, mau berdoa untuk yang mana ya?

Atau, dua-duanya?

Atau, Anda punya saran untuk saya? Untuk kita semua?


Salam tetap optimis,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : www.kabarindonesia.com

ATURAN EMAS UNTUK MAJU


Menemukan aturan emas untuk maju dari H. Jackson Brown, Jr., saya jadi ingat jaman kuliah atawa opspek di awal perkuliahan dulu.

Dulu, waktu pelaksanaan opspek yang lekat dengan aroma arogansi itu, ada aturan :
Pasal 1. Senior/panitia tidak pernah salah.
Pasal 2. Jika senior/panitia salah, lihat pasal 1.
Nah, ingat dan banyak yang menjadi korban? Saya yakin iya, hehe.

Di dunia perpolitikan, sering juga ada yang sinis dengan menggunakan aturan emas versi pemimpin yang otoriter :
Pasal 1. Pemimpin tak pernah salah.
Pasal 2. Jika pemimpin salah, lihat pasal 1.
Nah lo... mau apa kamu? Begitu kira-kira, gambaran ketakberdayaan yunior ataupun anak buah, yang sengaja diciptakan oleh sistem. Tapi, itu tentu sesuatu yang nggak baik...

***

Kaitannya dengan aturan emas-nya Jackson Brown?

Ya, saya pikir aturan emas untuk maju dari Brown, justru menjadi sesuatu yang harus kita pegang. Kenapa? Karena aturan ini baik. Aturan ini memotivasi.

Seperti apa aturan emas untuk maju dari Brown?

Pasal 1. Lakukan selangkah demi selangkah.
Pasal 2. Bila merasa tak mampu lagi, kembalilah ke aturan nomor 1.

Hmm... apakah Anda bisa setuju kalau ini dijadikan "pegangan hidup" kita?


Salam,

Fajar S Pramono
NB :
Thanks to Pak Buca atas kiriman bukunya. Aturan emas di atas saya dapatkan dari buku itu. Sungguh memotivasi.

Ilustrasi : http://enengnurul.files.wordpress.com

BANGGALAH MENJADI KARYAWAN


Hmm... rasa-rasanya, jika hanya melihat judulnya saja, pasti kawan-kawan penggerak entrepreneurship Indonesia padha protes. Tes! Padha sebel. Bel! Padha jengkel. Kel! Hehe...

Pastinya, sangat mungkin juga temen-temen dan sahabat di komunitas Tangan Di Atas (TDA), yang awal tahun depan akan mewisuda banyak lagi anggota yang telah menetapkan pilihan hidup baru sebagai pengusaha --bukan pekerja lagi--, gusar setengah hidup, hehe.

Tapi, please. jangan gusar dulu. Sudah jelas, saya juga penganut paham "lebih baik jadi bos kecil daripada jadi kuli gedhe", seperti yang ayah Bang Jaya Setiabudi (Direktur Young Entrepreneur Academy, pengelola www.yukbisnis.com) katakan kepada Bang Jaya.

Mirip juga jawaban Mario Teguh atas seorang penanya by phone di acara Mario Teguh Golden Ways minggu lalu. Ketika itu si penanya bertanya, "Lebih baik mana, Pak Mario : jadi bos yang kecil, atau jadi kacung yang besar?"

Dan jawaban pendek tegas Pak Mario Teguh adalah, "Sebesar-besarnya seorang kacung, ia tetaplah seorang kacung!" Itu berati, tetap lebih baik menjadi bos, meski "bos kecil".

***

Tapi, sebentar. "Karyawan" yang saya maksudkan di sini adalah "karyawan versi Herry Tjahjono". Saya sebut begitu, karena saya menemukan ide posting ini dalam buku beliau, The Six Says; Siapa Cepat Dia Dapat (Elex Media Komputindo, 2008), yang saya comot dari rak buku Gramedia beberapa hari lalu.

Apa kata beliau?

Meski bukan ulasan khusus dan hanya sekedar contoh tentang toxic belief, beliau berkisah tentang salah kaprah mindset dalam terminologi kata "karyawan".

