<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180</id><updated>2011-11-02T14:56:30.095+07:00</updated><category term='resensi'/><category term='motivasi'/><category term='gado-gado'/><category term='perenungan'/><title type='text'>Banker on Writing</title><subtitle type='html'>Ketika menulis adalah kebutuhan : 
katarsis, belajar dan berbagi</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>211</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1217499267472149990</id><published>2010-09-26T08:53:00.002+07:00</published><updated>2010-09-26T09:19:20.135+07:00</updated><title type='text'>Usaha yang Layak di Mata Bank</title><content type='html'>Alhamdulillah, setelah begitu lama tak sempat berkumpul untuk melaksanakan “diskusi balai kampung” di pendopo, kerinduan akan kehangatan diskusi bersama Bli Wayan, Bang Sinaga dan Uda Mail dapat terwujud kembali malam ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akhirnya, bisa juga kita berkumpul lagi,” kata Bang Sinaga membuka obrolan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul, Bang. Padahal sudah cukup lama aku memendam pertanyaan buat Mas Ndoet... hehe,” Uda Mail menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa itu, Da?” timpal Bli Wayan seketika. Wah, tampaknya diskusi malam ini bakal segera ”memanas”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bang Sinaga menggeser posisi duduknya, mendekat ke arah Uda Mail. Antusiasme dan rasa penasaran nampak jelas pada raut wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pun, sesungguhnya tak beda dengan Bang Sinaga. Saya pun beringsut mendekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uda Mail cepat tanggap, dan langsung to the point.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betul, Mas Ndoet. Kemarin tetangga toko saya bertanya, kenapa permohonan kreditnya ditolak, sementara temannya yang berbarengan mengajukan permohonan bisa dikabulkan. Padahal menurutnya, skala usahanya tak berbeda jauh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan ketiga sahabat saya beralih kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehm,” saya mencoba memulainya dengan berdehem. “Saya tak akan bisa menjawab secara pasti, tanpa tahu kondisi detailnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terdiam mendengar jawaban saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Tapi begini,” sambung saya demi melihat kevakuman yang terjadi, ”Saya akan bicara hal yang mendasar saja. Bahwa, hanya ada dua kondisi dari empat kondisi usaha saja yang layak mendapat pembiayaan atau kredit dari bank.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Apa saja itu, Mas?” sahut Bang Sinaga cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Empat kondisi usaha?! Seperti apa itu, Mas?” Uda Mail pun menyahut tak kalah cepat.&lt;br /&gt;Saya tersenyum. Saya paling senang kalau ada antusiasme dalam sebuah diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kondisi usaha bisa dibagi menjadi empat kelompok,” saya meneruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Pertama, diistilahkan sebagai kelompok ’Star’. Usaha seseorang yang masuk kelompok ini adalah usaha yang masih dalam posisi terus berkembang alias growth, kuat dalam persaingan, tingkat return atau kemampuan menghasilkan labanya juga tinggi, bahkan memungkinkan untuk melakukan investasi baru. Usahanya sehat dan masih bisa tumbuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil jeda sejenak, sekaligus menunggu tanggapan. Tapi tak ada respon yang menyela, sehingga saya pun meneruskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Kedua, kelompok ’Cash Cows’. Usaha yang tergolong pada kelompok ini masih bagus, kuat bersaing, mampu menghasilkan laba yang tinggi, dan memungkinkan adanya investasi. Tapi sesungguhnya, prospek untuk meningkatkan sales atau penjualan sudah mulai sangat terbatas. Atau bahkan boleh dikatakan stagnan. Omzet dari periode ke periode sudah tak bisa bertambah. Bisa karena pasar yang terbatas, bisa juga karena kemampuan internal usaha atau si pengusaha yang tak mendukung.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengambil nafas panjang, dan kemudian diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang ketiga dan keempat, Mas?” Bang Sinaga tampak tak sabar. Saya tersenyum lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nggak sabar ya, Bang? Hehe.... Yang ketiga, kelompok ’Dogs”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dogs?” desis Bli Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Itu sekedar istilah, Bli. Jangan diartikan secara harfiah...,” kata saya sembari melebarkan senyum. ”Di kelompok ini, pendapatan dari usaha sudah lebih kecil dari biaya operasionalnya. Ia sudah mulai merugi, tapi sesungguhnya masih punya kemungkinan untuk dikembangkan lagi, karena sebenarnya peluang pasarnya masih ada. Tapi ini perlu effort yang cukup besar. Misalnya dengan divestasi atau penjualan sebagian aset.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ooo... begitu ya. Yang keempat?” respon Bli Wayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Yang terakhir, kelompok ’Question Marks”. Tanda tanya. Nggak jelas,” kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sengaja diam, untuk memancing rasa penasaran teman-teman, sampai akhirnya, ”Apanya yang nggak jelas, Mas?” suara Bang Sinaga yang mengedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Iya, nggak jelas. Maksudnya, nggak jelas lagi kemampuannya untuk bisa menangkap peluang pasar. Cash flownya juga sudah negatif. Gampangnya, usahanya sudah rugi, dan sangat kecil kemungkinannya untuk bisa eksis kembali.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga sahabat saya mengangguk-angguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lalu, apa hubungannya dengan penolakan pihak bank ke tetangga toko saya tadi, Mas?” ujar Bli Wayan, mengingatkan permasalahan utama diskusi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nha, begini,” saya mulai menerangkan kembali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada prinsipnya, pihak bank hanya akan bersedia membiayai dua dari keempat kelompok kondisi usaha tersebut. Yang mana kira-kira, Bang?” saya meminta respon dari Bang Sinaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmm..., ya yang pertama dan yang kedua lah. Yang ‘Star’ sama yang... eh, yang apa itu, Mas? Yang kedua?” jawab Bang Sinaga balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Betul!” kata saya senang, ”yang ’Star” dan yang ”Cash Cows”, Bang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nha... itu.... ’Cash Cows’!” sahut Bang Sinaga lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangguk-angguk membenarkan, saya melanjutkan, ”Nah, di kedua tipe kondisi itulah bank ’bermain’, alias menyalurkan kreditnya. Kenapa? Karena bank butuh kepastian repayment capasity atau kemampuan membayar kembali dari si nasabah. Bahkan, untuk tipe ’Star’, bank perlu meyakinkan dirinya bahwa usaha si nasabah akan bisa berkembang lebih cepat dari sebelumnya, karena itu yang menjadi tujuan pemberian kreditnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Nah, sekarang coba kita tengok sendiri. Jika kita pengusaha, masuk ke kelompok yang manakah kita?” kata saya pada akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uda Mail manggut-manggut. Tampaknya ia mulai ’menilai’ kondisi tetangga tokonya, dibandingkan dengan kondisi teman tetangga tersebut, dan juga kondisi usahanya sendiri –mungkin--. Ia tampak akan menanyakan sesuatu kembali, ketika Bang Sinaga lebih dahulu memecah keheningan yang tercipta. ”Hey, dari tadi kita belum pesen minum nih!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Cak Rifaaaan....!!!” akhirnya, justru suara Bang Sinaga yang terdengar, memanggil satu sahabat lagi yang selama ini tak pernah lelah menemani diskusi-diskusi kami dengan mak nyus-nya minuman dan makanan kecil yang dijualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fajar S Pramono&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- dimuat di Majalah Wirausaha &amp; Keuangan edisi 76, 22 Oktober - 22 November 2009 --&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1217499267472149990?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1217499267472149990/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1217499267472149990' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1217499267472149990'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1217499267472149990'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2010/09/usaha-yang-layak-di-mata-bank.html' title='Usaha yang Layak di Mata Bank'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2079688825018734387</id><published>2010-03-16T05:49:00.006+07:00</published><updated>2010-03-16T06:55:40.327+07:00</updated><title type='text'>REST AREA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S57HovjDcgI/AAAAAAAAAvw/A2Fy6Y6cOi4/s1600-h/rest+area+(www.aaroad.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 196px; height: 258px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S57HovjDcgI/AAAAAAAAAvw/A2Fy6Y6cOi4/s320/rest+area+(www.aaroad.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449012101937066498" /&gt;&lt;/a&gt;Entah kenapa, di telinga saya masih saja terngiang apa yang disampaikan seorang kawan saya pada sebuah pelatihan. Ketika diminta membuat sebuah gambar atau simbol yang menyiratkan sebuah "misi" atau "cita-cita" ke depan, ia menggambar sebuah jalan tol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya, jalan tol itu adalah sebuah jalan yang menyediakan segalanya. Utamanya, terkait dengan keberadaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rest area&lt;/span&gt;. "Melalui" &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rest area&lt;/span&gt;, jalan tol menyediakan tempat makan bagi yang lapar. Menyediakan arena istirahat bagi yang kelelahan. Menyediakan toilet untuk yang "kelebihan muatan". Menyediakan wahana ibadah untuk yang ingin melaksanakan kewajiban. Juga menyediakan stasiun pengisian bahan bakar untuk yang kehabisan bahan bakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin cerita Kang Isman --kawan saya itu-- terus terngiang karena hampir setiap hari saya menggunakan jalan tol. Ke kantor, lewat tol. Juga pada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt; atau liburan, karena saya tak suka berurusan dengan banyaknya lampu merah di ibukota. Karenanya pula, nyaris setiap hari saya melihat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rest area&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rest area&lt;/span&gt;, bagi saya, menunjukkan sebuah pentingnya sebuah jeda atau istirahat dalam perjalanan hidup kita. Mesin tubuh ini, baik yang berupa otot, otak, pikiran, tulang, dan sebagainya, memerlukan istirahat pada waktunya. "Mereka" tak mungkin diberdayakan secara maksimal tanpa adanya kesempatan beristirahat. Mata kita, apakah mungkin kita paksakan melek berhari-hari tanpa tidur, dan berharap kualitas melek-an yang sama sejak hari pertama? Bersamaan dengan itu, mungkinkan kita bisa memaksimalkan fungsi otak untuk berpikir pada hari ke-enam sejak kita tak tidur?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin pulakah kita menyuruh otot ini bekerja keras tanpa asupan makan dan minum berhari-hari, kendati ilmu kedokteran mengatakan bahwa kita akan kuat tak minum sampai dengan 48-72 jam, atau akan tahan tak makan sampai satu minggu asal minum air?&lt;br /&gt;Rasanya tak mungkin juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, semua sudah terukur dengan baik. Ada libur kantor setelah lima atau enam hari bekerja &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fullday&lt;/span&gt;. Ada kepentingan bernama tidur setelah sekitar 18 jam kita beraktivitas. Ada pergantian sopir bus malam setelah 6 jam mengemudi. Ada 3 &lt;span style="font-style:italic;"&gt;shift&lt;/span&gt; pekerja pada pabrik yang beroperasi 24 jam. Ada angka ideal bagi kesemuanya, kendati pada akhirnya relativitas kekuatan dan ketahanan akan bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu pula, ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;rest area&lt;/span&gt; yang nyaris tak pernah sepi sepanjang hari. Banyak hotel yang ber-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;occupancy rate&lt;/span&gt; di atas 80% kendati selangit harga kamarnya. Beribu tempat wisata di nusantara yang seolah tak pernah kekurangan pengunjung. Bejibun mall tak pernah kehilangan (calon) pembeli, yang berbelanja sembari "cuci mata". Ada puluhan ribu tempat makan yang diserbu pecinta kuliner, yang tak hanya kepingin memenuhi kebutuhan nutrisi, tapi juga kebutuhan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;taste&lt;/span&gt;. Juga (mungkin) jutaan salon, tempat spa, sauna, massage, karaoke, yang bahkan terpaksa menolak peminat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu juga mengingatkan, bahwa kita adalah manusia yang memiliki keterbatasan. Kita bukan robot yang tak punya capek. Tapi ah, tidak juga. Banyak yang mengatakan juga bahwa mesin dan teknologi pun harus punya jadwal "istirahat". Karena itu jadwal &lt;span style="font-style:italic;"&gt;overhaul&lt;/span&gt; mesin produksi. Karena itu ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;service&lt;/span&gt; rutin mesin kendaraan. Karena itu ada pendinginan mesin, pendinginan motor kipas angin, pendinginan radiator mobil, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istirahat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt;, pendinginan dan sejenisnya, tolong, jangan selalu diartikan sebuah kemalasan atau kemanjaan. Itu adalah bagian dari "kodrat", demi pemenuhan stabilisasi kualitas kerja, penjagaan kemampuan berpikir, bahkan peningkatan mutu dari kesemua proses hidup manusia. Hanya dengan pemberian kesempatan untuk "menarik nafas", maka otot ini, otak ini, pikiran ini, mesin ini, bisa bekerja dengan (tetap) baik, bahkan semakin baik dari hari ke hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau tuntutan istirahat, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;refreshing&lt;/span&gt; atau pendinginan tadi sudah melebih kadar optimalnya, atau "tidak pada tempatnya", yang pada akhirnya justru mengganggu proses dan percepatan kerja, bolehlah kita mengartikan bahwa hal itu hanya sekedar dalih pembenar dari sebuah kemalasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, seperti saya yang pagi ini pingin tidur lagi, meski semalem sudah tidur lebih dari tujuh jam! Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2079688825018734387?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2079688825018734387/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2079688825018734387' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2079688825018734387'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2079688825018734387'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2010/03/rest-area.html' title='REST AREA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S57HovjDcgI/AAAAAAAAAvw/A2Fy6Y6cOi4/s72-c/rest+area+(www.aaroad.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3506570935198983230</id><published>2010-01-05T13:32:00.003+07:00</published><updated>2010-01-05T13:46:47.179+07:00</updated><title type='text'>Hehehe... iseng! :)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S0LeNM1orvI/AAAAAAAAAvo/6Osz2M-Oflo/s1600-h/Beckham+-+buku.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 316px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S0LeNM1orvI/AAAAAAAAAvo/6Osz2M-Oflo/s400/Beckham+-+buku.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5423141219673353970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari CoolPhoto.me. Thanks kreatifitasnya! :)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3506570935198983230?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3506570935198983230/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3506570935198983230' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3506570935198983230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3506570935198983230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2010/01/hehehe-iseng.html' title='Hehehe... iseng! :)'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/S0LeNM1orvI/AAAAAAAAAvo/6Osz2M-Oflo/s72-c/Beckham+-+buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1611942831245375147</id><published>2009-12-08T03:39:00.009+07:00</published><updated>2009-12-08T05:30:39.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>FILSAFAT BOLAK-BALIK (1)</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sx17jy2DP-I/AAAAAAAAAvg/biieXP_jTOY/s1600-h/wheelchair+(www.msmedicalsupplyonline.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 229px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sx17jy2DP-I/AAAAAAAAAvg/biieXP_jTOY/s320/wheelchair+(www.msmedicalsupplyonline.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5412618182043320290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Seorang kawan fesbuker meng-unduh sebuah catatan bertajuk "Filsafat Bolak-Balik". Salah satunya : &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;"Masih muda, korbankan kesehatan untuk mencari harta. &lt;br /&gt;Sudah tua, korbankan harta untuk mencari kesehatan."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;--"catatan fesbuk" Nur Habib, bersumber dari www.syukriy.wordpress.com--&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa kita "baca" dari untaian kalimat "bolak-balik" di atas?&lt;br /&gt;Saya mencoba mengawali "pembacaan" itu, melalui kacamata saya yang paling sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, ironi. Ya, tentu sebuah ironisme yang sangat ketika terdapat sebuah tujuan dalam hidup yang ingin dicapai, namun justru tak bisa dinikmati ketika tujuan itu tercapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadarkah kita, bahwa kita sering berbuat banyak hal "konyol" seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu menggebunya kita membeli buku, untuk dibaca. Ratusan ribu rupiah keluar dari kantong. Keinginan memiliki bahan bacaan yang banyak pun terwujud. Tapi membacanya? "Tak sempat pula awak ini," meminjam istilah kawan di seberang. Pada akhirnya, kita sekadar membeli kertas berjilid, tanpa ada ilmu yang bertambah di dalam otak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencari dan mengeluarkan uang ratusan ribu adalah sebuah pengorbanan. Menyediakan waktu ke toko buku, atau "berdarah-darah" dalam desakan dan "tsunami" gelombang pengunjung pameran buku berdiskon, tentu juga sebuah pengorbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi manakala tujuan memperoleh ilmu dari buku-buku tersebut tak terwujud, maka "pengorbanan" itu mendekati sia-sia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, kita bekerja untuk "membesarkan anak". Katanya. Lantas kita bekerja siang malam. Tak kenal Sabtu Minggu. Semua untuk upaya mencari rejeki, untuk "membesarkan anak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kesibukan itu ternyata membuat kita tak bisa melihat perkembangan si anak alias proses "membesarnya" si anak. Tahu-tahu saja ia sudah besar. Tahu-tahu mereka sudah kenal pacaran. Tahu-tahu anak-anak itu harus masuk SMA. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang selalu diingatkan oleh istri saya juga. "Ayah, kalau waktu untuk keluarga kurang, nanti kaget lho, tahu-tahu anaknya sudah gedhe...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir benar kata istri saya. Kita bisa tak sempat menikmati proses sekaligus hasil dari upaya kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, adalah tentang "cara" kita berupaya. Ternyata seringkali kita menggunakan cara yang "salah" dalam upaya kita mencapai cita-cita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mengorbankan kesehatan" dalam rangka mencari harta, tentu bukan "cara" yang benar.&lt;br /&gt;Yang benar, tentu dengan tetap memperhatikan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tujuan kan tercapai? Iya benar, tujuan tercapai. &lt;br /&gt;Tapi juga, untuk apa tujuan tercapai kalau menyebabkan kita sendiri tak bisa menikmati apa yang kita capai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, bicara cara yang salah dalam proses mencapai tujuan, sekadar "mengorbankan kesehatan" masih "bagus", karena yang dikorbankan adalah diri sendiri. Kalau selain diri sendiri, yang harus dikorbankan juga adalah orang lain, organisasi, atau suatu sistem yang baik? Lebih menyesakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah kasus korupsi. Siapa dikorbankan? Semua orang yang seharusnya berhak atas uang yang dikorupnya. Berarti, ia telah menghilangkan hak orang lain. Lalu, organisasi di mana ia melakukan korupsi. Organisasi kehilangan kesempatan untuk maju dan besar lebih cepat. Lalu juga, harga diri dan kehormatan keluarga. Ketika kasus itu terungkap ke publik, dan si pelaku mendapat hukuman, ke mana muka si pelaku dan keluarganya yang --mungkin-- tak tahu-menahu, harus disembunyikan? Hukuman fisikal mungkin hanya beberapa tahun. Tapi hukuman sosial, bisa jadi seumur hidup atau bahkan turun temurun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Na'udzubillahi min dzalik&lt;/em&gt;. Semoga kita tak termasuk golongan ini, amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, bagaimana seharusnya? Saya yakin Anda semua bisa menyimpulkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, ada banyak "pembacaan" lain dari "filsafat bolak-balik" selain yang saya sampaikan di atas. Dipersilakan &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.msmedicalsupplyonline.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1611942831245375147?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1611942831245375147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1611942831245375147' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1611942831245375147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1611942831245375147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/filsafat-bolak-balik-1.html' title='FILSAFAT BOLAK-BALIK (1)'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sx17jy2DP-I/AAAAAAAAAvg/biieXP_jTOY/s72-c/wheelchair+(www.msmedicalsupplyonline.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7232855387146748544</id><published>2009-12-05T04:09:00.012+07:00</published><updated>2009-12-05T04:48:00.886+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>MENGUBAH PR MENJADI RP</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxmC6uNCSVI/AAAAAAAAAvY/xEwgqe3gEv8/s1600-h/epos+(ceritalangitbiru.files.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxmC6uNCSVI/AAAAAAAAAvY/xEwgqe3gEv8/s320/epos+(ceritalangitbiru.files.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5411500372609091922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Apa bedanya seorang tentara waktu berangkat tugas ke Aceh, dan sepulang dari Aceh?" tanya sebuah anekdot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak orang di kantor yang bisa menjawab, ketika guyonan itu dilontarkan. Termasuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai akhirnya, "Tentara ke Aceh bawa M-16, pulangnya bawa 16 M!" jawab si penanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksudnya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berangkat bawa senapan M-16, pulangnya bawa duit 16 M....," terangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho?! Dari mana?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mengawal ganja! Hahaha...," terangnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu hanya sebuah anekdot, yang berkembang ketika Aceh lekat dengan GAM. Ketika Aceh "identik" dengan ladang ganja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang M-16 dan 16 M itu sontak muncul dalam ingatan ketika beberapa waktu membaca status &lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt; seorang sahabat : Mas Iim Rusyamsi, Presiden TDA (Tangan Di Atas). Ia menulis : &lt;em&gt;"Bismillah...lanjut selesaikan PR untuk jadi RP...amin..."&lt;/em&gt;. Juga catatan seorang kawan --Nur Habib-- tentang "Filsafat Bolak-Balik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa hubungannya dengan anekdot di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak ada, memang. Saya hanya suka anekdot dan kata-kata "mutiara" yang gampang diingat dengan keunikannya. Lihat : M-16, 16 M. PR, RP. Saya terkesan, karena menurut saya, itu kalimat cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang "Filsafat Bolak-Balik"-nya kawan Nur Habib, kapan-kapan saya &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt;, dan kita bahas bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyelesaikan PR untuk jadi RP. Hmm... menyelesaikan "Pekerjaan Rumah" agar menjadi "Rupiah". &lt;em&gt;Great&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mas Iim mengingatkan kita, bahwa banyak hal produktif yang bisa kita selesaikan. Bahwa banyak aktivitas yang bisa dijadikan ladang rejeki. Bahwa banyak pekerjaan tertunda, yang semestinya bisa segera memberikan hasil bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman ini tentu layak diperluas. Bahwa &lt;em&gt;output&lt;/em&gt; produktivitas tentu tidak saja berupa materi. Uang. Ia bisa berupa apa saja yang positif bagi kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh : silaturahmi dengan teman. Ia mungkin tidak menghasilkan rupiah (baca : uang) kalau kita lakukan. Bisa jadi kita malah keluar uang. Untuk mentraktir misalnya. Tapi, berkah silaturahmi, bisa mewujud dalam hal yang lain. &lt;em&gt;Networking&lt;/em&gt; bisnis, keliaran ide positif, pembelajaran tentang hal baru, &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; pengalaman, kesempatan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kesempatan berolahraga, misalnya? Ya, kesempatan itu sesungguhnya adalah "PR". Apa &lt;em&gt;output&lt;/em&gt;-nya kalau kita kerjakan? Uang? Bukan. Kita bahkan mungkin membayar untuk menyewa gedung olahraga, membeli peralatan, dan lain-lain. Tapi, Insya Allah kita akan sehat. Dan sehat itu anugerah yang luar biasa, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangun pagi, membuat catatan yang (semoga) positif, lalu &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt;. Dapet apa? Pahala, Insya Allah, amien. &lt;em&gt;(Hehe...)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, RP itu bukan sekadar uang. Ia bermakna "anugerah". Anugerah yang barokah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu bisa diperoleh dari mana saja. Seorang istri yang dengan senang hati "mengerjakan PR" memasak untuk suaminya, Insya Allah beroleh pahala dan keharmonisan rumah tangga. Seorang karyawan yang "mengerjakan PR", yakni dengan ikhlas memberi bimbingan kepada teman kerja barunya, Insya Allah mendapatkan pahala, kehormatan dan kepantasan sebagai rekan kerja yang baik, sekaligus kehangatan sebuah "keluarga kantor".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya : selama PR itu adalah kegiatan atau amalan positif, yang kemudian dikerjakan dengan baik dan ikhlas, maka ia pasti menghasilkan RP. Menghasilkan anugerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu janji Tuhan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, terima kasih Mas Iim, atas status-nya yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://ceritalangitbiru.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7232855387146748544?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7232855387146748544/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7232855387146748544' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7232855387146748544'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7232855387146748544'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/mengubah-pr-menjadi-rp.html' title='MENGUBAH PR MENJADI RP'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxmC6uNCSVI/AAAAAAAAAvY/xEwgqe3gEv8/s72-c/epos+(ceritalangitbiru.files.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3678033535597401879</id><published>2009-12-03T05:51:00.002+07:00</published><updated>2009-12-03T05:53:31.031+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>KEPADAKU, ENGKAU BENAR</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sxbvz1VQ7MI/AAAAAAAAAvQ/SM4pBHVY3GQ/s1600-h/lips+(media.photobucket.com).bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 270px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sxbvz1VQ7MI/AAAAAAAAAvQ/SM4pBHVY3GQ/s320/lips+(media.photobucket.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410775676100865218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menggeliyutlah engkau pada tubuhku&lt;br /&gt;Berlenggak-lenggok menjilat &lt;br /&gt;tabung usus besarku&lt;br /&gt;Tak apa &lt;br /&gt;tak perlu ada mengapa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datang dan masuklah&lt;br /&gt;Karena aku memang telah membangunnya&lt;br /&gt;Sebuah pelabuhan kebenaran bagi niscaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena aku telah membukanya&lt;br /&gt;Sekuintal pintu bagi benarmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cikarang, 02 Desember 2009&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi : http://media.photobucket.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3678033535597401879?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3678033535597401879/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3678033535597401879' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3678033535597401879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3678033535597401879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/kepadaku-engkau-benar.html' title='KEPADAKU, ENGKAU BENAR'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sxbvz1VQ7MI/AAAAAAAAAvQ/SM4pBHVY3GQ/s72-c/lips+(media.photobucket.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1871598961979092845</id><published>2009-12-03T05:40:00.002+07:00</published><updated>2009-12-03T05:42:49.347+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>HAMPA SEEKOR KAMBOJA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbtPXvR-GI/AAAAAAAAAvI/K4Ha2AgwAMU/s1600-h/hampa+(1.bp.blogspot.com).bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 113px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbtPXvR-GI/AAAAAAAAAvI/K4Ha2AgwAMU/s400/hampa+(1.bp.blogspot.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410772850658375778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;: kepada sunyi&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehampaan ini terasa anyir&lt;br /&gt;melekat menyerupa lem tikus &lt;br /&gt;pada daki tubuhku&lt;br /&gt;Menjarakkan aku atas dekat&lt;br /&gt;Menutupkan tampak dari mata&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keliaran makhluk Tuhan di seputaranku&lt;br /&gt;tak mampu mencipta rasa ada &lt;br /&gt;dalam senyawa rongga di dada&lt;br /&gt;Bahkan kepulan asap serta sangit aroma pun&lt;br /&gt;tak kunjung terbit dari luapan api yang terus meraksasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku heran, bagaimana kesepian ini bisa meraja &lt;br /&gt;Meluluhpingsankan atma gembira&lt;br /&gt;Melindasletihkan jiwa bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyatanya sederhana,&lt;br /&gt;karena yang kudamba sekadar sesorai sukma&lt;br /&gt;Layaknya bangga seekor kamboja jantan &lt;br /&gt;yang diperkenankan membuahi betinanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cikarang, 02 Desember 2009&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://1.bp.blogspot.com &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1871598961979092845?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1871598961979092845/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1871598961979092845' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1871598961979092845'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1871598961979092845'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/hampa-seekor-kamboja.html' title='HAMPA SEEKOR KAMBOJA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbtPXvR-GI/AAAAAAAAAvI/K4Ha2AgwAMU/s72-c/hampa+(1.bp.blogspot.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8411179876651538777</id><published>2009-12-03T05:36:00.002+07:00</published><updated>2009-12-03T05:40:31.483+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>DUKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbsTnnFE2I/AAAAAAAAAvA/5RikoArC5YQ/s1600-h/eye+(holis.blogdrive.com).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 247px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbsTnnFE2I/AAAAAAAAAvA/5RikoArC5YQ/s320/eye+(holis.blogdrive.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410771824126792546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah cinta tertoreh. Bukan tombak. Tapi sembilu.&lt;br /&gt;Sesembilu senyapku. Sekuyu wajah sukmaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tombak meruncing menancap pada sebuah noktah. Tapi sembilu?&lt;br /&gt;Ia merata mencicipi setiap jengkal tanah bernama hati. &lt;br /&gt;Seonggok regosol yang subur bagi lara. Sekepalan latosol legawa bersungai darah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika lara membuncah. Ketika darah meruah. Segala merah.&lt;br /&gt;Itulah duka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cikarang, 02 Desember 2009&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : holis.blogdrive.com &lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8411179876651538777?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8411179876651538777/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8411179876651538777' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8411179876651538777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8411179876651538777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/duka.html' title='DUKA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxbsTnnFE2I/AAAAAAAAAvA/5RikoArC5YQ/s72-c/eye+(holis.blogdrive.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1529171079487654905</id><published>2009-12-02T03:58:00.005+07:00</published><updated>2009-12-02T04:29:49.789+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>ANUGERAH KEKUATAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxWKhqlzpeI/AAAAAAAAAuo/RTZcaKjyRpY/s1600/happiness+(nanpunya.files.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxWKhqlzpeI/AAAAAAAAAuo/RTZcaKjyRpY/s320/happiness+(nanpunya.files.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410382838328698338" /&gt;&lt;/a&gt;Saya tertegun membaca tulisan Garin Nugroho dalam &lt;em&gt;Who is God?&lt;/em&gt;-nya (2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan tidak pernah menjanjikan kepada manusia hari-hari tanpa sakit, tertawa tanpa kesedihan, atau kesenangan tanpa tantangan. Tuhan memberikan anugerah berupa kekuatan kepada manusia untuk mengatasi masalahnya," tulis Garin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika bahagia, tertawa, bahkan sehat pun adalah pilihan, maka, anugerah apa yang sebenarnya Tuhan berikan kepada kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan menghadapi dan mengatasi potensi ketidakbahagiaan, potensi kesedihan, dan potensi rasa sakit! Itu yang Tuhan berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Potensi" untuk tidak bahagia, "bekal" untuk sedih, dan "bakat" untuk sakit, diberikan kepada semua manusia, sebagaimana Tuhan memberikan semua obyek di luar diri masing-masing manusia untuk kepentingannya. Alam seisinya, makhluk binatang, makhluk tanaman, dan seluruh dzat yang Ia ciptakan, yang bisa dimanfaatkan manusia, diberikan kepada semua kita tanpa kecuali. Pada akhirnya terserah kita, dzat dan anugerah isi alam mana yang akan kita gunakan dan manfaatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Robin Sharma mengatakan : kebahagiaan adalah suatu keadaan yang Anda ciptakan karena pilihan. Kebahagiaan adalah keputusan. Sebuah "tindakan yang dikehendaki".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, mau bahagia atau tidak, mau tertawa atau tidak, mau merasa sehat atau merasa sakit, itu adalah pilihan. Penerimaan kita atas suatu obyek dan masalah, yang menentukan "rasa" kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah. Tuhan telah memberikan bekal berupa "kekuatan" itu. Tinggal di mana kita sanggup menggunakan kekuatan itu untuk menghadapi masalah di depan kita. Jika kita menang dan lulus menghadapinya, maka hasil terbaik --bahagia, tertawa dan sehat-- akan menjadi "milik" kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://nanpunya.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1529171079487654905?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1529171079487654905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1529171079487654905' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1529171079487654905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1529171079487654905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/anugerah-kekuatan.html' title='ANUGERAH KEKUATAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxWKhqlzpeI/AAAAAAAAAuo/RTZcaKjyRpY/s72-c/happiness+(nanpunya.files.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2841974972942481524</id><published>2009-12-01T04:40:00.013+07:00</published><updated>2009-12-01T05:45:45.379+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>KEASYIKAN, KETEKUNAN DAN KUALITAS HASIL</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxRKvGj0zTI/AAAAAAAAAug/of1wG6gM1zM/s1600/tekun+(muslimdaily.net).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 233px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxRKvGj0zTI/AAAAAAAAAug/of1wG6gM1zM/s320/tekun+(muslimdaily.net).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410031225453989170" /&gt;&lt;/a&gt;Sebuah kisah pada sebuah malam yang basah. Bukan lagi gerimis kecil sesungguhnya, karena butir-butir air yang jatuh cukup besar dan deras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi orang itu --seorang pria yang tak lagi muda, bercelana panjang hitam dan berkaos oblong putih-- tampak begitu cuek dan asyik "ber-&lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; ria" di atas sepeda motor, yang ia hentikan secara sedikit serampangan di pinggir gang perumahan saya. Tak ada jas hujan, payung, atau bahkan sekedar topi di atas kepalanya. Suara dan tawanya yang sangat-sangat lepas terdengar jelas di telinga saya, kendatipun saya sudah menutup rapat kaca mobil yang saya kendarai. Raut mukanya yang masih bisa terlihat akibat tempias cahaya lampu rumah terdekat, menyiratkan sebuah kebahagiaan yang tiada tara. Haha.. wajah seorang cowok SLTP yang diijinkan mengajak cewek idamannya pergi malam minggu besok, istilah batin saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Saya yang kebetulan pulang melewati jalan yang sama dengan lelaki itu sepulang kerja, tersenyum sendiri. Betapa tidak? Saya melihat sebuah tubuh yang basah. Tapi dari bahasa tubuh yang memancarkan kebahagiaan itu, tak tampak sedikitpun ketidaknyamanan pada dirinya. Tubuh dingin dan basah yang berpotensi sakit, posisi minggir kendaraan yang tak sempurna dan berisiko terserempet kendaraan lain, risiko &lt;em&gt;handphone&lt;/em&gt; yang rusak akibat tertimpa air hujan, sama sekali tak nampak dalam perhitungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia begitu asyik. Semua hal lain "kalah" oleh keasyikannya itu. Keasyikan yang muncul karena kebahagiaan tiada tara yang tercipta melalui hubungan via telepon seluler tadi --entah dengan siapa, dan entah apa yang dibicarakannya--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu ingat sebuah pelajaran. Sebuah teori. Bahwasanya, jika kita bisa mengerjakan sesuatu karena adanya kebahagiaan yang muncul dari padanya, maka kita bisa menjadi orang yang "lupa diri". Ekstase.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah orang yang begitu hobi main catur. Ditantang main jam berapapun, hayuk saja. Melihat sebuah pertarungan bidak-bidak catur yang seru di gardu ronda, sampai pagi pun oke. Membicarakan strategi menyerang dan bertahan sebuah teori permainan dari sebuah buku catur atau guntingan koran minggu, begitu bersemangat. Tak kenal capek ia bicara. Tak kenal haus tenggorokannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang penulis novel yang sedang "&lt;em&gt;trance&lt;/em&gt;" dan hanyut pada lakon yang ditulisnya, tiba-tiba menjadi seseorang yang seolah tak mau kehilangan satu detikpun dari plot kisah yang sedang dituangkannya. Segala sesuatu yang lain menjadi hal yang tak penting. Nomor sekian. Bahkan keinginan tidur pun dianggapnya sebagai "teroris" bagi keberhasilan karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, pikiran saya membayangkan, seandainya pekerjaan kita, atau apa yang kita lakukan dalam rangka mencari nafkah sekaligus yang kita upayakan bisa menjadi ladang ibadah bagi kita adalah sesuatu yang bisa membuat kita "&lt;em&gt;trance&lt;/em&gt;" dan berbahagia di alam bawah sadar, hmm... betapa menyenangkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang sering disebut orang sebagai "&lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;". Sesuatu yang secara jiwa telah mencipta ketertarikan diri, dan sangat membahagiakan sang jiwa bila diperkenankan mengerjakannya. Terlebih lagi, jika &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; tersebut mampu memberikan hasil material bagi pemenuhan kebutuhan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ia akan melakoninya dengan segenap jiwa. Maka ia akan menjalaninya sepenuh hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya saja, pasti kita harus membuang sisi negatif dari "kelupadirian" akibat keasyikan tersebut. Risiko harus tetap dipertimbangkan. Melupakan hal lain di luar itu --menelantarkan anak istri misalnya, atau melupakan kewajiban-kewajiban individu serta sosial--, tak boleh terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika itu bisa kita olah, maka akan terwujud sebuah ketekunan kerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketekunan menghadapi pekerjaan pada hakikatnya bisa berasal dari beberapa kausa, namun menghasilkan "penampakan" ketekunan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, karena &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; tadi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, karena kesadaran. Bahwa apa yang harus dilakukannya, merupakan sebuah sarana mencari nafkah yang harus ia syukuri dan menjadi "wajib" baginya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. Ketika kesadaran dan kesyukuran yang muncul, maka ia bisa bekerja dengan tekun dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, karena keterpaksaan. Seseorang bisa saja nampak begitu tekun dan rajin di "luaran"-nya, namun sesungguhnya ia tersiksa dalam batinnya. Ia paham benar, jika ia tak melakukannya, maka ia tak bisa beroleh uang untuk hidup misalnya. Atau, ia akan mendapat hukuman jika tak mengerjakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga penyebab di atas menciptakan gambar yang sama : seseorang yang bekerja dengan giat. Tekun. Tapi gambar yang sama tadi akan memberikan &lt;em&gt;output&lt;/em&gt; yang berbeda. Kualitas hasil yang tak sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang paling baik? Tentu dimulai dari yang nomor satu. Yang berawal dari &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;. Kemudian yang berasal dari kesadaran, dan yang terakhir, yang lahir dari keterpaksaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa bisa beda? Karena suasana hati, kegembiraan, kebahagiaan plus kadar kesyukuran yang berbeda, secara tidak langsung akan menciptakan hasil yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, semakin bahagia kita dalam mengerjakan sesuatu, Insya Allah, hasilnya semakin bagus. Karena pada akhirnya kita bisa bekerja dengan hati. Tulus, sekaligus nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang mari kita tengok diri ini. Masuk kategori yang ke berapakah kita? Pertama, kedua, atau ketiga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita masuk kategori pertama, bersyukurlah sebesar-besarnya kepada Tuhan. Jika masuk kategori kedua, ayo jadikan kesadaran itu menjadi sebuah &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; yang membahagiakan. Dan jika ternyata kita masih masuk kategori ketiga, mari tumbuhkan kesadaran, agar kita bisa lebih bersyukur, dan pada akhirnya bisa menjadikan apa yang kita kerjakan sebagai bahagian dari &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda setuju? Kalau iya, mareee.... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://muslimdaily.net&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2841974972942481524?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2841974972942481524/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2841974972942481524' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2841974972942481524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2841974972942481524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/12/keasyikan-ketekunan-dan-kualitas-hasil.html' title='KEASYIKAN, KETEKUNAN DAN KUALITAS HASIL'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxRKvGj0zTI/AAAAAAAAAug/of1wG6gM1zM/s72-c/tekun+(muslimdaily.net).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7575189991058624162</id><published>2009-11-29T19:10:00.009+07:00</published><updated>2009-11-29T20:19:47.798+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>MANTRA PENEMU</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxJ0HPuUmUI/AAAAAAAAAuY/vQjAdTacNkk/s1600/img_4036+(openinno.files.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxJ0HPuUmUI/AAAAAAAAAuY/vQjAdTacNkk/s320/img_4036+(openinno.files.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409513770254113090" /&gt;&lt;/a&gt;Siapa sesungguhnya yang telah membuat dunia ini semakin maju dari hari ke hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan jawab : Tuhan. Itu sudah kemutlakan. Saat ini kita sedang bicara pada ranah makhluk. Manusia; spesifiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah manusia-manusia pembawa perubahan. Bill Gates. Steve Job. Mark Zuckerberg. Nelson Mandela. Atau yang "beraroma jadul", seperti Mahatma Gandhi, Bunda Teresa, Thomas Alfa Edison, Wright bersaudara, Henry Ford, Einstein. Masih banyak lagi tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berbeda jaman, berbeda bidang pengerjaan, tak sama geografis, berlainan jenis kelamin, berlainan kondisi ekonomi dan kepemilikan akses kekuasaan. Tapi, pasti ada yang membuat mereka bisa berperan penting pada masanya, dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa tak puas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak. Ada keyakinan bahwa mereka bisa berbuat lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang "menyamakan" antar mereka, sekaligus membedakan dengan kita kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita seringkali berhenti pada rasa tak puas. Itu bagus, minimal lebih bagus daripada sekumpulan orang yang sekedar pasrah, tak ada inisiatif, bahkan mungkin tak punya opini. Apa yang ada di hadapannya-lah yang ia jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, langkah lanjutan berupa upaya agar dunia ini menjadi lebih baik adalah keniscayaan, yang akan membuat dunia ini benar-benar semakin lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah banyak orang bicara : inovasi, atau mati.