Selama ini, banyak yang mengartikan bahwa karyawan berarti "orang gajian". Itu mindset kebanyakan orang. Padahal menurut beliau, terminologi "karyawan" memiliki arti yang jauh lebih dalam. Untuk membedakannya, arti kedua ini saya tuliskan dalam huruf kapital : KARYAWAN.

KARYAWAN berasal dari kata dasar "karya". Dalam kata dasar itu, terkandung unsur kreatifitas dan proses penciptaan. So, KARYAWAN mestinya tidak sekedar diartikan sebagai "orang gajian", tapi harus diartikan sebagai "MANUSIA YANG MELAHIRKAN KARYA".

Nah, jika itu yang menjadi paradigma baru, maka setiap karyawan (ingat : ini pakai huruf kecil), akan jauh lebih menghargai status dan profesinya sebagai KARYAWAN.

Jika seorang karyawan telah memiliki keyakinan sebagai KARYAWAN, maka bisa dipastikan, perilaku dan hasil kinerjanya akan jauh lebih baik daripada sekedar karyawan yang ber-mindset sebagai "orang gajian". Perhatikan saja.

Seorang KARYAWAN akan menuntut dirinya untuk bisa bertindak lebih, tak sekedar melaksanakan tugas, mengerjakan rutinitas, tapi juga secara sadar dan aktif memberikan ide-idenya, berbuat lebih banyak, bekerja lebih cerdas bahkan lebih keras, karena tanpa itu ia merasa belum layak disebut "melahirkan sebuah karya". So, KARYAWAN bukan sekedar karyawan.

***

Di sisi lain, dengan terminologi yang demikian, bisa jadi seorang pengusaha, entrepreneur yang hanya sekedar melakukan proses usaha tanpa berusaha memberikan added value dalam usahanya, yang sekedar menjalankan bisnis tanpa inovasi dan pikiran serta ide kreatif, nir-kemauan mengembangkan diri, nir-keinginan memperbesar jaringan dan sebagainya --selayaknya tuntutan bisnis yang harus berkembang, maka ia tak ubahnya sebagai karyawan --dalam huruf kecil--.

Sebaliknya, pengusaha yang aktif, kreatif, bekerja cerdas, selalu mencari terobosan baru dan melakukan action terbaik, maka ia bisa disebut sebagai KARYAWAN --dalam huruf besar--.

Pertanyaannya, mau nggak ya, teman-teman entrepreneur saya sebut sebagai KARYAWAN? Hehe.

Saya membayangkan, ketika bertemu mereka, lalu dengan lantang saya sapa, "Halo, para KARYAWAN!". Ah, mereka pasti "gondok". Protes. Sebel. Jengkel. Padahal maksud saya baik, kan? Hehe...

Masalah ya itu, kalimat lisan tidak bisa menampakkan, apakah kata "karyawan" yang saya ucapkan itu berhuruf besar atau berhuruf kecil... hehehe.

***

Oke deh, cukup. Hanya intermezo. Yang jelas, sebagai karyawan, saya terpacu untuk bisa menjadi KARYAWAN. KARYAWAN yang juga pengusaha, juga pengusaha yang KARYAWAN.

Halah, jadi bingung sendiri saya... Mbuh, ah! :)


Salam intermezo,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.clipartof.com

THE POWER OF KEPEPET -- the other version--


Sebentar lagi, Bang Jaya Setiabudi, salah seorang penebar virus entrepreneurship di negeri ini, akan meluncurkan buku pertamanya : The Power of Kepepet. Jika melihat kiprahnya selama ini, maka prinsip "kepepet-isme" itu lebih berarti pada kondisi keterdesakan, keterhimpitan, keterpaksaan dan sejenisnya yang sifatnya "mengancam". Di tengah "ancaman" itulah biasanya, kreatifitas kita muncul. Ide-ide cemerlang terbit. Keberanian untuk action mengedepan.

Namun, omong-omong, ada juga lho, "keterpaksaan" yang lain. Dan ini jelas-jelas "keterpepetan" yang disengaja. Diciptakan sendiri.