&lt;br /&gt;Kata saya : dalam dunia yang terus berjalan ke depan, maka berhenti tak ada beda dengan berjalan mundur. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah begitu? Kita semakin tertinggal dari yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, pertanyaan tertuju pada kita. Apakah kita tak ingin menjadi bagian dari pencipta perubahan, dan bukan sekadar menjadi pelaku perubahan yang telah dirintis orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pencipta dan pelaku perubahan, sama-sama menjalani perubahan. Tapi pasti ada yang berbeda. Yakni, "derajat"-nya. Mana yang lebih tinggi? Pastilah si pencipta. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah. Dari buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Greatness Guide&lt;/span&gt; karya Robin Sharma, terungkap sebuah "mantra penemu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simaklah : "Musuh dari yang terbaik adalah yang baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bingung? Bagaimana sesuatu yang sudah baik masih bisa menjadi musuh?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuatu yang baik di sini, tak ubahnya sesuatu yang sudah mapan. Dan kemapanan terbukti seringkali membuat kita "tumpul", malas berinovasi, dan merasa puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, itulah "penyakit"! Penyakit bagi kemajuan yang berkesinambungan. Sementara, jelas kita ingin hidup ini semakin maju dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, mari kita selalu ingat "mantra penemu" itu. Dan mari, kita selalu coba untuk bisa menjadi bagian dari penciptaan perubahan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;--Judul posting ini, saya cuplik persis seperti judul bab di buku Robin Sharma di atas. Saya kesulitan dan merasa tak pantas untuk menyebutnya dengan istilah yang lain--&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://openinno.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7575189991058624162?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7575189991058624162/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7575189991058624162' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7575189991058624162'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7575189991058624162'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/11/mantra-penemu.html' title='MANTRA PENEMU'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxJ0HPuUmUI/AAAAAAAAAuY/vQjAdTacNkk/s72-c/img_4036+(openinno.files.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-911658199949437046</id><published>2009-11-29T05:18:00.008+07:00</published><updated>2009-11-29T06:02:37.122+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>MANUSIA MANFAAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxGpunbPUYI/AAAAAAAAAuA/lWn-4VFVrbE/s1600/3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 198px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxGpunbPUYI/AAAAAAAAAuA/lWn-4VFVrbE/s320/3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5409291245770985858" /&gt;&lt;/a&gt;Lahan itu tak seberapa luas. Hamparan itu pun tak semulus sebuah &lt;em&gt;green&lt;/em&gt; di lapangan golf. Ada sebuah onggokan semen yang membatu di sana. Ada lebih dari satu lubang menganga, yang pada akhirnya menegaskan bahwa adalah got kotor di bawah lahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi betapa orang sangat "merindukan"-nya. Betapa banyak insan yang menantikan "hak"-nya untuk bisa beraktivitas di atasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi dan siang hari, ia menjadi salah satu lahan parkir terbaik yang dimiliki deretan ruko di sana. Menjelang sore, ia akan dipenuhi lapak-lapak saudara-saudara pedagang pakaian, handuk, kaset, cd-vcd, kaus kaki, &lt;em&gt;underwear&lt;/em&gt;, aksesoris, dan lain sebagainya. Begitu malam berganti pagi, di sana sekumpulan pedagang sayur mengurai kedinginan dinihari dengan aktivitas jual beli yang melimpahkan mimpi kesejahteraan bagi penjualnya. Sampai pagi, di mana lahan tersebut kembali memulai siklus hariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh waktunya adalah manfaat. Seluruh denyut nadinya mengalirkan rahmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bayangkan, kita menjadi lahan itu. Begitu bahagianya kita jika mampu menebar manfaat sedemikian rupa. Betapa senangnya hati ini manakala bisa terus berbagi kepada sesama. Betapa gembiranya bisa menjadi makhluk yang senantiasa dirindukan dan dinantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia. Tak banyak manusia yang bisa memberikan dan menebarkan manfaat sepanjang nafas kesehariannya. Pagi menebar rahmat, siang menebar maslahat, sore menebar manfaat, malam berbagi kiat. Buah pikirnya, ucapannya, pandangannya, gerakan badannya, aktivitas formalnya, dan segala apa yang dilakukannya --bahkan tidurnya--, selalu dinantikan banyak makhluk karena tak pernah lepas dari aspek kemanfaatan bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya saya selalu terharu jika ada yang berdo'a atau mendo'akan, agar kita bisa semakin bermanfaat bagi banyak makhluk Tuhan. Bahkan bukan hanya pada satu jenis makhluk bernama manusia, tapi juga makhluk-makhluk lain seperti binatang, tumbuhan, juga makhluk tak hidup yang ada di sekeliling kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dari sebuah lahan di depan bangunan kantor sebagaimana yang saya ceritakan di atas, kita bisa berkaca. Apakah kita sudah bisa menjadi manusia yang senantiasa memberi manfaat bagi sekeliling kita? Bagi keluarga kita, anak-anak kita, tetangga kita, perusahaan kita, negara kita, dan bahkan tanaman di halaman rumah kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : Media Indonesia&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-911658199949437046?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/911658199949437046/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=911658199949437046' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/911658199949437046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/911658199949437046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/11/manusia-manfaat.html' title='MANUSIA MANFAAT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SxGpunbPUYI/AAAAAAAAAuA/lWn-4VFVrbE/s72-c/3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2991243396902914636</id><published>2009-08-04T05:17:00.008+07:00</published><updated>2009-08-04T05:45:14.924+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>INIKAH KE-INDONESIA-AN KITA?</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SndneTWP0mI/AAAAAAAAAtw/98inA10evF0/s1600-h/CIMG1938.JPG"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SndneTWP0mI/AAAAAAAAAtw/98inA10evF0/s400/CIMG1938.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365871251322557026" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Foto ini kuambil tanggal 03 Agustus 2009 kemarin. Di sebuah tempat yang sedemikian ramai, sesak dengan hingar bingar orang dan kerumunan aktivitas, pada sebuah siang yang terik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agustus. Bulan Agustus. Rasanya, sebagai orang Indonesia, kosa kata dan deretan huruf yang membentuk kata "Agustus" itu, segera saja mengingatkan benak akan suatu kemeriahan peringatan kemerdekaan. Kosa kata dan deretan huruf yang --segera saja--mengulik kebangsaan kita. Nasionalisme. Patriotisme. Kepedulian kepada negara. Seberapapun kecilnya. Seberapapun minimalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, jika pada Agustus ini engkau melihat foto di atas, adakah rasa nasionalisme-mu itu terusik?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bendera memang sekedar simbol. Tapi ia adalah simbol negara. Simbol sebuah entitas. Lambang sebuah kedaulatan, dan cermin sebuah kekuatan berdiri sebuah kelompok manusia dalam sebuah negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, benarkah sebegitu koyak Indonesia kita, sebagaimana koyaknya bendera Merah Putih-ku itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa aku berteriak? Karena kuyakin itu bukan simbol tentang betapa heroiknya kita ketika merebut kembali kemerdekaan. Kuyakin itu bukan lambang dari sebuah pengorbanan "seorang Indonesia" yang harus terkoyak-koyak hati dan fisik tubuhnya demi Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuyakin itu justru simbol ketidakpedulian kita akan negara ini saat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koyaknya bendera, koyaknya bangsa, yang justru timbul karena ketidakmautahuan kita atasnya. Keapatisan kita untuk peduli padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mengurus bendera saja tak berkenan, apa yang mau kita harapkan dari seorang anggota negara bagi bangsanya? Ketika mengurus hal yang kecil saja kita tak hirau, bagaimana kita mengurus kompleksitas dalam berbagai masalah negara?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat. Semua hal besar adalah akumulasi dari hal-hal yang kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mari kita pandangi foto di atas.&lt;br /&gt;Sekali lagi, okelah, mari kita sadari bahwa bendera memang sekedar simbol. Okelah, ia memang masih terus berkibar. Lambang sebuah ketegaran dan kekuatan tekad. Mungkin.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tapi juga sekali lagi, mari kita pikirkan dan yakinkan diri, apakah sekoyak dan selusuh itu Indonesia kita, dan sebegitu tak pedulikah kita semua pada negara ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Wallahua'lam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan untuk Agustus kita,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2991243396902914636?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2991243396902914636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2991243396902914636' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2991243396902914636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2991243396902914636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/08/inikah-ke-indonesia-kita.html' title='INIKAH KE-INDONESIA-AN KITA?'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SndneTWP0mI/AAAAAAAAAtw/98inA10evF0/s72-c/CIMG1938.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7905123916363852946</id><published>2009-08-02T04:33:00.013+07:00</published><updated>2009-11-29T18:13:33.958+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>SELALU SAJA HARUS MEMILIH</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SnS-6TKmvoI/AAAAAAAAAto/kakPOeyMw8I/s1600-h/Jalan+Tol+(www.investment.banten.go.id).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 258px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SnS-6TKmvoI/AAAAAAAAAto/kakPOeyMw8I/s320/Jalan+Tol+(www.investment.banten.go.id).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365122964891549314" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jamak orang bilang, hidup adalah pilihan. Lebih tepatnya : selalu saja ada pilihan dalam perjalanan hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rutinitas perjalanan fisik saya dari rumah ke kantor setiap harinya, menciptakan analogi yang meyakinkan pernyataan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah. Sejak menetapkan moda jalan yang mau ditempuh --apakah melalui jalan reguler atau jalan tol--, itu sendiri sudah merupakan suatu pilihan. Ketika memilih jalan tol, maka deretan lajur gerbang tol adalah pilihan berikutnya. Apakah kita akan masuk melalui gardu 1, gardu 2, atau gardu 3 misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sudah di dalam wilayah jalan tol, pilihan-pilihan terus dihadirkan ke hadapan kita. Mau eksis di lajur 1 yang notabene "lajur lebih lambat", atau mau masuk ke lajur 4 yang notabene "lajur lebih cepat". "Lajur pendahulu". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Logika dan penamaan lajur itu sendiri memang mengisyaratkan kecepatan yang bisa diakselerasi, sekaligus mengisyaratkan panjang pendek waktu yang dapat dilalui. Logikanya, dengan memilih lajur kanan yang merupakan lajur bagi para pendahulu kendaraan lain, maka kita akan sampai tujuan lebih cepat, karena kecepatan kendaraan bisa dimaksimalkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apakah senantiasa demikian hasilnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak. Dalam sebuah rentang tujuan, selalu saja ada pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kendaraan di depan kita belum mengoptimalkan laju kecepatan kendaraannya kendati sudah berada di lajur paling kanan, maka kita harus memilih. Mengikuti kecepatan kendaraan di depan kita, atau bergeser lajur untuk mendahuluinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita memutuskan untuk mendahului dari lajur kirinya, maka sesungguhnya kita sudah menempuh risiko yang lebih tinggi. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, risiko atas "terlanggarnya" peraturan. Karena, peraturan standard berbunyi : dahului kendaraan di depan Anda dari sisi kanan. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, risiko kekagetan seorang pengemudi yang didahului dari sisi kiri. Kalau Anda sering mengemudi, tentu bisa merasakan respon refleks dan keterkejutan otak serta otot tubuh kita yang sangat berbeda dengan ketika kita didahului dari sisi kanan --dalam konteks diserobot tak sopan sekalipun--. Kekagetan ini sendiri berpotensi risiko. &lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, risiko akibat laju kendaraan kita yang meningkat. Makin kencang kita berkendara, risiko bergerak linier dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, itu adalah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala kita sudah mengoptimalkan kecepatan, apakah itu berarti sebuah "garansi" kita akan sampai lebih dahulu di tujuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata tidak pula. Ketika rentang tujuan tersebut menghadirkan beberapa gerbang tol jangka pendek, maka kita kembali dihadapkan pada pilihan gardu. Lagi-lagi, gardu mana yang akan kita pilih sebagai pintu antrian, akan berkontribusi terhadap keseluruhan hasil proses perjalanan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda berkendara berkecepatan tinggi, menyalip kanan kiri dan --seingat Anda-- bahkan tak ada yang menyalip Anda, lalu tiba-tiba menyadari bahwa kendaraan-kendaraan yang Anda dahului tadi telah menampakkan bemper belakang mobilnya di depan Anda lagi, yang berarti mereka ternyata sudah ada di depan Anda kembali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha. Anda boleh jengkel, boleh keki, boleh masygul. Ke mana aja Anda selama itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, pilihan gardu tol lah yang mengkondisikannya. Anda ternyata "salah" memilih gardu tol, karena kebetulan gardu tol yang Anda pilih berantrian lebih panjang. Atau ternyata, pelayanan petugas tol di gardu Anda lebih lambat. Atau ternyata, ada sebuah mobil di deretan antrian Anda yang kehilangan kartu tolnya, sehingga terpaksa berurusan lebih lama secara administratif dengan penjaga pintu tol. Atau deretan pendek yang sudah Anda pilih, ternyata terdiri dari 8 kendaraan, sementara ada deretan yang terlihat lebih panjang, tapi sesungguhnya hanya terdiri dari 4 truk kontainer, sehingga antrian di tempat yang panjang tersebut justru lebih lancar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pilihan. Begitu juga di jalan reguler. Jalan reguler yang kini sudah banyak menyediakan lebih dari satu jalur berkendara, menghadapkan hal yang sama bagi kita : pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berhasil menyalip sekaligus lima sampai enam kendaraan dari lajur sebelah kiri, sekonyong-konyong kita harus "terjebak" dalam stagnasi berkendara karena sebuah angkot berhenti menunggu penumpang di ujung depan sana. Walhasil, lima sampai enam kendaraan yang telah kita dahului tadi kembali mendahului kita dengan kecepatan yang lansam, yang "sopan", dan tak tampak grusa-grusu atau "nafsu" sebagaimana ketika kita mendahului mereka sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha. Kembali Anda boleh jengkel, boleh keki, dan boleh masygul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, pilihan ternyata selalu ada di hadapan Anda, setiap waktu, setiap saat, pada setiap jengkal kemajuan dan setiap jengkal proses perjalanan. Keberanian berkendara kencang, kemampuan kendaraan yang dibekali kecanggihan akselerasi, tak selamanya menjamin kecepatan mencapai tujuan. Ia --bagaimanapun-- sekedar item pendukung dan bagian dari ikhtiar kita. Kecermatan memilih justru menjadi bagian penting yang luar biasa menentukan. Sehingga, jangan pernah heran bahwa seorang bapak tua yang tampaknya sudah renta untuk menjadi "pembalap", menggunakan mobil butut yang tampaknya tak layak untuk bisa disebut "mobil cepat", ternyata bisa lebih dulu sampai ke tujuan yang sama dengan kita. Asam garam menentukan pilihan dalam proses perjalanan kehidupan, itulah yang membuat sang bapak menjadi "juara" dan "mengalahkan" kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah. Kearifan dan ketepatan memilih dalam segala apa di depan kita, itulah intisari perenungan hari ini. Semoga memperkaya dan mencerahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.investment.banten.go.id&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7905123916363852946?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7905123916363852946/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7905123916363852946' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7905123916363852946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7905123916363852946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/08/selalu-saja-harus-memiliih.html' title='SELALU SAJA HARUS MEMILIH'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SnS-6TKmvoI/AAAAAAAAAto/kakPOeyMw8I/s72-c/Jalan+Tol+(www.investment.banten.go.id).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-6782873386580467029</id><published>2009-05-10T04:37:00.005+07:00</published><updated>2009-08-04T05:59:45.173+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>BULAN YANG MURAM</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SgX-4H3vwmI/AAAAAAAAAtg/OaFfGi7M7FU/s1600-h/bulan+(eriek.files.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 246px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SgX-4H3vwmI/AAAAAAAAAtg/OaFfGi7M7FU/s320/bulan+(eriek.files.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5333949573829214818" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;(Minggu (10/05/09) dini hari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bulan tampak muram//padahal sinarnya penuh//bulat tanpa cacat yang mencecap&lt;br /&gt;Sebuah wajah terlihat buram//padahal dia cantik//padahal dia tampan&lt;br /&gt;Suram pula masa depan//padahal ia ada//padahal dia nyata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Lantas, apa yang membuat mereka tampak muram, buram dan suram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan, bukan bulan yang muram. Bukan wajah perempuan ataupun laki-laki itu yang buram, dan bukan gambaran masa depan kita yang suram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan-jangan, kita sendiri yang membuat bulan itu jadi tampak muram, wajah seseorang terlihat lebih buram, dan masa depan kita menjadi bayangan suram yang seram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+&lt;br /&gt;Bulan yang bersinar penuh dan bulat, tampak muram karena adanya mendung di dekat permukaan bumi. Karena ada awan pekat di atas kita yang menimpali. Jauh dari permukaan bulan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, bukan bulan yang sebenarnya muram, tapi karena kita yang membiarkan mendung dan awan pekat menutupi pandangan kita. Sang bulan sendiri, tetap memantulkan cahaya matahari dengan sepenuh hati dan tawa riang gembira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;++&lt;br /&gt;Wajah sang kawan, tak ada yang menampik bahwa ia cantik. Tak ada yang mengelak bahwa ia tampan. Lantas, kenapa terlihat buram?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, karena hati kita yang iri, karena ia baru beroleh prestasi. Ternyata, karena hati kita dengki, karena ia lebih banyak dipuji. Sementara kita? Belum tampak prestasi, belum layak dipuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, wajah mereka menjadi buram, karena tertutup oleh rasa tak simpati yang kita ciptakan sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;+++&lt;br /&gt;Masa depan yang tampak suram, karena kita tak percaya diri menghadapinya. Nasib buruk hari ini, seolah identik dengan nasib di masa mendatang. Padahal ia bisa berubah. Padahal ia bisa diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan tak ada yang suram, bila kita bisa melihatnya dengan keoptimisan. Jika kita bisa hadapi dengan keyakinan. Keuletan. Kerja keras. Kerja cerdas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa depan yang suram, ternyata tercipta oleh perasaan dan keyakinan yang tak benar oleh kita sendiri. Sementara sang masa depan, sesungguhnya siap memberi kenyamanan dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Maka, singkirkan mendung dan awan pekat yang menutupi bulan itu. Buanglah rasa iri dan dengki yang membuat fitnah kejelekan di wajah sahabat itu. Kuburlah rasa pesimis dan ketidakyakinan kita atas masa depan yang gemilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu lihat dan rasakan. Sinar sang bulan akan bisa kita terima penuh dalam kehangatan. Wajah semua orang akan terlihat cantik, tampan dan mengesankan. Masa depan, menjadi harapan yang menggembirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://eriek.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-6782873386580467029?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/6782873386580467029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=6782873386580467029' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6782873386580467029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6782873386580467029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/05/bulan-yang-muram.html' title='BULAN YANG MURAM'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SgX-4H3vwmI/AAAAAAAAAtg/OaFfGi7M7FU/s72-c/bulan+(eriek.files.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1002540687749843628</id><published>2009-05-04T05:11:00.007+07:00</published><updated>2009-08-04T06:00:55.463+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>ALASAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sf4gCW3efRI/AAAAAAAAAtY/Itm6vFJLXbc/s1600-h/tekad+(4.bp.blogspot.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 316px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sf4gCW3efRI/AAAAAAAAAtY/Itm6vFJLXbc/s320/tekad+(4.bp.blogspot.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5331734233723338002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebuah inspirasi dari &lt;em&gt;Reader Digest &lt;/em&gt;edisi Mei 2009, yang mengutip kata-kata Dr. Daniel T. Drubin :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap alasan yang pernah saya dengar, masuk akal bagi orang yang membuatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... kecut senyum saya ketika membacanya. Bukan mencibir, tapi justru karena bener banget rasanya. Semua alasan itu masuk akal. Di mata siapa? Di mata si pembuat alasan itu sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya? Artinya, ya belum tentu masuk akal bagi orang yang lain....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah alasan capek itu membuat orang bisa memutuskan untuk sebuah janji penting yang telah terjadwal sebelumnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa, dan masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata siapa? Di mata yang buat alasan dong. Lha di mata "lawan janji"-nya, yang telah bela-belain menyiapkan waktu dan bahkan menomorduakan keluarga untuk sementara pada &lt;em&gt;weekend&lt;/em&gt; itu? Di mata para penepat janji yang senantiasa berprinsip bahwa janji adalah hutang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kesiangan. Apakah alasan tidur terlampau malam --bahkan masuk kepada dini hari-- bisa menjadi alasan bagi keterlambatan kita ke kantor?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa. Masuk akal? Masuk akal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mata siapa? Ya di mata yang terlambat dong. Lha di mata atasannya yang sangat disiplin? Lalu, ketika dicermati lagi bahwa keterlambatan tidurnya bukan karena lembur pekerjaan ekstra tapi "hanya" karena menuruti hobi nonton bola atau sekedar keasyikan ber-&lt;em&gt;facebook&lt;/em&gt; hingga lupa waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu alasan itu menjadi sulit untuk diterima. Meskipun, tetap masuk akal bagi si pembuat alasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, benar sekali kata Dr. Drubin tadi. Alasan, selalu dianggap masuk akal oleh si pembuat, tapi belum tentu bagi orang lain. Terlebih lagi bila ketidaktepatan berkomitmen itu menyebabkan kerugian pada orang lain tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat tulisan Mas Fauzi Rachmanto *), seorang pebisnis sekaligus pembaca dan penulis yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ia "bicara" tentang CEM. &lt;em&gt;Chronic Excuse Making&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu? CEM adalah "penyakit" membuat alasan yang kronis. Disebut kronis, karena baginya selalu saja ada alasan untuk sesuatu yang tidak dikerjakan semestinya. Yang laptopnya "sok" rusak-lah ketika diminta membuat laporan, yang nggak ada mobil-lah ketika diminta mengunjungi klien, yang kena macet-lah Senin pagi itu, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya kita bisa ke rental atau menggunaan PC kantor untuk membuat laporan?&lt;br /&gt;Bukannya kita masih bisa memanfaatkan angkutan umum untuk menemui sang klien?&lt;br /&gt;Bukannya kemacetan Senin pagi merupakan sesuatu yang klasik, yang mestinya bisa kita hindari dengan berangkat lebih pagi dibanding hari yang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pengidap CEM selalu berlindung di balik alasan-alasan, untuk menutupi hal-hal yang tidak mau atau tidak mampu ia kerjakan. Seolah-olah, dengan menyampaikan &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;, maka kewajiban yang harus dilaksanakan sudah terselesaikan. Begitu tegas Mas Fauzi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, tak bolehkah ada yang namanya "alasan" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu boleh. Ada batasan-batasan tertentu yang memungkinkan sebuah alasan dikedepankan. Kapan itu? Saya sependapat dengan Mas Fauzi, yakni : ketika kita sudah berusaha sampai limit teratas kita pada saat itu. Ketika kita sudah berusaha maksimal. Ketika kita sudah berupaya sepenuh jiwa dan tenaga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau memang dalam satu wilayah yang kebetulan kita tinggali pada saat itu tak ada rental komputer, tak mungkin menjangkau kantor dalam satu hari perjalanan, tak ada orang lain yang memungkinkan untuk kita pinjami PC atau laptop lain, bahkan tak ada mesin ketik manual, atau memang laporan tersebut tidak memungkinkan untuk dibuat secara manual tangan, silakan ber-&lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah memang domisili sang klien tidak mungkin dijangkau dengan menumpang mobil lain, memakai sepeda motor, angkutan umum, taksi, atau bahkan dengan ojek sekalipun, silakan ber-&lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sudah &lt;em&gt;prepare&lt;/em&gt; menjelang Senin pagi, berangkat tidur lebih awal, membunyikan alarm agar bangun lebih pagi, menyiapkan segala sesuatunya sejak Minggu sore dan berbagai persiapan lainnya, lantas kita terhadang kemacetan panjang akibat adanya kecelakaan maut yang membuat kita terjebak di dalam kerumunan massa, di situ mungkin &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt; bisa disampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, persis seperti yang dikatakan Mas Fauzi. Ada dua"resep" untuk menghindari penyakit CEM ini. &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, ingat selalu bahwa &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt; tidak dapat menggantikan hasil akhir. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, cobalah sampai limit kita dahulu, sebelum menyampaikan &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, alasan selalu masuk akal, hanya bagi orang yang membuatnya. Ingat juga, bahwa banyak pengalaman yang menunjukkan bahwa CEM adalah penghilang kesempatan untuk maju, pembuang peluang untuk menjadi besar, dan penghalang sejati bagi kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) http://fauzirachmanto.blogspot.com/2008/08/cem.html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi : http://4.bp.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1002540687749843628?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1002540687749843628/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1002540687749843628' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1002540687749843628'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1002540687749843628'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/05/alasan.html' title='ALASAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sf4gCW3efRI/AAAAAAAAAtY/Itm6vFJLXbc/s72-c/tekad+(4.bp.blogspot.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1436615678393307250</id><published>2009-04-30T04:53:00.008+07:00</published><updated>2009-08-04T06:01:31.060+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>PROSES</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SfjaFfvC1YI/AAAAAAAAAtQ/MlhPQUZjiVo/s1600-h/Steps+(www.adaevidencelibrary.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SfjaFfvC1YI/AAAAAAAAAtQ/MlhPQUZjiVo/s320/Steps+(www.adaevidencelibrary.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5330249946946000258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Mari kita menikmati proses, dan bersyukur!"&lt;br /&gt;Ini ajakan posting kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan berangkat kerja yang menciptakan pergantian suasana membuat saya teringat beberapa hal. Satu di antaranya adalah : kebahagiaan menikmati proses. Menikmati langkah demi langkah yang mau tak mau harus kita lalui dalam sebuah pencapaian tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan tol Cawang-Cibitung, misalnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimulai dari kilometer 0 (nol) di Cawang, terus berjalan ke arah Cikampek, guna menuju sebuah tujuan : &lt;em&gt;exit&lt;/em&gt; tol Cibitung, di seputaran kilometer 24.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan sudah jelas. Yakni, &lt;em&gt;exit&lt;/em&gt; tol Cibitung. Perkiraan waktu pun sudah jelas. Lebih kurang, maksimal 30 menit perjalanan santai. Di luar kejadian &lt;em&gt;force majour&lt;/em&gt; tentunya. Tekad pun sudah terangkai bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, mari kita nikmati proses. Tengoklah panduan kilometer yang terpasang pada pagar pembatas antara jalur tol Cawang-Cikampek dan Cikampek-Cawang. Kilometer nol! Dan, perjalanan menuju tujuan pun kita mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua ratus meter berjalan. 0/200. Artinya, kilometer ke-0 meter ke-200. Maju lagi, 0/400. Kilometer ke-0 meter ke-400. Artinya, perjalanan kita sudah maju 200 meter lagi. Begitu seterusnya. Kilometer 1. Kilometer 2. Kilometer 3..., 3/400..., 5/600..., 7/800..., 11/600..., terus..., teruuus..., dan terus nikmati perjalanan 200 meter demi 200 meter untuk menuju kilometer ke-24!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmati setapak demi setapak langkah itu...&lt;br /&gt;Sadari betapa menyenangkannya 200 meter demi 200 meter yang bisa kita raih dan kita capai dalam tahap demi tahapnya....&lt;br /&gt;Syukuri kilometer demi kilometer yang telah kita lewati dalam rangka menuju tujuan kita di kilometer 24....&lt;br /&gt;Yakinkan diri bahwa tujuan itu akan bisa kita capai dengan meneguhkan tekad dan pemahaman, bahwa kilometer ke-24 akan kita capai setelah kita lalui 200 meter demi 200 meter..., kilometer demi kilometer..., dan satu demi satu....&lt;br /&gt;Sembari pastikan bahwa ketika kita berhati-hati, tak perlu terburu-buru karena cukupnya waktu pencapaian tujuan, kita akan sampai pada tujuan tersebut dalam waktu yang juga telah diperkirakan. Maksimal, 30 menit!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nikmat sekali rasanya! Itu yang saya rasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau ketika Anda yang tinggal di Jakarta berencana ke Semarang lewat jalur utara Jawa. Nikmati &lt;em&gt;step by step&lt;/em&gt; yang pastinya akan Anda lalui. Cikampek, Indramayu, Cirebon, Brebes, dan seterusnya, sampai ke tujuan akhir di Semarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali, cobalah sandingkan peta kendati Anda tidak memerlukan peta lagi karena sudah sangat hafal jalur yang akan Anda lalui itu. Coretlah kota demi kota yang ada pada jalur perjalanan Anda, satu demi satu, maka Anda akan bisa melihat lebih jelas bahwa, "&lt;em&gt;Oo.. saya sudah menempuh seperempat jarak perjalanan menuju Semarang&lt;/em&gt;." Bahwa, "&lt;em&gt;Alhamdulillah, saya sudah menempuh separuh perjalanan dari pencapaian tujuan saya : Semarang&lt;/em&gt;." Bahwa, "&lt;em&gt;Puji Tuhan, tinggal beberapa kota kecamatan lagi yang harus saya lalui untuk menuju goal saya : Semarang. Terima kasih, Tuhan...&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, nikmatilah proses!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka setidaknya kita akan punya beberapa hal :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, kita akan selalu diyakinkan, bahwa proses yang kita lalui adalah benar menuju tujuan yang telah ditetapkan. Ketika perjalanan ini dimulai dari nol dan tujuan kita adalah 24, maka pergerakan mulai dari angka 0, kemudian 1, lalu 2 dan seterusnya adalah sebuah indikasi bahwa kita melangkah maju dan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kita sudah sampai kilometer 14 dan berikutnya kita lihat bahwa kita justru kembali berada pada kilometer 12, berarti ada yang salah. Kita mundur! Lalu, cobalah periksa, apa yang salah? Jangan-jangan kita salah arah? Jangan-jangan perjalanan ini melenceng dari tujuan yang telah ditetapkan? Jika benar bahwa kita salah arah, maka perbaiki langkah kita, dan pastikan kita kembali menuju &lt;em&gt;track&lt;/em&gt; yang benar ke arah tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kita akan tahu, sampai di mana kita dalam konteks perjalanan mencapai tujuan itu. Kita bisa gunakan "petunjuk kilometer" tadi sebagai bahan evaluasi jangka pendek.&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Ah, kita masih harus banyak berjuang!&lt;/em&gt;" &lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Alhamdulillah, sudah separuh lebih perjalanan kita!&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Tinggal sedikit lagi, maka saya akan mencapainya!&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran bahwa kita menuju tujuan yang benar, akan semakin membangkitkan semangat kita dalam mewujudkan tujuan itu. Kesadaran bahwa semakin hari kita semakin dekat dengan tujuan kita, akan memompakan adrenalin luar biasa yang semakin memacu gelora semangat untuk menggapai tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, kesyukuran. Dengan "mengevaluasi" langkah demi langkah dalam perjalanan kita, maka kita bisa merasakan bahwa kasih sayang Tuhan mengiringi perjalanan mencapai tujuan ini. Karena hanya dengan petunjuk dan keridloan-Nya, langkah demi langkah itu bisa kita lampaui. Tak ada 200 meter berikutnya jika Tuhan memang tidak berkehendak untuk kita. Dua ratus meter, sangat cukup bagi Tuhan untuk menghentikan perjalanan kita. Tuhan bisa beri kita kecelakaan. Tuhan bisa beri kita kerusakan mesin. Tuhan bisa beri kita ban yang kempes. Dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selalu ada wilayah kekuasaan Tuhan dalam setiap langkah kita. Dan itu adalah hak prerogatif Tuhan! Mau diberikan sebagai ujian, mau diberikan sebagai hukuman, atau bahkan mau diberikan sebagai anugerah, itu rahasia Tuhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, tanpa ridlo Beliau, tak akan ada pencapaian berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran perjalanan di atas, sama sekali tak beda dengan perjalanan hidup kita. Kita punya tujuan, dan sesungguhnya kita punya "peta" tentang apa-apa yang harus kita lalui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pecahlah" tujuan hidup ini dalam sebuah "tujuan-tujuan kecil". Tujuan-tujuan jangka pendek. Kalau tadi kita harus menempuh 24 kilometer, pecahlah tujuan tersebut menjadi "kita harus menuju kilometer 1". Menjelang sampai, tetapkan tujuan jangka pendek berikutnya : kilometer 2. Besyukurlah ketika kita mencapai kilometer 1, dan mulailah perjalanan selanjutnya. Begitu seterusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui tujuan-tujuan hidup jangka pendek yang tetap terkerangka dalam upaya pencapaian tujuan jangka panjang itulah, kita akan bisa menikmati proses, dan mendapatkan --setidaknya-- tiga hal di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.adaevidencelibrary.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1436615678393307250?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1436615678393307250/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1436615678393307250' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1436615678393307250'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1436615678393307250'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/proses.html' title='PROSES'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SfjaFfvC1YI/AAAAAAAAAtQ/MlhPQUZjiVo/s72-c/Steps+(www.adaevidencelibrary.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-601668767689367416</id><published>2009-04-13T05:59:00.005+07:00</published><updated>2009-04-13T06:45:48.771+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>BERKORBAN?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeJ2zyok8PI/AAAAAAAAAtI/Jrd8DEDzL0Q/s1600-h/memberi+(media.photobucket.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 271px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeJ2zyok8PI/AAAAAAAAAtI/Jrd8DEDzL0Q/s320/memberi+(media.photobucket.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323948341642719474" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam tadi, saya dengar dari Mario Teguh, “Berkorban itu sesungguhnya lebih untuk menambah kemuliaan bagi diri kita sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan –dalam bahasa saya-- : kalau kita memberikan sebagian harta kita untuk zakat, infaq, sodaqoh, sebenarnya kita justru sedang membayar kewajiban dalam rangka “membersihkan” harta kita, sehingga apa yang kita miliki menjadi barokah bagi kita. Dengan “kesyukuran” yang justru sering salah kaprah kita sebut dengan “pengorbanan” itu, kita berhak menunggu janji Tuhan : bersyukurlah, maka akan Ku-tambahkan nikmatmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, ketika kita “berkorban” untuk anak istri atau keluarga kita, kepada siapa sesungguhnya kebahagiaan itu akan kembali? Tak hanya kepada mereka yang kita “korbani”, bukan? Namun juga pada kita. Bahkan, seringkali perumpamaan seorang tua mengatakan, ”Meskipun kita lapar, betapa bahagianya melihat wajah anak-anak kita yang ceria karena mereka bisa menikmati nasi bungkus yang kita bawa pulang, yang sesungguhnya merupakan jatah lembur kita di kantor....”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, adakah ”pengorbanan” itu yang sebenarnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sepakat, bahwa istilah ”pengorbanan” sejatinya muncul karena adanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;negative mindset&lt;/span&gt; yang mengatakan bahwa pengorbanan identik dengan sebuah pengurangan. Istilah ”berkorban”, bahkan seringkali mengandungkan sebuah unsur ”keterpaksaan”; betapapun kecilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memberikan sebagian rizki kita kepada sesama, maka yang di-&lt;span style="font-style:italic;"&gt;mindset&lt;/span&gt;-kan adalah harta kita akan berkurang. Jika kita sebagai seorang kepala rumah tangga memberikan waktu dan tenaga kita untuk bekerja demi keluarga, maka kita katakan bahwa kesempatan untuk diri kita sendiri menjadi berkurang karenanya. Jika kita relakan sesuatu yang kita miliki kepada kekasih kita, maka kita menyebutnya bahwa kita telah berkorban untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, semua itu adalah ”kewajiban”. Tak ada pengurangan di sana. Siapapun yang memiliki harta dunia, memang diwajibkan menyisihkan sebahagiannya, karena dalam hartanya terdapat hak orang lain. Barang siapa berani mengajak berkeluarga hingga berketurunan, maka kewajibannyalah mencarikan nafkah bagi orang-orang yang kepadanya “dititipkan” kehidupannya. Bagi yang ingin mendapatkan keberlanjutan hubungan cinta dengan sang kekasih, maka wajib baginya untuk memberi dan melindungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, bagaimana kalau kita ganti kata “berkorban” dengan “kewajiban untuk memberi”? Ketika kewajiban itu dimaknai sebagai keharusan yang datangnya dari Sang Maha Pemberi Rizki, Sang Maha Pemberi Nafkah, Sang Maha Pemberi Cinta, maka kita bisa lepaskan unsur keterpaksaan. Serasa tak ada yang perlu ”dikorbankan” di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ini hanyalah ”jalan rizki” bagi orang-orang yang mungkin saat ini sedang kekurangan. Kita ini adalah ”sarana” bagi kenyamanan hidup yang memang telah menjadi ”jatah” dari Tuhan untuk anak istri kita. Kita sekedar ”saluran” cinta kasih dan perlindungan yang memang seharusnya menjadi hak bagi kekasih kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak perlu ada pamrih memang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada konteks bahwa memberi adalah untuk meningkatkan kemuliaan diri, memang seolah ada sesuatu yang ”rancu”. Ketika ketanpapamrihan itu merupakan sesuatu yang akan kembali kepada kita, maka ia semestinya disebut dengan ”ikhtiar”. Upaya. Bukan pengorbanan. Upaya yang disertai dengan sebuah keikhlasan, di mana nantinya akan kita lengkapi dengan kepasrahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhtiar untuk apa? Untuk membahagiakan diri kita sendiri, melalui kebahagiaan orang lain. Sekali lagi, melalui kebahagiaan orang lain. Bukan penderitaan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Repotnya, saat ini banyak orang merasa bahagia karena merasa berhasil mengalahkan orang lain. Banyak caleg yang merasa begitu senang karena ia berhasil terpilih dan menyisihkan saingan-saingannya, bahkan dalam satu partainya sendiri. Banyak pengusaha yang merasa bahagia karena berhasil membuat bangkrut rival bisnisnya, sehingga ia bisa sendirian berkarya sebagai &lt;span style="font-style:italic;"&gt;leader&lt;/span&gt; di bidangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mestinya, si caleg baru bisa berbahagia ketika ia bisa benar-benar mengabdikan dirinya bagi nusa bangsa, dan membuat rakyat di negara ini menjadi makmur sejahtera. Kenapa sih, si pengusaha tidak berbahagia ketika ia justru bisa mengangkat harkat martabat sesama pengusaha untuk bersama-sama menjadi kumpulan pengusaha yang sukses?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://media.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-601668767689367416?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/601668767689367416/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=601668767689367416' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/601668767689367416'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/601668767689367416'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/berkorban.html' title='BERKORBAN?'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeJ2zyok8PI/AAAAAAAAAtI/Jrd8DEDzL0Q/s72-c/memberi+(media.photobucket.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1324743408325598888</id><published>2009-04-12T04:14:00.011+07:00</published><updated>2009-04-12T05:45:26.275+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>POTRET</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeEcTMg_K6I/AAAAAAAAAtA/JYnRe4JqnB4/s1600-h/pemulung+(www.swaberita.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 217px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeEcTMg_K6I/AAAAAAAAAtA/JYnRe4JqnB4/s320/pemulung+(www.swaberita.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5323567350631312290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ketika membolak-balik halaman buku &lt;em&gt;Sangguru; Menyapa Hati&lt;/em&gt;-nya Aribowo Suprajitno Adhi (2009), saya terpancang pada sebuah grafis ilustrasi beserta esai penjelasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi berupa gambar seorang ibu yang berjalan terbungkuk-bungkuk karena membawa beban berat berupa tumpukan tinggi kardus bekas di punggungnya. Sekilas, kita akan sampai pada kesimpulan yang nyaris sama : ibu itu seorang pemulung, yang hidupnya berkesusahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, esai penjelasannya bertuliskan kalimat yang sangat bijak : jika kita hanya melihat gambar tersebut, maka bisa jadi yang muncul adalah rasa kasihan, dan hidup si ibu yang tampak tak bahagia. Tapi, kesan ini bisa sangat lain ketika pada sore hari kita melihat sang ibu bersuka cita, bercengkerama bersama keluarganya. Hanya kebahagiaan dan kesukacitaan yang nampak pada keluarga itu, lepas dari kondisi ekonominya yang mungkin morat marit, karena kebahagiaan sesungguhnya memang tak selalu hadir seiring sejalan dengan kelimpahan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu satu pelajaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran kedua, berasal dari "kesimpulan" yang penulis buku itu sampaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap potret atau &lt;em&gt;snapshot&lt;/em&gt; kehidupan tidak bisa menjadi kesimpulan hidup yang kita jalani," tulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar juga! Kita tidak bisa memandang keseluruhan hidup si ibu tadi hanya dengan satu jepretan dan satu kali pandangan saja. Kita mungkin saja tak tahu, bahwa prosentase kebahagiaan dalam hidupnya selama 1 x 24 jam jauh didominasi kebahagiaan daripada "penderitaan" yang terlihat kasat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, apa yang terlihat kasat mata itu pun bisa jadi salah. Benarkah si ibu sangat merasa terpaksa ketika menjalani "ritual"-nya berupa mengumpulkan kardus bekas sebagaimana pemulung lainnya, dan lantas kemudian menjualnya kepada pengepul barang bekas? Sangat bisa jadi kita salah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menyadari bahwa perjuangan mencari nafkah adalah sebuah ibadah dan konsekuensi untuk membahagiakan keluarga, maka seseorang akan bisa dengan sangat bahagia melakukannya. Ada keikhlasan di sana. Ada kerelaan yang menguatkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, bahagia tidaknya hidup seseorang, tak bisa kita lihat dari sepotong potret kehidupannya saja. Terlebih lagi, jika potret itu adalah potret dua dimensi yang tak mampu menjelaskan seperti apa isi hati obyek jepretan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tak bisa menjelaskan "dimensi ketiga", sebuah potret juga sekedar merupakan potongan suatu fase dalam kehidupan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dalam potret itu kita terlihat kurus, apakah akan selalu demikian sepanjang hidup kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sebuah "potret" menggambarkan kesusahan hidup Anda di masa lalu, apakah potret itu akan selalu sama dengan gambaran Anda yang saat ini sudah hidup layak dan mapan secara ekonomi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, apakah ketika dalam potret masa lalu kita yang terlihat penuh kemakmuran, juga akan senantiasa terlihat samakah dengan potret kita saat ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum tentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret juga hanyalah sebuah penggalan episode kehidupan, yang tak bisa disimpulkan akan menjadi gambaran kondisi kita sepanjang waktu kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh kasus yang menunjukkan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sahabat --Hendrik Lim-- berkisah dalam bukunya &lt;em&gt;rehat dulu lah&lt;/em&gt;... (2007). Ia memiliki seorang kawan yang ter-PHK berkali-kali, namun justru menjadikannya semakin sukses. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah perusahaan pembiayaan yang tak terlampau besar, si kawan ter-PHK akibat krisis moneter. Terpaksa ia menganggur. Namun, dari pesangon yang tak terlampau mengecewakan, justru ia mampu melunasi kredit kepemilikan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ia masuk ke sebuah bank milik Bakrie Group. Beberapa tahun kemudian, bank tersebut terpaksa diserahkan kepada BPPN. Si kawan pun terpaksa menganggur kembali. Namun, ajaibnya, pesangonnya sangat manis, sehingga si kawan ini justru bisa melunasi kredit mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib baik terus berpihak. Ia termasuk yang direkrut oleh BPPN, dengan status pekerja kontrak lima tahun. Ketika BPPN dilikuidasi oleh pemerintah, ia kembali menerima pesangon yang menggembirakan. Ia bahkan pindah rumah ke sebuah kawasan yang jauh lebih elite.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib baik terus menaungi si kawan ini. Dari BPPN, ia termasuk orang yang direkrut sebagai staf ahli PPA, lembaga "penerus" BPPN. Saat ini, olah raganya sudah berganti menjadi golf, mobilnya sudah berganti menjadi Mercy. Padahal ketika di perusahaan pertama, ia terpaksa lebih banyak naik ojek!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, tak ada kesimpulan yang bisa dibuat dengan satu &lt;em&gt;snapshot&lt;/em&gt; saja. Satu kepingan &lt;em&gt;puzzle&lt;/em&gt;, tak bisa menggambarkan seperti apa gambar utuh &lt;em&gt;puzzle&lt;/em&gt; tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita punya banyak contoh di sekitar kita. Baik tentang orang yang "tak terlihat sebagaimana dia terlihat" --seperti ibu tadi--, ataupun seseorang yang berubah nasib secara signifikan dalam hidupnya --seperti kawan rekan Hendrik Lim tadi--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, jangan pernah menyimpulkan apapun, hanya dari selembar potret saja. Ada rahasia dan kekuatan Tuhan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi ; http://www.swaberita.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1324743408325598888?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1324743408325598888/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1324743408325598888' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1324743408325598888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1324743408325598888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/potret.html' title='POTRET'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SeEcTMg_K6I/AAAAAAAAAtA/JYnRe4JqnB4/s72-c/pemulung+(www.swaberita.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-4587211082695413580</id><published>2009-04-09T05:43:00.011+07:00</published><updated>2009-04-12T05:42:41.522+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>MENGALAHKAN DIRI SENDIRI</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sd04wlwCwcI/AAAAAAAAAsw/3z3gvPO96YY/s1600-h/Randy+Pausch+(a.abcnews.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sd04wlwCwcI/AAAAAAAAAsw/3z3gvPO96YY/s320/Randy+Pausch+(a.abcnews.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5322472742040289730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kalaulah ada pertanyaan : diri kita sendiri ini, musuh ataukah sahabat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita sering mendengar anjuran, "Cobalah bersahabat dengan diri Anda sendiri", apakah itu berarti pada suatu ketika diri kita ini adalah "musuh" kita sendiri? Mungkinkah kita bisa bermusuhan dengan diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sekedar menjawab pertanyaan yang secara harfiah membingungkan itu, kita pasti akan bingung juga. So, mungkin hal itu lebih enak kalau diperjelas dengan contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kuliah, saya indekost. Demi melihat seorang teman kost --kebetulan si teman ini masih kelas 3 SMA-- tak pernah mau belajar, bahkan terus saja menuruti keinginannya untuk bermain, nonton, dan sebagainya meskipun dalam waktu sangat dekat akan menghadapi ujian akhir, saya heran. Padahal juga, "historikal" hasil pendidikannya selama kelas 1 sampai dengan kelas 3 tidak pernah menunjukkan prestasi yang boleh dikata baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, saya menulis sebuah esai sederhana, yang ketika iseng saya kirim ke Harian &lt;em&gt;Suara Merdeka&lt;/em&gt;, dimuat di rubrik "Esai Lepas" pada tanggal 25 Mei 1997. Judulnya sama dengan judul posting kali ini : &lt;em&gt;Mengalahkan Diri Sendiri&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam esai itu, saya mengatakan bahwa ada satu hal yang seringkali sangat berat untuk kita jalani, yakni yang saya sebut dengan "&lt;em&gt;mengendalikan keinginan, kehendak dan nafsu untuk melakukan sesuatu, yang sekiranya akan menghambat cita-cita&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan contoh kasus teman saya di atas, saya katakan bahwa teman tersebut tidak bisa mengalahkan keinginan untuk terus bermain yang tak bermanfaat, nonton yang semestinya bukan kebutuhan pokok atau minimal bisa ditunda terlebih dahulu, padahal kegiatan yang pada akhirnya dipilihnya itu bisa jadi membuat dia gagal dalam ujian akhir sekolahnya. Ketika itu gagal, maka sebuah cita-cita yang saya yakin sebenarnya ada tercetak dalam benak dia, akan terhambat pencapaiannya, atau bahkan sama sekali hanya jadi mimpi di siang bolong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dalam &lt;em&gt;case&lt;/em&gt; tersebut, saya mengatakan bahwa teman saya tadi belum bisa mengendalikan keinginan dirinya untuk sesuatu yang jauh lebih penting. Pendek kata, ia belum bisa mengalahkan dirinya sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali tersentak oleh pentingnya kesadaran itu ketika dini hari tadi saya mulai membaca buku &lt;em&gt;The Last Lecture&lt;/em&gt; (Pesan Terakhir) karya Randy Pausch. Seorang profesor di Carnegie Mellon University, yang dibantu Jeffrey Zaslow --kolumnis di &lt;em&gt;Wall Street Journal&lt;/em&gt;-- dalam penulisan bukunya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pausch, divonis bahwa usianya tinggal 6 bulan. Itu akibat kanker prankeas yang dideritanya. Ada sepuluh tumor yang menghinggapi levernya. Tapi lihatlah apa yang ia perbuat dalam "jatah hidup"-nya yang tinggal sedikit itu. Ia sama sekali tidak menyerah, dan justru mampu memanfaatkan waktu yang sempit itu menjadi sebuah prestasi yang luar biasa, yang membuat hidupnya jauh lebih baik, dan bahkan menginspirasi banyak sekali orang di dunia ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Poin utama yang saya peroleh adalah : Pausch tidak pernah menyerah, dan tidak pernah mau "mengalah" pada dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski mudah saja kalau saya mau mengasihani diri, itu tidak ada baiknya untuk mereka, termasuk diri saya," kata Pausch.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mereka" yang dimaksudkan dalam kalimat Pausch tadi adalah istri dan ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cerita yang nyaris serupa, bahwa prestasi terbaik seringkali diperoleh justru dalam kondisi yang penuh keterbatasan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kisah pernah saya angkat dalam posting-posting saya. Kisah Ryan Farrington, seorang pelari muda Inggris yang sesungguhnya menderita distonia (&lt;em&gt;posting tanggal 29/12/2008&lt;/em&gt;); Natalie du Toit, perenang maraton asal Afrika Selatan yang hanya memiliki satu kaki. Juga Maarten van der Weijden, perenang Belanda yang memperoleh emas dalam nomor renang 10 km maraton di Olimpiade Beijing 2008, yang sesungguhnya adalah penderita leukimia akut sejak 2001 (&lt;em&gt;posting tanggal 23/08/2008&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan bagi kita semua : apakah kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri ini baru akan muncul dalam keadaan "terpaksa" ataupun dalam kondisi penuh "keterbatasan"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semestinya tidak. Jika dalam kondisi yang serba terbatas saja mereka bisa menorehkan prestasi dengan cara mengalahkan dirinya sendiri, kenapa kita yang relatively lebih lenjustru tidak bisa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah ketika tidak ada kungkungan keterbatasan, dan di sisi lain kita mampu mengalahkan diri sendiri, maka hasil yang bisa diharapkan menjadi lebih tinggi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kawan, inilah yang banyak terjadi. Kesyukuran atas keserbaadaan kita justru seringkali tidak kita ungkapkan dalam bentuk maksimalitas usaha. Maksimalitas untuk mengatasi keinginan negatif, yang bisa mengalahkan kebutuhan positif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kesimpulannya, diri kita sendiri bisa menjadi "musuh" ataupun "sahabat". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kapan diri kita menjadi "musuh" bagi diri kita sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, ketika keinginan negatif kita yang jelas-jelas mampu menghambat pencapaian cita-cita kita, justru mendapat tempat yang lebih layak dan mendapat pemenuhan yang lebih maksimal dibanding kebutuhan positif yang menjamin pencapaian cita-cita tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mau kita tetapkan sebagai apakah diri kita sendiri? Sebagai sahabat, atau sebagai musuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari belajar dari mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : Randy Pausch bersama istri dan ketiga anaknya (http://a.abcnews.com&lt;/em&gt;)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-4587211082695413580?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/4587211082695413580/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=4587211082695413580' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4587211082695413580'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4587211082695413580'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/mengalahkan-diri-sendiri.html' title='MENGALAHKAN DIRI SENDIRI'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sd04wlwCwcI/AAAAAAAAAsw/3z3gvPO96YY/s72-c/Randy+Pausch+(a.abcnews.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2374698872264940025</id><published>2009-04-07T05:49:00.003+07:00</published><updated>2009-04-07T06:17:12.699+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>PEDOMAN LENGKAP KULINER JOGJA</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdqH-0olUkI/AAAAAAAAAso/Ph5y4MGEwD8/s1600-h/Jalan-jalan+Kuliner+Aseli+Jogja.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 234px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdqH-0olUkI/AAAAAAAAAso/Ph5y4MGEwD8/s320/Jalan-jalan+Kuliner+Aseli+Jogja.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5321715423042163266" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja&lt;br /&gt;Penulis  : Suryo Sukendro&lt;br /&gt;Penerbit  : Media Pressindo, Yogyakarta&lt;br /&gt;Terbit  : Cetakan I, 2009&lt;br /&gt;Tebal  : iv + 123 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia wisata kini telah berkembang ke arah wisata kuliner. Jika dulu hanya lokasi dan obyek wisata berdasarkan keindahan atau keunikan alam yang dikunjungi, kini wisata bersama berdasarkan keunikan dan kekhasan makanan di sebuah daerah laris dilakukan dan mampu ”dijual” oleh para pemandu wisata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersamaan dengan itu pula, semakin banyak muncul literatur-literatur berbasis makanan ataupun keunikan makanan dari suatu daerah tertentu. Bandung, Surabaya, Solo dan Jogja merupakan salah sedikit dari banyak daerah lain di Jawa yang memiliki kekhasan dan bahkan ”keagungan” suatu jenis makanan. Di luar Jawa, tentu kita tak dapat menafikan kegairahan wisata kuliner di Makasar, Manado ataupun Medan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara deretan literatur berupa buku petunjuk wisata kuliner, buku &lt;em&gt;Jalan-Jalan Kuliner Aseli Jogja&lt;/em&gt; ini hadir. Buku yang ditulis Suryo Sukendro ini melengkapi beberapa literatur lain yang telah mengangkat kesohoran makanan asli Jogja, seperti &lt;em&gt;Wisata Jajan Yogyakarta&lt;/em&gt; yang diterbitkan oleh &lt;em&gt;Intisari&lt;/em&gt;, atau minimal berupa &lt;em&gt;Katalog Kuliner Jogja&lt;/em&gt; yang digagas &lt;em&gt;KABARE Magazine&lt;/em&gt;. Itu belum termasuk berbagai buku lain yang isinya merupakan ”kolaborasi” berbagai makanan khas berbagai daerah di luar Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sebenarnya manfaat yang bisa diambil oleh kita –terutama orang Jogja sendiri? &lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt; jelas, ini adalah wahana promosi ”gratis” bagi para pengusaha kuliner di daerah bekas Kerajaan Mataram ini. Tak hanya itu, kehadiran buku kuliner ini serta merta memercikkan keinginan untuk sekaligus mengunjungi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terkenal masih sangat kental nuansa kerajaan dan budaya Jawa-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, buku-buku seperti ini merupakan &lt;em&gt;tour guide&lt;/em&gt; yang sangat efektif. Apalagi dalam beberapa literatur di atas, disertakan pula peta-peta lokasi di mana obyek wisata kuliner itu berada. Khusus untuk buku terbitan Media Pressindo ini, &lt;em&gt;guidance&lt;/em&gt;-nya jauh lebih lengkap. Selain denah lokasi untuk masing-masing obyek, ia juga memuat daftar jalur bis di Jogja, jalur dan halte bus Trans Jogja, jadwal kereta api serta pesawat dari dan menuju Jogja, daftar hotel, bahkan nomor-nomor telepon penting di kota pelajar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ukuran buku yang tak terlampau besar dan tak terlampau tebal, maka buku ini bisa benar-benar digunakan sebagai buku saku wisata Yogyakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manfaat &lt;em&gt;ketiga&lt;/em&gt;, buku semacam ini bisa berperan sebagai salah satu pelestari kebudayaan dan kekhasan makanan Jogja. Sebab, tak mudah bagi siapapun untuk bisa mempertahankan kekhasan makanan daerah di manapun, terlebih lagi jika harus bicara tentang generasi yang mau tak mau harus berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatan ataupun memorabilia sebagaimana dimunculkan oleh buku semacam ini tentu sangat membantu bagi generasi penerus untuk bisa terus menciptakan nuansa nostalgia tanpa harus tertinggal oleh gerak roda jaman yang semakin modern. Karena perlu diingat, bahwa kekhasan tidak hanya sekedar muncul dari rasa khas makanan itu sendiri, tapi juga nuansa asli yang melingkupi kesehariannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus buku ini sendiri, kekomplitan data juga muncul dari kejelian penulis untuk mengangkat beberapa makanan khas yang belum dimunculkan beberapa buku sebelumnya. Seperti enting-enting gepuk cap Macan, geplak, jadah tempe, lumpia nyamleng, juga yangko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, buku ini akan mampu menjadi pegangan para wisatawan, ataupun bacaan bagi mereka yang ingin sekedar bernostalgia dengan kota Jogja. Sayangnya, foto-foto yang ada tidak ditampilkan secara berwarna. Padahal, sebagaimana produk &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt;, keindahan fotografi dan ”pewarnaan” makanan dalam sebuah ”daftar menu” sangat mempengaruhi selera para pembaca dan calon penikmatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam buku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : hasil scanning&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2374698872264940025?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2374698872264940025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2374698872264940025' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2374698872264940025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2374698872264940025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/pedoman-lengkap-kuliner-jogja.html' title='PEDOMAN LENGKAP KULINER JOGJA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdqH-0olUkI/AAAAAAAAAso/Ph5y4MGEwD8/s72-c/Jalan-jalan+Kuliner+Aseli+Jogja.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8381517431788991603</id><published>2009-04-05T05:32:00.003+07:00</published><updated>2009-04-05T05:40:35.431+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='resensi'/><title type='text'>PROVOKASI UNTUK (CALON) POLITISI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdfhlIYfdsI/AAAAAAAAAsg/R3Jc2HQm5O4/s1600-h/Kalau+Mau+Bahagia,+Jangan+Jadi+Politisi.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 219px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdfhlIYfdsI/AAAAAAAAAsg/R3Jc2HQm5O4/s320/Kalau+Mau+Bahagia,+Jangan+Jadi+Politisi.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5320969512783148738" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Judul   : Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!&lt;br /&gt;Penulis  : Arvan Pradiansyah&lt;br /&gt;Penerbit : Penerbit Mizan, Bandung&lt;br /&gt;Terbit  : Cetakan 1, Maret 2009&lt;br /&gt;Tebal  : xxiv + 130 halaman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;em&gt;“Saya pernah melakukan kampanye setahun penuh dengan tema : ‘Jauhi politik’. Dengan subtema ‘Kerja! Kerja! Kerja!’.&lt;br /&gt;Kampanye itu saya maksudkan agar orang ingat bahwa Negara ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan politik. Semakin banyak politikus akan semakin ruwet.”&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kata-kata Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group pada sampul belakang buku The MarkPlus Festival karya Hermawan Kartajaya (JP Books, 2008).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, provokasi untuk (calon) politisi tak hanya dikampanyekan oleh Dahlan Iskan. Terbaru, seorang Arvan Pradiansyah –&lt;em&gt;public speaker&lt;/em&gt;, motivator, kolumnis, penulis buku &lt;em&gt;best seller&lt;/em&gt;, yang kini menjabat sebagai Managing Director dari sebuah lembaga pelatihan dan konsultasi di bidang SDM, kepemimpinan dan &lt;em&gt;life management&lt;/em&gt;—mengkampanyekan hal yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak tanggung-tanggung, ia mensosialisasikan provokasinya secara lugas dan tanpa tedheng aling-aling dalam buku terbarunya : &lt;em&gt;Kalau Mau Bahagia, Jangan Jadi Politisi!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang berbeda dengan buku Arvan kali ini. Arvan yang biasanya bertutur secara lembut, santun dan bahkan cenderung ”berbunga” dalam pemilihan kata dan kalimat dalam empat bukunya sebelum ini –&lt;em&gt;You Are a Leader, Life is Beautiful, Cherish Every Moment&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;The 7 Laws of Happiness&lt;/em&gt;--,  kali ini terlihat cukup ”emosional”.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dimulai dari pilihan judul, ia sudah tampak berani dan seolah ”menantang” sebuah arus yang jelas-jelas tengah bergerak ke hilir tertentu : Pemilihan Umum. Baik itu Pemilu Legislatif yang dilaksanakan 9 April 2009 ini, maupun pemilihan presiden yang akan diselenggarakan sesudahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Provokasi Arvan juga langsung mengemuka demi melihat pilihan judul bab yang menohok para (calon) politisi. Lihatlah di antaranya : &lt;em&gt;Jadi Caleg, Buat Apa?&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Poli + Tikus&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Penyakit Politisi Kita : AIDS&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Saya Tidak Akan Mau Jadi Politisi&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Kepentingan Rakyat? Hareee Geneee...&lt;/em&gt;; &lt;em&gt;Kita Lebih Beruntung daripada Politisi&lt;/em&gt;; dan &lt;em&gt;Kalau Mau Kaya, Jangan Jadi Politisi!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ”pakar” kebahagiaan, tentu Arvan tak lupa untuk membahas &lt;em&gt;case&lt;/em&gt; yang diangkatnya kali ini dari sudut pandang &lt;em&gt;Laws of Happiness&lt;/em&gt;, dalam bab &lt;em&gt;Politik vs Kebahagiaan&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan politisi merasa berbahagia? Menurut Arvan, pertama, ketika lawan politiknya mengalami masalah. Kedua, ketika mereka mendapat keberuntungan dan kemenangan. Sebaliknya, ada dua hal pula yang tidak membahagiakan bagi politisi. Pertama, ketika lawan politiknya menang, dan kedua, ketika mereka mengalami musibah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, rumus kebahagiaan bagi para politisi adalah : (1) susah kalau melihat lawan politik senang, dan (2) senang kalau melihat lawan politik susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, kata Arvan, kebahagiaan karena alasan yang ”buruk” pada dasarnya bukanlah kebahagiaan. Ketika Anda berhasil korupsi, apakah Anda berbahagia? Ketika Anda berselingkuh dan rumah tangga tetap utuh, apakah itu kebahagiaan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Itu adalah kesenangan. Dan kesenangan tidak sama dengan kebahagiaan. Dalam bab tersebut, Arvan menunjukkan perbedaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelugasan Arvan juga tampak pada sinismenya tentang janji para politisi untuk sesegera mungkin berjuang untuk rakyat begitu mereka terpilih sebagai legislator. Ia sangat yakin, bahwa dengan pola kampanye yang jor-joran dan menghabiskan begitu banyak ”modal” sebagaimana tampak pada kampanye di negeri ini, maka diyakini akan ada sebuah ”perjuangan lain” sebelum para politisi itu benar-benar bekerja untuk rakyat. Apa perjuangan lain itu? Yakni, berjuang untuk mengembalikan ”modal” yang telah dikeluarkannya sebelum terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah logika yang sangat sederhana. Sebuah paradigma bisnis yang mendasar. Dus, kasus Al Amin Nasution, Yusuf Emir Faisal, Agus Tjondro ataupun Abdul Hadi Djamal adalah buktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang intisari politik itu sendiri, Arvan mengatakan, rumus dalam politik hanya satu : kepentingan. Dalam politik, memang tak ada kawan atau lawan yang abadi. Yang abadi adalah kepentingan politik. Padahal, semestinya yang abadi dalam kehidupan ini hanya satu : Tuhan. Sehingga, kalau para politisi menganggap kepentingan adalah keabadian, maka kepentingan sesaat telah menjadi Tuhan bagi para politisi tersebut. Dan ini adalah kesalahan yang mendasar!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut Arvan, semestinya lembaga legislatif diisi oleh orang-orang profesional dalam bidangnya. Namun, demi melihat kondisi legislatif yang lekat dengan berbagai kepentingan yang pada akhirnya harus mengorbankan profesionalisme, para profesional itu lebih memilih berkarir di dunia swasta, di mana mereka benar-benar mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi kemampuan dirinya secara obyektif.&lt;br /&gt;Ketika para profesional itu memilih tidak masuk ke DPR atau DPRD, lantas siapa yang masuk ke sana? Silakan Anda jawab sendiri, kata Arvan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya sekarang, apakah sebegitu buruknya insan politik di negeri ini? Apakah di antara sebegitu banyak politisi tak ada politisi yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau itu ditanyakan pada Arvan, maka ia akan menjawab tegas : ya. Lalu, insan-insan yang senantiasa ”bersih” dan senantiasa concern terhadap kepentingan rakyat, disebut apakah mereka? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arvan tak menampik, tetap saja ada insan perpolitikan negeri yang baik. Namun, mereka itu bukanlah politisi. Mereka itu adalah negarawan, yang bagi Arvan, sangat berbeda –bahkan berlawanan– dari ”sekedar” politikus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca provokasi Arvan, kita disadarkan pada masih banyaknya kebusukan-kebusukan perilaku –bahkan prinsip hidup—yang berkelindan dalam gerak langkah politisi negeri ini. Sinis, bahkan sarkastis memang, apa yang dikatakan Arvan. Tapi, menurut saya, semua itu sangat bagus sebagai bahan perenungan untuk siapapun yang yang berniat untuk tampil dalam panggung politik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Arvan juga mengingatkan kita, bahwa ketika kebahagiaan jangka panjang menjadi salah satu &lt;em&gt;goal&lt;/em&gt; (tujuan) dalam hidup ini, maka ada berbagai permasalahan yang harus kita pikirkan lebih jauh, daripada sekedar mencari kesenangan-kesenangan yang sifatnya semu dan sementara. Toh, dunia politik bukanlah dunia yang harus dijauhi, jika memang ia dijalankan dalam konteksnya yang baik dan bermartabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah provokasi, saya rasa pilihan bentuk tulisan yang lugas dari Arvan ini merupakan pilihan yang tepat. Sebuah pilihan, yang justru bisa memperjelas penyadaran-penyadaran dasar yang seharusnya dimiliki oleh siapapun kita. Baik yang apolitis, sekedar pengamat, maupun mereka yang sudah telanjur masuk dalam pusaran politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam buku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : hasil scanning&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8381517431788991603?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8381517431788991603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8381517431788991603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8381517431788991603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8381517431788991603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/provokasi-untuk-calon-politisi.html' title='PROVOKASI UNTUK (CALON) POLITISI'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdfhlIYfdsI/AAAAAAAAAsg/R3Jc2HQm5O4/s72-c/Kalau+Mau+Bahagia,+Jangan+Jadi+Politisi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5873955568554539351</id><published>2009-04-02T05:55:00.008+07:00</published><updated>2009-04-02T15:59:09.083+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>SELALU ADA KONSEKUENSI</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdP-g64FPGI/AAAAAAAAAsY/PyU7WHHUcNs/s1600-h/surga-neraka+(pandasurya.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdP-g64FPGI/AAAAAAAAAsY/PyU7WHHUcNs/s320/surga-neraka+(pandasurya.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5319875426368437346" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir dalam waktu yang bersamaan, beberapa hari lalu, saya "diingatkan" tentang konsekuensi dari sebuah keinginan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, dari materi blog seorang kawan pengusaha salon. Bu Yulia Astuti namanya. Salon Moz5 "merk dagang" usahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menulis : "Bener juga ya... pengen aja nggak cukup!" (&lt;em&gt;http://yulia-ku.blogspot.com&lt;/em&gt; tanggal 18 Maret 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, ya cerita tentang orang yang pengen sesuatu, tapi sekedar pengen. Nggak pernah &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;. Diem saja. Nggak bertindak. Cuma diskusi. Omong doang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya siapa ya, kira-kira? Ya saya ini! Ya Fajar S Pramono... hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak keinginannya, minim &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;Banyak yang ingin dicapai, tapi usahanya &lt;em&gt;mood-mood&lt;/em&gt;-an. Semangatnya naik turun. Mau berhasil dari Hongkong?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak yang sudah mengingatkan, tapi ya masih sering kumat-an. Ngeblog ini kan juga untuk menyemangati diri sendiri sebenarnya, tapi ya tetep aja kadang nggak konsekuen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha Bu Yulia itu, saya rasa salah satu contoh yang konsekuen. Ia sangat meyakini bahwa keberhasilan hanya bisa diraih dengan &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;. Makanya, energinya tampak luar biasa. Nggak punya capek. Kesana-kemari, ikut seminar ini seminar itu, diskusi ini diskusi itu. Salut!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa baca potongan-potongan perjalanan bisnis dan berbagai prinsip hidupnya di blog yang saya sebutkan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya untuk kesekian kalinya merasa "tertampar" oleh Bu Yulia, saya membuka buku keduanya Farrah Gray, &lt;em&gt;Get Real Get Rich!&lt;/em&gt; (Daras Books, Februari 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhueeng....!!! Baru masuk Pengantar di halaman ix, serasa ada yang mengulang "tamparan" Bu Yulia. Bahkan kali ini terasa lebih keras!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih katanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"Semua orang ingin masuk surga, tetapi tidak ada orang yang mau mati..."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lo... itu perumpamaan yang sangat ekstrim, tapi gilanya, saya setuju banget, dan tertampar banget!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena si penulis buku itu --Farrah-- memiliki pengalaman pribadi yang luar biasa tentang kekuatan tindakan. Coba baca lagi buku pertamanya, &lt;em&gt;Reallionarie&lt;/em&gt; (Daras Books, November 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farrah memang meneruskan kalimatnya di atas dengan, "Semua orang ingin sukses, tetapi tidak semua orang mau melakukan apa yang dibutuhkan untuk meraih kesuksesan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalimat yang "biasa' dan sering terdengar ataupun terbaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, perumpamaan tentang keinginan masuk surga itu lho... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukannya konsekuensi harus menjadi orang baiklah yang disebut Farrah sebagai "prasyarat" masuk surga, tapi justru "keberanian" untuk menghadapi maut. Bukan berarti disuruh bunuh diri lho... :) Pilihan perenungan yang sangat cerdas, menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang baik dan taat, tentu tak ada seorangpun yang menggeleng kepala ketika diajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau pertanyaannya "Mau mati?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe... kira-kira apa jawaban kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan sudah ada takdirnya..."&lt;br /&gt;"Nanti kan ada waktunya..."&lt;br /&gt;"Belum siap kalee..." :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak salah sih. Kalau belum takdirnya, kalau belum waktunya, tentu tidak akan ketemu. Kalau belum siap tapi sudah waktunya, ya tetep putus lah nafas kita... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua itu tentu sekedar perumpamaan tentang sebuah konsekuensi. Bahwa harus ada sesuatu yang dilalui atau dilakukan untuk memperoleh sesuatu yang diinginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak membaca perumpamaan Farrah, saya merasa kekuatan saya bertambah. Kesadaran akan makna sebuah konsekuensi meningkat drastis. Mudah-mudahan saja, nggak ada peran &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; baik dalam hal ini. Kalaupun iya, moga-moga saja &lt;em&gt;mood&lt;/em&gt; buruknya sudah mati di dalam diri saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah Anda juga tergerak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau iya, mari kita saling mengingatkan. OK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://pandasurya.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5873955568554539351?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5873955568554539351/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5873955568554539351' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5873955568554539351'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5873955568554539351'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/04/selalu-ada-konsekuensi.html' title='SELALU ADA KONSEKUENSI'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SdP-g64FPGI/AAAAAAAAAsY/PyU7WHHUcNs/s72-c/surga-neraka+(pandasurya.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-4025735800785107130</id><published>2009-03-15T04:06:00.005+07:00</published><updated>2009-03-15T22:57:59.242+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>TENTANG HAL KECIL</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sbw141HkRkI/AAAAAAAAAsQ/tBU_b7d3xFk/s1600-h/bejana+(dequim.ist.utl.pt).gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sbw141HkRkI/AAAAAAAAAsQ/tBU_b7d3xFk/s320/bejana+(dequim.ist.utl.pt).gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313180910838105666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu zaman, seorang raja menginstruksikan kepada seluruh rakyatnya untuk mengisi sebuah bejana madu, pada suatu malam tertentu. Aturannya, setiap warga harus membawa satu sendok madu, untuk kemudian dimasukkan ke dalam bejana yang diletakkan di atas bukit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai perintah raja, seluruh warga kerajaan pun serta merta mengiyakan untuk melaksanakan. Namun, ada salah satu warga yang berpikiran nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm.. kalaupun saya tidak membawa satu sendok madu, namun hanya membawa satu sendok air, tentu tak akan ketahuan oleh petugas kerajaan. Pertama, karena perintah ini harus dilaksanakan pada malam hari. Kedua, tentu kalau hanya kemasukan satu sendok air, kualitas madu yang ada takkan terpengaruh. Apalah arti satu sendok air dibanding ribuan sendok madu dalam bejana itu," pikir orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benarlah. Pada malam yang ditentukan, seluruh warga kerajaan memenuhi perintah sang raja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kehebohan besar terjadi pada pagi harinya, ketika sang raja membuka bejana di hadapan seluruh rakyatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Ternyata bejana itu hanya berisi air! Tak ada bau ataupun tanda madu sedikitpun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, seluruh warga kerajaan berpikir serupa dengan salah satu warga yang saya ceritakan tadi. Mereka berpikir sama, bahwa tindakan kecil yang dilakukan tak akan berpengaruh kepada isi bejana. Nyatanya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, Anda sudah pernah mendengar kisah di atas. Banyak buku motivasi dan penyadaran yang mencuplik kisah tersebut. Terakhir, saya baca kisah itu di bukunya Pak Jamil Azzaini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan yang ingin disampaikan hampir sama : ketika suatu tindakan negatif yang kecil dilaksanakan secara kolektif, maka akibatnya bukan lagi masalah kecil, namun masalah yang sangat besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kesimpulan : kesalahan kecil yang sengaja dilakukan, tetap saja berpengaruh negatif pada pencapaian sebuah hasil atau tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga kesimpulan yang lain : jangan pernah meremehkan hidup Anda dengan berpikir, "Ah, dunia ini tak akan rusak hanya karena saya meremehkan hidup saya. Toh saya bukan siapa-siapa...". Ini kesimpulan dari Pak Jamil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, jangan pernah pandang remeh perbuatan kecil yang merugikan. Jika semua orang berpikiran yang sama, maka kumpulan perbuatan yang merugikan itu bukan lagi perbuatan yang kecil, namun perbuatan yang besar. Dan hasilnya, tentu kerusakan yang besar pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kalau kita artikan sebaliknya saja kisah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perbuatan kecil yang baik dari masing-masing orang, akan membawa perubahan signifikan dan berarti besar bagi dunia ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paling enak, mari memakai contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah rencana penyaluran sumbangan kepada anak yatim, setiap orang berniat dalam hati mereka sendiri-sendiri untuk melebihkan Rp 5.000,- rupiah dari ketentuan minimal infaq resmi sebesar masing-masing Rp 50.000,- per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya melebihkan 10%-nya, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, jika kumpulan infaq diperoleh dari sebuah forum yang beranggotakan 250 orang, berapa tambahan infaq dan pahala yang bisa kita dapat? Rp 1.250.000,-!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uang sejumlah Rp 1.250.000,- itu tentu bukan jumlah yang sedikit untuk bisa dimanfaatkan oleh dan untuk anak-anak yatim itu. Berapa pula tambahan pahala bagi anggota forum tersebut? &lt;em&gt;Wallahu a'lam&lt;/em&gt;. Insya Allah bertambah, dengan keikhlasan yang diberikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh lain, tentu banyak. Simak saja tulisan Andy F Noya berjudul "Empati" di buku kedua dari seri &lt;em&gt;Andy's Corner&lt;/em&gt;-nya (hal. 150). Tentang bagaimana jika kita mencoba "membantu" para pelayan restoran dengan seminim mungkin memberantakkan meja makan kita. Atau kalau perlu, seperti di luar negeri, membuang sampahnya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan untuk sok gaya atau sok kebarat-baratan. Tapi, bayangkan bahwa kita akan bisa membuat bahagia para pelayan restoran yang senantiasa bekerja dengan rutinitas itu, dengan meminalisir keharusan mereka untuk membersihkan sisa-sisa kejorokan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau cerita tentang seorang bapak dan anak yang rajin membersihkan tanah kosong di kompleks rumah mereka, yang pada akhirnya membuat malu para tetangga untuk tidak mengikuti jejaknya. Padahal, bapak anak itu bekerja tanpa kata. Tak ada ajakan lisan ataupun langsung. Tak ada slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho, kata Andy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kuncinya ada pada keteladanan. Keteladanan yang kecil saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andy juga bercerita tentang kekuatan senyum. Jika saja satu orang tersenyum kepada minimal satu orang lainnya yang dijumpainya hari itu, berapa orang yang akan merasakan bahagia? Sekali lagi, hanya dengan satu senyum kepada satu orang yang lain. Hal kecil, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga kata "terima kasih" kepada orang lain. Kepada petugas tol, misalnya. Kata anak Andy, ucapan "terima kasih" merupakan "&lt;em&gt;magic word&lt;/em&gt;" yang juga akan membahagiakan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, berbuat baiklah. Mulai dari hal kecil saja. Yang kita bisa sangat ikhlas melakukannya. Dan rasakan, bahwa kebahagiaan itu bukan hanya milik mereka yang kita beri "alat" untuk berbahagia tersebut, tapi juga akan memantul kepada diri kita sendiri. Kita pun akan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya Mario Teguh, mungkin saya akan berkata, "Lakukan perbuatan-perbuatan kecil yang baik itu untuk sekeliling kita, lalu perhatikan apa yang terjadi...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://dequim.ist.utl.pt&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-4025735800785107130?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/4025735800785107130/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=4025735800785107130' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4025735800785107130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4025735800785107130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/tentang-hal-kecil.html' title='TENTANG HAL KECIL'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sbw141HkRkI/AAAAAAAAAsQ/tBU_b7d3xFk/s72-c/bejana+(dequim.ist.utl.pt).gif' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1512736301196469133</id><published>2009-03-09T15:05:00.011+07:00</published><updated>2009-03-09T16:30:32.467+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>SEEKING A PASSION</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTeNMbQjQI/AAAAAAAAAro/QbRwVZuHmTQ/s1600-h/email-marketing+(www.affiliatespeedway.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTeNMbQjQI/AAAAAAAAAro/QbRwVZuHmTQ/s320/email-marketing+(www.affiliatespeedway.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5311114178831879426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hampir semua pakar, ahli,konsultan, motivator, senior atau apapun istilah yang merujuk pada tingkat kepintaran yang lebih, selalu menekankan adanya faktor &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dalam upaya menggapai kesuksesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Fokuslah pada apa yang menjadi &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;-mu, maka seolah kamu tidak sedang berbisnis. Sekedar melaksanakan hobi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cintailah apa yang kamu kerjakan sehingga ia bisa menjadi &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;-mu, dan kamu akan merasakan seolah sedang tidak bekerja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Segala sesuatu yang dilakukan berdasarkan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, akan selalu menguatkan dirimu untuk terus menjadi lebih baik, lebih baik dan lebih baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadilah &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt; pada &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; kamu, maka kamu akan selalu menuju pintu keberhasilan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kata-kata para pakar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya adalah, bahwa ternyata tidak mudah bagi semua orang untuk tahu &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;-nya sendiri. Juga, masih banyak orang yang bahkan tidak tahu bidang apa yang menjadi &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt;-nya. Betul itu! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan yang menciptakan persahabatan yang lebih luas, saya pun menemukan kelompok orang yang demikian, yang tak kalah dalam segi jumlah ketika dibandingkan dengan orang-orang yang merasa telah menemukan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;-nya. Atau bahkan, jangan-jangan, kelompok yang "tak tahu &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;" ini lebih banyak anggotanya? &lt;em&gt;Wallahu a'lam&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, adalah kurang bijak bagi mereka yang sudah bisa berjalan di atas &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, mengembangkan dirinya berdasarkan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, atau setidaknya tahu cara menggali &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dalam dirinya, tapi tidak mengkomunikasikannya kepada mereka yang belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha mencobanya, dalam tataran yang paling rendah. Mudah-mudahan upaya saya ini bisa mengurangi jumlah orang yang "kurang bijak" itu, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengingat pelaksanaan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; adalah hal yang paling dekat untuk mengantarkan kepada keahlian/kecakapan (&lt;em&gt;expert&lt;/em&gt;)--dan pada akhirnya kesuksesan--, maka saya akan mengarahkannya pada bagaimana cara kita mengetahui &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, dan pada akhirnya paham di bidang apa kita bisa &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua masukan sederhana dari dua orang pakar motivasi. Yang pertama, dari Pak Jamil Azzaini. Seorang Inspirator Gerakan Sukses-Mulia, yang juga Direktur PT. Kubik Kreasi Sisilain. Gagasan dan pemikirannya dapat disimak di &lt;em&gt;Trijaya Network&lt;/em&gt; setiap hari Kamis pukul 17.00 - 18.30 WIB.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini saya sebut, pencarian &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; dari dalam diri (internal). Saya ambil dari buku terbarunya Pak Jamil : &lt;em&gt;Tuhan, Inilah Proposal Hidupku &lt;/em&gt;(Gramedia, 2009).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, daftarlah semua kegiatan yang telah Anda jalani dan banyak menghabiskan waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, kelompokkanlah kegiatan-kegiatan itu ke dalam tiga bagian : kegiatan yang Anda kuasai, kegiatan yang Anda cintai dan kegiatan yang menghasilkan. Satu kegiatan bisa termasuk dalam tiga bagian tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt;, pilih dari daftar tersebut, satu, dua atau tiga hal yang paling Anda kuasai, Anda cintai dan sekaligus menghasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, itulah diri Anda. Itulah &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt; Anda, yang sangat memungkinkan Anda untuk menjadi &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt; di bidangnya. Mengerjakan &lt;em&gt;passion&lt;/em&gt;, sekaligus tetap menghasilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya --tulis Pak Jamil-- mulailah mengalokasikan waktu Anda sebanyak-banyaknya untuk bidang tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bidang yang lain? Delegasikan saja pada orang lain yang memang &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt; di bidang lain itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang kan? Silakan dicoba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masukan yang kedua, datang dari Pak Mario Teguh. Saya mendapatkannya dalam &lt;em&gt;Mario Teguh Golden Ways&lt;/em&gt; bertema "&lt;em&gt;The Power of Imaginary Regrets&lt;/em&gt;", tadi malam (08/02/09), dan saya menyebutnya sebagai faktor eksternal, karena pengetahuan akan kehebatan kita ini justru kita yakinkan pada diri sendiri melalui respon orang lain terhadap apa yang kita lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lakukanlah segala sesuatu, apapun itu, namun juga perhatikan tingkat keseringan orang-orang untuk mengucapkan kata-kata atau melakukan hal-hal di bawah ini :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt; : ucapan "Terima kasih". Semakin banyak orang yang mengucapkan terima kasih, merupakan indikasi awal bagi "kepuasan" orang lain terhadap apa yang Anda lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt; : desis ataupun teriakan "Wow!". Jika banyak orang yang merespon apa yang Anda lakukan dengan ungkapan "wow", ini adalah indikasi untuk menunjukkan bahwa Anda memang jago di bidang itu. "Ketakjuban" mereka adalah indikasi pengakuan terhadap kehebatan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ketiga&lt;/em&gt; : bersedia membayar Anda. Kesediaan orang lain untuk mengeluarkan effort berupa biaya kepada Anda secara ikhlas untuk melakukan sesuatu, menunjukkan adanya tingkat kepakaran yang dibutuhkan oleh orang lain tersebut. Mereka tidak hanya mengakui kehebatan Anda, tapi bahkan meletakkan kehebatan itu pada kerangka profesionalitas. Kepakaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Keempat&lt;/em&gt; : pengakuan "Hanya Anda yang bisa!". Ungkapan ini lebih menunjukkan &lt;em&gt;personal branding&lt;/em&gt; kita atas kepakaran kita dalam sebuah bidang. Dan ini berarti, tingkat ke-&lt;em&gt;expert&lt;/em&gt;-an kita --bisa jadi-- sudah di atas rata-rata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kelima&lt;/em&gt; : ungkapan "Untung ada Anda!". Hmm.. di tingkat ini, Anda seolah seorang "peri penyelamat", yang telah membuat proses hidup orang lain menjadi lebih lancar menuju tujuannya. Istilah "untung ada Anda" bahkan menunjukkan sesuatu yang semula dibayangkan bersifat tidak mungkin (&lt;em&gt;impossible&lt;/em&gt;), tanpa harapan (&lt;em&gt;hopeless&lt;/em&gt;), menjadi sesuatu yang mungkin dan berpengharapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gampang juga, ya? Silakan dicoba juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, mari kita coba inventarisir berbagai respon orang terhadap apa-apa yang telah kita lakukan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah beberapa contoh ungkapan atau tindakan orang lain itu secara kuat mengindikasikan kehebatan kita? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada, itulah diri kita. Itulah kehebatan kita, dan itulah &lt;em&gt;expert&lt;/em&gt; kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mudah-mudahan, uraian di atas bisa membantu Anda untuk menemukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.affiliatespeedway.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1512736301196469133?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1512736301196469133/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1512736301196469133' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1512736301196469133'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1512736301196469133'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/seeking-passion.html' title='SEEKING A PASSION'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTeNMbQjQI/AAAAAAAAAro/QbRwVZuHmTQ/s72-c/email-marketing+(www.affiliatespeedway.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-742409897455987530</id><published>2009-03-08T21:38:00.011+07:00</published><updated>2009-03-09T16:57:30.304+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>PENYESALAN ITU BERGUNA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbPhLxaejjI/AAAAAAAAArY/1aGp2F9G9xI/s1600-h/sesal+(farm1.static.flickr.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbPhLxaejjI/AAAAAAAAArY/1aGp2F9G9xI/s320/sesal+(farm1.static.flickr.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310835977959149106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tuh kan... persis seperti yang saya bilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam salah satu posting saya terdahulu (&lt;em&gt;Reaktif (+/-), Proaktif (+++), Pasif (---); Rabu 07/01/09&lt;/em&gt;), saya mengatakan : &lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;"...Penyesalan memang kurang ada gunanya. (&lt;em&gt;Saya tulis "kurang", bukan "tidak", karena saya kadang merasa menyesal itu ada gunanya juga... hehe&lt;/em&gt;)."&lt;/blockquote&gt;Dan malam tadi, saya beroleh teman, yang mengiyakan pendapat saya itu. Nggak tanggung-tanggung si teman itu : Mario Teguh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata beliau, tak perlu selamanya menyesal dengan yang namanya kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;"Sebuah kesalahan akan berhenti menjadi kesalahan bila kita menggunakannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik."&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;So, penyesalan tak selamanya merupakan sesuatu yang tak berguna. Jika setelah menyesalkan sesuatu, kita bisa menjadikannya pelajaran berharga untuk perbaikan diri, kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan adalah wujud nyata bahwa kita tahu bahwa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tak berkenan. Baik karena kelakuan diri, kesalahan orang lain maupun karena keadaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kelakuan yang salah itulah kita belajar. Dari kesalahan orang lain itulah kita berintrospeksi. Dan dari keadaan yang tak menyamankan itulah kita berkaca diri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jadikan perbaikan diri sebagai tujuan dari munculnya sebuah penyesalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan yang tidak menciptakan dorongan untuk memperbaiki diri, adalah penyesalan yang melemahkan. Dan inilah yang seringkali terjadi pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada orang-orang yang sukses, penyesalan membuat orang itu menjadi hebat. Karena dia mau belajar, mau berubah ke arah perbaikan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So lagi, kata Pak Mario : &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;"Kalau Anda bisa menyesal untuk menjadi hebat, kenapa harus menyesal untuk menjadi lemah?"&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;Hmm... saya memilih untuk menjadi yang pertama. Menjadi yang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari Pak Mario Teguh, ada sebuah penyesalan lain yang bisa menjadi pembangun. Yakni : menyesali sesuatu yang belum terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bingung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ilustrasinya :&lt;br /&gt;Jika Anda saat ini masih sekolah di sekolah menengah atas alias SMA, lalu membayangkan bahwa 10 tahun ke depan Anda menjadi seorang pengangguran, tidak diterima bekerja di manapun, tidak memiliki bisnis apapun, dan kesulitan menafkahi anak istri Anda karena kondisi ekonomi yang kurang baik, di mana itu semua diakibatkan karena Anda tidak belajar dengan serius pada saat Anda sekolah sekarang ini, apakah Anda akan menyesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila Anda saat ini tidak bisa menabung meskipun sudah berpenghasilan, istri tidak bekerja dan tidak pula berbisnis, anak-anak masih sekolah di usia dininya, lalu 10 tahun ke depan Anda sakit yang mengakibatkan Anda tidak bisa bekerja dan menghasilkan nafkah terbaik untuk keluarga, apakah Anda akan menyesal?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, semuanya akan menjawab "ya". Saya juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, Anda yang sedang sekolah merasa harus menjadi anak yang rajin dalam belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang saat ini tak bisa menabung, akan berusaha menabung ataupun mencari alternatif pemasukan lain untuk menanggulangi kondisi darurat, apabila semua bayangan buruk tadi harus terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, di situlah penyesalan menjadi sesuatu yang membangun. Yang menghebatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So lagi, beginilah kata Pak Mario :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;strong&gt;"Penyesalan adalah hal yang kurang mendidik. Namun, menyesali sesuatu yang belum terjadi adalah pendidikan yang memesrakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia yang semasa muda menjadi budak dari kesenangan-kesenangan sementara, akan menjadi tawanan dari penyesalan-penyesalan di masa mendatang."&lt;/strong&gt;&lt;/blockquote&gt;Lagi-lagi, hmmm... seperti yang saya dapat, apakah Anda mendapat sebuah inspirasi baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://farm1.static.flickr.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-742409897455987530?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/742409897455987530/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=742409897455987530' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/742409897455987530'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/742409897455987530'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/penyesalan.html' title='PENYESALAN ITU BERGUNA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbPhLxaejjI/AAAAAAAAArY/1aGp2F9G9xI/s72-c/sesal+(farm1.static.flickr.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-9122501724430403601</id><published>2009-03-08T08:30:00.004+07:00</published><updated>2009-03-09T18:00:57.344+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>BIBIT</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbMkSJGT7gI/AAAAAAAAAqw/WxrGdMAqNhI/s1600-h/seed+(files.myopera.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbMkSJGT7gI/AAAAAAAAAqw/WxrGdMAqNhI/s320/seed+(files.myopera.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5310628279698583042" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;"... Ada banyak bibit di dalam diri manusia. Ada bibit kebodohan, keserakahan, kemarahan, iri hati, dendam. Ada juga bibit kesabaran, kasih sayang, cinta, memaafkan, persahabatan. Pertanyaan berikutnya, bibit-bibit mana yang kita sirami setiap harinya?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;--Gede Prama; dalam pengantar buku "Andy's Corner" Andy F. Noya yang kedua--&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buka internet pagi ini, untuk menyiram bibit yang mana?&lt;br /&gt;Ngeblog hari ini, untuk menumbuhkan bibit yang mana?&lt;br /&gt;Membaca buku sore nanti, untuk meninggikan bibit yang mana?&lt;br /&gt;Rencana pergi esok hari, untuk memupuk bibit yang mana?&lt;br /&gt;Agenda silaturahim besok siang, untuk mendorong bibit yang mana?&lt;br /&gt;Bekerja kembali lusa, untuk mengembangkan bibit yang mana?&lt;br /&gt;Ke tempat ibadah setiap harinya, untuk bibit yang mana?&lt;br /&gt;Berdo'a setiap waktu, demi bibit yang mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayolah kawan, saya yang jahat atau Anda yang tidak jahat, semuanya tahu mana bibit yang sesungguhnya baik. Masalahnya hanya, mau atau tidak kita mengakui bahwa bibit-bibit itu baik, untuk kemudian kita pupuk tumbuh dan kembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terpungkiri, kadang ada rasa malu ketika menyiramnya. Ada rasa takut dianggap "sok alim", "sok peduli", "sok sosial", "sok rajin", "sok religius", dan sok-sok yang lain manakala menumbuhkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah godaan. Itulah tantangan. Bahwa hasil akhir senantiasa menjadi lebih indah saat kita harus berjuang keras dalam meraihnya, itu adalah kemutlakan. Bahwa semakin keras perjuangan, derajat kenikmatan hasilnya juga semakin besar, itu adalah keniscayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kenapa musti mundur? Kenapa musti malu? Kenapa berhenti menyiram bibit yang baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://files.myopera.com&lt;/em&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-9122501724430403601?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/9122501724430403601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=9122501724430403601' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/9122501724430403601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/9122501724430403601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/bibit.html' title='BIBIT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbMkSJGT7gI/AAAAAAAAAqw/WxrGdMAqNhI/s72-c/seed+(files.myopera.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3910320762060971073</id><published>2009-03-04T04:28:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:26:29.348+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>INTEGRITAS --dari Bunda Teresa--</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sa2sZi-mV2I/AAAAAAAAAqo/-P5GRIYFRjg/s1600-h/INTEGRITY+(www.rightbrainterrain.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 242px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sa2sZi-mV2I/AAAAAAAAAqo/-P5GRIYFRjg/s320/INTEGRITY+(www.rightbrainterrain.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309089090625754978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda punya niatan baik, tapi justru ditentang oleh orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti pernah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda melakukan hal baik --bahkan yang terbaik dan mulia--, namun malah mendapat cibiran dan cemoohan dari teman-teman di sekitar Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin tak hanya sekali dua kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernahkah Anda berjalan lurus dalam kebenaran, namun justru dianggap sok benar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin sering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarkan. Biarkan semua itu terjadi. Tak usahlah kita anggap itu penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Integritas, tak terpengaruh oleh omongan orang. Tak tergoyahkan oleh respon negatif dari sekitar. Selama kita berpegang pada kebenaran yang sebenar-benarnya, sepanjang kita mendasarkan pada nilai-nilai kemuliaan yang sudah dituntunkan-Nya, jangan berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah perenungan dari Bunda Teresa yang saya kutip dari majalah &lt;em&gt;LuarBiasa &lt;/em&gt;Januari 2009, semoga bisa jadi pencipta tegar bagi diri kita :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Orang sering keterlaluan, tidak logis, dan hanya mementingkan diri sendiri; bagaimanapun, maafkanlah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau baik hati, bisa saja orang lain menuduhmu punya pamrih; bagaimanapun, berbaik hatilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau sukses, engkau akan mendapat teman palsu, dan beberapa yang sejati; bagaimanapun, jadilah sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau jujur dan terbuka, mungkin saja orang lain akan menipumu; bagaimanapun, jujur dan terbukalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang engkau bangun selama bertahun-tahun, mungkin saja dihancurkan orang lain hanya dalam semalam; bagaimanapun, bangunlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila engkau mendapat ketenangan dan kebahagiaan, mungkin saja oang lain jadi iri; bagaimanapun, berbahagialah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan yang engkau lakukan hari ini, mungkin saja besok sudah dilupakan orang; bagaimanapun, berbuat baiklah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun, berikan yang terbaik dari dirimu. Engkau lihat, akhirnya ini adalah urusan antara engkau dengan Tuhanmu; bagaimanapun ini bukan urusan engkau dengan mereka.&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.rightbrainterrain.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3910320762060971073?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3910320762060971073/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3910320762060971073' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3910320762060971073'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3910320762060971073'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/integritas-dari-bunda-teresa.html' title='INTEGRITAS --dari Bunda Teresa--'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sa2sZi-mV2I/AAAAAAAAAqo/-P5GRIYFRjg/s72-c/INTEGRITY+(www.rightbrainterrain.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5695253874537859390</id><published>2009-03-01T04:44:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T18:33:35.616+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>KETIKA "TERPAKSA" KALAH....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sam9hSWKDVI/AAAAAAAAAqY/I_gRZrgFuMU/s1600-h/win-lose+(www1.istockphoto.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 269px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sam9hSWKDVI/AAAAAAAAAqY/I_gRZrgFuMU/s320/win-lose+(www1.istockphoto.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5307982015390944594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kena tampar, hendaklah dari tangan yang bercincin," kata petuah lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksudnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon itu berarti, kalau dikalahkan atau dihinakan, lebih baik oleh pihak yang memang lebih kuat, lebih mampu, atau lebih terhormat daripada kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah konteks yang saya baca dari tulisan Nuim Khaiyat dalam buku &lt;em&gt;Dunia di Mata Nuim Khaiyath&lt;/em&gt; (2009). Ia sedang "berbicara" masalah Janji &lt;em&gt;Amerika dan Dinasti Bush&lt;/em&gt;, yang bercerita tentang "hilangnya tongkat orang tua" bernama Amerika untuk kedua kalinya akibat nafsu besar dalam konflik Timur Tengah (Irak), ketika mencuplik petuah di atas (&lt;em&gt;hal.93&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak akan mengaitkan petuah itu untuk kasus Amerika. Saya hanya tertarik untuk mengambilnya sebagai "roh" posting hari ini. Tentang kekalahan. Tentang kita jika suatu saat "terpaksa kalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari aura optimisme yang harus selalu ada dalam langkah kehidupan kita sehari-hari, rasanya tak ada yang salah jika kita tetap memperbincangkan masalah kekalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah pertandingan, sebuah kompetisi atau persaingan, sebuah perseteruan, tak selamanya bisa menghasilkan kemenangan bersama ataupun &lt;em&gt;win-win solution&lt;/em&gt;. Dalam apa saja. Olahraga, olimpiade &lt;em&gt;science&lt;/em&gt;, cerdas cermat, persaingan pasar bisnis, tender proyek, bahkan persaingan dalam "memperebutkan" pasangan hidup, dsb. Ada saatnya, harus ada "pemenang". Sehingga pihak lainnya terpaksa menerima sebutan sebagai pihak yang "kalah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal yang demikian, rasanya menjadi sangat bijak petuah orang tua jaman dahulu itu. Kalau terpaksa kalah, kalahlah dari yang memang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berarti, kapan kita "boleh" terpaksa kalah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, jika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, &lt;em&gt;prepare&lt;/em&gt; sesiap mungkin, belajar seoptimal mungkin, berlatih sekuat mungkin, dan berdo'a sekhusyuk mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda kalah kendati sudah melakukan semua itu semua, tetap berbahagialah. Karena Anda memang kalah dari yang lebih baik. Mungkin usaha Anda, persiapan Anda, belajar Anda, latihan Anda dan do'a Anda masih bisa ditingkatkan dari ukuran "maksimal" atau "optimal" versi Anda sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat ini Anda menganggap latihan 6 jam perhari adalah maksimal, mungkin sebenarnya "maksimal yang benar" adalah 8 jam per hari. Dan ini mungkin dilakukan oleh si pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau do'a Anda tak pernah lupa dipanjatkan setelah sholat wajib, mungkin sang juara menambahkan doa-doa-nya melalui sarana sholat malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya, sesungguhnya masih ada "batas atas" yang lebih tinggi dari ukuran kemaksimalan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, mari kita tengok, adakah batas atas yang lebih tinggi dari usaha yang sudah kita lakukan untuk menghadapi "pertandingan" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kita sesungguhnya tetap jadi "pemenang" jika kita telah melakukan persiapan terbaik atau maksimal tadi. Minimal, kita menang melawan ketidakmauan untuk berlatih, ketidakmauan untuk belajar, bersiap dan berdo'a. Minimal, kita telah menang melawan "nafsu buruk" kita : males-malesan, berlatih asal-asalan, dan keinginan menuruti "bisikan" untuk tidak memohon kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, tak ada istilah "kalah" sesungguhnya, jika segala usaha, latihan, persiapan, belajar dan do'a tadi telah membuat kita mampu menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari. Konteks kekalahan dalam bertanding atau berkompetisi, bergeser menjadi konteks kemenangan melawan masa lalu. Bukankan menjadi keinginan kita bersama, bahwa kita ingin selalu menjadi yang lebih baik dari hari ke hari?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kalaupun harus disebut "kalah", semua itu harus berujung pada tuntutan diri untuk menginstropeksi diri, memperbaiki diri, dan senantiasa membuat diri ini lebih maju. Jika sebuah kekalahan tidak menjadi alasan untuk "&lt;em&gt;nglokro&lt;/em&gt;", putus harapan, patah semangat, lupa Tuhan, dan justru menjadi pemacu untuk lebih baik, maka sesungguhnya kita tidak "kalah". Kita tetap menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, selalu ingatlah : menang dan kalah dalam kehidupan di dunia adalah sebuah keniscayaan. Selalu ada orang yang lebih baik dari orang yang lainnya. Dan "pertandingan dunia" itu memang tak selalu membuka pintu bagi semuanya untuk menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di mana kemenangan bisa menjadi milik semua orang? Di mata Tuhan kita. Dan ini yang terpenting. Di mata Beliau, kita semua bisa menjadi pemenang. Hanya "kompetisi" yang Tuhan buat lah, yang memungkinkan kita semua jadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan posting : so, untuk yang terakhir ini, jangan sampai --&lt;em&gt;naudzubillahi min dzalik&lt;/em&gt;-- kita tidak menjadi pemenangnya. Kita semua, tanpa kecuali. Karena Tuhan menyediakan luasan tempat yang tak terbatas untuk para pemenang kehidupan dunia sekaligus akhirat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kendati luasannya tak terbatas, tidaklah gampang untuk bisa menjadi pemenang di mata Sang Maha Segala. Dan itu menjadi pe-er buat kita semua. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terutama, saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www1.istockphoto.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5695253874537859390?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5695253874537859390/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5695253874537859390' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5695253874537859390'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5695253874537859390'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/03/ketika-terpaksa-kalah.html' title='KETIKA &quot;TERPAKSA&quot; KALAH....'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/Sam9hSWKDVI/AAAAAAAAAqY/I_gRZrgFuMU/s72-c/win-lose+(www1.istockphoto.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1598018835363830417</id><published>2009-02-25T04:51:00.008+07:00</published><updated>2009-03-09T18:34:16.994+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>MEREKA TAK BANYAK BICARA...</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SaR6t6KvAKI/AAAAAAAAAqQ/4l1Zp2D_2-0/s1600-h/underpressure+(media.economist.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SaR6t6KvAKI/AAAAAAAAAqQ/4l1Zp2D_2-0/s320/underpressure+(media.economist.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5306501190076268706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, beberapa bulan setelah saya memasuki sebuah unit kerja baru, saya melihat sebuah --menurut saya-- keluarbiasaan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bagian dalam hierarki pekerjaan, didominasi oleh anak muda. Yach, saya sebut anak muda, karena rata-rata umur mereka antara 7-10 tahun di bawah saya yang 34 tahun tapi kata teman-teman berwajah 43 (atau malah 53?) tahun ini, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan itu saja pencipta kesan dalam diri saya. Anak-anak muda itu, saya lihat sangat tekun, disiplin, dan tak banyak bicara saat bekerja. Padahal, saya melihat sebuah rutinitas besar dalam kerja mereka. Nyaris tak ada dinamika. Apa yang menjadi pekerjaannya, ya dilaksanakan. Lantas, selesai, pulang. Sama seperti hari kemarin. Juga kemarin lusa. Juga minggu lalu. Dan bahkan, juga bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pernah saya dengar ada "protes" dari mereka kepada atasan atau sistem kerja. Jangankan "protes" atau "masukan". Nuansa diskusi mengenai bagaimana mendapatkan hasil kerja yang lebih baik pun tak ada. Secara hiperbolik saya katakan : mereka bekerja dalam diam. Robot banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bereskah pekerjaannya? Dalam pengamatan saya, beres sih; persis sesuai kemauan atasan langsungnya. Yang saya tahu, kalau tak beres, suara yang keluar dari mulut atasan lah yang mendominasi ruangan mereka, dan mereka pun menerima apapun kata atasan itu dengan takzim, lalu mengerjakannya. Lalu, selesai, pulang. Seperti kemarin. Seperti kemarin lusa. Seperti minggu lalu, dan bahkan bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara kasat mata, hmm... ya, mereka bekerja dengan giat, tak banyak cingcong, dan mengerjakannya sampai selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bukannya itu bagus, Jar?" mungkin akan ada yang bertanya demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang pingin saya kemukakan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka memang bekerja dengan baik, tak banyak tingkah. Tapi cobalah datang ke ruangan itu, dan lihat satu persatu raut wajah mereka. Lihatlah gerakan badan robotik mereka itu. Wajah yang menunjukkan ketegangan dengan tarikan otot wajah yang cenderung murung, berhias senyum-senyum yang dipaksakan, dengan bibir yang mengatup bukan karena sifat dasar yang pendiam, tapi lebih karena terpaksa dikatupkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sampai berpikir, itu kenapa mereka juga seperti saya : tampak lebih tua daripada umur yang sebenarnya. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya menyimpulkan demikian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya kenal mereka di "luaran" sana. Di luar jam kerja, di luar hubungan atasan bawahan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bermaksud sombong, maaf, saya merasa, gaya kepemimpinan dan kecuekan saya lebih memungkinkan saya untuk bisa mengetahui seperti apa mereka sebenarnya. Dan mereka yang sebenarnya itu, sangat jauh dari "karakter" mereka ketika di kantor, kecuali pada tingkat kedisplinan dan keberesan kerjanya, yang di mata saya justru bisa lebih dari yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika saya berdiskusi dengan anggota tim saya, tentang anak-anak muda itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hebat ya mereka, tak banyak omong, isinya cuma kerja dan kerja," begitu 'pancingan' saya membuka diskusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah Anda, apa kata anggota tim saya yang notabene adalah "penghuni lama" unit kerja itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya iya lah, Pak. Bagaimana mau banyak bicara, baru mau ngomong aja sudah di-&lt;em&gt;khek&lt;/em&gt;!" kata anggota tim saya itu, sambil memperagakan tangan yang sedang menyembelih leher.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah? Rupanya benar. "Karakter" dalam bekerja itu rupanya terbentuk sebagai akibat dari gaya kepemimpinan otoriter atasan mereka. Tak ada ruang bagi mereka untuk berimprovisasi. Mengeluarkan ide. Berdiskusi untuk yang lebih baik. Berdebat untuk kepositifan. Untuk mencoba berbicara saja, rupanya mereka sudah menetapkan pilihan : lebih baik diam. Kerjakan apa yang dimaui atasan, lantas selesai dan "aman". Pulang. Terima gaji. Kalaupun ada obrolan, itu berarti sekedar pertanyaan dari anggota tim, yang dijawab dengan instruksi satu arah oleh atasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oalah... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baguskah kepemimpinan yang seperti itu?&lt;br /&gt;Untuk "ketenangan" kerja, mungkin bagus. Untuk "kedisiplinan", boleh lah. Untuk "tingkat keberesan pekerjaan", tak salah juga. Tapi, untuk pengembangan organisasi? Untuk pengembangan kemampuan diri orang lain? Si anak buah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru masalah. Adem ayem, tenang, tak selalu berarti tak ada masalah. Orang Solo terkenal diam atas berbagai kebijakan politik, namun sesungguhnya menyimpan bara yang bisa sekonyong-konyong menimbulkan ledakan sangat besar. Berkacalah pada tragedi Mei 1998.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan orang Surabaya, atau Medan. Yang ceplas ceplos, &lt;em&gt;blak-blakan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;to the point&lt;/em&gt; dalam bicara dan bertindak, namun setelah itu, selesai. "Bara dendam" atau "bara protes" tak disimpannya lama-lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan acuan pola kerja versi atasan, semua memang terkesan beres. Tapi sadarkah kita, bahwa dengan sedikit membuka kran demokrasi dalam bekerja, dengan kesediaan membuka kran aspirasi, kran inspirasi dan ide, kran akses untuk &lt;em&gt;bottom up &lt;/em&gt;dan tak sekedar &lt;em&gt;top down&lt;/em&gt;, hasil yang diperoleh bisa jauh lebih baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang ada model kepemimpian yang mengharuskan pemimpin bersikap otoriter. Namun, saya tak melihat perlunya model kepemimpinan itu di unit kerja yang bersangkutan. Anak-anak muda itu anak-anak baik, kok. Ibadahnya rajin-rajin. Pergaulannya, saya lihat adalah pergaulan yang baik. Kecerdasannya juga tinggi. Ide-idenya banyak untuk kemajuan organisasi, yang sayangnya tak pernah bisa terlontar di bagian kerjanya, namun justru terlontar ketika berbicara dengan saya yang ada di bagian lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar sendiri ide-ide perbaikan di sana-sini. Ide-ide untuk pola pekerjaan yang lebih sistematis, dan menjadikan pekerjaan semakin efektif. Namun sekali lagi sayang, ide itu terpaksa dipendam, karena gaya kepemimpinan yang tak memungkinkan untuk mengeluarkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So? Mana yang lebih baik menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atasan yang jaim dan "dihormati" atas dasar ketakutan bawahan? Atau model atasan yang bersedia "menyejajarkan diri" dengan bawahan yang baik dan pinter-pinter itu, meski dengan konsekuensi seolah bawahan bisa "kurang ajar" terhadap si atasan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun jawaban Anda, tak ada yang salah menurut saya, karena itu pilihan. Yang jelas, saya memiliki keyakinan, bahwa model kedua yang lebih baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang "kekurangajaran" bawahan? Tak usahlah ada kekhawatiran itu. Saya melihatnya sebagai sebuah keakraban, karena karyawan yang baik dan pinter, tidak akan pernah bermaksud "mencuri" kewibawaan seorang atasan. Mereka tahu bagaimana harus bersikap terhadap atasan. Atasan yang baik pun, memiliki batas-batas tertentu untuk tidak membuat timnya menjadi tim yang "bebas tak bertanggung jawab", sekaligus tetap menjaga dirinya sebagai pemimpin yang berwibawa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ide-ide, masukan dan aspirasi itu, jauh lebih penting bagi organisasi, dibanding keharusan saya untuk seolah-olah berwibawa dan ditakuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://media.economist.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1598018835363830417?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1598018835363830417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1598018835363830417' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1598018835363830417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1598018835363830417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/mereka-tak-banyak-bicara.html' title='MEREKA TAK BANYAK BICARA...'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SaR6t6KvAKI/AAAAAAAAAqQ/4l1Zp2D_2-0/s72-c/underpressure+(media.economist.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5270950665592893654</id><published>2009-02-21T06:24:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>TERIMA KASIH</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZ9NFb0oYDI/AAAAAAAAAqA/PHiCAqD-VNM/s1600-h/give-everything+(shirari.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 211px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZ9NFb0oYDI/AAAAAAAAAqA/PHiCAqD-VNM/s320/give-everything+(shirari.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5305043641828925490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, memang saya yang lemot, atau memang telat ngerti. Eh, apa sih bedanya lemot dengan telat ngerti? Sama saja, ya? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, saya memang baru &lt;em&gt;ngeh&lt;/em&gt;. Baru tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang apa? Tentang "makna filosofis" kata "terima kasih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemahaman baru ini saya dapat dari seorang ustadz (&lt;em&gt;mohon maaf, saya tidak tau nama ustadznya, karena saya terlambat datang. Yang pasti : terima kasih, Tadz!&lt;/em&gt;) di pengajian kantor Jum'at (20/02/09) kemarin sore.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau mengambil tema &lt;em&gt;habluminallah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;habluminannas&lt;/em&gt;. Hubungan dengan Allah, dan hubungan dengan manusia. Dalam hal ini, ada dua hal yang beliau tegakkan : mendirikan sholat untuk &lt;em&gt;habluminallah&lt;/em&gt;, dan berzakat, bersedekah, berinfaq, memberikan sebagian rizqi di jalan Allah untuk &lt;em&gt;habluminannas&lt;/em&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berbicara tentang keharusan berinfaq, beliau menyitir sebuah ungkapan khas ketika kita menerima rizqi. Syukur pada Allah, --&lt;em&gt;Alhamdulillahirabbil'alamiin&lt;/em&gt;--, beriring dengan ucapan "Terima kasih, ya Allah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan "terima kasih" itu bukan tanpa makna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Setiap kita menerima, maka harus ada bagian yang dikasihkan kepada orang lain. Setiap menerima, lalu memberi. Menerima, lalu ngasih. Terima, kasih. Terima, kasih. Terima, kasih. Terima, kasih," kata beliau sambil menengadahkan telapak tangan di atas kepala ketika berkata "terima", dan menyodorkan telapak tangan itu ke depan ketika mengucap "kasih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima, untuk memberi. Makanya disebut "terima kasih". Bukan "terima" &lt;em&gt;thok thil&lt;/em&gt;. Bukan sekedar "terima (karena di-)kasih".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima, kasih. Terima, kemudian kasihkan. Menerima, kemudian ngasih. Terima lagi, kasih lagi. Terima terus, kasih terus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tidak terima? Tetap ngasih! Itu baru mantaaap...," lanjut sang ustadz dengan sengau khas beliau, diikuti senyum dan tawa kecil peserta pengajian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya. Sekali lagi : terima, kasih. Terima, kasih. Menerima, terus ngasih. Terima lagi, kasih lagi. Terima banyak, kasih banyak. Terima sedikit? Kasih banyak! Lha, ini baru mantaaaap.... hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima, kasih. Terima, kasih... saya mengulang-ulang ungkapan itu. Sebelum ini, sedikit banyak saya telah memahami kewajiban bersedekah, berinfaq, ataupun berzakat. Namun, hanya dengan penyadaran melalui filosofi kata "terima kasih", makna di sebaliknya justru sangat terkesan mendalam. Terngiang di telinga, tertancap senantiasa di hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya adalah salah satu yang meyakini bahwa banyak pahala, manfaat dan bahkan "keajaiban" di balik kesediaan orang untuk memberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahwa kita akan semakin dimudahkan rejekinya, semakin dimudahkan jalan kita menuju cita-cita hidup, semakin di-kaya-kan oleh Tuhan, semakin dibahagiakan, ditenangkan hatinya, dan semakin dicintai oleh-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan mau promosi, tapi ada sebuah buku bagus tentang keajaiban sedekah ini. &lt;em&gt;The Miracle of Giving&lt;/em&gt;, dari Al-Ustadz Yusuf Mansur (Penerbit Zikrul Hakim, 2008). &lt;em&gt;Recommended&lt;/em&gt;, karena bagi saya, buku itu menggugah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... terima, kasih. Tak sekedar menerima, tapi juga ngasih. Memberi. Terima lagi, kasih lagi. Pokoknya : terima, kasih. Terima, kasih. Terima, kasih. Terima...., ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://shirari.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5270950665592893654?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5270950665592893654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5270950665592893654' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5270950665592893654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5270950665592893654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/terima-kasih.html' title='TERIMA KASIH'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZ9NFb0oYDI/AAAAAAAAAqA/PHiCAqD-VNM/s72-c/give-everything+(shirari.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2708823848373894812</id><published>2009-02-18T05:32:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.484+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>FILOSOFI SUKSES SOHO</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZtKg5_w6LI/AAAAAAAAAp4/zPh_vUS7LmM/s1600-h/sukses+(www.kingonsurya.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 229px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZtKg5_w6LI/AAAAAAAAAp4/zPh_vUS7LmM/s320/sukses+(www.kingonsurya.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303914915343427762" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya memang agak terlambat membuka &lt;em&gt;majalah SWA&lt;/em&gt; No. 03, edisi 5-18 Februari 2009, kendati sudah sejak awal bulan itu sang majalah tergeletak di meja kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Edisi kali itu mengambil topik utama tentang &lt;em&gt;Lompatan Kuantum SOHO Group&lt;/em&gt;, sebuah perusahaan raksasa bidang farmasi yang dalam 5 tahun terakhir mampu melejitkan dirinya dari posisi 13 menjadi 3 besar perusahaan sejenis, dengan omzet yang mampu menembus Rp 1 triliun per tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya saya belum tertarik untuk langsung membaca sajian utama ketika membuka majalah itu. Seperti biasa, saya hanya membolak-balik halaman secara sekilas dari arah belakang, hingga pada akhirnya mata saya justru tertumbuk pada ilustrasi foto yang ada di liputan tentang SOHO Group di atas. Bukan (baca : belum) pada materi sajian utama itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa sih, ilustrasi foto itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pingin mengunduhnya untuk posting ini sebenarnya, tapi hasil &lt;em&gt;browsing&lt;/em&gt; di &lt;em&gt;http://swa.co.id&lt;/em&gt; tidak memunculkan gambar dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini gambarannya : ada dua foto, yang pertama foto Andreas Halim Djamwari dan Tan Eng Liang --keduanya adalah Presiden Direktur dan Komisaris Utama Grup SOHO--, dan yang satu foto Tan Eng Liang dan istrinya, dalam sebuah acara kebersamaan dengan para karyawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik bagi saya, adalah logo dan tulisan pada kaos yang menjadi "seragam" dalam acara itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tulisannya? &lt;strong&gt;SUCCESS; &lt;em&gt;Step Up your Career to Create Excellence for Self and SOHO Group&lt;/strong&gt;.&lt;/em&gt; Bersebelahan dengan gambar simbol orang yang sedang "bergerak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca berulang kali. &lt;br /&gt;Hmm... sangat super! Sangat bagus, menurut saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita maknai bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam terjemahan saya yang kurang lancar bahasa Inggris ini, itu berarti : &lt;em&gt;jejakkan langkah lebih tinggi dalam karirmu, untuk menciptakan keutamaan (kesempurnaan) bagi diri dan Grup SOHO&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita memahami filosofi pemberdayaan sumber daya manusia (SDM), maka "motto", "semboyan", "slogan" atau apapun namanya seperti itu sangat cerdas, dan luar biasa ketinggian filosofinya.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Bayangkan. Tuntutan untuk meningkatkan kemampuan bekerja, meningkatkan kapabilitas individu, meningkatkan hasil kinerja, dan sejenisnya, pasti merupakan sebuah tuntutan yang wajar, dan hampir menjadi kemutlakan bagi setiap organisasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lihatlah "tujuan" di belakangnya. Huruf S dari 2 huruf S yang terakhir dalam kata SUCCESS diterjemahkan sebagai &lt;em&gt;SELF&lt;/em&gt; terlebih dahulu, baru S sebagai &lt;em&gt;SOHO Group&lt;/em&gt;. Tidak SOHO Group dulu, baru SELF. Padahal, dari segi huruf pertama kata, bisa saja itu dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya yakin, penempatan "SELF" mendahului "SOHO Group" merupakan olah pikir dan hasil pemikiran --bahkan bentukan karakter-- yang khas dan bukan dipolitisir oleh manajemen SOHO Group. Saya yakin pula, bahwa pola pikir seperti itulah yang mendasari pola manajerial dalam perusahaan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang, baik pemilik, pengurus maupun karyawan di seluruh tingkatannya diajak bekerja secara maksimal, terus mengembangkan diri, sesungguhnya untuk kepentingan dirinya sendiri. Artinya, karyawan sebagai individulah yang paling akan merasakan manfaatnya dari pengembangan diri dan karir itu. Semakin baik kinerjanya, maka efek positif atau manfaat yang diperoleh akan langsung dirasakan oleh dirinya sendiri. Oleh si karyawan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagai sebuah kerja organisasi, maka kebaikan dan kemampuan kerja yang terus meningkat itu, pada akhirnya akan berimbas juga ke perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, manajemen yang membuat "motto" itu sangat jenius. Ia berhasil mengulik "ego" yang pasti dimiliki setiap orang, yaitu ego untuk mengerjakan hal-hal yang menguntungkan bagi dirinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika semua karyawan bersedia berbuat yang terbaik, maka perusahaan secara otomatis akan merasakan dampak positif yang luar biasa. Konsekuensinya, perusahaan harus benar-benar berkomitmen dan bisa menghargai setiap perkembangan kemampuan karyawannya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi SOHO, itu tentu tidak masalah, karena memang, penghargaan terhadap SDM merupakan salah satu fokus utama dalam pengembangan perusahaan. Mereka sangat memahami hal tersebut, dan benar-benar mengejawantahkannya di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simak saja wawancara SWA dengan Tan Eng Liang. "Kekuatan SOHO sebenarnya adalah manusianya," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya meyakini, jika semua karyawan termotivasi, maka akan ada &lt;em&gt;added value&lt;/em&gt; yang besar bagi perusahaan. Jadi, jika kami perhatikan mereka, maka mereka akan perhatikan kami. Jika mereka termotivasi, maka mereka akan bekerja lebih daripada yang dirasakan," lanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kenapa, pertengahan Desember lalu, perusahaan memberi "kejutan" dengan membagikan 3,6 milyar rupiah, yang dibagi secara "mendadak" sebesar Rp 1 juta kepada masing-masing karyawan dalam acara family gathering di Arena Pekan Raya Jakarta, Kemayoran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ditanya "judul" pemberian itu? Jawabnya adalah "Nggak ada judulnya. Pokoknya, kasih saja." Begitu kata Andreas Halim Djamwari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagai &lt;em&gt;reward&lt;/em&gt; yang jelas bagi yang berprestasi, dilibatkannya karyawan dalam penetapan merek dagang --bahkan dilombakan antar karyawan--, tentu menumbuhkembangkan &lt;em&gt;sense of belonging &lt;/em&gt;alias rasa memiliki karyawan terhadap perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm.. satu lagi sebuah sebuah tauladan yang baik bagi kita. Entah kita yang ada di perusahaan berorientasi laba, maupun nirlaba. Intinya, penghargaan terhadap SDM adalah mutlak adanya, dan hal itu sangat berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.kingonsurya.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2708823848373894812?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2708823848373894812/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2708823848373894812' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2708823848373894812'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2708823848373894812'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/filosofi-sukses-soho.html' title='FILOSOFI SUKSES SOHO'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZtKg5_w6LI/AAAAAAAAAp4/zPh_vUS7LmM/s72-c/sukses+(www.kingonsurya.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7969207858496093769</id><published>2009-02-15T06:10:00.008+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>NICHE</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZdaUFVAJ1I/AAAAAAAAApw/SZE75qqk02Y/s1600-h/niche+(www.buraak.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 254px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZdaUFVAJ1I/AAAAAAAAApw/SZE75qqk02Y/s320/niche+(www.buraak.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302806387326199634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Find your niche, so you find your place in  the world."&lt;/em&gt; Temukan cerukmu, maka akan kau temukan tempatmu di dunia. *)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... pertanyaannya : pastikah selalu ada ceruk buat kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pandangan optimis mengatakan : pasti ada!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa?&lt;br /&gt;Karena sesungguhnya kita semua memiliki keunikan, perbedaan, kekhasan dan kemampuan masing-masing, di antara 50-an milyar penduduk bumi. Bukankah sepasang saudara kembar identik pun tetap memiliki perbedaan? Bukankah Anda belum pernah mendengar ada sidik jari yang sama dari sekian banyak data di rumah sakit maupun kepolisian di muka bumi ini? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemampuan, kekhasan, keunikan dan kepemilikan perbedaan itulah yang memungkinkan selalu adanya ceruk (&lt;em&gt;niche&lt;/em&gt;) buat kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Butet Kertaradjasa berhasil dalam monolog-nya, karena ia mampu mendayagunakan bakat yang diberikan Tuhan kepadanya. Ia menjadi populer karena kepiawaiannya menirukan suara dan berbagai gaya tokoh nasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Safir Senduk berhasil menjadi &lt;em&gt;leader&lt;/em&gt; dalam hal perencanaan keuangan, karena ia berhasil melihat &lt;em&gt;niche&lt;/em&gt; dalam berbagai kasus masalah keuangan keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purdie E Chandra berhasil menjadi pelopor "pemanfaatan otak kanan" dengan tips "nekat"-nya dalam berwirausaha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andi F Noya dan Wimar Witoelar sukses sebagai &lt;em&gt;host and presenter &lt;/em&gt;karena kepandaiannya menyatukan pengetahuan, wawasan dan daya kritis serta kepemilikan empatinya terhadap sesama anak bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itang Yunazs sukses memasarkan baju koko &lt;em&gt;Preview&lt;/em&gt;-nya karena memiliki kemampuan melihat akan perlunya penampilan modis dan "alternatif" dari baju muslim kaum pria yang semula "begitu-begitu" saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;George Crum di New York berhasil menjadi "dedengkot" dan &lt;em&gt;pioneer&lt;/em&gt; keripik kentang dunia karena kemampuannya melihat peluang dari komplain pelanggannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa Gym pernah sukses sebagai pendakwah karena ia berhasil memberi "&lt;em&gt;taste&lt;/em&gt;" yang berbeda dalam ceramah-ceramahnya. Membumi, dan sangat mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan berhasil menciptakan gurita media-nya di berbagai pelosok daerah dengan kejeliannya melihat kebutuhan masyarakat lokal akan berita ke-lokal-annya. Maka, dibuatnya "radar-radar" berita sebagai kepanjangan kaki gurita Jawa Pos Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andrea Hirata dan Habbiburrahman El Shirazy sukses dalam debut-debut novelnya karena berhasil menawarkan hal yang berbeda di tengah kejenuhan materi sastra yang cenderung kurang edukatif dan religius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara musik rap tanah air, siapa yang bisa menafikan nama Iwa K? Tak lain karena ia yang berani menasbihkan dirinya sebagai &lt;em&gt;rapper&lt;/em&gt; Indonesia, sebelum pada akhirnya diikuti banyak musisi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Susi Air&lt;/em&gt; sukses dalam jasa penerbangan jarak pendek, karena mampu melihat celah peluang dari kebutuhan publik dalam industri penerbangan domestik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tak kenal Ronny Pattinasarany? Rudy Hartono ataupun Susi Susanti? Chris John? Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin? Bondan Winarno dengan "&lt;em&gt;mak nyus&lt;/em&gt;"-nya? Tukul Arwana? Kaos Joger atau Dagadu Djogdja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka sukses karena mereka berhasil melihat ceruk, untuk kemudian kemudian mengisinya, menekuninya, melatih kemampuan di atasnya, terus disiplin mengembangkannya, berkomitmen dalam ke-jatuhbangun-annya, dan berusaha mem-&lt;em&gt;publish&lt;/em&gt;-nya ke hadapan khalayak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi, seringkali kita melihat ceruk, tapi gamang dalam mengeksekusinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, ceruk itu diisi oleh orang lain, yang kemudian sukses, dan kita hanya bisa menjadi pengekor, atau bahkan sekedar penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betul, bahwa setiap orang membawa rejeki-nya masing-masing. Tapi, rejeki itu disiapkan oleh Tuhan di ujung perjalanan kita sehari-hari. Tuhan sudah menjatahnya untuk kita. Pertanyaannya, apakah kita mau berupaya untuk berjalan menuju ujung pencapaian itu? Bersediakah kita menjemput rejeki itu dengan melakukan apa yang disebut sebagai "usaha"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tidak, dengan kewenangan-Nya yang mutlak, bisa saja Tuhan memberikannya pada orang lain. Bukan kepada kita. Sebaliknya, sangat mungkin, Tuhan akan menambahkan rejeki kita, demi melihat kegigihan usaha kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, &lt;em&gt;niche&lt;/em&gt; selalu ada. Mari coba kita cari ceruk itu. Mari juga segera kita isi, dan segera akan kita temukan, tempat terbaik kita di dunia, sekaligus di hadapan Sang Pencipta, sebagai bentuk tanggung jawab kita sebagai manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;*) dari artikel Saudara Andi Odang, di Majalah LuarBiasa No. 2, Februari 2009.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ilustrasi : http://www.buraak.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7969207858496093769?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7969207858496093769/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7969207858496093769' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7969207858496093769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7969207858496093769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/niche.html' title='NICHE'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZdaUFVAJ1I/AAAAAAAAApw/SZE75qqk02Y/s72-c/niche+(www.buraak.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-582408744876327448</id><published>2009-02-14T06:01:00.011+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>KEINGINAN 24 KARAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZYSBqwI8WI/AAAAAAAAApo/oMZsB5sL8P0/s1600-h/gold+(www.businesspundit.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 255px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZYSBqwI8WI/AAAAAAAAApo/oMZsB5sL8P0/s320/gold+(www.businesspundit.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302445431140708706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di status &lt;em&gt;Facebook&lt;/em&gt; (Fb) saya kemarin Jum'at (13/02/09) --&lt;em&gt;Friday the 13th, kata Safir Senduk di Fb juga&lt;/em&gt;-- saya menulis : "&lt;em&gt;Fajar S seneng, tadi malem dapet beli dua buku terakhir Dahlan Iskan (CEO Jawa Pos Group). Ada yg suka tulisan beliau juga?&lt;/em&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya memang senang dengan tulisan-tulisan Dahlan Iskan yang selalu kritis menyikapi kondisi. Ketika sekedar bercerita tentang pengalamannya pun, gaya pengisahannya membuat saya terhipnotis. Tak mau berhenti membacanya. Juga cara beliau "mengikat makna" dari apa yang dilihat dan dirasakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, benar kan, baru halaman 4 dari buku "&lt;em&gt;Menegakkan Akal Sehat&lt;/em&gt;", saya sudah menemukan &lt;em&gt;insight&lt;/em&gt; baru, tentang "&lt;em&gt;Keinginan 24 Karat akan Menghasilkan Emas&lt;/em&gt;".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sudah pernah membaca artikel ini di Jawa Pos &lt;em&gt;Online&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;www.jawapos.com&lt;/em&gt;). Tapi, begitulah saya, lebih cepat meresapkan tulisan verbal dalam bentuk buku &lt;em&gt;or&lt;/em&gt; cetakan ketimbang dalam bentuk &lt;em&gt;e-book&lt;/em&gt; ataupun &lt;em&gt;e-paper&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke topik, apa "Keinginan 24 Karat" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lain, keinginan yang sangat besar, yang bahkan sudah menjelma menjadi obsesi dan merasuk dalam emosi, untuk menggapai atau mendapatkan sesuatu. Dalam kadarnya yang 24 karat, maka upaya pemenuhan yang dilakukan akan dicobaupayakan semaksimal mungkin. Kalo belum &lt;em&gt;mentok&lt;/em&gt;, belum berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan berkaca dari pengalaman sederhananya --lebih tepat keinginan sederhananya-- untuk sekedar makan ikan di sebuah retoran kecil bernama Handayani di Jalan Haji Hayun, Palu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sederhana, bukan? Pasti Anda akan menjawab : ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kondisi sesungguhnya menjadi tidak sederhana manakala keinginan itu muncul di Bandara di Balikpapan, hanya karena tahu bahwa ada jadwal penerbangan ke Palu satu jam kemudian, terhitung dari waktu kedatangannya di Balikpapan dari Jakarta hari itu. Menjadi tidak sederhana manakala keinginan itu harus berkonsekuensi pada penundaan acara beliau di Balikpapan. Menjadi tidak sederhana karena beliau bersikukuh untuk menunda jadwal makan malam yang seharusnya sudah masuk "jatuh tempo", mengingat beliau tidak boleh telat makan sebagaimana kata dokter yang mengawal masa penyembuhan "sakit hati"-nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi tidak sederhana pula ketika pesawat Batavia Airlines yang terjadwal berangkat pukul 19.00, molor berulang kali hingga nantinya baru bisa &lt;em&gt;take off&lt;/em&gt; pukul 21.30. Menjadi semakin tidak sederhana ketika semua itu berarti pesawat baru bisa mendarat di Palu pukul 22.20, dan mereka baru akan sampai ke restoran sekitar pukul 23.00. Jam di mana restoran itu sendiri sudah tiba pada jadwal menutup pintunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Dahlan Iskan mengaku, keinginannya sangat tinggi. 24 karat. Karenanya, dalam kurun waktu itu, ia --dibantu teman-temannya-- melakukan segala sesuatu yang memungkinkan keinginan tokoh pers ini terwujud. Mulai dari menelpon teman di Palu supaya bersedia merayu sang pemilik restoran agar tidak menutup pintu sampai rombongannya datang, meminta kesediaan pemilik restoran untuk tetap mau memasak di tengah keletihannnya menjelang tengah malam, juga memonitor kondisi kesehatan Dahlan Iskan lantaran kenekatannya menahan lapar sampai lewat beberapa jam dari jadwal yang seharusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, inilah yang didapat Dahlan Iskan : Restoran Handayani menunggunya. Bahkan, lantaran sempat "heboh", rencana kedatangannya diketahui beberapa koleganya di Palu, yang kemudian ikut bergabung makan. Akhirnya, malam itu berakhir "&lt;em&gt;happy ending&lt;/em&gt;". Makan ikan keturutan, kenikmatan ter-reguk, kondisi kesehatan tak terganggu, bertemu teman-teman yang menyenangkan, yang bahkan sempat berkolaborasi dengan pemilik restoran dalam memasak sebuah menu spesial, dan pada akhirnya jadi bisa menengok &lt;em&gt;progress&lt;/em&gt; pembangunan Gedung Graha Pena Palu milik Jawapos Group.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahlan Iskan sangat puas. Sangat menikmati hasilnya. Ia merasa "sukses".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam istilah Dahlan : itulah buah dari keinginannya yang 24 karat. Dengan kadar karat maksimal itu, maka yang didapatkannya adalah emas murni. Benar-benar emas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ia mengatakan : siapa saja yang punya keinginan, sebaiknya ditanyakan dulu ke dirinya sendiri. Berapa karatkah keinginannya itu? 18 karat? 20 karat? 22 karat? Atau, 24 karat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masing-masing karat akan menentukan derajat kesuksesannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan, jika keinginannya hanya 18 karat, pasti ia sudah akan tergoda oleh lapar di Balikpapan, dan akhirnya "menyerah" dengan makan malam di sana. Apalagi menurutnya, baru saja dibuka cabang rumah makan masakan &lt;em&gt;Tiuchu&lt;/em&gt;, restoran favoritnya di Pontianak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, menurut akal sehatnya, keinginan yang 24 karat-lah, yang akan benar-benar menghasilkan emas. Kalau ada orang ingin memperoleh sukses terbesar, tapi kadar keinginannya hanya 18 karat, di mana letak akal sehatnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya setuju dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.businesspundit.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-582408744876327448?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/582408744876327448/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=582408744876327448' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/582408744876327448'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/582408744876327448'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/keinginan-24-karat.html' title='KEINGINAN 24 KARAT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZYSBqwI8WI/AAAAAAAAApo/oMZsB5sL8P0/s72-c/gold+(www.businesspundit.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8990253100756797698</id><published>2009-02-10T04:30:00.012+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>KETERGANTUNGAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZCs0WFGJXI/AAAAAAAAApg/GI6cVynOVV4/s1600-h/blog-addict+(www.blogohblog.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 234px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZCs0WFGJXI/AAAAAAAAApg/GI6cVynOVV4/s320/blog-addict+(www.blogohblog.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300926776695203186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jelas, tak hanya obat-obatan atawa zat adiktif lainnya yang bikin kita ketergantungan.&lt;br /&gt;Barang-barang sekunder, bahkan tersier atau er-er yang lain, banyak yang menciptakan ketergantungan kita atasnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Handphone&lt;/em&gt; adalah satu contoh yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malem Minggu lalu, waktu kami main ke Bandung dengan teman-teman di kantor, baterai hp saya habis. Abis bis. Sama sekali nggak nyala. Waktu itu pukul 11-an malam. Kurang sedikit lah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, saat itu kami baru selesai dari bersantap malam dan mengadakan malam kebersamaan di Sierra Cafe. Di tengah perjalanan pulang ke Grand Seriti, saya teringat, satu tas saya ketinggalan di sana. &lt;em&gt;Blaik!&lt;/em&gt; Itu tas isinya perlengkapan penting "panitia" je...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau nelpon dan minta tolong EO yang setau saya mungkin masih di lokasi, hp sudah &lt;em&gt;off&lt;/em&gt;. Mau nelpon temen lain yang punya nomor sang EO, saya tak bisa melihat nomor kontaknya. Karena itu tadi, hp sudah sama sekali nggak nyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau balik kucing, saya pasti akan kehilangan "&lt;em&gt;guide&lt;/em&gt;" jalanan Bandung, karena memang sejak awal ke Bandung, saya hanya pasrah nguntit rombongan kantor yang pake bis besar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat, saya seolah nggak bisa mikir. Bener! Hanya karena sesuatu yang tampaknya "remeh" seperti itu. Bukankah saya bisa tetap balik ke Sierra, dan masalah tas bisa segera beres?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah bingung di jalan? Bukankah masih banyak tempat bertanya di sepanjang jalan? Atau nanya dengan orang Sierra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, mungkin karena kebiasaan praktis dan "gampang", otak ini jadi malas berpikir. Bebal. Nggak kreatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, jaman dulu saya yakin, jika hal persis seperti itu terjadi, saya nggak akan sebingung itu. Biasa-biasa aja lah. Otak akan kreatif mencari ide &lt;em&gt;or&lt;/em&gt; solusi, dan tak perlu muncul kepanikan seperti yang saya alami waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, mencari seseorang, bahkan melakukan apa saja, tetap bisa beres meski teknologi belum semaju sekarang. Tapi, "gara-gara" teknologi pula, kita sekarang merasa tak bisa kerja jika sang teknologi tidak tersedia di hadapan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau ngetik, alasan : &lt;em&gt;printer&lt;/em&gt;-nya ngadat! Lhah, dulu, tak ada masalah kan, menggunakan mesin tik manual?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau pergi, nggak ada mobil. Motor lagi dipakai istri. Lha dulu? Bukannya sangat biasa naik metro mini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, bersama keluarga, tivi rusak, "&lt;em&gt;Kok nggak enak banget sih?". &lt;/em&gt;Lha dulu, waktu kecil, nggak ada tivi pun oke-oke saja tuh...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, kita sendiri yang menciptakan ketergantungan itu. Kita mulai terbiasa "meninggalkan" sebuah kebiasaan lama, dalam konteks ekstrim : menghilangkannya sebagai kemungkinan solusi yang sesungguhnya masih sangat baik dan bijak. Padahal, kebiasaan lama itulah yang pada suatu ketika bisa "menyelamatkan" kita, manakala teknologi sedang tak bersama kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketergantungan, dalam tarafnya yang tinggi, memang tidak baik. Ia bisa membuat kita tak lagi kreatif. Otak menjadi "tumpul" dan miskin solusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi perenungan yang lain, saya membayangkan, di kantor kita, di kehidupan keluarga, di kampung, di komunitas, dan sebagainya, mungkinkah kita menjadi sang teknologi itu? Artinya, mungkinkah kita bisa membuat lingkungan kita tergantung pada keberadaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bisa, ada poin positif. Yakni, pengakuan akan eksistensi kita. Ada penghargaan untuk kita, dan ada bukti bahwa kita memang dibutuhkan di sana. Ini mungkin satu sisi yang "menyenangkan". Kontribusi kita dirasakan perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan pernah menerima "wejangan" dari sebuah bacaan, bahwa kita harus berusaha menjadi "gantungan" bagi lingkungan kita. Jika pingin menjadi pekerja berharga mahal, maka ciptakan kebergantungan kantor pada kita. Jika pingin menjadi &lt;em&gt;the best player&lt;/em&gt; di lapangan bola, asah terus kemampuan pribadi dalam menggocek bola dan membuat gol, agar klub kita senantiasa membutuhkan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak sepenuhnya sependapat dengan "wejangan" itu. Itu bagus, tapi egoistis. Bagi saya, pekerja yang baik adalah pekerja yang memang sangat kredibel melaksanakan tugasnya, bisa memuaskan kebutuhan organisasi, tapi di sisi lain juga sangat ikhlas berbagi kemampuan dan bisa bekerja sama dengan baik dengan pekerja dan komponen kerja yang lain. Bahkan tak hanya itu : bisa ikut mengembangkan orang lain. Toh, selain kegiatan privat, nyaris tak ada pekerjaan yang dari hulu ke hilir bisa dilakukan "sorangan bae". Sendirian saja. Kita tetap butuh teman. Kita tetap butuh orang lain...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, dalam konteks organisasi, ada (bahkan bisa jadi lebih banyak) poin negatifnya. Penciptaan ketergantungan kepada seseorang seperti ini berakibat sangat tidak baik. Karena, pada prinsipnya, ketidakberadaan seseorang tidak boleh menjadi alasan bagi organisasi itu untuk bubar jalan. Ia harus tetap bisa berjalan dengan baik. Siapapun yang berada di dalamnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, dalam sebuah organisasi, kantor, keluarga, komunitas, lingkungan tempat tinggal, harus ada sebuah sistem. Keberadaan sistem inilah yang memastikan semuanya akan terus berjalan, siapapun pelaksana sistem tersebut. Catatannya hanya satu : kualitas dan hasil kerja, memang menjadi taruhannya. Artinya, dengan pelaksana yang berbeda, bisa menciptakan hasil yang berlainan. Namun, semakin baik sistem yang diciptakan, semakin standar juga hasil yang bisa digapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, kita juga jangan membiasakan diri tergantung pada seseorang, atau pada sebuah instrumen alat tertentu dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dan dalam mencapai sebuah tujuan. Kecuali kita dalam kondisi sakit, anfal, atau kondisi &lt;em&gt;force majour&lt;/em&gt; lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, pupuk terus kreatifitas, tanpa harus melupakan "cara-cara dan kebiasaan lama" yang mungkin suatu ketika bisa menjadi jalan keluar terbaik. Biasakan juga untuk tidak tergantung pada satu personil ataupun instrumen apapun dalam kehidupan ini, kecuali pada "gantungan terbaik" kita : siapa lagi kalau bukan Tuhan kita yang Maha Segala itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : "blog-addict", from http://www.blogohblog.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8990253100756797698?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8990253100756797698/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8990253100756797698' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8990253100756797698'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8990253100756797698'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/ketergantungan.html' title='KETERGANTUNGAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SZCs0WFGJXI/AAAAAAAAApg/GI6cVynOVV4/s72-c/blog-addict+(www.blogohblog.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7222007016470968973</id><published>2009-02-08T06:36:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.486+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>MELATIH MENTAL</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SY4h6QUMi5I/AAAAAAAAApY/riT4fuShRYQ/s1600-h/confidence+(kiatpenjualan.com).gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 283px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SY4h6QUMi5I/AAAAAAAAApY/riT4fuShRYQ/s320/confidence+(kiatpenjualan.com).gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5300211096157457298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kapan sebenarnya, atau kapan sih, momen paling efektif bagi kita untuk melatih sebuah mental tertentu? Misalnya, mental bertanding, mental juara, mental untuk tampil dengan percaya diri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawabnya : pada saat orang itu ikut bertanding. Pada saat individu itu terus menapak ke tangga juara. Pada saat orang-orang itu mencoba untuk benar-benar melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action&lt;/span&gt; di sebuah forum &lt;span style="font-style:italic;"&gt;or&lt;/span&gt; pertunjukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Tanpa ikut bertanding, tanpa berani menapakkan langkah dari hulu ke hilir juara, tanpa keberanian untuk mulai mencoba, maka mental itu akan sulit terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melatih mental tanpa melakukan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;action&lt;/span&gt; sebagai tindak lanjutnya, sama saja belajar berenang tanpa pernah nyebur ke kolam. Persis sama dengan belajar pede dari sekolah kepribadian tanpa pernah tampil di muka umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seperti itu, kapan konstruksi mental yang diinginkan bisa benar-benar terwujud?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, saya meyakini telah terjadi perubahan mental dari teman-teman satu tim saya di kantor. Bukan urusan pekerjaan, tapi urusan untuk tampil menghibur di depan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;audience&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceritanya, ada kesempatan untuk menampilkan kebisaan atau atraksi atau apapun, dalam sebuah malam kebersamaan. Waktu yang hanya dua hari pasca pemberitahuan --di tengah tumpukan pekerjaan, efektifnya bahkan hanya dua jam!-- untuk latihan, sempat membuat kawan-kawan tampak bingung. Belum yakin dengan apa yang akan ditampilkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, atau tepatnya antar kami, terus memompa keberanian, karena memang pada akhirnya kami sepakat untuk tampil "gila". &lt;span style="font-style:italic;"&gt;All out&lt;/span&gt;, yang tentu berbeda sekali dengan "karakter" keseharian kami yang seringkali harus tampil serius, dengan dahi yang berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat tidak pede, dan bahkan teman-teman belum bisa membayangkan seperti apa mereka nanti di pentas. Saya bilang, kita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;are the best&lt;/span&gt;! Kita paling siap, dan pasti akan tampil baik sesuai rencana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benarlah. Eng ing eeeng.... jreng! Tampillah kami malam tadi. Dengan bekal pede yang sudah mulai merasuk, kami benar-benar tampil &lt;span style="font-style:italic;"&gt;all out&lt;/span&gt;. Hasilnya? Luar biasa! Kami dinilai tampil paling baik, dan menang! Alhamdulillah....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu. Yang penting saya ceritakan adalah, bahwa saya melihat sebuah perubahan besar terhadap teman-teman. Yang semula nggak yakin bisa tampil baik, menjadi yakin. Yang semula merasa kurang pedhe, jadi sangat pede. Yang semula deg-degan dan khawatir akan kesuksesan, menjadi percaya dan mantap bahwa "kita memang bisa!". "Penghargaan" berupa kemenangan dan antusiasme &lt;span style="font-style:italic;"&gt;audience&lt;/span&gt; membuktikan semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan, kepercayaan diri dan ketetapan hati bahwa "kita memang bisa!" tadi saya yakini tak akan muncul secepat dan seefektif itu terbentuknya, jika kami tak berani untuk mulai mencoba. Kalau hanya membayangkan di atas kertas atau di dalam benak, saya tak yakin mental itu akan terlatih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan yakin, setelah ini, semua personel akan berubah menjadi sangat pede jika ada permintaan tampil. Tak ada malu-malu yang kontraproduktif lagi. Tak ada ragu-ragu bahwa mereka bisa berbuat yang terbaik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga semua itu merasuk ke kepercayaan diri dalam bekerja. Amien.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu, memang pe-er buat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thanks to Ricky Andriano yang sangat mendukung kami dalam "latihan mental" ini. You're the best, Rick!&lt;/span&gt;--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://kiatpenjualan.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7222007016470968973?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7222007016470968973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7222007016470968973' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7222007016470968973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7222007016470968973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/melatih-mental.html' title='MELATIH MENTAL'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SY4h6QUMi5I/AAAAAAAAApY/riT4fuShRYQ/s72-c/confidence+(kiatpenjualan.com).gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7340170846481595031</id><published>2009-02-02T06:15:00.013+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>LUNA MAYA MARAH!</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYZ-wqvD7KI/AAAAAAAAApQ/r_vxAuW1iPI/s1600-h/marah+(gintingripka.files.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYZ-wqvD7KI/AAAAAAAAApQ/r_vxAuW1iPI/s320/marah+(gintingripka.files.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298061386218466466" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Luna Maya marah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itulah. Itu juga yang menjadi pertanyaan dalam hati saya. Kalau seseorang marah --entah itu pejabat, selebriti, manusia biasa ataupun gembel (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;maaf&lt;/span&gt;) sekalipun--, bukankah itu hal biasa? Bukankah itu manusiawi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kenapa musti jadi berita? Di mana nilai beritanya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, kalau ada Budiman Hakim di sebelah saya, dan bersama saya ngomongin soal berita &lt;span style="font-style:italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt; ini, pasti dia akan berkomentar sebagaimana ia tulis dalam buku terbarunya, &lt;em&gt;Sex After Dugem; Catatan Seorang Copywriter&lt;/em&gt; :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;"Saya nggak pernah ngerti, kenapa orang bisa mencari uang dengan cara begitu ya? Kalo beritanya tentang perkembangan karir atau tentang profesinya si artis sih gak masalah. Atau kalo memberitakan selebriti itu ketangkep karena narkoba juga ok. Ada celeb yang berbuat kriminal juga masih boleh dipublikasikan. Tapi sebagian besar berita infotainment ini memasuki wilayah privasi para public figure itu. Bahkan nyari beritanya maksa dan cenderung neror banget lagi. Ada yang camping di depan rumah si artis segala. Ada yang ngegebrak mobil si selebriti kalo mereka nggak mau ngasih info. Biadab banget ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harusnya kan ada kode etik untuk menghormati kehidupan pribadi orang lain. Kok tega banget ngorek-ngorek borok orang terus disebarkan ke khalayak ramai? Kan gak enak nerima gaji tiap bulan dari hasil menyebarkan aib orang lain? Masa tega sih ngasih makan anak bini kita dari uang hasil kerja seperti itu?"&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu kata Budiman --yang notabene orang iklan dan akrab dengan artis sekaligus dekat dengan wartawan-- di halaman 189.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demi melihat "kasus" Luna Maya marah, lihatlah bagaimana sang pemburu berita itu meneror Luna. Tak memberi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;space&lt;/span&gt; sedikitpun bagi Luna untuk "bernafas". Tak ada lagi ruang privat dalam hidup selebriti. Padahal, menikmati ruang privat adalah hak setiap orang, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelahnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;infotainment&lt;/span&gt; lantas berulang kali memberitakan tanpa mendalami kembali penyebab marahnya. Ah, Budiman pasti juga akan nyolot seperti tulisannya di halaman 192 :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;blockquote&gt;"Nah, gimana menurut kalian? Kampungan banget kan gosipnya? Masa gitu-gituan jadi berita? Katanya wartawan? Katanya udah resmi jadi anggota PWI? Masa bikin berita kayak gitu? Mana news valuenya? Tolol banget ga sih?"&lt;/blockquote&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju. Terutama dengan ketiadaan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;news value&lt;/span&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, menjadi tolol juga kalau posting ini hanya cerita soal Luna Maya yang emosi, kemudian marah. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Supaya nggak berubah jadi "postingan tolol", bagaimana kalau saya ajak Anda untuk menengok salah satu salah kaprah dari pengertian emosi? Mau aja ya? :) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, emosi adalah sesuatu yang bisa kita kendalikan. Ia berada di wilayah yang bisa kita kuasai, seberapapun besarnya pengaruh dari luar diri kita. Meskipun, tetaplah manusiawi jika pada suatu ketika kita "tergoda" untuk emosi, dan kemudian marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang pengelolaan emosi, maka buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Emotional Quality Management&lt;/span&gt; dari Anthony Dio Martin adalah salah satu buku terbaik, selain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Emotional Spiritual Quotient&lt;/span&gt; (ESQ)-nya Ary Ginanjar Gustian tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu salah kaprah dari pengertian emosi adalah, dimengertinya "emosi" sebagai padanan kata "marah". Luna Maya emosi! Luna Maya marah! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, marah itu hanya salah satu dari ribuan jenis emosi. "Emosi" sendiri sebenarnya berarti "penuh perasaan." Karenanya, emosi itu tidak melulu adalah persoalan yang jelek. Emosi bisa juga menjadi sesuatu yang baik. Dalam bahasa Anthony Dio Martin, lebih tepat dikatakan, ada "emosi yang menyenangkan" dan ada "emosi yang tidak menyenangkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emosi pada dasarnya adalah kondisi yang netral. Emosi 'baru' menjadi negatif atau positif tergantung kepada akibat yang ditimbulkannya," kata Anthony.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mencontohkan rasa emosi berupa rasa iri. Jika fakta yang menyebabkan iri ditanggapi sebagai "ancaman", sehingga si peng-iri lantas menjelek-jelekkan atau bahkan memfitnah orang yang di-iri-kan, itu berarti emosi yang negatif. Tapi, kalau rasa iri itu berubah menjadi semangat untuk mengatakan "Ya, aku juga pasti bisa seperti dia!" lalu diikuti perbaikan diri, maka ia adalah emosi yang positif. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sekali lagi, emosi itu sebenarnya netral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, pe-er bagi kita sebenarnya adalah pengendalian itu. Bagaimana rasa iri, rasa sedih, rasa senang, rasa jengkel, rasa bersalah, rasa marah, rasa kare ayam, rasa baso sapi, rasa ayam bawang.. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh, tiga yang terakhir ini bukan! Itu rasa salah satu merk mie instan.. hehe&lt;/span&gt;), dan sebagainya itu wajar adanya. Lha wong sejak bayi saja kita sudah dibekali tiga macam emosi dasar kok : takut, marah dan senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, kepemilikan emosi bagi seorang Luna Maya ataupun Fajar S Pramono adalah wajar. Tinggal bagaimana menyikapinya, yang biasanya akan terwujud dalam tindakan nyata berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luna Maya memang lepas kendali. Tidak bisa mengontrol emosinya waktu itu. Maka, marahlah ia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain dengan saya. Kalau saya jadi Luna Maya waktu itu (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;nggak mungkin banget ya? hihihi...&lt;/span&gt;), dan dengan bekal ilmu dan kemampuan seputar pengelolaan emosi, saya pastikan..., saya jamin..., saya lebih kalap dari dia, dan saya pastikan salah satu dari wartawan itu sudah kena tonjok tangan kanan atau kena tendang kaki kanan saya! Hahaha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih parah ternyata.... Tapi, itulah saya. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : (jelas bukan) Luna Maya; dari http://gintingripka.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7340170846481595031?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7340170846481595031/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7340170846481595031' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7340170846481595031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7340170846481595031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/luna-maya-marah.html' title='LUNA MAYA MARAH!'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYZ-wqvD7KI/AAAAAAAAApQ/r_vxAuW1iPI/s72-c/marah+(gintingripka.files.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-6922106274222396893</id><published>2009-02-01T20:55:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.487+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>BUKAN REMEH BUKAN TEMEH</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYW26pE428I/AAAAAAAAAow/fKeWPT74tfQ/s1600-h/kentut+(www2.kompas.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 246px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYW26pE428I/AAAAAAAAAow/fKeWPT74tfQ/s320/kentut+(www2.kompas.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297841655246281666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, terngiang kembali kata-kata Miguel Cruzatta yang dicukil Ippho Santosa dalam bukunya, &lt;em&gt;13 Wasiat Terlarang; Dahsyat dengan Otak Kanan&lt;/em&gt;. Mungkin karena perut yang sakit, yang membuat udara dalam perut berputar-putar, kembung angin, dan seolah ingin kentut (&lt;em&gt;maaf...&lt;/em&gt;), tapi nggak keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini kata Miguel Cruzatta :&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Sopan-santun itu bagai udara di dalam ban. Harganya murah, namun bisa membuat perjalanan menjadi lebih nyaman&lt;/em&gt;." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan soal udaranya, yang kebetulan berhubungan dengan masalah dalam perut saya. Tapi soal sesuatu yang "murah meriah", yang seringkali kita remeh-temehkan, tapi sesungguhnya sangat bermanfaat bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Udara untuk bernafas? Jelas. Air untuk mandi, minum dan segala aktivitas keseharian? Jelas juga. Mereka itulah yang sering disebut barang non ekonomis, karena sesungguhnya sudah disediakan oleh alam dalam kadarnya yang berlimpah, tapi pada akhirnya menjadi barang ekonomis di jaman sekarang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau beli O2 dalam tabung? Bayar dong....&lt;br /&gt;Mau minum yang menyehatkan? Air mineral? Uangnya dulu dong....&lt;br /&gt;Mau mandi air bersih di Gunungkidul? Ongkos angkutnya dong....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika banyak tersedia, unsur-unsur itu seringkali dipandang sebelah mata. Pas di permukaan bumi, oksigen tak jadi masalah. Pas ke pabrik yang polutif? Ketika di pesawat terbang yang terus meninggi? Hmmm... pasti oksigen menjadi kebutuhan yang mahal harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu yang menyangkut barang non ekonomis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kentut tadi itu sendiri? Wah, di hari-hari "normal", kehadirannya dicaci maki! Dijauhi, disingkirkan dari kerumunan, dikucilkan! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, pas sakit kayak begini, hmmm... betapa saya merindukannya! :D&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pula sebabnya, saya sering memelesetkan lagu Doel Sumbang (judulnya lupa), yang berbunyi, "&lt;em&gt;Cinta itu anugerah, maka berbahagialah&lt;/em&gt;...", menjadi "&lt;em&gt;Kentut itu anugerah, maka berbahagialah&lt;/em&gt;..." ketika saya diprotes anggota keluarga karena menghadirkan "tamu istimewa" itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, yang menyangkut barang-barang fisik sehari-hari? Anak saya yang cewek, hampir selalu membeli setengah lusin atau bahkan selusin karet pengikat rambut ketika jalan-jalan Sabtu atau Minggu. Karet itu digunakannya sebagai kelengkapan alat mandi, agar rambutnya tak ikut basah. Ia memang dibiasakan untuk tidak membasahi rambut, kecuali ketika harus keramas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hampir di tiap pagi atau sore, saat si cewek ini harus mandi, ia selalu berteriak, gedubrak gedubruk mencari karetnya. Dan... memang jarang ketemu! Hehe... Akhirnya, ritual membeli karet menjadi suatu kebiasaan mingguan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang murah, tapi kok ya membuat heboh jika ia tak ada ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak contoh, yang pasti bisa membuat blog ini penuh hanya dengan menampilkannya. Sandal jepit di kantor, tas kresek di rumah, tusuk gigi di meja makan(&lt;em&gt;wah, tanpa ini hidup saya kehilangan kenyamanannya! Thanks to penemunya....&lt;/em&gt;), sapu tangan di saku celana, semua itu contoh barang yang mungkin dibilang "remeh temeh" bagi sebagian orang, tapi sangat berarti bagi saya! Anda pasti punya contoh sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya : kenapa sih, ada sesuatu --juga seseorang-- yang seringkali kita anggap remeh temeh, padahal pada saat tertentu, ketiadaannya mampu mengurangi kadar kenyamanan, dan bahkan kebahagiaan kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajarannya : semua unsur, semua barang, dan semua orang sesungguhnya mempunyai peran masing-masing. Bahkan yang haram, makruh, negatif, merusak sekalipun. Ingat, daging babi menjadi boleh dimakan ketika kriteria &lt;em&gt;force majour&lt;/em&gt; versi Al-Qur'an menemukan kualifikasinya. Obat-obatan dan bahan kimia terlarang, bisa menjadi obat manakala digunakan secara tepat sesuai kaidah kedokteran. Yakinlah, Tuhan menciptakannya bukan tanpa guna. Hanya kita, bisa mendayagunakannya secara tepat atau tidak. Secara halal atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So sekali lagi, jangan pernah remeh dan temehkan apapun dan siapapun. OK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www2.kompas.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-6922106274222396893?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/6922106274222396893/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=6922106274222396893' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6922106274222396893'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6922106274222396893'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/02/bukan-remeh-bukan-temeh.html' title='BUKAN REMEH BUKAN TEMEH'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYW26pE428I/AAAAAAAAAow/fKeWPT74tfQ/s72-c/kentut+(www2.kompas.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1643077207397078985</id><published>2009-01-31T05:14:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.488+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>KEMARUK</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYOTWOOfbrI/AAAAAAAAAoQ/2-Fp9tdI2I4/s1600-h/mendoan+(i203.photobucket.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 242px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYOTWOOfbrI/AAAAAAAAAoQ/2-Fp9tdI2I4/s320/mendoan+(i203.photobucket.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5297239596703116978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa ya, terjemahan paling pas untuk kata "kemaruk" dalam bahasa kampung kami? "Berlebihan", mungkin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, hmm..., sebenarnya kurang pas juga. Mungkin lebih tepat "mencoba memenuhi hasrat yang besar, namun tanpa melihat kemampuan atau kondisi yang ada" (&lt;em&gt;lhah, kok panjang gini translate-nya? hehe...).&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya begitulah. Atau, enaknya pakai contoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari yang lalu, saya mencoba salah satu tujuan wisata kuliner di daerah Tebet. Namanya Rumah Makan "Eling-Eling", yang menyajikan makanan khas Banyumas-an. Kebetulan, saya membaca &lt;em&gt;feature&lt;/em&gt; tentang rumah makan ini di halaman &lt;em&gt;Food &amp; Beverage&lt;/em&gt;, harian &lt;em&gt;Media Indonesia Minggu &lt;/em&gt;(25/01/09).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu yang membuat saya "ngiler" ketika membacanya : tempe mendoan! Wuih, saya suka banget makanan "setengah mateng" ini. Tempe tipis yang biasanya memang dibuat khusus untuk mendoan, lebar dan panjang (baca : luas, hehe...), dibalut adonan tepung beras, tepung terigu, ketumbar, merica dan bawang putih. Hmmm... nyam nyam pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dasar sudah lama nggak makan mendoan "asli", begitu duduk, saya langsung memesannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu porsi, Pak?" tanya sang pelayan.&lt;br /&gt;"Satu porsi isi berapa?" saya balik bertanya.&lt;br /&gt;"Satu porsi isi sepuluh. Pesan satuan juga bisa," jawab sang pelayan ramah.&lt;br /&gt;Berpikir sejenak, dan dengan dorongan "emosi" akan nostalgi, dengan tegas saya katakan, "Satu porsi!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pelayan mengangguk, dan mencatat pesanan itu. Dilanjutkan dengan pesanan lainnya, seperti sroto daging telor, ketupat, es jeruk, sambil tak lupa menjamah rempeyek kacang yang "Jawa banget" di meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesanan sroto datang beserta ketupat. Saya cicipi sambil ngemil rempeyek. Tak lama kemudian datanglah sang mendoan. Dan tahukah Anda, seberapa banyak ternyata yang namanya "satu porsi" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu piring datar besar, dengan sajian yang tinggi menjulang!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhuueng...!!! Bener-bener banyak, pembaca! Padahal, kami cuman bertiga. Bahkan, satu di antara kami adalah seorang kawan perempuan, yang tentunya tak biasa makan se-"rakus" kami yang laki-laki. Kedua kawan saya juga terkejut bukan kepalang, karena memang mereka tak tahu bahwa saya memesan satu porsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membayangkan sebegitu banyak makanan tersaji di depan kami, saya langsung merasa kenyang. Kalau ada pameo "kalah sebelum bertanding", maka saya menjadi "kenyang sebelum bersantap", hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, sroto dan ketupat saya singkirkan. Rempeyek yang masih separo saya jauhkan dari hadapan, dan saya ganti dengan piring kosong untuk menyantap mendoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu mendoan, begitu nikmat. Sroto hanya tersentuh kuahnya, sebagai penghantar rasa seret di tenggorokan. Ketupat? &lt;em&gt;Untouchable&lt;/em&gt;. Bukan tak bisa tersentuh, tapi yang pesan malas menyentuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendoan kedua, masih nyamleng. Hmmm... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, srotonya kok nggak jadi dimakan?" kata kawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nanti, setelah mendoan ini habis," kata saya sok gaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Habis sudah mendoan kedua. Perut yang "sudah kenyang duluan" tadi, terasa benar-benar sesak. Ilfil (&lt;em&gt;ilang feeling&lt;/em&gt;) sudah dengan sroto, apalagi ketupatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena nafsu, saya ambil lagi mendoan ketiga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang terjadi? Seenak-enaknya sang mendoan, kalau perut sudah "angkat tangan", ya sangat susah dan amat payah saya berusaha menelannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kedua kawan yang sudah menghabiskan sroto plus ketupat dan nasi masing-masing, hanya mampu "membantu" saya menghabiskan sang mendoan, masing-masing satu biji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhess. Mau diapakan "seonggok" mendoan yang masih sebegitu banyak itu? Yach, tak ada yang lebih bijak, kecuali membungkusnya. Masih dengan keinginan sanggup menghabiskan nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi, sampai sore ketika balik ke kantor, bungkusan mendoan itu tak sanggup tersentuh. Pilihan bijak berikutnya, dipersilakan kepada temen-temen security untuk mencicipi mendoan yang pastinya sudah dingin dan tak seenak ketika masih panas. "Kasihan" ya, mereka... hehe. Mestinya mereka juga berhak atas sajian yang hangat seperti yang saya makan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, cerita yang begitu panjang tadi adalah "terjemahan" dari kemaruk. Nafsu yang besar, tapi tenaga kurang. Hanya keinginan emosional, tanpa melihat kondisi dan kemampuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama, dengan ketika saya pulang kantor, sudah di atas jam 10 malam, masih membawa kerjaan yang kalau dikerjakan sampai selesai bisa memakan waktu minimal empat jam! Lhah, lantas kapan nonton tivi-nya? Kapan bercengkerama dengan keluarga-nya? Kapan istirahatnya?  Kapan tidurnya? Kapan ibadahnya (&lt;em&gt;ceile, sok religius nih, ceritanya...&lt;/em&gt;)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya gitu deh. Keinginan menyelesaikan pekerjaan sangat besar, tapi hasilnya : pekerjaan justru tak tersentuh. Ya iyalah. Pulang sudah capek. Kebutuhan &lt;em&gt;refreshing&lt;/em&gt; dengan melihat acara tivi menuntut pemenuhan. Belum lagi jika anak masih melek. Otomatis mereka menuntut jatah waktu dari ayahnya. Belum istri... (&lt;em&gt;psst, sensor! Hehe...). &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya : punya keinginan itu baik. Tapi, kalau berlebihan dan tanpa melihat kondisi alias realitas, ya kurang baik. Punya tekad menyelesaikan sesegera mungkin pekerjaan, ya pasti sangat baik. Tapi, ada kebutuhan-kebutuhan lain yang juga menuntut pemenuhan. Ketika badan sakit, produktivitas malah mendekati titik nadir. Nol. Ketika kurang tidur, besoknya nggak bisa konsen ke kerjaan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya ambisi itu baik. Tapi, kalau ambisius, kayaknya sudah mulai negatif deh. Biasanya, kalau ambisius, seseorang mulai "menghalalkan segala cara", demi terwujudnya ambisi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Punya obsesi sangat bagus. Tapi kalau obsesif, rasanya sudah mengganggu kenyamanan diri. Otak tak pernah berhenti berpikir, tak sempat beristirahat, karena kepikiran obsesi itu terus-menerus. Padahal, ide dan pikiran inovatif lebih sering muncul ketika pikiran dalam kondisi &lt;em&gt;fresh&lt;/em&gt;. Segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang, dalam satu waktu, kita pingin mengerjakan banyak sekali hal, yang kesemuanya masih dalam taraf awal, alias setengah mateng pun belum. Dengan kemampuan yang terbatas, akhirnya tak ada hasil yang memuaskan dari masing-masing keinginan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada nasehat. Pilahlah dengan skala prioritas. Kemudian, pilahlah menjadi kelompok-kelompok pekerjaan yang kecil. Mungkin butuh waktu sedikit lebih panjang. Tapi, masing-masingnya bisa beroleh hasil memuaskan. Pilih mana, coba?