Begini. Beberapa waktu lalu, seorang senior saya bercerita, bagaimana ia pada akhirnya mau belajar menyetir. Bukan karena ia punya mobil, lantas tidak ada yang nganter sehingga ia tidak bisa bepergian. Kalau itu, kepepet beneran namanya.. hehe.

Yang terjadi, pada awalnya ia males banget belajar nyetir. Padahal jelas-jelas, ketrampilan itu dibutuhkan untuk mendukung aktivitas keseharian dan pekerjaannya. Dan, Anda tahu apa yang ia lakukan?

Ia membeli mobil, meski jelas-jelas ia belum bisa menyetir sendiri!

Apa maksudnya? Ya, ia akan merasa sayang apabila mobil yang sudah dibelinya hanya ngejogrog tanpa daya dan manfaat di rumahnya, hanya karena ia tak bisa mengendarai! Sayang juga kan, duit tabungan udah dibelanjakan, tapi ia sendiri seolah tak bisa menikmati?

Hmm..., masuk akal juga.

***

Masih dengan orang yang sama, beberapa hari lalu ia kami ajak main bowling. Meski belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di arena lempar, bahkan belum pernah menyentuh bola bowling sekalipun, ia segera membeli sepatu bowling yang harganya cukup tinggi untuk ukuran kami! Gila, pikir kami.

Tapi, ia memang profil orang yang energik. Orang yang bersemangat, dan mau belajar. Ketika saya tanya, "Mau serius nih, belajar bowlingnya?"

Ia menjawab, "Justru inilah yang akan aku jadikan pemacu semangat. Bayangkan saja, aku udah beli ini sepatu. Gak tanggung-tanggung, kupilih yang terbaik. Ketika sudah keluar kocek segini besar, terus aku hanya sekali belajar dan berhenti, kan sayang sekali, Jar...."

"Aku pasti akan menyempatkan diri dan bermain di sini, jika ingat bahwa sudah sedemikian banyak biaya kukeluarkan. Seringkali, 'strategi' diri yang beginilah yang membuat aku cepat maju," katanya lagi.

Saya terdiam, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan tadi : "kepepet" tidak selalu berkonotasi dengan "ancaman" yang menakutkan, tapi juga bisa berupa "rasa sayang alias eman", akibat investasi yang telanjur dikeluarkan. Sebuah "keterpepetan" yang menurut saya, menyenangkan. Ehm! :)

Dan sebenarnya, anjuran untuk action, action dan action sekaligus menggunakan otak kanan dalam ajaran wirausaha itu, memiliki "roh pola pikir" yang sama dengan the power of kepepet di versi yang lain tadi.

Contohnya saya. Saya merasa, tidak sedikit uang yang sudah saya tanam ke bisnis bakso saya. Jika hasilnya ternyata belum sesuai harapan, maka otak ini akan dipaksa berpikir, agar supaya aktivitas hariannya bisa sesuai dengan proyeksi. Jika tidak, eman kan? Sayang kan, uang yang sudah saya tanam tadi? Bisa hilang dan "menguap" begitu saja tanpa hasil....

Dalam dunia tulis menulis, saya pernah juga menggunakan "strategi" itu. Saya membeli laptop, tapi dengan sebuah target : bahwa dalam sekian bulan, saya sudah harus "mencapai BEP alias Break Even Point", alias lagi : bisa menghasilkan uang dari menulis untuk "menebus" biaya yang saya keluarkan untuk membelinya.

***

So, sama seperti kesimpulan banyak orang, bahwa sesekali "keterpepetan" itu harus kita ciptakan sendiri, untuk merangsang percik-percik ide dalam syaraf otak kita; untuk memancing kelenturan otot-otot aksional; dan untuk segera berbuat yang terbaik demi kemajuan diri.

Syukur-syukur memang, jika motivasi kita sudah bisa secara permanen muncul, sehingga tak perlu lagi lah, yang namanya "kepepet" itu.

Begitu?


Salam,

Fajar S Pramono


Ilustrasi : http://www.m-pijarharapan.com