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pokoknya, nggak usah kemaruk lah. Ada sesuatu yang harus dikorbankan di sana, ketika kita kemaruk. Ada sesuatu yang pada akhirnya malah mubazir, sebagaimana sroto dan ketupat saya yang pada akhirnya harus "terbuang". Kenikmatannya tak tercecap, "dosa" akibat penciptaan kemubaziran tadi jelas terbayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK? Mari kita tetap berkeinginan, tetap berpengharapan, tetap berambisi, tetap berobsesi, karena itu "wajib". Tapi, letakkan itu semua dalam kadar yang tak berlebihan, dalam kadarnya yang bijaksana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama memang dirasa mampu, mari kita kejar. Jangan sampai kita justru menciptakan mudharat, padahal tujuan kita adalah menciptakan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ilustrasi foto : http://i203.photobucket.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1643077207397078985?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1643077207397078985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1643077207397078985' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1643077207397078985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1643077207397078985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/kemaruk.html' title='KEMARUK'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SYOTWOOfbrI/AAAAAAAAAoQ/2-Fp9tdI2I4/s72-c/mendoan+(i203.photobucket.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2587139788412468797</id><published>2009-01-25T14:52:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>AMAN REHMAN : MASIH KECIL MALAHAN...</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXwmQYjzGQI/AAAAAAAAAoA/oAMW82YRi6Q/s1600-h/genious+(www.firstorlando.com).gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXwmQYjzGQI/AAAAAAAAAoA/oAMW82YRi6Q/s400/genious+(www.firstorlando.com).gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295149324793223426" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ya. Aman Rehman namanya. Belum layak disebut sebagai "pemuda", rasanya. Masih kecil malahan. Delapan tahun. Saya "menemukan"-nya di &lt;em&gt;Koran Sindo&lt;/em&gt; edisi hari ini (Minggu, 25/01/09).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Emangnya, ada apa dengan si Aman Rehman ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yup! Ini terkait dengan posting "&lt;em&gt;Pemuda-Pemuda Luar Biasa&lt;/em&gt;" sebelum ini. Kalau di sana diceritakan tentang Jon Favreau dan Jason Wu yang berumur 27 dan 26 tahun yang terbukti menjadi salah satu pendukung keberhasilan Barack Obama dan penampilan cerdas Michelle Obama dalam pemilihan dan pelantikan Presiden AS, maka Aman Rehman ini adalah dosen termuda di dunia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Jon Favreau bisa menjadi pimpinan dari beberapa penulis skrip pidato presiden yang notabene lebih "senior" dan Jason Wu dapat mendampingkan karyanya yang dipakai Michelle Obama dengan karya Isabel Toledo yang sudah berkarier di New York selama 25 tahun (&lt;em&gt;hanya selisih satu tahun dengan umur Wu&lt;/em&gt;), maka Aman Rehman bahkan dipercaya mengajar para mahasiswa jurusan seni yang berusia jauh di atasnya, di &lt;em&gt;Dehradun's College&lt;/em&gt;, India.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, ada komentar? Jeniusitas, mungkin. Fasilitas? Tidak pada awalnya. Karena, Aman terlahir dalam keluarga biasa --bahkan pas-pasan--. Ayahnya, M Rehman, adalah seorang montir sepeda motor yang berpenghasilan sekitar 60 poundsterling tiap bulannya. Uang itu yang harus bisa ia manfaatkan untuk menghidupi istrinya --Shabnam Rehman-- beserta ketiga anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa yang membuat Aman sebegitu hebat, selain --mungkin-- jeniusitas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berani mencoba, latihan dan belajar secara rutin! Lihatlah bagaimana ia mulai mengenal komputer dengan berlandaskan rasa penasaran ketika melihat sang kakak menggunakan komputer bekas yang dibeli ayahnya untuk kakak tertuanya itu. Lihatlah bagaimana ia bersabar dan diam-diam belajar secara autodidak setiap kakaknya pergi untuk kuliah. Lihatlah bagaimana ia bersikap sangat tekun manakala selama delapan jam per hari di hari libur ia duduk di depan komputernya, dan empat jam setiap hari di hari ia harus sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan karya animasi pertama yang ia ciptakan di usia 4 tahun dan kini telah berkembang menjadi lebih dari 1000 film animasi, layaklah ia disebut sebagai "anak ajaib". Beberapa pihak menyebutnya "Bill Gates kecil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, ada ketekunan di dalam diri Aman. Ketekunan itulah yang mampu mempercepat proses pematangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... saya jadi berpikir lagi. Apakah masih ada sumber daya yang bisa saya maksimalkan dan lebih tekuni untuk mempercepat proses keberhasilan dalam hidup ini? Saya yakin ada. Mungkin, saya sekedar belum menyadarinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu sangat mungkin juga terjadi pada Anda. So, bagaimana kalau kita sama-sama coba menggali lebih dalam lagi potensi diri kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.firstorlando.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2587139788412468797?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2587139788412468797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2587139788412468797' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2587139788412468797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2587139788412468797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/aman-rehman-masih-kecil-malahan.html' title='AMAN REHMAN : MASIH KECIL MALAHAN...'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXwmQYjzGQI/AAAAAAAAAoA/oAMW82YRi6Q/s72-c/genious+(www.firstorlando.com).gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8262457714589689033</id><published>2009-01-24T20:14:00.011+07:00</published><updated>2009-03-09T18:35:10.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>PEMUDA-PEMUDA LUAR BIASA</title><content type='html'>Satu lagi, bukti bahwa pemuda merupakan salah satu aset yang luar biasa. Aset diri, aset keluarga, aset bangsa. Sebuah pembuktian, bahwa karya dan kemampuan generasi muda, tak melulu kalah dengan karya dam kemampuan orang tua, yang kadang lebih sering mengandalkan frasa "senioritas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Jon Favreau dan Jason Wu, salah dua dari sebegitu banyak orang muda yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, siapakah mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring dengan gegap gempitanya pelantikan Barack Obama sebagai Presiden Amerika serikat ke-44, kedua nama itu mengemuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXskOvZjoHI/AAAAAAAAAno/JY5zYN057Pk/s1600-h/jon+favreau+(bp0.blogger.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 299px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXskOvZjoHI/AAAAAAAAAno/JY5zYN057Pk/s320/jon+favreau+(bp0.blogger.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294865622564577394" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang pertama, Jon Favreau, adalah ketua tim penulis naskah pidato Presiden AS termuda sepanjang sejarah. Kemampuan menulis lulusan Holy Cross Worcester, Massachussetts ini memang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Favreau yang paling hobi mengenakan jeans dan kaos, serta menulis dengan laptop dan Blackberry di Starbuck sambil minum kopi, telah menjadi penulis pidato Obama sejak 2004, tak lama sesudah Obama terpilih sebagai Senator Illinois.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama itu dirinya tak muncul ke permukaan, hingga publik mulai sadar bahwa betapa "bertenaga dan berkarakternya" pidato-pidato Presiden AS kulit hitam pertama itu. Isi pidato-pidato Obama itu pula yang turut berperan banyak bagi keberhasilan Obama melangkah ke Gedung Putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, sebagai &lt;em&gt;Director of Speechwriting&lt;/em&gt;, maka ia akan menjadi pemimpin bagi belasan pakar penulisan naskah pidato lainnya yang lebih tua, yang lebih "senior".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berapa umur Jon Favreau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh tujuh tahun! Belum genap, bahkan. Ya. Ia lahir pada tanggal 6 Juni 1981. Dalam kapasitasnya yang demikian, masih adakah yang menganggapnya seorang "yunior" hanya karena kemudaan usianya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXskv8QYpuI/AAAAAAAAAnw/Xm_YmEZegzA/s1600-h/jason+wu+(www.nydailynews.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 294px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXskv8QYpuI/AAAAAAAAAnw/Xm_YmEZegzA/s320/jason+wu+(www.nydailynews.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294866192951453410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Yang kedua, Jason Wu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Favreau banyak berperan membantu Barack Obama, maka nama yang terakhir ini berperan penting bagi keanggunan dan kepantasan seorang Michelle Obama --istri Barack Obama-- sebagai pendamping presiden sekaligus ibu negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai apa Jason Wu? Ia adalah perancang gaun indah &lt;em&gt;white chiffon&lt;/em&gt; berpundak satu yang berkilauan, yang digunakan Michelle saat mendampingi sang suami di pesta inaugurasi di Washington's Convention Center, Selasa (20/01/09) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan berapa umur Wu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua puluh enam tahun! Betul, karena ia lahir di Taiwan (Taipei) tahun 1982. Sejak kecil, Wu memang sangat tertarik dengan bidang seni sketsa busana. Dengan tekad yang sangat kuat, Wu mengikuti pendidikan di sekolah fesyen bergengsi &lt;em&gt;Parsons School of Design&lt;/em&gt; di Paris, dan berteman dengan Narciso Rodriguez; perancang busana kelas dunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu masih banyak orang muda lain yang juga luar biasa. Tapi, mungkin kita tak pernah menyangka, bahwa beberapa "orang penting" di belakang keluarga Obama --yang saat ini tengah merajai publikasi media-- adalah kawula muda di bawah 30 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi motivasi bagi kita bersama. Tak ada alasan umur untuk menjadi yang terbaik. Tak ada istilah "terlalu muda", atau juga "terlalu tua". Mari kita bentuk diri kita menjadi yang terbaik di setiap usia kita. Tak ada kata "belum waktunya", atau juga kata "terlambat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, 34 tahun lebih 4 bulan. Apa yang sudah bisa saya berikan kepada "dunia"? Entahlah. Rasanya, belum ada. Tapi yang pasti, gelora semangat itu ada dan menyala-nyala. Insya Allah, dan semoga!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Foto 1 : Jon Favreau, dari http://bp0.blogger.com&lt;br /&gt;Foto 2 : Jason Wu, dari http://www.nydailynews.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8262457714589689033?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8262457714589689033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8262457714589689033' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8262457714589689033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8262457714589689033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/pemuda-pemuda-luar-biasa.html' title='PEMUDA-PEMUDA LUAR BIASA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXskOvZjoHI/AAAAAAAAAno/JY5zYN057Pk/s72-c/jon+favreau+(bp0.blogger.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1346850116588150331</id><published>2009-01-24T05:34:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T18:37:20.878+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>JAHAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXpGCva3ZPI/AAAAAAAAAng/AiZb3_ty_eE/s1600-h/lubang+jalanan+(jurnalnasional.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXpGCva3ZPI/AAAAAAAAAng/AiZb3_ty_eE/s320/lubang+jalanan+(jurnalnasional.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5294621324830270706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;Jalan Lubang.&lt;/strong&gt; Sejumlah pengendara kendaraan bermotor melintasi jalan berlubang di tengah jalan dengan ketinggian sekitar 1,5 meter, karena hilangnya besi sekat pembuangan air di Underpass UKI, Jakarta Timur, Kamis (22/1). Besi sekat pembuangan air tersebut sudah hilang selama 4 hari. Hal tersebut bisa membahayakan keselamatan bagi para pengendara kendaraan bermotor.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu adalah kutipan berita foto di &lt;em&gt;http://jurnalnasional.com &lt;/em&gt;kemarin (23/01/09). Gambar fotonya sekalian saya &lt;em&gt;copy paste&lt;/em&gt; seperti Anda lihat di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama saya mengamati gambar itu. Saya baca berulang-ulang beritanya. Ya, besi sekat itu tidak ada. Kemana? Hilang, kata berita foto itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbayang kondisi di underpass UKI itu. Tak sekali dua saya melintasinya. Saya percaya, kedalaman saluran pembuangan air di situ memang bisa lebih dari 1,5 meter. Karena apa? Karena memang itulah salah satu cara paling efektif "membuang" air ketika hujan lebat turun. Posisi jalan yang memang di bawah, membuat keberadaan saluran itu sebagi sebuah kemutlakan demi terhindarnya banjir dan genangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baca lagi : besi sekat pembuangan air itu hilang. Ya, hilang. Bukan patah. Bukan rusak karena keropos atau korosi. Tapi, hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat gambarnya, saya juga percaya bahwa besi itu hilang. Saya percaya, sang wartawan juga sudah melakukan "investigasi" sebelum menuliskan berita fotonya. Artinya, itu bukan "&lt;em&gt;force majour&lt;/em&gt;" karena faktor "alam" yang terjadi, tapi akibat tindak kriminal. Dicuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya geram. Dan saya emosi. Kok ada, orang yang berbuat jahat banget seperti itu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menyebut "jahat banget", karena jelas-jelas kelakuan itu amat amat dan sangat sangat membahayakan banyak orang, bahkan orang-orang yang mungkin "tak punya dosa" kepada si pencuri ataupun kepada jalanan itu sendiri. Saya tak tahu juga, apakah rusaknya "pagar pembatas" yang dipasang di dekat lubang itu (&lt;em&gt;lihat gambar&lt;/em&gt;) mengindikasikan telah adanya korban dari kemunculan lubang bahaya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memvonis : luar biasa jahat si pengambil besi sekat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi teringat dengan para pelaku kriminal yang gemar mencuri baut maupun bantalan rel, hanya untuk dijual sebagai besi tua dan balok material. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangkan, hanya demi uang, mereka tega mengorbankan keselamatan banyak orang yang mungkin "tak pernah berdosa" pada si pelaku dan pada PT. KAI. Kenapa orang-orang itu yang musti jadi korban?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rubrik &lt;em&gt;Redaksi Yth&lt;/em&gt; di Harian &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; yang berisi surat pembaca, hari kemarin (23/01/09) juga memuat sebuah kisah tentang pelemparan batu oleh entah siapa di sepanjang rel yang dilintasi  kereta api bisnis &lt;em&gt;Bangunkarta&lt;/em&gt; Jakarta Senen - Madiun, yang kebetulan ditumpangi si penulis surat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diceritakan, seorang ibu yang sedang hamil tua dan kebetulan duduk di depan si penulis surat, menjadi korban lemparan batu berdiameter 3-5 cm. Hasilnya? Hidung sang ibu yang seharusnya terjaga dari ketidaknyamanan fisik dan mental selama mengandung itu patah. Luka menganga cukup lebar, serta banyak darah yang keluar. Tragisnya lagi, si ibu dan putrinya harus turun di Stasiun Cikampek untuk memperoleh pengobatan lebih lanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dalam perjalanan yang sama, tak lama kemudian, terdengar sebuah teriakan lagi. Seorang bapak terkena lemparan batu di pelipis dan terluka cukup parah. Beruntung, bapak yang ini masih kuat melanjutkan perjalanan hingga Cirebon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampun. Kok jahat-jahat banget sih, mereka? Apa sesungguhnya yang ada di benak para pelaku itu?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak berani menebak motifnya. Saya belum punya kemampuan untuk itu. Yang bisa saya lakukan, hanyalah mengingatkan diri sendiri dan mengajak pada yang membaca posting ini, agar tidak pernah sekali-kali menjadi bagian dari "orang-orang jahat" seperti itu. &lt;em&gt;Na'udzubillahi min dzalik&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua berlindung dari bisikan sesat yang bukan saja akan menjadikan diri kita berdosa, namun juga bisa merugikan --bahkan mencelakakan-- banyak orang yang "tak bersalah". Amien...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1346850116588150331?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1346850116588150331/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1346850116588150331' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1346850116588150331'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1346850116588150331'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/jahat.html' title='JAHAT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXpGCva3ZPI/AAAAAAAAAng/AiZb3_ty_eE/s72-c/lubang+jalanan+(jurnalnasional.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7139170658985595041</id><published>2009-01-22T10:02:00.010+07:00</published><updated>2009-03-09T18:37:20.879+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>SEKALI LANCUNG KE UJIAN....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXgJjmzyZ2I/AAAAAAAAAmM/k5rKJAwq0JU/s1600-h/lie+(i67.photobucket.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXgJjmzyZ2I/AAAAAAAAAmM/k5rKJAwq0JU/s320/lie+(i67.photobucket.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293991869291849570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pepatah "sekali lancung ke ujian, seumur hidup orang tak percaya" itu memang bener banget kayaknya, ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya ketidakpercayaan saya, ketika kemarin dan tadi pagi melihat serta mendengar "ulasan" berita di tipi tentang bermunculannya lubang-lubang besar dan dalam di jalanan ibukota saat musim ujan ini. Pada berita itu, dikabarkan ada metromini masuk sungai, dan ditengarai penyebabnya adalah karena sang metromini menghindari lubang yang menganga di daerah Sentiong. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dan mendengar ulasan itu, benak saya "melawan". Nggak percaya. Apa iya, hanya gara-gara lubang si metromini kebablasan ke sungai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengarkan ulang berita tadi pagi. Lebih detil, saya dapat informasi bahwa metromini itu kebablasan masuk sungai ketika berusaha mendahului kendaraan di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kan? Benak saya memang terus memaksa mengambil kesimpulan sendiri. Sejak kemarin saya nggak yakin kalau kecelakaan itu karena lubang, tapi lebih karena ugal-ugalannya si pengemudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa benak dan pikiran saya "melawan"? Ya, karena di benak ini sudah sangat terpola : bahwa metromini identik dengan ugal-ugalan, nyetir seenak udelnya, lenggak-lenggok kagak ada sopannya, ngelanggar lampu lalu lintas di perempatan, mau menangnya sendiri, berhenti menaikturunkan penumpang di tengah jalan, penghasil asap item tebel, dan sebagainya yang jelek-jelek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri pernah dapet kejadian, metromini yang saya tumpangi tabrakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;face to face&lt;/span&gt; dengan metromini lainnya, gara-gara nggak ada yang mau ngalah ketika berusaha "memanfaatkan" jalur di atas marka jalan. Dhhhuarrr!!! Hidung kedua metromini penyok, lampu depan padha pecah, penumpang padha "Allahu Akbar!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hebatnya, kedua pengemudi kayaknya sudah sangat biasa dengan kejadian seperti itu. Nggak pake bertengkar lama, keduanya pergi melanjutkan rute trayek masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi bagi saya, rupanya kecelakaan bagi metromini itu sudah biasa kali ya? Hehe... Tapi, kesimpulan itulah yang melekat sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, otak ini jadi susah menerima "kenyataan yang ada", meskipun mungkin ulasan di tipi itu betul adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong soal "sekali lancung ke ujian" dan seterusnya itu, saya juga punya contoh lain. Temen yang ngutang ke temen lain, wanprestasi alias ngelanggar janji. Ke temen yang lain, gitu juga. Walhasil, "fakta" ini menyebar ke seluruh temen. Hasil lebih lanjut, sampai sekarang tak ada orang lain yang mau minjemin, bahkan dalam nilai minimal sekalipun! Sudah nggak ada orang yang percaya sama janji temen saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga cerita dari temen lain, tentang temennya (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;lhah, bingung kan, kebanyakan temen, hehe...&lt;/span&gt;) yang hobi becanda. Ia paling sering berpura-pura kesakitan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;hiperbol gitu lah&lt;/span&gt;) kalau ada sesuatu yang bisa dijadikan pemicu. Temen-temen lain pun panik. Setelah kehebohan bener-bener terjadi, baru dia menghentikan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;acting&lt;/span&gt;-nya, lantas ngakak berat. "Hahaha!!! Bahagianya bisa ngibulin temen-temen...," kata dia. Puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, ia benar-benar hampir celaka gara-gara teriakannya tak diapresiasi oleh kawan-kawannya, padahal ia bener-bener kesakitan waktu itu! Hampir fatal akibatnya! Nah lo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pasti masih banyak cerita serupa. Tentang kebohongan yang dilakukan berkali-kali, tentang tabiat dan kebiasaan buruk yang diulang-ulang, yang membuat orang tak lagi percaya kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cilakak dua belas, kan? Padahal, masih banyak sopir metromini yang baik. Masih banyak kusir bajaj yang nggak seenaknya dalam mengendara. Masih banyak politisi yang tidak busuk. Masih banyak polisi lalu lintas yang anti suap. Masih banyak bankir yang terpuji... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan lain-lain, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, siapa yang dirugikan oleh kelakukan yang "lancung" itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua pihak. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, orang itu sendiri. Ia tak akan mendapat kepercayaan lagi dari orang lain. Padahal, setiap orang butuh kepercayaan dari pihak lain jika mau eksis dan berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, "komunitas" atau orang-orang yang seprofesi dan selingkungan dengan dia. Jika ketidakpercayaan itu menimpa orang lain yang sebenernya "baik", berarti si &lt;span style="font-style:italic;"&gt;trouble maker&lt;/span&gt; ini sudah mencipta fitnah bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Padahal lagi, membunuh jelas lebih jahat daripada tidak membunuh, bukan? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah, kok jadi kemana-mana dan ngaco begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya sudah, intinya, mari sama-sama tidak menjadikan kebohongan, suka bohong dan kebiasaan jelek sejenisnya sebagai bagian dari karakter kita. Bisa cilakak kita...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK. Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://i67.photobucket.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7139170658985595041?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7139170658985595041/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7139170658985595041' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7139170658985595041'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7139170658985595041'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/sekali-lancung-ke-ujian.html' title='SEKALI LANCUNG KE UJIAN....'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXgJjmzyZ2I/AAAAAAAAAmM/k5rKJAwq0JU/s72-c/lie+(i67.photobucket.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2542983290962118694</id><published>2009-01-18T05:41:00.004+07:00</published><updated>2009-03-09T18:37:20.879+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>CHAD</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXJvEimXmOI/AAAAAAAAAmE/DaZsMQIi1ls/s1600-h/brad+pitt+(chad-www.nyspot.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 310px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXJvEimXmOI/AAAAAAAAAmE/DaZsMQIi1ls/s320/brad+pitt+(chad-www.nyspot.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292414635911649506" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Nama lengkapnya Chad Feldheimer. Ia adalah sahabat Linda Litzke, seorang pekerja di sebuah klub kebugaran milik Ted.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua nama itu bukan tokoh di dunia nyata. Mereka hanyalah tokoh rekaan dalam film besutan kakak beradik Joel Coen dan Ethan Coen, &lt;em&gt;Burn After Reading&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri belum melihat filmnya, karena memang belum lama edar. Tapi saya tertarik pada ulasan atas film ini di Harian &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt; dan Harian &lt;em&gt;Seputar Indonesia&lt;/em&gt;. &lt;br /&gt;Pada masing-masing ulasan, ada sesuatu yang menyentil hati dan benak saya, yakni seputar nafsu dan kebodohan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt;, kisah tentang Chad (diperankan oleh Brad Pitt) yang berotot namun pandir dan Linda (diperankan oleh Frances McDormand) yang terobsesi menjadi wanita langsing guna mendapatkan kekasih itu disebutkan "menyentil polah absurd manusia". Ada kalimat lanjutan yang mengatakan, "Brad Pitt berperan sebagai pria yang sibuk &lt;strong&gt;membesarkan ototnya sembari mengecilkan otaknya&lt;/strong&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Digambarkan memang, Chad adalah lelaki culun dengan rambut pirang berjambul yang juga berprofesi sebagai pelatih di pusat kebugaran Ted. Itu mungkin yang membuat ia sangat cocok berteman dengan Linda, yang digambarkan sebagai karakter penuh nafsu, tapi juga berotak sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, kesimpulan dari kombinasi karakter-karakter tersebut adalah judul ulasan di Harian &lt;em&gt;SINDO&lt;/em&gt; : &lt;strong&gt;Nafsu + Bodoh = Konyol&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang menarik bagi saya. Seringkali kita tak merasa bahwa berbagai keinginan kita lakukan hanya dibekali dengan nafsu, tanpa memperhitungkan bekal kemampuan (ilmu) yang juga harus kita miliki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya selalu setuju dengan tingginya semangat dan keberanian. Tapi, berani --bagi saya-- bukan sekedar nekat. Keduanya memang &lt;em&gt;beti&lt;/em&gt;, alias beda tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering saya katakan ke teman-teman, bahwa penampakan fisik dari kedua hal itu --berani dan nekat-- adalah sama. Yakni, adanya &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;. Adanya tindakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, kita mau melompati parit selebar 3 meter. Antara Anda yang berani dan saya yang nekat, pasti keduanya akan sama-sama melompat. Hanya, jika Anda mengambil ancang-ancang lebih jauh daripada saya, lantas Anda juga membekali diri Anda dengan sebilah bambu yang akan digunakan layaknya atlet lompat galah yang akan beraksi, maka dengan mudah Anda akan sampai ke seberang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya, langsung saja meloncat tanpa ancang-ancang yang cukup, tanpa alat bantuan apapun. Hasilnya? Saya kecebur di hitungan tak sampai 2 meter dari sisi parit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama-sama &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; kan? Bagus kan? Iya, tapi Anda sampai ke tujuan, dan saya gagal. Itu karena Anda punya nafsu, punya keinginan, tapi tetap sadar diri akan kemampuan. Melompat biasa dengan ancang-ancang sejauh apapun, Anda merasa hanya akan mampu melompat sejauh 2 meter. Karenanya, Anda membekali diri dengan bilah bambu itu. Dengan bilah bambu yang Anda tancapkan ke dasar parit di hitungan antara 1,5 sampai 2 meter saja, Anda akan dengan mudah melompat lebih dari 3 meter. Saya menyebutnya : Anda berani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara saya, hanya berbekal nafsu. Bahkan tidak hanya nafsu, namun juga berbekal kebodohan. Karena mestinya saya sadar, bahwa jangkauan maksimal lompatan saya hanya 2 meter kurang. So, saya menyebutnya : saya nekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;--&lt;em&gt;perumpamaan ini tentu tidak bisa digunakan dalam kondisi darurat, mendesak, atau force majour. Karena dalam kondisi kepepet, segalanya bisa saja menjadi mungkin, dengan kuasa Yang di Ata&lt;/em&gt;s--&lt;/blockquote&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa diingatkan. Jangan sampai kita memadukan item nafsu dan kebodohan dalam bertindak, jika tidak ingin mendapat kekonyolan dalam hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membesarkan otot", saya artikan sebagai "memupuk keberanian". Sementara "mengecilkan otak", adalah ketidakmauan kita untuk belajar, yang sama artinya dengan "melestarikan kebodohan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi mikir, jangan-jangan, pengasahan diri yang saya lakukan selama ini, tidak imbang antara "memupuk keberanian" dan "meningkatkan kepintaran". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waduh, bisa konyol saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : Chad Feldheimer (Brad Pitt), dari http://www.nypost.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2542983290962118694?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2542983290962118694/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2542983290962118694' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2542983290962118694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2542983290962118694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/chad.html' title='CHAD'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SXJvEimXmOI/AAAAAAAAAmE/DaZsMQIi1ls/s72-c/brad+pitt+(chad-www.nyspot.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3372669653475532459</id><published>2009-01-15T20:48:00.003+07:00</published><updated>2009-03-09T18:39:08.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>LALU?</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW9lRQ9BthI/AAAAAAAAAl8/aoxkJVnKK1E/s1600-h/hujan+(www.squirrelldesigns.co.uk).bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW9lRQ9BthI/AAAAAAAAAl8/aoxkJVnKK1E/s320/hujan+(www.squirrelldesigns.co.uk).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291559434466735634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hujan yang tak kunjung berhenti&lt;br /&gt;pada Jakartaku&lt;br /&gt;yang juga Jakartamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Genangan air yang mengisi cekungan kota, lalu lintas yang macet, akses antar noktah wilayah yang terhambat, lubang baru lubang lama jalanan yang menganga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendaraan yang kotor menyebalkan, baju yang tak kering dan berbau, angin yang menerjang garang, pohon yang tumbang, tanah yang longsor, panen yang terancam gagal, dan kapal yang karam...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do'a yang terpanjatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu?&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hujan yang tak kunjung berhenti&lt;br /&gt;pada Jakartaku&lt;br /&gt;yang juga Jakartamu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Inilah simbol keberkahan, kesegaran yang menyejukkan, rejeki bagi kami pengasong payung, rahmat bagi kami yang menjual kuah terrebus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anugerah bagi kami yang petani, tanaman yang menghijau, polusi yang tersamarkan, keluarga yang terkumpul di rumah, kehangatan antar kawan yang menjalar, acara tivi yang berubah menawan, serta kemerenungan yang tersalurkan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur yang tersampaikan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lalu?&lt;/span&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segala makna fenomena, ada pada cara memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.squirrelldesigns.co.uk&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3372669653475532459?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3372669653475532459/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3372669653475532459' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3372669653475532459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3372669653475532459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/lalu.html' title='LALU?'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW9lRQ9BthI/AAAAAAAAAl8/aoxkJVnKK1E/s72-c/hujan+(www.squirrelldesigns.co.uk).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1867282913573155748</id><published>2009-01-14T05:07:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T18:39:08.821+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>HIDUP ITU LAYAKNYA NGONTHEL...</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0ZfzCzUFI/AAAAAAAAAl0/ohRm0DrxHWE/s1600-h/Sepeda+onthel+(souvenirjogja.wordpress.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 208px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0ZfzCzUFI/AAAAAAAAAl0/ohRm0DrxHWE/s320/Sepeda+onthel+(souvenirjogja.wordpress.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290913171298799698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya suka dengan perumpamaan yang disampaikan M.K. Sutrisna Suryadilaga. "Hidup layaknya mengendarai sepeda," tulisnya di buku &lt;em&gt;The Balance Ways&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal yang menjadi "kunci sukses" bersepeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, tidak boleh terlalu lambat dalam mengayuh. &lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, harus ada keseimbangan. Tanpa keduanya, kita akan terjatuh. Kita akan "gagal" bersepeda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus ada kecepatan minimal dalam mengayuh, agar kita tidak terjatuh. Artinya, sepeda harus terus berjalan. Bergerak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajarannya : agar hidup kita tetap "hidup", kita harus terus bergerak. Gerakan pun harus ada "kecepatan minimal"-nya. Terlalu lamban, kita akan tergerus oleh persaingan, hingga hampir tak ada bedanya dengan "mati". Stagnan. Tak pernah maju. Kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecepatan minimal dalam mengayuh, juga merupakan salah satu syarat agar keseimbangan terjadi. Kendatipun kayuhan kita sudah melewati batas minimal, tanpa keseimbangan, kita tetap akan terjatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misal, setelah menghindari lubang, keseimbangan menjadi kacau. Dalam kondisi begerak kencang pun, kita tetap akan jatuh. Bahkan, akibatnya bisa parah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya, keseimbangan menjadi sebuah kemutlakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga dalam hidup. Apa yang harus seimbang? Antara keduniawian dan keakheratan. Antara yang material dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana agar hidup ini bisa seimbang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Kana Sutrisna --begitu panggilan keseharian M. K. Sutrisna Suryadilaga-- menawarkan konsep &lt;strong&gt;MAPP to RICH&lt;/strong&gt;. Yakni &lt;em&gt;Maximize Action, Planning, Pro-Poor, Ridha, Ichlas&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Heart Voice&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Maximize Action&lt;/strong&gt;. Maksimalkan Usaha. Lakukan usaha secara keras, cerdas sekaligus ikhlas. Singkirkan hambatan, dan belajarlah dari kesuksesan sekaligus kegagalan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Planning&lt;/strong&gt;. Tetapkan tujuan, jangan sampai salah jurusan. Persiapkan segala sesuatunya dengan cermat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pro-Poor&lt;/strong&gt;. Dekatkan diri pada orang yang kekurangan. Baik itu kekurangan materi, ilmu maupun spiritual. Berbagilah. Jadikan mereka salah satu obyek amalan utama kita. Yakinlah, akan ada keajaiban dari berbagi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ridha&lt;/strong&gt;. Terimalah segala kondisi hidup ini dengan keridhaan. Carilah keridhaan Tuhan, dan mari kita juga menjadi orang yang ridha kepada-Nya. Dengan menjadi orang yang ridha, maka kita akan menjadi orang yang merdeka, optimis, penuh semangat dan bahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ichlas&lt;/strong&gt;. "Memberi"-lah kepada Tuhan, memberilah kepada sesama, kepada alam, secara ikhlas. Tulus. Maka kita akan menjadi makhluk sosial yang sukses, "kaya", ber-etos dan mampu menjadi &lt;em&gt;problem solver&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Heart Voice&lt;/strong&gt;. Dengarkan hati nurani. Jadikan hati nurani sebagai "panglima" dalam hidup kita, yang "wajib" diikuti perintahnya. Karena, hati nurani bersumber dari Tuhan yang Maha Benar. Jangan butakan hati, dan asahlah terus hati nurani ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya suka perumpamaan "hidup layaknya mengendarai sepeda" itu.&lt;br /&gt;Kalau itu sepeda onthel, maka dalam bahasa saya : hidup itu layaknya &lt;em&gt;ngonthel&lt;/em&gt;... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : souvenirjogja.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1867282913573155748?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1867282913573155748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1867282913573155748' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1867282913573155748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1867282913573155748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/hidup-itu-layaknya-ngonthel.html' title='HIDUP ITU LAYAKNYA NGONTHEL...'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0ZfzCzUFI/AAAAAAAAAl0/ohRm0DrxHWE/s72-c/Sepeda+onthel+(souvenirjogja.wordpress.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8355716209533292208</id><published>2009-01-10T06:41:00.012+07:00</published><updated>2009-03-09T18:39:08.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>HATI-HATI... AWAS REM MENDADAK!</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0PYGZkQBI/AAAAAAAAAls/tQDPKbmscdQ/s1600-h/attention+(tenantsforchange.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0PYGZkQBI/AAAAAAAAAls/tQDPKbmscdQ/s320/attention+(tenantsforchange.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5290902043939323922" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Merespon komentar seorang kawan lama di postingan seputar &lt;em&gt;reactive people &lt;/em&gt;beberapa waktu lampau, saya jadi teringat kisah dua pagi yang lalu. Kok hampir persis yang dicontohkan Bung Herry Priyono ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bukunya, Bung Herry mencontohkan salah satu perilaku reaktif manusia dan model reaktifnya, tentang seorang eksekutif muda yang pulang kerja dengan mobil mewahnya, tiba-tiba begitu saja mengumpat dan memaki (&lt;em&gt;respons&lt;/em&gt;), akibat marah (&lt;em&gt;perasaan&lt;/em&gt;) yang ditimbulkan oleh seorang pengemudi angkot yang mengerem mendadak kendaraannya (&lt;em&gt;stimulus&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam teorinya, Bung Herry memang menggambarkan model reaktif sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;stimulus ----&gt; perasaan ---&gt; respons&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Dalam kisah eksekutif muda vs pengemudi angkot tadi, model reaktif tadi digambarkan sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;rem mendadak ----&gt; marah ----&gt; memaki/mengumpat&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nhah, kejadian yang saya alami kemarin lusa itu persis sama. Cuma bedanya, saya bukan eksekutif muda, dan "lawan" saya bukan pengemudi angkot, tapi sopir bajaj.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudut pandang yang mau saya sampaikan, juga beda dengan ulasan Bung Herry.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ketika saya berangkat ke kantor, tiba-tiba ada bajaj yang berhenti mendadak, seenaknya, tanpa menepi, tanpa memberi kode apapun, persisi di depan saya, di jalan yang tak terlampau lebar itu, di daerah Paseban. Jadi ingat seloroh teman-teman tentang bajaj ini : "Hanya Tuhan dan sopir bajaj itu sendiri yang tahu, ke mana bajaj akan berbelok", hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun terpaksa mengerem mendadak. Ciiit...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persis seperti teori Bung Herry, hampir saja saya "meledak" akibat stimulus itu. Namun, mata saya tiba-tiba terantuk pada tulisan di belakang "kabin" bajaj : HATI-HATI... AWAS REM MENDADAK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhueenggg...!!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mau marah, tiba-tiba saya jadi "geli". Sialan, batin saya. Saya bayangkan, paling banter, nanti kalau saya marahin, sang sopir akan bilang, "Lho, bukannya sudah ada peringatan di bajaj saya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hati dongkol yang akhirnya disabar-sabarkan menjadi sabar beneran, kami (ya, saya dan bajaj itu) berjalan lagi. Saya tetap di belakangnya, karena memang lebar jalan tak memungkinkan saya untuk menyalipnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ratus meter kemudian, persis sebelum Pasar Paseban, mendadak, "Ciiiit...!!" Tiba-tiba saya harus mengerem keras lagi. Apa pasal? Ya, lagi-lagi bajaj itu berhenti mendadak, di tengah-tengah jalan lagi seperti sebelumnya, karena melihat adanya calon penumpang baru di sisi kiri jalan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dhueenggg....!!! Dhueng yang kedua pun muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa jengkel muncul lagi. Tapi, berkat "ancaman" Bung Herry yang "memprovokasi" khalayak untuk "&lt;em&gt;say no to reactive person&lt;/em&gt;", saya memaksa diri untuk tetap sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun akhirnya berhasil, saya jadi mikir : apa iya sih, hanya karena sudah memberikan &lt;em&gt;warning&lt;/em&gt; alias peringatan, seseorang lantas bisa seenaknya bersikap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang terus jadi pikiran di benak saya. Apa karena sudah ada tulisan besar &lt;em&gt;HATI-HATI... AWAS REM MENDADAK!&lt;/em&gt; itu, lantas si sopir bajaj merasa 'sah" untuk melakukan manuver membahayakan dengan mengerem mendadak di tengah laju banyak kendaraan yang cukup kencang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah karena pihak manajemen sebuah pasar tradisional sudah memasang pengumuman "HATI-HATI TERHADAP COPET DAN TINDAK KRIMINAL LAINNYA", lantas pengelola pasar itu bisa seenaknya tidak melakukan upaya pengamanan terbaik terhadap pengunjungnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah seorang teller bank bisa seenaknya menyerahkan segepok uang kepada nasabahnya tanpa memastikan kebenaran perhitungan nilai uangnya, hanya karena sudah ada tulisan&lt;br /&gt;"DIMOHON SEBELUM MENINGGALKAN COUNTER TELLER, PASTIKAN JUMLAH DAN KEABSAHAN UANG ANDA. KLAIM SETELAH MENINGGALKAN TELLER TIDAK KAMI LAYANI"? Padahal, tak semua nasabah sempat menghitung kembali. Padahal, tak semua nasabah mengetahui cara untuk membedakan mana uang asli mana uang palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, apakah hanya karena tanggung jawab yang seolah sudah "dilimpahkan" kepada pihak lain itu, kita lantas bisa menjadi orang yang seenak-udelnya sendiri dalam bersikap?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya tidak. Peringatan, himbauan memang harus diberikan. Tapi hal tersebut tidak bisa diartikan bahwa tanggung jawab atas keselamatan atau kebenaran itu serta merta tidak lagi menjadi tanggung jawab pemberi peringatan atau himbauan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun peringatannya terpampang jelas di bagian belakang &lt;em&gt;body&lt;/em&gt; bajajnya, tidak selayaknya sang sopir bajaj melakukan manuver gila jalanan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dibenarkan, lantaran sudah memasang papan himbauan kewaspadaan, pihak pengelola pasar tidak berusaha menciptakan sistem pengamanan yang solid dan membuat nyaman pengunjung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak bisa dimaklumi, jika hanya karena sudah "intruksi" kepada nasabah di &lt;em&gt;toonbank &lt;/em&gt;teller bank, sang teller tidak memastikan kembali kebenaran transaksi di depan nasabah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, memastikan semuanya berjalan baik adalah tugas kita bersama. Tuan rumah maupun tamu. Kita sendiri maupun "lawan" aktivitas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita harus berkendara hati-hati, tapi sopir bajaj juga tidak boleh seenaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengunjung pasar wajib selalu waspada, tapi pola pengamanan terbaik tetap harus diberikan pengelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasabah musti bersikap kritis dan teliti, tapi sang teller juga harus cermat dan secara aktif memastikan kebenaran hasil transaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pola seperti itulah, saya yakin, semua akan terus berjalan lebih baik dari hari ke hari. Edukasi bukan tuntutan kepada salah satu pihak, tapi menjadi keharusan bagi semua pihak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://tenantsforchange.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8355716209533292208?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8355716209533292208/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8355716209533292208' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8355716209533292208'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8355716209533292208'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/hati-hati-awas-rem-mendadak.html' title='HATI-HATI... AWAS REM MENDADAK!'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SW0PYGZkQBI/AAAAAAAAAls/tQDPKbmscdQ/s72-c/attention+(tenantsforchange.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2819490848163689732</id><published>2009-01-09T22:46:00.008+07:00</published><updated>2009-03-09T18:39:08.822+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>REFORM AWARD UNTUK SLANK</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWd8gg3I3AI/AAAAAAAAAlU/355XLTlUIHU/s1600-h/slank+(photo-867.frienster.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 218px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWd8gg3I3AI/AAAAAAAAAlU/355XLTlUIHU/s320/slank+(photo-867.frienster.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5289333185388796930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pulang kantor, baru saya dengar di radio mobil bahwa Slank menerima penghargaan yang dinamakan &lt;em&gt;Reform Award &lt;/em&gt;dari BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) se-Jabotabek, atas kepeduliannya dalam sosialisasi pemberantasan korupsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penasaran, kubawa keluar koran &lt;em&gt;Jurnal Nasional &lt;/em&gt;sewaktu aku mampir untuk &lt;em&gt;ngiras&lt;/em&gt; (makan di tempat) &lt;em&gt;Indomie Goreng &lt;/em&gt;di warung tenda Mas Agus di pinggir Jalan Pramuka, hanya beberapa puluh meter sebelum rumah yang saya tinggali. Saya memang niat mau nyantai dulu di situ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan memang benar. Ada berita foto yang cukup besar di halaman 8. &lt;em&gt;Reform Award &lt;/em&gt;diterimakan hari Kamis (08/01/09), dan diterima oleh seluruh personel Slank yang hadir lengkap saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ikut senang, karena kebetulan saya adalah salah satu penggemar mereka. Satu "prestasi" lagi mereka peroleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah Slank?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin tak ada yang tak tahu tentang nama Slank ini. Minimal mendengar, bahkan saya yakin sebenarnya sangat familier di telinga setiap orang muda Indonesia. Orang tua juga; mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Slank yang bercikal bakal dari grup band bernama &lt;em&gt;Cikini Stones Complex &lt;/em&gt;(CSC) dan terhitung sudah 14 kali ganti personil --dari Bimo Setiawan alias Bimbim (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal) pada formasi pertama hingga Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar) pada formasi terakhir-- itu memang sudah bisa digolongkan sebagai grup band legendaris.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka "lahir" pada Desember 1983, dan sampai sekarang masih eksis, bahkan tetap terkategorikan sebagai band papan atas. Tak kurang dari 18 album telah mereka keluarkan. Dari &lt;em&gt;Suit-Suit....Hehehe (Gadis Sexy)&lt;/em&gt; di tahun 1990 sampai &lt;em&gt;The Big Hip&lt;/em&gt; di tahun 2008 ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kehebatan itu, tentu semua juga ingat cerita negatif tentang mereka. Cerita negatif, yang pada akhirnya ber-&lt;em&gt;ending&lt;/em&gt; sangat membanggakan. Ya, seputar keberhasilan mereka lepas dari jeratan narkoba yang menghinggapi hampir seluruh personilnya, hingga pentasbihan diri Slank sebagai duta anti narkoba, dengan dukungan penuh Sang Bunda Iffet tersayang. Seorang ibu yang benar-benar mampu berperan sebagai orang tua, manajer dan pengarah kehidupan anak-anak Slank.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah sukses mereka memang sangat inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya masih sangat ingat, ketika tahun 1993 saya dan teman-teman di fakultas mengundang mereka manggung di Solo. Sejak kedatangan, saya berkesempatan menemani mereka. Saat datang, makan, jumpa pers dan wawancara di radio, di hotel, di kampus, bahkan nongkrong berdua dengan Kaka di warung soto depan hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat, ada "syarat" yang mereka kemukakan secara kelakar tapi serius, yakni kesediaan panitia menyediakan &lt;em&gt;Ciu Bekonang&lt;/em&gt;. Ciu adalah minuman keras lokal Solo (lebih tepatnya Sukoharjo), yang bagi penduduk setempat dikenal punya daya mabuk yang cukup tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka meng-"oplos" ciu dengan --entah apa-- yang dibawanya dari Jakarta. Istilah mengoplos mungkin kurang pas. Lebih tepat, mengkombinasikan. "Mengkolaborasikan". Mungkin dengan cimeng. Mungkin dengan bubuk narkoba. Saya nggak tahu pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya, salah seorang kawan yang "raja mabuk" di kampus saya pun &lt;em&gt;fly&lt;/em&gt; hanya karena membaui asap yang keluar dari lintingan manual anak-anak Slank, berbarengan dengan "upacara" minum-minum. Baru asapnya doang, sang jagoan pun terkapar. Bahkan tak sanggup bangun di waktu ia harus bangun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, dulu anak-anak Slank memang sempat "rusak". Rusak parah. Namun ternyata, mereka bisa melalui ujian berat itu, hingga pada akhirnya mereka tidak ada lagi ketergantungan sedikitpun dengan obat-obatan terlarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang sesungguhnya mau saya sampaikan adalah : tak ada imej negatif atau citra jelek yang tak bisa kita lepaskan dari diri kita, jika kita memang mau berubah. Slank telah membuktikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu waktu yang terlalu lama bagi Slank untuk mengubah imej dari &lt;em&gt;the loser &lt;/em&gt;(karena kenakalannya" dan kekalahannya melawan godaan narkoba), untuk kemudian menjadi &lt;em&gt;the winner&lt;/em&gt; --bahkan &lt;em&gt;the hero&lt;/em&gt;-- untuk berbagai hal positif. Sebagaimana kita tahu, Slank tak hanya lekat dengan kisah heroik keterbebasan mereka dari narkoba, tapi juga konsistensinya dalam menyerukan gerakan antikorupsi. Mereka bahkan berkesempatan manggung di KPK, dan juga bernyanyi bersama Ketua KPK Antasari Azhar. Juga penghargaan dari  Menteri Pemuda dan Olahraga Adhyaksa Dault, berupa penghargaan “Inspirator Anak Bangsa”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Slank yang sempat "rusak parah", kini bisa menjadi "teladan" bagi kita dengan komitmen dan kekonsistenannya untuk berubah, apalagi kita yang mungkin sebagiannya tidak pernah rusak; ataupun kalau pernah rusak tidak sampai kepada tingkatan yang "parah"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jangan terlampau sedih bila kita saat ini masih memiliki cap negatif. Baik di dalam lingkungan keluarga, kelas, kantor, masyarakat kampung, atau bahkan kelompok masyarakat yang lebih besar. Yang terpenting, kita mau merubah imej itu atau tidak. Kalau ya, segera laksanakan sekarang juga. Kemudian, jaga komitmen dan konsistensinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan Maha Bijaksana, dan saya yakin, Ia akan menunjukkan "Sang Saat", "Sang Waktu" itu untuk kita. Saat di mana imej kita menjadi baik, dan bahkan ketika orang mengingat keburukan kita, maka yang diambil sebagai hikmah adalah kemampuan kita untuk membalik itu semua. Membalik segala sesuatu yang buruk, menjadi baik dan baik sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm... yakin bahwa kita bisa, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://photos-867.friendster.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2819490848163689732?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2819490848163689732/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2819490848163689732' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2819490848163689732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2819490848163689732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/reform-award-untuk-slank.html' title='REFORM AWARD UNTUK SLANK'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWd8gg3I3AI/AAAAAAAAAlU/355XLTlUIHU/s72-c/slank+(photo-867.frienster.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2728299811967810892</id><published>2009-01-07T15:26:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T18:39:08.823+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>REAKTIF (+/-), PROAKTIF (+++), PASIF (---)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWR1dVzS8qI/AAAAAAAAAlM/Y3o1yz2yzvA/s1600-h/angry+man+(v.mercola.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 215px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWR1dVzS8qI/AAAAAAAAAlM/Y3o1yz2yzvA/s320/angry+man+(v.mercola.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288481009368756898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Liburan tahun baru lalu, kami isi dengan pulkam alias pulang kampung ke daerah asal istri di Solo. Alhamdulillah, sempat menikmati beberapa wisata kuliner, sekaligus &lt;span style="font-style:italic;"&gt;walking-walking&lt;/span&gt; ke salah satu mall di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjalan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;eh, bermobil ding!&lt;/span&gt;) bersama keluarga besar, asyik dan capek juga. Asyik karena serunya, capek karena keseringan satu mobil cuma saya yang cowok. Terdaulat jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;fixed drive&lt;/span&gt;r deh.. hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ada kisah ketika jadi &lt;span style="font-style:italic;"&gt;driver&lt;/span&gt; ini. Sebenarnya juga kisah yang sangat sering terjadi, di mana saja, baik kala sendiri maupun beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian apa itu?&lt;br /&gt;Otot-ototan, eyel-eyelan, bersitegang dengan orang lain gara-gara macet or rebutan masuk parkir! :) Kisah yang klasik sekaligus klise banget memang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malem itu, entah kenapa, saya sangat reaktif. Kendati satu mobil hanya saya satu-satunya cowok, saya berani menantang satu mobil penuh dengan lebih banyak orang laki di dalamnya! Sok heroik gitu lah malam itu...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah juga sih, tantangan itu nggak bersambut. Kalo bersambut, bisa tepar juga kayaknya saya, hehe. Yang pasti, setelahnya saya menyesal. Menyesal banget. Lepas dari siapa yang salah, saya kok jadi super-reaktif gitu ya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyesalan memang kurang ada gunanya. (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saya tulis "kurang", bukan "tidak", karena saya kadang merasa menyesal itu ada gunanya juga... hehe&lt;/span&gt;). Saya merasa salah ambil sikap. Merasa bertindak tidak pada tempatnya. Tidak seharusnya. Artinya, semestinya saya bisa menahan emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi jika ingat konsep Stephen Covey yang saya baca ulang di buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;The Six Says&lt;/span&gt;-nya Herry Tjahjono, tentang adanya "manusia reaktif" dan "manusia proaktif". Dalam kedua konsep itu, terbukti bahwa "manusia reaktif" senantiasa tidak lebih unggul daripada "manusia proaktif". Manusia proaktif lah, yang menurut Covey memenuhi syarat terpenting untuk bisa menjadi manusia &lt;span style="font-style:italic;"&gt;excellence&lt;/span&gt;. Bahkan Herry bilang, "&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Say No to Reactive Person!&lt;/span&gt;". Intinya, jangan kasih tempat pada manusia yang reaktif... Nah lo!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di mana sih, beda manusia reaktif dan proaktif?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya beda lah, masa ya beda dong... hehe. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manusia reaktif, adalah orang yang cenderung memberikan respon secara spontan, langsung,jangka pendek, dan lebih didominasi oleh pengaruh/stimulus lingkungan. Ia tidak berpikir panjang. Hasil akhirnya, biasanya seringkali negatif. Syaraf otak menjadi tegang, motivasi menurun, malas, dada berdebar, dan sebagainya. Kalau ada keputusan besar yang harus diambil, biasanya orang itu menjadi tidak bijak, sehingga keputusan yang salah lah yang ia tetapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu adalah kerugian. Baik bagi si manusia reaktif, maupun bagi orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara manusia proaktif, ia juga "berbuat", merespon sesuatu, namun melalui pertimbangan yang bijak, tanpa harus kehilangan durasi waktu dalam pengambilan keputusan. Artinya, ia mampu berpikir "panjang" dalam waktu yang relatif pendek. Tetap tidak emosional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa &lt;span style="font-style:italic;"&gt;case&lt;/span&gt;, manusia proaktif justru selalu melakukan langkah antisipatif secara cerdas, atau setidaknya sudah mempersiapkan langkah-langkah strategis lanjutan bila ada suatu masalah. Ia bahkan tidak harus menunggu masalah atau stimulus lingkungan itu muncul, tapi ia sudah mampu mempertimbangkan dan memproyeksi kemunculan sebuah fenomena. Ia lah orang-orang yang berpikiran maju. Ia lah orang-orang yang mampu "berjalan di depan", dibanding orang kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dus, jauh lebih baik menjadi manusia proaktif daripada reaktif. Itu jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun demikian, menurut saya, kedua tipe manusia di atas masih tergolong manusia "aktif", sehingga masih lebih baik dibanding menjadi "manusia pasif". Manusia yang --jangankan berpikir dan bersikap antisipatif--, mampu merespon stimulus lingkungan yang frontal atau radikal pun tak mampu dilakukannya. Ada masalah atau tidak, ia bersikap sama : diam. Stais. Ya begitu saja. Tak ada langkah beda yang mestinya dilakukannya. Salah ya sudah. Disuruh mbetulin ya dibetulin. Disuruh ngganti lagi ya diganti. Pokoknya, apa kata "instruksi" lah. Kata orang aktif, ia "hidup tapi mati". Ia "hidup tanpa nyawa". Ia sebagaimana benda mati, robot, yang nggak pernah punya inisiatif apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang paling parah. Jadi, kalaupun manusia reaktif punya sisi kelemahan, ia masih jauh lebih mending daripada manusia pasif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang reaktif bisa menjadi orang yang "benar" karena ia merespon masalah akibat kesalahan-kesalahannya. Ia bisa menjadi karyawan yang lebih baik karena pernah ada peringatan atau teguran dari atasan. Ia bisa menjadi manusia yang bijak karena ia pernah menderita akibat ketidakbijakannya. Ia bisa menjadi manusia yang sabar karena pernah "termakan" ketinggian emosionalitasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sebagaimana arti judul posting ini : menjadi manusia reaktif boleh, asal kita mampu mengambil hikmah daripadanya, untuk kemudian menjadikannya bahan perbaikan diri. Kalau tidak mampu, jangan. Menjadi manusia proaktif, ini yang sangat dianjurkan. Namun, menjadi manusia pasif, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;no way&lt;/span&gt; lah yau! Tak ada tempat bagi manusia pasif ini. OK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Fajar S Pramono&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ilustrasi : http://v.mercola.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2728299811967810892?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2728299811967810892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2728299811967810892' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2728299811967810892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2728299811967810892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2009/01/reaktif-proaktif-pasif.html' title='REAKTIF (+/-), PROAKTIF (+++), PASIF (---)'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SWR1dVzS8qI/AAAAAAAAAlM/Y3o1yz2yzvA/s72-c/angry+man+(v.mercola.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8106455734794806236</id><published>2008-12-31T05:14:00.010+07:00</published><updated>2009-03-09T18:41:32.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>KEBAHAGIAAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVqv9VZaDlI/AAAAAAAAAlE/7F5qs_ikrEE/s1600-h/happiness+(docwhisperer.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5285730580923289170" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 268px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVqv9VZaDlI/AAAAAAAAAlE/7F5qs_ikrEE/s320/happiness+(docwhisperer.files.wordpress.com).bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;--Apakah kita tidak bahagia dalam menjalani hidup ini?--&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Minggu lalu, seorang kawan menawarkan sebuah "alat" untuk menge-test perasaan : &lt;em&gt;Apakah Anda Bahagia dengan Hidup Saat Ini?&lt;/em&gt; Anda bisa lihat di &lt;a href="http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/12/tes-apakah-anda-bahagia-dengan-hidup.html"&gt;http://roniyuzirman.blogspot.com/2008/12/tes-apakah-anda-bahagia-dengan-hidup.html&lt;/a&gt;. Isinya tentang "tantangan" untuk menjawab beberapa pertanyaan yang diajukan Robert Holden, di mana skor akhirnya akan menunjukkan apakah Anda masuk kepada kategori&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"tidak puas pada kehidupan saat ini", "tidak menikmati kehidupan saat ini", atau memang sudah "puas dan bahagia dengan kehidupan saat ini".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;--Apakah kita tidak bahagia dalam menjalani hidup ini?--&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Minggu lalu juga (Jum'at 26/12/08), Prof. Dr. Komaruddin Hidayat --Rektor UIN Syarif Hidayatullah-- menulis di Harian &lt;em&gt;SINDO&lt;/em&gt; : &lt;em&gt;The Art of Happiness&lt;/em&gt;. Berkisah bahwa untuk bahagia, diperlukan sebuah ketrampilan dan penghayatan seni. Ketrampilan dan seni untuk merangkai dan memaknai potongan serta aktivitas kita sehari-hari dengan kecerdasan, kejujuran pada diri sendiri, serta kreativitas untuk menggubah hal-hal yang tampaknya kecil agar menjadi besar dan bermakna.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;--Apakah kita tidak bahagia dalam menjalani hidup ini?--&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Minggu lalu juga (Sabtu 27/12/08), Agung Adiprasetyo --CEO Kompas Gramedia-- menulis dalam kolom &lt;em&gt;Kopi Sabtu Pagi&lt;/em&gt;-nya di Harian &lt;em&gt;KONTAN&lt;/em&gt;, tentang : &lt;em&gt;Memburu Kebahagiaan&lt;/em&gt;. Sebuah renungan yang diawali dengan sitiran kalimat dalam film &lt;em&gt;The Pursuit of Happyness &lt;/em&gt;--sebuah pengisahan hidup seorang Christopher Gardner, seorang tuna wisma dan &lt;em&gt;single parents &lt;/em&gt;yang berjuang dalam hidup bersama anaknya hingga berhasil menjadi jutawan dan CEO sebuah perusahaan &lt;em&gt;stockbroker&lt;/em&gt; ternama di Amerika--, "Tuhan, jangan singkirkan gunung di hadapanku, tetapi berilah jalan dan kekuatan untuk melewatinya."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Di uraian selanjutnya, Agung mengingatkan, bahwa kebahagiaan, sesungguhnya memang adalah cara pandang. Cara pandang terhadap sebuah masalah. Sebuah persoalan. Lebih tepatnya lagi, sebuah fakta. Ketika melihat di sebuah gang becek beraroma selokan sekelompok pria berjoget sepenuh hati dengan mata yang merem-melek mengikuti alunan musik dari sebuah &lt;em&gt;sound system&lt;/em&gt; di atas sebuah gerobak dangdut keliling, bisa diyakini mereka sedang sangat berbahagia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Sebaliknya, banyak orang merasa tidak bahagia karena senantiasa khawatir. Khawatir akan kehilangan. Ya kehilangan kenikmatan duduk di &lt;em&gt;first class &lt;/em&gt;pesawat terbang terbaik, kehilangan kenikmatan dilayani oleh banyak pembantu, takut kehilangan kemewahan gaya hidup, kesempatan makan enak, dan sebagainya. Kekhawatiran itu yang menciptakan rasa tidak bahagia.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Karenanya, di akhir tulisan Agung menulis : banyak orang memburu kebahagiaan di tempat-tempat yang "jauh". Padahal jangan-jangan, semua tergantung apa yang ada di dalam hati kita. Hati, yang tentunya amat sangat dekat sekali dengan kita. Bahkan "di dalam kita".&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya mengamini pandangan Agung ini. Juga Pak Komaruddin, yang berkisah tentang bagaimana sebuah gitar menciptakan kebahagiaan (dan juga ketidakbahagiaan) bagi lima orang berbeda yang menerimanya. Juga epilog posting Uda Roni di atas : bahwa kebahagiaan dunia akhirat lah tujuan utama kita. Semua yang coba kira raih sesungguhnya hanyalah alat, sarana untuk mencapai kebahagiaan itu. "Dan, luar biasanya, ternyata kita bisa berbahagia saat ini juga, tidak perlu besok. Tidak perlu harus punya mobil Alphard dan rumah di Pondok Indah. Tidak perlu harus punya cabang sekian atau omzet sekian," tulis Uda.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ya. Pertanyaan pertama saya memang : Apakah kita tidak bahagia dalam menjalani hidup ini?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jangan-jangan iya. Buktinya, banyak orang yang menulis tentang "perburuan" kebahagiaan ini. Buktinya, banyak juga yang membacanya, termasuk saya. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saya jadi ingat, saya punya beberapa koleksi buku tentang inspirasi kebahagiaan ini. Ada &lt;em&gt;The Art of Happines at Work&lt;/em&gt;, karya inspiratif dari Dalai Lama yang bekerja sama dengan Howard C. Cutler, M.D. Ada juga buku &lt;em&gt;The Pursuit of Happyness&lt;/em&gt;, versi lain media dari kisah Chris Gardner., yang ditulis bersama Quincy Troupe. Dan tentu saja yang terbaru : &lt;em&gt;The 7 Laws of Happiness &lt;/em&gt;dari Arvan Pradiansyah. Saya sangat yakin, masih ada beberapa buku lain yang berkisah khusus tentang "perburuan" ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Pertanyaannya kemudian, dengan menengok kepada diri saya sendiri adalah : Sesungguhnya kebahagiaan sudah dimiliki banyak orang, hanya mereka belum bisa "menemukan" cara memetiknya. Begitukah?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ya. Karena ternyata, seperti kata Uda Roni, Agung Adiprasetyo dan Pak Komaruddin Hidayat --juga Arvan dan Dalai Lama--, bahwa kita hanya "salah memandang". Salah memaknai. Banyak sumber kebahagiaan yang ada di sekitar kita, bahkan melekat pada kita, namun kita tidak bisa menyadari dan menemukannya, karena belum tahun "rahasia" itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;So, buku-buku dan tulisan itu memang perlu dibuat, untuk memberi tahu kepada kita "rahasia perburuan" ini. Jangan sampai, kita merasa lelah berburu --bahkan akhirnya berujung keputusasaan--, namun tetap saja tidak mendapatkan sang kebahagiaan itu. Semoga kita terhindar dari yang demikian ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Analogkan kata "indah" dengan kata "bahagia" pada &lt;em&gt;quote&lt;/em&gt; John Cage ini :&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;"Pertanyaan pertama yang saya tanyakan kepada diri sendiri saat sesuatu tidak terlihat indah (&lt;em&gt;=bahagia&lt;/em&gt;)adalah : mengapa saya merasa hal itu tidak indah (&lt;em&gt;=membahagiakan&lt;/em&gt;). Dan saya akan segera menemukan bahwa alasannya tidak ada."&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tak ada alasan memang, untuk tidak berbahagia. Karena kuncinya adalah kesyukuran. Mensyukuri apa yang ada di hadapan kita.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Tapi ingat, "mensyukuri keadaan" berbeda dengan "merasa puas". Jika kepuasan yang Anda cari, maka hakikat manusia yang tidak pernah puas yang akan menjawabnya. Hasilnya? Anda tidak akan pernah bersyukur.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Mensyukuri keadaan, mensyukuri nikmat, tidak berarti menghentikan usaha pencapaian yang lebih tinggi. Ini yang perlu kita ingat bersama.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"Dua orang menatap keluar dari jeruji yang sama : yang seorang melihat lumpur dan yang lain melihat bintang." (Frederick Langbridge).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Kalimat inspiratif ini juga tidak hanya cocok untuk menggambarkan sebuah optimisme ataupun pikiran positif. Ia juga menyiratkan sebuah esensi, bahwa persepsi orang, tergantung dari cara memandangnya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dan saya menetapkan tekad, bahwa saya akan tetap memandang berbagai kondisi melalui sudut pandang kesyukuran, yang saya yakini akan senantiasa membahagiakan.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Jadi, sekali lagi, apakah kebahagiaan perlu kita buru di tempat yang jauh?&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Salam perenungan,&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Ilustrasi : &lt;a href="http://docwhisperer.files.wordpress.com/"&gt;&lt;em&gt;http://docwhisperer.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8106455734794806236?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8106455734794806236/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8106455734794806236' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8106455734794806236'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8106455734794806236'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/kebahagiaan.html' title='KEBAHAGIAAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVqv9VZaDlI/AAAAAAAAAlE/7F5qs_ikrEE/s72-c/happiness+(docwhisperer.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2620122019030594636</id><published>2008-12-29T04:06:00.013+07:00</published><updated>2009-03-09T18:41:32.909+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>RYAN FARRINGTON : AKU HARUS BERGEGAS....</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVgGktAKBmI/AAAAAAAAAk8/jxRFL-_9FAY/s1600-h/ryan_farrington+(www.bbc.co.uk).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVgGktAKBmI/AAAAAAAAAk8/jxRFL-_9FAY/s320/ryan_farrington+(www.bbc.co.uk).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284981390344586850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Catatan awal : &lt;em&gt;kalau saya sering menyebut nama buku atau nama majalah sebagai sumber inspirasi, yakinlah ini bukan pesan sponsor. :)&lt;/em&gt; Hanya karena hobi membaca lah, yang menempatkan literasi sebagai sumber ide, sumber motivasi, sumber pemahaman baru, dan sumber introspeksi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk juga untuk posting kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak menyarankan Anda membeli buku atau majalahnya, tapi hanya menganjurkan Anda untuk membacanya. Ya, sekedar membacanya. Buku atau majalahnya boleh pinjem. Boleh liat di internet, kalau ada. Boleh juga sekedar ngintip di toko buku atau di kios koran dan majalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Ryan Farrington, yang menjadi tempat berkaca kali ini. Dan adalah &lt;em&gt;Reader's Digest Indonesia&lt;/em&gt; edisi Januari 2009, sumber inspirasinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bacalah sendiri, karena saya tak akan bisa menceritakan kisah Ryan sebagaimana Robert Kiener --penulis artikel itu-- berkisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ryan Farrington adalah seorang pemuda Birmingham, Inggris. Saat ini, usianya 19 tahun. Dan ia adalah salah satu dari 10 pelari terbaik Inggris saat ini di kelompok umurnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekilas, tak ada yang istimewa. Seorang pemuda berprestasi, itu hal yang wajar. Namun, tahukah Anda bahwa Ryan sesungguhnya adalah seorang penderita distonia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa itu distonia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Distonia adalah sebuah penyakit langka, dengan gejala dan reaksi layaknya penderita penyakit parkinson. Ia tidak hanya tak mampu mengendalikan gerak tubuhnya ketika penyakit itu menyerang, namun bahkan memberikan efek sakit yang luar biasa kepada obyek yang diserangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kesempatan, Ryan menulis dalam buku hariannya, "Rasa sakitnya seperti disengat listrik tegangan tinggi. Seakan aku dihunjam pisau. Aku terus menyembunyikan rasa sakit itu karena ketakutan, malu dan frustasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan keterangan ahli, rasa sakit itu memang akan terus meningkat seiring peningkatan umurnya. Dan yang lebih parah, disinyalir belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangankan obat. Penyebab munculnya penyakit itu pun belum jelas diketahui. Dugaan para peneliti, ia merupakan akibat kondisi abnormal di basal ganglia, yakni bagian dari otak yang berfungsi layaknya "papan sirkuit" yang memproses berbagai perintah untuk mengontrol gerak tubuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ketidakberdayaannya mengendalikan gerak tubuh itulah, maka Ryan pernah ditemukan keluarganya sedang terkapar di tengah trotoar, tanpa daya dan bahkan kesakitan. Tiba-tiba kakinya tak bisa digerakkan. "Rasanya sakiiiit sekali," ujar Ryan kecil --saat itu usianya 9 tahun-- merintih. Ia pun tak kuat lagi berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah pun, tak jarang orang tuanya dikejutkan oleh teriakan Ryan yang tiba-tiba menjadi "lumpuh". Tak berdaya sama sekali. Suatu ketika ia ditemukan tertelungkup di lantai, dengan otot-otot punggung yang tertarik karena kejang hebat. Digambarkan, seolah ada beberapa ulat kecil yang sedang merayapi dan membelit tubuh Ryan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakit itu bisa berumur hanya dua minggu, tapi tak jarang justru lebih beberapa minggu lagi. Sebuah masa yang hampir selalu sama dengan "masa sehat"-nya. Dan ketika penyakit itu muncul, ia memang "terpaksa" menjadi orang yang seolah cacat : memakai kursi roda, dan harus mendapat bantuan pihak ketiga untuk beraktivitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berkonsultsi dengan dokter, Ryan dan ibunya justru dihadapkan pada kemungkinan kelumpuhan otak, yang secara otomatis mengakibatkan kelumpuhan fisik. Menurut sang dokter, ada cara untuk membuat tulang belakangnya tidak merasakan sakit lagi, yakni dengan membuat syarafnya mati rasa. Tetapi konsekuensinya, kedua kakinya tidak bisa dipergunakan lagi. Ryan harus memakai kursi roda seumur hidupnya, kata dokter itu. Dan bagi Ryan dan ibunya, itu adalah, "Tidaaaak...!!!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, lihatlah kebesaran Tuhan, dan saksikanlah kebesaran tekad. Tubuh Ryan memang bisa lumpuh karena distonia, namun tidak dengan tekadnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Samantha Butts, seorang fisioterapis di klinik rehabilitasi Manor Hospital, yang mampu memberi kepercayaan diri luar biasa kepada Ryan. Waktu itu ia berumur 13 tahun. Tahun 2002. Samantha lah yang selalu mengatakan, "Kau bisa melakukannya. Aku tahu kamu pasti bisa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulailah Ryan belajar berjalan di papan keseimbangan, berpegang dua tangan pada besi tumpuan, untuk kemudian bisa berlari di &lt;em&gt;treadmill&lt;/em&gt;! Sampai suatu ketika, saat umur Ryan menunjuk angka 15, ia mendapat kesempatan untuk menjadi murid Frank Gardner. Seorang pelatih atletik di klub Birchfield Harriers.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari pengalamannya melatih ribuan anak, ia meyakini ada yang istimewa dalam diri Ryan. Dan sejak awal bertemu Ryan, ia bisa melihat "keistimewaan" itu : "nyala api" yang berkobar di matanya! Sebuah gambaran tekad yang luar biasa! Dan dari pengalaman Gardner, itulah ciri yang dimiliki semua juara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luar biasa. Maha Besar Allah. Maha Besar Tuhan. Hanya dengan tekad luar biasa dan kebesaran Tuhan, maka tak ada yang tak mungkin. Masih banyak orang yang tak percaya bahwa sang jagoan lari itu, seorang Ryan Farrington, adalah pengidap penyakit distonia, bahkan sampai dengan saat ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada dua hal menyentuh dari cerita yang dikisahkan secara apik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, Lisa --ibunda Ryan-- saat ini telah mengajukan cuti kepada bosnya selama dua minggu pada 2012 (baca lagi : dua ribu dua belas!), saat di mana Olimpiade musim panas akan dilaksanakan di London. Untuk apa? Untuk menyaksikan Ryan berlomba di ajang itu, karena ia percaya sepenuh hati, bahwa akan ada nama anaknya yang luar biasa di dalam daftar peserta lomba empat tahun nanti! Masya Allah... sebuah optimisme, dukungan dan bukti kepercayaan yang luar biasa dari seorang ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, ada kata-kata yang menyentuh, yang keluar dari bibir Ryan. Kata Ryan, "Aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa berlari. Jadi aku harus bergegas...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk kalimat terakhir ini, saya menitikkan air mata....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Tak ada yang tak mungkin, jika Tuhan berkehendak. Ryan pun sudah membuktikan, kekuatan tekad dan optimisme adalah modal yang luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang "berlari", "bergegas", saya jadi teringat sebuah puisi tradisional rimba Afrika, yang saya temukan di buku karya William Tanuwidjaja. Kendati tak sepenuhnya berkorelasi dengan kisah di atas, saya rasa tak ada jeleknya untuk dijadikan tambahan bahan renungan kita hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah puisi itu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000099;"&gt;Setiap kali saat fajar menyingsing,&lt;br /&gt;seekor rusa terjaga.&lt;br /&gt;Ia tahu hari ini ia harus lari lebih cepat&lt;br /&gt;dari seekor singa yang tercepat.&lt;br /&gt;Jika tidak, ia akan terbunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali saat fajar menyingsing,&lt;br /&gt;seekor singa terbangun dari tidurnya.&lt;br /&gt;Ia tahun hari ini ia harus mampu&lt;br /&gt;mengejar rusa yang paling lambat.&lt;br /&gt;Jika tidak, ia akan mati kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak masalah apakah kau seekor rusa,&lt;br /&gt;atau seekor singa.&lt;br /&gt;Karena setiap kali fajar menyingsing,&lt;br /&gt;sebaiknya engkau mulai berlari.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam perenungan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Foto Ryan Farrington : http://www.bbc.co.uk&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2620122019030594636?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2620122019030594636/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2620122019030594636' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2620122019030594636'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2620122019030594636'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/ryan-farrington-aku-harus-bergegas.html' title='RYAN FARRINGTON : AKU HARUS BERGEGAS....'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVgGktAKBmI/AAAAAAAAAk8/jxRFL-_9FAY/s72-c/ryan_farrington+(www.bbc.co.uk).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5515903529544569564</id><published>2008-12-27T19:41:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:41:32.910+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>ENDORSEMENT</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVYsmpFKwQI/AAAAAAAAAk0/DnxdMh-50VM/s1600-h/endorsement+(media.independent.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 248px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVYsmpFKwQI/AAAAAAAAAk0/DnxdMh-50VM/s320/endorsement+(media.independent.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284460255140036866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini saya ke Gramedia Matraman. Selain beberapa buku baru dan juga buku untuk anak-anak, saya juga membeli buku keempat Cak Eko, yang pada akhirnya terbit dengan judul besar "&lt;em&gt;The Cak Eko Way&lt;/em&gt;". Juga cetakan ketiga dari buku Pak Thomas Sugiarto --&lt;em&gt;"Your Great Success Starts from Now!"&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku Cak Eko memang buku baru. Sementara buku Pak Thomas, ini adalah kali keempat saya membelinya. Yang pertama untuk saya sendiri, dan yang kedua untuk kawan &lt;em&gt;marketer&lt;/em&gt; saya di kantor lama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, kenapa saya membeli lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, karena "kebetulan", ada &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; saya di sana. Beberapa waktu lalu, Pak Thomas memang minta &lt;em&gt;endorsement &lt;/em&gt;ke saya. Sebuah kehormatan, dan Alhamdulillah, karena saya merasa mendapat manfaat dari buku tersebut, dengan senang hati saya memberikannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus untuk buku Cak Eko, ini adalah kali ketiga saya dimintai &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; oleh beliau. Saya bersyukur dan senang mendapat kepercayaan yang tak semua orang bisa dapatkan itu. Sebelum buku-buku Cak Eko, juga sudah ada buku dari penulis lain yang di dalamnya memuat &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; saya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara tentang &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt;, sesungguhnya saya punya "ganjelan". Ada sesuatu yang "merisaukan". Bukan dalam konteks &lt;em&gt;endorsement &lt;/em&gt;yang harus saya buat dan sampaikan, tetapi pandangan sebagian orang (baca : termasuk para penulis) tentang &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah situs, saya membaca tulisan tentang beberapa manfaat &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt;, dilihat dari sisi orang yang dimintai &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt;. Kebetulan, tulisan tersebut menceritakan manfaat &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; dari sudut &lt;em&gt;personal branding&lt;/em&gt; jika kita juga seorang penulis (buku).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satunya, menurut penulis artikel itu, selain menjadi alat promosi bagi buku yang di-&lt;em&gt;endorse&lt;/em&gt;, sesungguhnya pemberi &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; juga sedang diiklankan atau dipromosikan oleh buku tersebut. "Melalui &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; itulah akhirnya orang tahu siapa kita dan apa karya kita," begitu tulisnya. Dalam bagian selanjutnya, ia menyarankan bagaimana agar &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; yang kita berikan bisa memberi nilai tambah bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih lanjut lagi, ia juga memberikan tips agar &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; yang kita berikan bisa "menarik perhatian", lantas muncul di kaver belakang buku (atau bahkan kaver depan), dan pada akhirnya, semakin tenar dan populer lah &lt;em&gt;personal brand&lt;/em&gt; kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel itu bagus, dan bagaimanapun, kendati ia mengedepankan "keuntungan" &lt;em&gt;endorser&lt;/em&gt; sebagai wahana &lt;em&gt;branding&lt;/em&gt;, ia masih menyarankan suatu tips yang baik : jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau begitu, apa "ganjelan" di hati saya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tidak sepenuhnya tidak setuju terhadap isi tulisan itu, kok saya merasa bahwa "tujuan" mem-&lt;em&gt;branding&lt;/em&gt; diri lewat &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; kok kurang..., gimana gitu! Saya kok kurang sreg ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran saya mengatakan begini : seorang penulis buku minta &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt;, tentu dengan tujuan agar kita bisa memperkuat aspek persuasi kepada calon pembaca, dengan menyampaikan keunggulan atau kekuatan buku secara jujur. Artinya, obyek dari kehadiran &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; itu adalah penilaian bahwa buku yang di-&lt;em&gt;endorse&lt;/em&gt; tadi layak untuk dibaca, dan tentunya juga dibeli. Artinya lagi, itu untuk kepentingan penulis buku. Bukan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ini yang seharusnya menjadi niat kita ketika meng-&lt;em&gt;endorse&lt;/em&gt;. Cukup itu saja. Nggak perlu ada "niat" lain, apalagi yang berkaitan dengan kepentingan kita sendiri. Kalaupun ada "keuntungan" yang kita peroleh --misalnya penguatan &lt;em&gt;personal brand&lt;/em&gt; peng-&lt;em&gt;endorse&lt;/em&gt;--, biarlah itu merupakan konsekuensi alami. Biarkan itu berjalan sesuai kehendak-Nya. Itu sekedar dampak; dampak yang menyenangkan, yang tak perlu "di-niat-i".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu menurut saya. Dan karena prinsip itulah, saya pernah kaget --bahkan kehilangan simpati; mohon maaf-- ketika ada seorang penulis yang memberi ucapan kepada saya waktu buku saya terbit, dan kemudian berpesan, "Nanti aku dimintai &lt;em&gt;endorsement&lt;/em&gt; untuk buku kedua kamu ya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Permintaan itu diucapkan dengan sangat serius. Sang penulis itu sendiri adalah teman, bahkan saya telah menganggapnya sebagai sahabat. Hanya, bidang kepenulisannya sangat berbeda dengan saya. Dan sekali lagi mohon maaf, tampak sekali bahwa yang diinginkannya, sesungguhnya adalah bagaimana dia bisa ikut dan menjadi lebih "populer" dibanding saat ia bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;. Ia tak salah. Ia berhak untuk memiliki kepentingan itu. Tapi bagi saya, kok naif sekali ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aktivitas memberi, memang lebih baik daripada menerima. Tapi, jika niat di belakangnya kurang (baca : tidak) pas atau bahkan kurang baik, apa ya bisa dinilai bagus aktivitas "memberi" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Hampir) sama dengan seperti orang beribadah, bersedekah, atau apapun kegiatan baik lainnya, tapi dengan harapan dilihat orang sebagai "orang baik". Niatnya tidak sepenuhnya atas nama Yang Di Atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, entahlah. &lt;em&gt;Wallahu a'lam bishawab&lt;/em&gt;. Saya juga sekedar "curhat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam curhat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://media.independent.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5515903529544569564?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5515903529544569564/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5515903529544569564' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5515903529544569564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5515903529544569564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/endorsement.html' title='ENDORSEMENT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVYsmpFKwQI/AAAAAAAAAk0/DnxdMh-50VM/s72-c/endorsement+(media.independent.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-9064673653922403963</id><published>2008-12-27T06:08:00.012+07:00</published><updated>2009-03-09T18:41:32.911+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>REMY SYLADO DAN ERIKA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWyB-MoBTI/AAAAAAAAAkk/JbabyGUAjt8/s1600-h/remy_silado3+(www.kapanlagi.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 215px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWyB-MoBTI/AAAAAAAAAkk/JbabyGUAjt8/s320/remy_silado3+(www.kapanlagi.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284325484734711090" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Siapa Remy Silado? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun --katakanlah-- Anda bukan peminat tinggi di bidang sastra, saya yakin Anda pernah mendengar nama besar sang satrawan ini. Ya, ia adalah seorang novelis, seorang penyair dan seorang seniman berkarakter "unik", di antaranya adalah kesukaannya berbaju serba putih. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya-karya luar biasa sekaligus &lt;em&gt;master piece&lt;/em&gt; sastrawan bernama asli Yapi Panda Abdiel Tambayong alias Yapi Tambayong dan juga sering menulis dengan nama pena Alif Danya Munsyi untuk tulisan-tulisan kebahasaannya antara lain adalah &lt;em&gt;Ca Bau Kan&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Sam Po Kong&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kerudung Merah Kirmizi&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kembang Jepun&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Parijs van Java&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;9 Oktober 1740&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Siau Ling&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Menunggu Matahari Melbourne&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Mimi lan Mintuna&lt;/em&gt;, dua seri &lt;em&gt;Novel Pangeran Diponegoro&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Boulevard de Clichy&lt;/em&gt;, kumpulan esai bahasa 9&lt;em&gt; dari 10 Bahasa Indonesia adalah Asing&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Bahasa Menunjukkan Bangsa&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Kamus Bahasa dan Budaya Manado&lt;/em&gt;, kumpulan &lt;em&gt;Puisi Mbeling&lt;/em&gt;, puisi-puisi dalam &lt;em&gt;Kerygma dan Martyria&lt;/em&gt;, juga &lt;em&gt;Sang FX&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, siapakah Erika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas, ia mirip nama seorang wanita. Istrinya kah? Kekasihnya kah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan. Meskipun bukan istri atau kekasih, ia pasti akan mengakui bahwa sang Erika adalah tambatan hatinya. Sebuah nama yang sangat berarti baginya. Bahkan sampai sekarang tetap ada di relung cintanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, siapakah Erika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia adalah sebuah merk mesin tik produksi Jerman pada awal 1940-an, yang menjadi mesin tik pertama yang bisa dimiliki Remy Sylado ketika menjadi wartawan di Semarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin tik Erika inilah yang membuat lelaki kelahiran Makassar 12 Juli 1945 itu tidak pernah bisa berhenti berkarya, dan memulai ranah pengembaraannya di jagad sastra Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecintaannya pada Erika, menciptakan kecintaan yang dalam pada sebuah alat bernama mesin tik. Dan tahukah Anda, jika di balik kesuksesan dan hasil karyanya yang luar biasa hingga saat ini, seorang Remy tak pernah mau berkarya dengan mesin tulis modern selayaknya komputer atau notebook, dan tetap setia pada pijitan jari di atas tuts mesin tiknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagi saya, kenyamanan menggunakan mesin tik tidak bisa tergantikan. Suara tuts ketika ditekan seolah menjadi musik pengiring saat menulis, yang dapat memicu ide-ide cerita baru," katanya di majalah &lt;em&gt;Reader's Digest&lt;/em&gt; edisi November 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mesin tik, bagi Remy, seolah adalah "nyawa" kepenulisannya. Kini ia mengaku tengah mengetik novel terbarunya menggunakan mesin tik. Kali ini bukan bersama yang terkasih Erika, tapi bersama "saudara laki-laki"-nya, alias Brother. Di penghujung tuturannya, ia menegaskan, "Dan sampai kapan pun saya akan terus menggunakan mesin tik untuk menghasilkan lebih banyak karya sastra."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWxvEOyPOI/AAAAAAAAAkc/8L64w8bDAlY/s1600-h/erika+typewriter+(farm1.static.flickr.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWxvEOyPOI/AAAAAAAAAkc/8L64w8bDAlY/s320/erika+typewriter+(farm1.static.flickr.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284325159936867554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada pelajaran dari kisah Remy dan Erika?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya kita bisa menangkap, bahwa tak selamanya sebuah hasil kerja yang bagus harus didukung oleh kekuatan teknologi. Harus di-&lt;em&gt;back up&lt;/em&gt; oleh fasilitas yang "wah". Harus ditopang oleh "modal" yang tidak sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Remy, tentu tidak akan menemui kendala jika sekedar ingin punya PC ataupun &lt;em&gt;notebook&lt;/em&gt;. Tapi, saya yakin dia sendiri akan sangsi, adakah karya ciptaannya akan sebagus jika ia menggunakan mesin tik manual? Belum tentu. Sisi emosionalnya yang bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu juga sebabnya sekarang, banyak orang mencoba kembali kepada "khittah"-nya. Banyak yang ingin "kembali ke alam" misalnya. Rumah, kantor, dan sebagainya, dikonsep tanpa meninggalkan keasrian alam. Karena apa? Karena nuansa alam akan mampu menyejukkan jiwa. Mneyegarkan otak. Tanaman hijau, bau pupuk kandang, kicauan burung, bunyi gemericik air, tak akan bisa tergantikan oleh tanaman plastik, aroma parfum bernuansa kotoran hewan, rekaman suara burung ataupun kaset tentang gemericik air. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyenangkan juga, banyak orang juga mencoba kembali kepada "khittah" spiritualitasnya. Para generasi sukses, kembali "mengingat" Tuhan, manakala perjuangannya ke arah sukses terpaksa banyak meninggalkan kesempatannya bercengkerama dengan Tuhan. Kepedulian sosial, kesediaan berderma dan bersedekah, program &lt;em&gt;Corporate Social Responsibility&lt;/em&gt;, semuanya menunjukkan kesadaran bahwa kita ini hanyalah "pelaku hidup", yang tak bisa meninggalkan sisi kemanusiaan dan ke-Tuhan-annya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu demi pencapaian yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWz4QaA3tI/AAAAAAAAAks/2FS-JTpOh_g/s1600-h/diponegoro.jpg+(bp2.blogger.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 150px; height: 180px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWz4QaA3tI/AAAAAAAAAks/2FS-JTpOh_g/s320/diponegoro.jpg+(bp2.blogger.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5284327516847267538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada Remy dan Erika. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasanya, tak ada alasan lagi untuk menunda sukses, hanya karena kebelumadaan fasilitas. Ide kreatif, ide bisnis, juga ide kesuksesan bisa muncul di mana saja. Tak pandang tempat, ada fasilitas ataupun tidak. So, jangan hanya karena ketiadaan itu, kita menunda sukses. Laksanakan segera, dalam kondisi seperti apapun itu. Manfaatkan apa yang sudah tersedia di sekitar kita. Syukur-syukur, jika pada kemudiannya kita bisa melengkapinya dengan fasilitas terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, kunci kesuksesan antara lain adalah : mulai dari sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi :&lt;br /&gt;- Remy Sylado : http://www.kapanlagi.com&lt;br /&gt;- Erika Typewriter : http://farm1.static.flickr.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-9064673653922403963?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/9064673653922403963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=9064673653922403963' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/9064673653922403963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/9064673653922403963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/remy-sylado-dan-erika.html' title='REMY SYLADO DAN ERIKA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVWyB-MoBTI/AAAAAAAAAkk/JbabyGUAjt8/s72-c/remy_silado3+(www.kapanlagi.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-6032363480307584539</id><published>2008-12-25T05:56:00.008+07:00</published><updated>2009-03-09T18:41:32.912+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>RENUNGAN BUAT PARA BANKIR</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVLImao0AxI/AAAAAAAAAkU/q-4hTBnxftc/s1600-h/Banker+(www.hbtauctions.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 235px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVLImao0AxI/AAAAAAAAAkU/q-4hTBnxftc/s320/Banker+(www.hbtauctions.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5283505875170099986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya "ngenes" abis, sedih, bahkan sempat "tersinggung" membaca sebuah &lt;em&gt;quote&lt;/em&gt; dari Mark Twain di sebuah buku yang baru saya beli di Gunung Agung Kwitang minggu lalu. Padahal, &lt;em&gt;quotation&lt;/em&gt; adalah salah satu sarapan rohani saya yang bukan hanya saya makan ketika saya menemukan, tapi bahkan saya cari-cari ketika saya tidak melihatnya di meja makan kerohanian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, buru-buru saya menepis, bahwa saya tidak boleh "tersinggung". Buru-buru saya mengingatkan diri sendiri, bahwa kritik adalah pengawal jiwa kita, yang bekerja tanpa bayaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga akhirnya, saya bisa tersenyum, dan pada akhirnya bersedia merenung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih, kata Mark Twain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata beliau, "&lt;em&gt;Seorang bankir adalah seorang kawan yang meminjamkan payung kepada Anda tatkala matahari bersinar terik dan menginginkannya kembali beberapa menit sebelum turun hujan&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, apakah se-"hina" itu pekerjaan saya?&lt;br /&gt;Ya Allah, apakah memang begitu profesi bankir di mata orang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengaku diri sebagai bankir. Saya banyak berhubungan dengan begitu banyak orang, dan merasa paling bahagia ketika bisa memberikan layanan terbaik yang bisa membantu orang-orang itu. Menjadi lebih berbahagia, ketika saya ada di posisi yang memungkinkan bantuan layanan itu tidak hanya dapat dilakukan pada jam kerja, namun bahkan pada jam-jam di luar jam kerja. Sekedar diskusi, ngobrol, ada yang menyebutnya "konsultasi", ada yang curhat. Tidak hanya kepada nasabah kantor saya, tapi kepada siapa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menulis edukasi perbankan di media massa. Menulis opini dan gagasan untuk &lt;em&gt;urun rembug&lt;/em&gt; masalah perbankan di sana-sini. Saya menulis buku. Saya mengisi forum-forum pertemuan. Seminar, workshop, sampai yang sekedar kumpul-kumpul. Semua itu semata untuk bisa memberi payung, tidak saja ketika hujan mendera, tapi sebisa mungkin menyiapkan payungnya sebelum hujan itu datang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa pagi kemarin (23/12/08), dua SMS masuk. Yang satu dari seorang bapak di Probolinggo, Jawa Timur, yang satu dari seorang ibu di Singkawang, Kalimatan Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak B dari Probolinggo mengucapkan terima kasih, karena hanya dengan bertanya via SMS serta membaca buku saya yang kemudian beliau aplikasikan isinya, saat ini beliau telah dipercaya untuk menerima fasilitas pembiayaan dari sebuah bank, yang kemudian dirasakannya sangat membantu usahanya. Apalagi momentumnya sangat pas, di mana kondisi ekonomi menuntut peningkatan modal yang tidak sedikit untuk usaha yang sedang digelutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu J dari Singkawang minta waktu untuk konsultasi (saya lebih senang menyebutnya curhat atau &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt;), dan Alhamdulillah sudah bisa saya penuhi tadi malam. Beliau berkisah tentang sedang adanya masalah antara beliau dan bank-nya, dan merasa sangat senang karena akhirnya mendapatkan pencerahan dan bahkan solusi tambahan bagi masalahnya tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf, saya bukan mau narsis. Mau &lt;em&gt;nggedhein&lt;/em&gt; kepala. Enggak. Saya terpaksa sampaikan, hanya karena saya merasa tidak melakukan apa yang dikatakan Mark Twain kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, Alhamdulillah, dengan tetap berpikir dan bersikap positif, saya bisa mengerti. Mungkin Mark Twain sekedar mengingatkan, bahwa tak selamanya bank bisa menjadi "sinterklas" bagi kesulitan likuiditas yang sedang dihadapi seorang pengusaha. Bank tak selalu bisa menjadi "juru selamat" bagi masalah keuangan seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu, saya bisa mengiyakan. Karena memang, tak semua produk yang ada bisa mengakomodir sebegitu banyak permasalahan rigid yang ada di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya menganggap &lt;em&gt;quote&lt;/em&gt; itu sebagai pengawal jiwa, saya justru mengucap terima kasih pada Mark Twain. Saya sangat merasa diingatkan, agar saya tidak menjadi bankir seperti yang beliau gambarkan. Yang seenaknya sendiri, yang hanya mengambil keuntungan sesaat dengan men-dzalimi nasabah, dan tetap berpegang teguh pada prinsip melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir seperti itu, saya menjadi lebih bersyukur. &lt;em&gt;Thank you, Mr. Mark Twain&lt;/em&gt;. Anda telah mengingatkan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak hanya itu. Jika Anda yang sedang membaca posting ini juga berprofesi sebagai bankir, mari kita jadikan &lt;em&gt;quote&lt;/em&gt; di atas sebagai bahan renungan kita. Mari kita tunjukkan, bahwa isi &lt;em&gt;quote&lt;/em&gt; itu tidak sesuai dengan kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.hbtauctions.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-6032363480307584539?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/6032363480307584539/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=6032363480307584539' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6032363480307584539'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6032363480307584539'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/renungan-buat-para-bankir.html' title='RENUNGAN BUAT PARA BANKIR'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SVLImao0AxI/AAAAAAAAAkU/q-4hTBnxftc/s72-c/Banker+(www.hbtauctions.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8242662797681150154</id><published>2008-12-22T22:57:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T18:46:48.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>SELALU MENUJU YANG TERBAIK</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU_D3h6IgRI/AAAAAAAAAkM/h4CjC12HF_Q/s1600-h/FightClub+(api.ning.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 238px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU_D3h6IgRI/AAAAAAAAAkM/h4CjC12HF_Q/s320/FightClub+(api.ning.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282656246691299602" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Edisi khusus akhir tahun Majalah Berita Mingguan &lt;em&gt;TEMPO&lt;/em&gt;, edisi 22-28 Desember 2008 menampilkan &lt;em&gt;10 Tokoh 2008; Mereka Bekerja dengan Hati Menggerakkan Daerah.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, jajaran redaksi &lt;em&gt;TEMPO&lt;/em&gt; memang melakukan pemilihan dengan kriteria sosok tokoh yang berbuat positif dan menginspirasi. Bukan sekedar yang terbaik, yang dalam konteks luasnya bahkan terdengar lebih "heroik" --memimjam istilah mereka sendiri--, yakni "turut merawat Indonesia ke arah yang lebih baik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bukan profil kesepuluh tokoh itu yang hendak saya bahas. Bukan juga tentang ke-heroik-an mereka dalam "merawat Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mencoba mengambil hikmah, setelah jiwa narsis saya membayangkan diri saya sendiri : &lt;em&gt;kapan ya, bisa "diakui" seperti itu&lt;/em&gt;? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, jangan diketawain dong, Mas, Mbak, Pak, Bu ataupun Dik. Mengkhayal boleh dan halal kan? Hehe... Apalagi kata Eyang Einstein, "Imajinasi lebih penting dari pengetahuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah lo, terbukti banyak kenyataan yang bermula dari khayalan. Bahkan "ajaran" LoA pun mengatakan, apa yang terjadi adalah apa yang kita pikirkan. Yang kita bayangkan. Secara &lt;em&gt;physicly&lt;/em&gt;, visualisasi itu kan kayak orang ngalamun atau mengkhayal to? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke lap... top!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tentang yang terbaik. Keinginan menjadi kelompok "yang terbaik". Semua sah saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, bagaimana bisa menjadi yang terbaik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira kuncinya sederhana, dan bisa dilaksanakan atau "dilatih" &lt;em&gt;step by step&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak usah membayangkan yang tersulit, kalau sesungguhnya kita bahkan bisa melakukan yang termudah. Sekali lagi, melakukan. Bukan sekedar membayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Inti dasarnya : selalu berbuatlah yang terbaik. Ini mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, berkaitan dengan "ajaran" &lt;em&gt;step by step&lt;/em&gt;, tak usah muluk-muluk. Berusahalah menjadi kelompok "yang terbaik", di dalam bidang yang Anda lakoni saat ini, dalam lingkungan yang seperti apapun. Sekecil apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya begini. Anda marketer di kantor. Seluruhnya, ada 20 marketer. Maka, mulailah untuk menjadi 10 marketer terbaik. Terlalu gampang? Naikkan target Anda menjadi 5 terbaik. Masih terlalu gampang juga? Bagaimana kalau 3 terbaik? Terlalu enteng? Ya sudah kalau begitu, target Anda adalah "yang terbaik". Nomor satu. &lt;em&gt;Number one&lt;/em&gt;. &lt;em&gt;Numero uno &lt;/em&gt;(&lt;em&gt;bener nggak artinya? hehe&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menjadi yang terbaik, kembangkan target menjadi 10 besar marketer terbaik, se-kantor wilayah misalnya. Kalau 10 besar tercapai, buat lagi target yang lebih menantang. 5 terbaik, 3 terbaik, atau 1 terbaik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tercapai? Bagaimana kalau secara nasional? 10 marketer terbaik nasional; berani? Kalau tak banyak aral, tingkatkan lagi menjadi 5 terbaik, dan seterusnya sampai menjadi 1 terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak contoh yang bisa dikemukakan. Di lingkungan, jadilah 10 kepala keluarga teraktif dalam kegiatan kampung. Jadilah 10 orang yang paling disukai warga kompleks. Jadilah 10 orang yang paling sedikit meninggalkan kewajiban siskamling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda masih sekolah atau kuliah, jadilah yang terbaik di kelas. Kemudian antar kelas. Kemudian antar sekolah. Kemudian antar sekolah antar kabupaten. Kemudian antar sekolah antar propinsi. Emangnya yang bisa antar propinsi cuman bis antar kota saja apa? Hehe....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi : di segala bidang yang kita lakoni, di dalam lingkungan yang seperti apapun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya adalah menjadi kelompok "yang terbaik", untuk kemudian menuju "satu yang terbaik". Dari semula "terbaik" di satu bidang saja, menjadi yang terbaik di banyak bidang. Dari yang terbaik di banyak bidang, menjadi yang terbaik di semua bidang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muluk sekali ya? Mungkin iya. Saya pun tidak menyalahkan &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt; itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya, bukan &lt;em&gt;statement&lt;/em&gt; atawa pencapaian itu sendiri yang menjadi ukuran dan tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini lagi. Jika kita selalu memiliki semangat untuk menjadi yang terbaik, maka secara otomatis kita akan menjadi orang yang berusaha semakin hari semakin baik. Karena, selalu saja ada pesaing sehat untuk itu. Kalau kita tidak &lt;em&gt;fight&lt;/em&gt;, tentu "gelar" terbaik itu tidak akan menjadi milik kita. Ia akan menjadi milik orang lain yang ber-&lt;em&gt;fighting spirit &lt;/em&gt;tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberanian untuk &lt;em&gt;fight&lt;/em&gt;, dalam artian positif, menuntut pengembangan diri yang terus menerus. Pengembangan diri yang terus menerus, bukankah merupakan suatu kondisi yang sangat sangat amat amat baik sekali, kalau tak boleh dibilang sangat sangat sangat sangat amat amat amat amat baik sekali? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi kalau lingkungan kita memang dipenuhi orang-orang yang memiliki mental &lt;em&gt;fight&lt;/em&gt; yang tinggi. Maka semua akan berlomba untuk semakin baik. Standar "yang terbaik" pun juga terus meninggi. Dengan menafikan istilah "kalah-menang", maka kesemua "kontestan" akan terus berkembang ke arah yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah konsep ini konsep yang menyenangkan dan menguntungkan pribadi pelakunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau jawaban Anda "iya", kenapa juga tidak segera mulai mencanangkan diri untuk selalu menjadi 10, 5, 3 atau bahkan 1 yang terbaik; diawali di sebuah bidang, ke 3 bidang yang lain, ke 5 bidang yang lain lagi, dan pada akhirnya di semua bidang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah selalu : langsung tidak langsung, Anda akan terus berkembang menjadi lebih baik. Sadar atau tidak sadar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cobalah! Dan Anda akan percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam introspektif,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://api.ning.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8242662797681150154?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8242662797681150154/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8242662797681150154' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8242662797681150154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8242662797681150154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/selalu-menuju-yang-terbaik.html' title='SELALU MENUJU YANG TERBAIK'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU_D3h6IgRI/AAAAAAAAAkM/h4CjC12HF_Q/s72-c/FightClub+(api.ning.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-4546463715055599705</id><published>2008-12-21T16:40:00.010+07:00</published><updated>2009-03-09T18:46:48.929+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>ITU BUKAN MASA TUA KITA</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU4dq0qUEhI/AAAAAAAAAkE/2MAf3elrPno/s1600-h/oldman1+(ramblert.blogsome.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 214px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU4dq0qUEhI/AAAAAAAAAkE/2MAf3elrPno/s320/oldman1+(ramblert.blogsome.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282192034480001554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Indopos&lt;/em&gt;, Minggu 21/12/08. Saya tak menyangka, kalau warga senior alias kaum tua Jepang begitu mencemaskan hari tuanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;blockquote&gt;Hari tua menjadi saat menakutkan bagi warga Jepang. Tak ada teman, tak punya keluarga di rumah. Mereka pun melakukan "apa saja" agar mendapatkan teman ngobrol. Termasuk melakukan kejahatan kecil-kecilan.&lt;/blockquote&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ya, kabarnya, mereka rela masuk penjara, hanya sekedar untuk memiliki teman ngobrol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Naudzubillahi min dzalik&lt;/em&gt;. Semoga itu tidak terjadi pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan dalam artikel itu, bagaimana para warga senior --warga berusia 65 tahun ke atas-- terus berupaya bisa bekerja, sekedar untuk menangkis rasa kesepian. Dengan bertemu teman kerja, klien, atau tamu perusahaan, maka mereka merasa "hidup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah Kaneko. Beliau adalah seorang wanita 70-an tahun, yang masih terus berkeinginan untuk bisa bekerja sebagai &lt;em&gt;cleaning service &lt;/em&gt;di Hotel Shinagawa Prince Hotel, Tokyo. Atau Yoshui, pria 60 tahun yang masih bekerja di bagian kebersihan Stasiun Kereta Api Yokohama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bekerja bukan untuk uang. Sebagaimana juga teman-teman Yuji, yang sengaja mencopet atau mengutil di supermarket, agar bisa dihukum. Aneh? "Di penjara banyak teman ngobrol," kata Yuji menceritakan alasan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satir dan getirnya, Yuji sendiri juga penderita sindrom kesepian. Hampir tiap malam ia tertidur di rumah makan langganannya, sampai-sampai si pegawai rumah makan itu tak tega mengusirnya. Ya, semata karena tahu alasan, kenapa Yuji "terpaksa" begitu. Ia tak punya teman di rumah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luaran, tak sedikit "senior" yang menghabiskan waktu untuk berkeliaran tak tentu arah, sekedar duduk atau bahkan rebahan di depan pertokoan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, mereka bukan tak punya uang, atau tak punya rumah. Mereka kesepian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, itu bukan masa depan dambaan kita. Tentu kita inginkan masa tua yang bahagia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang kira-kira bisa kita lakukan ya? Saya punya beberapa pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, mari investasikan waktu kita untuk berteman. Membuka jejaring. &lt;em&gt;Network&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berteman sendiri adalah investasi masa depan. Pertemanan yang hangat dan baik, saling menguntungkan, saling mengingatkan dan saling mengisi, tak akan bisa lekang oleh waktu. Ia bisa berumur sampai kita dipanggil Yang Kuasa. Tak pandang usia. Apalagi, kondisi dan teknologi telah mampu membuat jarak yang panjang menjadi seolah tak berjarak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, mari membentuk keluarga yang hangat. &lt;em&gt;Sakinah, mawahdah, warrohmah&lt;/em&gt;. Saling menghormati, saling menghargai. Ya antar saudara, apalagi antara anak dan orang tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah kewajiban mutlak seorang anak untuk menghormati orang tua, berbakti, sekaligus menjaganya sepanjang waktu. Pun sebaliknya. Jika dalam keluarga tercipta kehangatan yang membahagiakan, mulai dari kakek buyut hingga cicit, mulai dari saudara sepupu hingga saudara jauh, rasanya tak ada alasan untuk kesepian dan tidak berbahagia di hari tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari artikel itu juga tampak, bahwa salah satu pemicu kesepian di hari tua adalah pilihan hidup melajang di masa muda. Walhasil, ketika hari tua menjelang, ia tak punya siapa-siapa lagi. Juga pilihan untuk meminimalkan kelahiran dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Data di Jepang menunjukkan, angka kelahiran turun 27 persen dalam 27 tahun terakhir. Diperkirakan, pada 2050, perbandingan warga tua dan muda mencapai 4 : 1.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka yang terjadi adalah kebalikan kebijakan pemerintah di Indonesia. Kalau di negeri kita dianjurkan untuk menekan angka kelahiran, dengan program andalannya "Keluarga Berencana"; maka di Jepang, pemerintah justru berusaha memberikan kenaikan tunjangan anak. Dengan harapan, pasangan muda di sana tertarik untuk punya anak. Nah lo... :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, mari selalu berbuat baik dengan tetangga. Banyak yang bilang, tetangga seringkali lebih dari saudara. Merekalah sesungguhnya orang-orang terdekat kita, yang akan selalu saling membutuhkan. Mari jadikan mereka semua saudara kita juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat mungkin, merekalah yang akan menjadi teman paling setia bagi hari tua kita. Harmonisasi dan kepedulian dengan lingkungan serta warga sekitar, dus menjadi kemutlakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, mari kita usahakan untuk selalu memiliki kesibukan sejak sekarang. Kesibukan, yang bisa kita gunakan untuk mengisi hari tua kita, sekaligus yang bisa kita gunakan untuk terus mengasah otak kita. Menghindarkan kepikunan. Kesibukan, yang tidak mengenal masa pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sekedar bekerja di kantor, apalagi sebagai pekerja, maka ada suatu masa kita akan pensiun. Tapi, berwirausaha, beraktivitas keagamaan, aktivitas sosial, ikut klub olahraga, menulis dan sebagainya, maka ia tak akan mengenal umur pensiun. Mari kita mencoba aktif di sana, mulai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat sekali lagi, waktu adalah salah satu alat investasi terbaik yang harus dimanfaatkan. Semakin banyak waktu yang bisa kita investasikan di sana, semakin luas dan banyak manfaat serta hasil yang bisa kita dapatkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya tak mau membayangkan, seperti apa hari tua seperti yang dijalani generasi tua Jepang itu. Yang pasti, saya tak ingin mengalaminya. Saya yakin, begitu juga Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada komentar dari Anda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri, jadi ingin segera menelpon bapak saya di Surabaya... &lt;br /&gt;&lt;em&gt;I love you, Dad&lt;/em&gt;! &lt;em&gt;Very very much&lt;/em&gt;!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://farm1.static.flickr.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-4546463715055599705?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/4546463715055599705/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=4546463715055599705' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4546463715055599705'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4546463715055599705'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/itu-bukan-masa-tua-kita.html' title='ITU BUKAN MASA TUA KITA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU4dq0qUEhI/AAAAAAAAAkE/2MAf3elrPno/s72-c/oldman1+(ramblert.blogsome.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-6126949071104534063</id><published>2008-12-20T23:11:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:46:48.930+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>PREDIKSI PENGANGGURAN 2009 : semoga apa, ya?!</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU0heaHkdSI/AAAAAAAAAj0/LwTvTVLOdfY/s1600-h/job+seeking+(www.kabarindonesia.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 237px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU0heaHkdSI/AAAAAAAAAj0/LwTvTVLOdfY/s320/job+seeking+(www.kabarindonesia.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5281914744266323234" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Headline&lt;/em&gt; harian &lt;em&gt;KONTAN&lt;/em&gt; hari ini (Sabtu, 20/12/08) : &lt;em&gt;Tahun Baru Banyak Penganggur Baru&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Glek! Mau kemana Indonesiaku? Mau dikemanakan rakyatmu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;80.000 buruh industri tekstil dan produk tekstil kehilangan pekerjaan. Industri alas kaki kehilangan 30.000 pekerja sampai tahun depan. Otomotif akan mengurangi shift, dari 3 shift menjadi 1 shift. Industri sawit juga akan memberhentikan 300.000 buruh tahun depan. 10% tenaga di bidang konstruksi akan menganggur.&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;Glek lagi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;em&gt;Sekitar 1,5 juta pekerja bakal kehilangan pekerjaan. Pendapatan industri TPT bakal menurun 50%. Pendapatan industri alas kaki bakal turun hingga 20%. Tahun depan, penjualan otomotif bakal terpangkas 30%.&lt;/em&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;br /&gt;GLEK! GLEK!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahit kerongkongan ini. Makin susah untuk menelan ludah. Kalau itu prediksi pengamat, mungkin saya masih tak terlampau "glek". Lha ini, yang ngomong bos Apindo sendiri. Asosiasi Pengusaha Indonesia. Bapak Sofyan Wanandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian juga, Pak Benny Soetrisno, yang Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API). Lalu Pak Eddy Widjanarko, Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo). Terus juga, Pak Gunadi Sidhuwinata, Ketua Umum Asosiasi Sepeda Motor Indonesia (AISI).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka bisa ngomong, karena memang merekalah --para pengusaha itu-- yang terpaksa melakukan rasionalisasi --bahasa halus untuk PHK--. Mereka pelaku, bukan sekedar pengamat, sehingga prediksi ini dikhawatirkan menjadi kenyataan. Contoh konkritnya, dari prediksi 80.000 PHK di industri TPT, yang sudah dilakukan hingga Desember ini adalah 30.000. Dari prediksi 30.000 PHK di industri alas kaki, hingga akhir tahun ini sudah terbukti tak kurang dari angka 10.000 pekerja ter-PHK. Waduh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus, saya ingin berdoa. Cuma bingung, semoga apa ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga prediksi itu tidak menjadi kenyataan, atau biarkan semua itu terjadi, dengan hikmah indah di sebaliknya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah apa? Ya, siapa tahu dengan PHK itu, &lt;em&gt;the power of kepepet&lt;/em&gt;-nya orang Indonesia muncul. Ide-ide brilian keluar. Entrepreneur-entrepreneur baru tercipta. Kalau selama ini banyak orang mencari pekerjaan, nantinya banyak orang mencipta lapangan pekerjaan. &lt;em&gt;Quantum Leap&lt;/em&gt; yang diharapkan Dr. Ir. Ciputra terwujud : banyak orang mewujud menjadi entrepreneur, yang beliau yakini bukan hanya mengubah masa depan orang itu sendiri, tapi bahkan mengubah masa depan bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duh, mau berdoa untuk yang mana ya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, dua-duanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, Anda punya saran untuk saya? Untuk kita semua?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam tetap optimis,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : www.kabarindonesia.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-6126949071104534063?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/6126949071104534063/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=6126949071104534063' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6126949071104534063'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6126949071104534063'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/prediksi-pengangguran-2009-semoga-apa.html' title='PREDIKSI PENGANGGURAN 2009 : semoga apa, ya?!'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SU0heaHkdSI/AAAAAAAAAj0/LwTvTVLOdfY/s72-c/job+seeking+(www.kabarindonesia.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1910223614569908352</id><published>2008-12-18T06:07:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T18:46:49.040+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>ATURAN EMAS UNTUK MAJU</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUmLH9hSk7I/AAAAAAAAAjs/Q3ig-dehyog/s1600-h/langkah+(enengnurul.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5280905006958154674" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 300px; CURSOR: hand; HEIGHT: 300px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUmLH9hSk7I/AAAAAAAAAjs/Q3ig-dehyog/s320/langkah+(enengnurul.files.wordpress.com).bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Menemukan aturan emas untuk maju dari H. Jackson Brown, Jr., saya jadi ingat jaman kuliah atawa opspek di awal perkuliahan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu, waktu pelaksanaan opspek yang lekat dengan aroma arogansi itu, ada aturan :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 1. Senior/panitia tidak pernah salah.&lt;br /&gt;Pasal 2. Jika senior/panitia salah, lihat pasal 1.&lt;/blockquote&gt;Nah, ingat dan banyak yang menjadi korban? Saya yakin iya, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia perpolitikan, sering juga ada yang sinis dengan menggunakan aturan emas versi pemimpin yang otoriter :&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 1. Pemimpin tak pernah salah.&lt;br /&gt;Pasal 2. Jika pemimpin salah, lihat pasal 1.&lt;/blockquote&gt;Nah lo... mau apa kamu? Begitu kira-kira, gambaran ketakberdayaan yunior ataupun anak buah, yang sengaja diciptakan oleh sistem. Tapi, itu tentu sesuatu yang nggak baik...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaitannya dengan aturan emas-nya Jackson Brown?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, saya pikir aturan emas untuk maju dari Brown, justru menjadi sesuatu yang harus kita pegang. Kenapa? Karena aturan ini baik. Aturan ini memotivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti apa aturan emas untuk maju dari Brown?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;blockquote&gt;Pasal 1. Lakukan selangkah demi selangkah.&lt;br /&gt;Pasal 2. Bila merasa tak mampu lagi, kembalilah ke aturan nomor 1.&lt;/blockquote&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hmm... apakah Anda bisa setuju kalau ini dijadikan "pegangan hidup" kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt; &lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/div&gt;NB :&lt;br /&gt;Thanks to Pak Buca atas kiriman bukunya. Aturan emas di atas saya dapatkan dari buku itu. Sungguh memotivasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : &lt;/em&gt;&lt;a href="http://enengnurul.files.wordpress.com/"&gt;&lt;em&gt;http://enengnurul.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1910223614569908352?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1910223614569908352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1910223614569908352' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1910223614569908352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1910223614569908352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/aturan-emas-untuk-maju.html' title='ATURAN EMAS UNTUK MAJU'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUmLH9hSk7I/AAAAAAAAAjs/Q3ig-dehyog/s72-c/langkah+(enengnurul.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5280739015290635608</id><published>2008-12-15T03:57:00.002+07:00</published><updated>2009-03-09T18:46:49.041+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>BANGGALAH MENJADI KARYAWAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUULPWKeoMI/AAAAAAAAAjU/g74fiNZVuf0/s1600-h/employee+(www.clipartof.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUULPWKeoMI/AAAAAAAAAjU/g74fiNZVuf0/s320/employee+(www.clipartof.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279638496437248194" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hmm... rasa-rasanya, jika hanya melihat judulnya saja, pasti kawan-kawan penggerak entrepreneurship Indonesia padha protes. Tes! Padha sebel. Bel! Padha jengkel. Kel! Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pastinya, sangat mungkin juga temen-temen dan sahabat di komunitas Tangan Di Atas (TDA), yang awal tahun depan akan mewisuda banyak lagi anggota yang telah menetapkan pilihan hidup baru sebagai pengusaha --bukan pekerja lagi--, gusar setengah hidup, hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi,&lt;em&gt; please&lt;/em&gt;. jangan gusar dulu. Sudah jelas, saya juga penganut paham "lebih baik jadi bos kecil daripada jadi kuli gedhe", seperti yang ayah Bang Jaya Setiabudi (Direktur &lt;em&gt;Young Entrepreneur Academy&lt;/em&gt;, pengelola &lt;em&gt;www.yukbisnis.com&lt;/em&gt;) katakan kepada Bang Jaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mirip juga jawaban Mario Teguh atas seorang penanya &lt;em&gt;by phone&lt;/em&gt; di acara &lt;em&gt;Mario Teguh Golden Ways&lt;/em&gt; minggu lalu. Ketika itu si penanya bertanya, "Lebih baik mana, Pak Mario : jadi bos yang kecil, atau jadi kacung yang besar?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jawaban pendek tegas Pak Mario Teguh adalah, "Sebesar-besarnya seorang kacung, ia tetaplah seorang kacung!" Itu berati, tetap lebih baik menjadi bos, meski "bos kecil".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sebentar. "Karyawan" yang saya maksudkan di sini adalah "karyawan versi Herry Tjahjono". Saya sebut begitu, karena saya menemukan ide posting ini dalam buku beliau, &lt;em&gt;The Six Says; Siapa Cepat Dia Dapat&lt;/em&gt; (Elex Media Komputindo, 2008), yang saya comot dari rak buku Gramedia beberapa hari lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata beliau?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski bukan ulasan khusus dan hanya sekedar contoh tentang &lt;em&gt;toxic belief&lt;/em&gt;, beliau berkisah tentang salah kaprah &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; dalam terminologi kata "karyawan". &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama ini, banyak yang mengartikan bahwa karyawan berarti "orang gajian". Itu &lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; kebanyakan orang. Padahal menurut beliau, terminologi "karyawan" memiliki arti yang jauh lebih dalam. Untuk membedakannya, arti kedua ini saya tuliskan dalam huruf kapital : KARYAWAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KARYAWAN berasal dari kata dasar "karya". Dalam kata dasar itu, terkandung unsur kreatifitas dan proses penciptaan. So, KARYAWAN mestinya tidak sekedar diartikan sebagai "orang gajian", tapi harus diartikan sebagai "MANUSIA YANG MELAHIRKAN KARYA".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, jika itu yang menjadi paradigma baru, maka setiap karyawan (ingat : ini pakai huruf kecil), akan jauh lebih menghargai status dan profesinya sebagai KARYAWAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika seorang karyawan telah memiliki keyakinan sebagai KARYAWAN, maka bisa dipastikan, perilaku dan hasil kinerjanya akan jauh lebih baik daripada sekedar karyawan yang ber-&lt;em&gt;mindset&lt;/em&gt; sebagai "orang gajian". Perhatikan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang KARYAWAN akan menuntut dirinya untuk bisa bertindak lebih, tak sekedar melaksanakan tugas, mengerjakan rutinitas, tapi juga secara sadar dan aktif memberikan ide-idenya, berbuat lebih banyak, bekerja lebih cerdas bahkan lebih keras, karena tanpa itu ia merasa belum layak disebut "melahirkan sebuah karya". So, KARYAWAN bukan sekedar karyawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dengan terminologi yang demikian, bisa jadi seorang pengusaha, entrepreneur yang hanya sekedar melakukan proses usaha tanpa berusaha memberikan &lt;em&gt;added value&lt;/em&gt; dalam usahanya, yang sekedar menjalankan bisnis tanpa inovasi dan pikiran serta ide kreatif, nir-kemauan mengembangkan diri, nir-keinginan memperbesar jaringan dan sebagainya --selayaknya tuntutan bisnis yang harus berkembang, maka ia tak ubahnya sebagai karyawan --dalam huruf kecil--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, pengusaha yang aktif, kreatif, bekerja cerdas, selalu mencari terobosan baru dan melakukan action terbaik, maka ia bisa disebut sebagai KARYAWAN --dalam huruf besar--.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, mau nggak ya, teman-teman entrepreneur saya sebut sebagai KARYAWAN? Hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan, ketika bertemu mereka, lalu dengan lantang saya sapa, "Halo, para KARYAWAN!". Ah, mereka pasti "gondok". Protes. Sebel. Jengkel. Padahal maksud saya baik, kan? Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah ya itu, kalimat lisan tidak bisa menampakkan, apakah kata "karyawan" yang saya ucapkan itu berhuruf besar atau berhuruf kecil... hehehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke deh, cukup. Hanya intermezo. Yang jelas, sebagai karyawan, saya terpacu untuk bisa menjadi KARYAWAN. KARYAWAN yang juga pengusaha, juga pengusaha yang KARYAWAN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halah, jadi bingung sendiri saya... Mbuh, ah! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam intermezo,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.clipartof.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5280739015290635608?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5280739015290635608/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5280739015290635608' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5280739015290635608'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5280739015290635608'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/banggalah-menjadi-karyawan_15.html' title='BANGGALAH MENJADI KARYAWAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUULPWKeoMI/AAAAAAAAAjU/g74fiNZVuf0/s72-c/employee+(www.clipartof.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-746698208984287563</id><published>2008-12-14T20:36:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.485+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>THE POWER OF KEPEPET -- the other version--</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUUYKBVR_HI/AAAAAAAAAjc/IHDB_k6VPhE/s1600-h/karyawan+(www.m-pijarharapan.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 305px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUUYKBVR_HI/AAAAAAAAAjc/IHDB_k6VPhE/s320/karyawan+(www.m-pijarharapan.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279652698597227634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebentar lagi, Bang Jaya Setiabudi, salah seorang penebar virus entrepreneurship di negeri ini, akan meluncurkan buku pertamanya : &lt;em&gt;The Power of Kepepet&lt;/em&gt;. Jika melihat kiprahnya selama ini, maka prinsip "kepepet-isme" itu lebih berarti pada kondisi keterdesakan, keterhimpitan, keterpaksaan dan sejenisnya yang sifatnya "mengancam". Di tengah "ancaman" itulah biasanya, kreatifitas kita muncul. Ide-ide cemerlang terbit. Keberanian untuk action mengedepan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, omong-omong, ada juga lho, "keterpaksaan" yang lain. Dan ini jelas-jelas "keterpepetan" yang disengaja. Diciptakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Beberapa waktu lalu, seorang senior saya bercerita, bagaimana ia pada akhirnya mau belajar menyetir. Bukan karena ia punya mobil, lantas tidak ada yang nganter sehingga ia tidak bisa bepergian. Kalau itu, kepepet beneran namanya.. hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terjadi, pada awalnya ia males banget belajar nyetir. Padahal jelas-jelas, ketrampilan itu dibutuhkan untuk mendukung aktivitas keseharian dan pekerjaannya. Dan, Anda tahu apa yang ia lakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia membeli mobil, meski jelas-jelas ia belum bisa menyetir sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa maksudnya? Ya, ia akan merasa sayang apabila mobil yang sudah dibelinya hanya ngejogrog tanpa daya dan manfaat di rumahnya, hanya karena ia tak bisa mengendarai! Sayang juga kan, duit tabungan udah dibelanjakan, tapi ia sendiri seolah tak bisa menikmati?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm..., masuk akal juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dengan orang yang sama, beberapa hari lalu ia kami ajak main bowling. Meski belum pernah sama sekali menginjakkan kaki di arena lempar, bahkan belum pernah menyentuh bola bowling sekalipun, ia segera membeli sepatu bowling yang harganya cukup tinggi untuk ukuran kami! Gila, pikir kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ia memang profil orang yang energik. Orang yang bersemangat, dan mau belajar. Ketika saya tanya, "Mau serius nih, belajar bowlingnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menjawab, "Justru inilah yang akan aku jadikan pemacu semangat. Bayangkan saja, aku udah beli ini sepatu. Gak tanggung-tanggung, kupilih yang terbaik. Ketika sudah keluar kocek segini besar, terus aku hanya sekali belajar dan berhenti, kan sayang sekali, Jar...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku pasti akan menyempatkan diri dan bermain di sini, jika ingat bahwa sudah sedemikian banyak biaya kukeluarkan. Seringkali, 'strategi' diri yang beginilah yang membuat aku cepat maju," katanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terdiam, hingga akhirnya sampai pada kesimpulan tadi : "kepepet" tidak selalu berkonotasi dengan "ancaman" yang menakutkan, tapi juga bisa berupa "rasa sayang alias &lt;em&gt;eman&lt;/em&gt;", akibat investasi yang telanjur dikeluarkan. Sebuah "keterpepetan" yang menurut saya, menyenangkan. Ehm! :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebenarnya, anjuran untuk &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; sekaligus menggunakan otak kanan dalam ajaran wirausaha itu, memiliki "roh pola pikir" yang sama dengan &lt;em&gt;the power of kepepet &lt;/em&gt;di versi yang lain tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya saya. Saya merasa, tidak sedikit uang yang sudah saya tanam ke bisnis bakso saya. Jika hasilnya ternyata belum sesuai harapan, maka otak ini akan dipaksa berpikir, agar supaya aktivitas hariannya bisa sesuai dengan proyeksi. Jika tidak, &lt;em&gt;eman&lt;/em&gt; kan? Sayang kan, uang yang sudah saya tanam tadi? Bisa hilang dan "menguap" begitu saja tanpa hasil....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam dunia tulis menulis, saya pernah juga menggunakan "strategi" itu. Saya membeli laptop, tapi dengan sebuah target : bahwa dalam sekian bulan, saya sudah harus "mencapai BEP alias &lt;em&gt;Break Even Point&lt;/em&gt;", alias lagi : bisa menghasilkan uang dari menulis untuk "menebus" biaya yang saya keluarkan untuk membelinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, sama seperti kesimpulan banyak orang, bahwa sesekali "keterpepetan" itu harus kita ciptakan sendiri, untuk merangsang percik-percik ide dalam syaraf otak kita; untuk memancing kelenturan otot-otot aksional; dan untuk segera berbuat yang terbaik demi kemajuan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukur-syukur memang, jika motivasi kita sudah bisa secara permanen muncul, sehingga tak perlu lagi lah, yang namanya "kepepet" itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://www.m-pijarharapan.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-746698208984287563?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/746698208984287563/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=746698208984287563' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/746698208984287563'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/746698208984287563'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/power-of-kepepet-other-version.html' title='THE POWER OF KEPEPET -- the other version--'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUUYKBVR_HI/AAAAAAAAAjc/IHDB_k6VPhE/s72-c/karyawan+(www.m-pijarharapan.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-6965783330048519545</id><published>2008-12-13T22:48:00.005+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.489+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>JANGAN RESESI, JANGAN DEPRESI</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUPdOccm0cI/AAAAAAAAAjM/93vaUCPnkGo/s1600-h/DEPRESSION+(i45.photobucket.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 236px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUPdOccm0cI/AAAAAAAAAjM/93vaUCPnkGo/s320/DEPRESSION+(i45.photobucket.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279306428432437698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, meski hampir genap dua minggu, "ucapan" Bang Rhenald Kasali dalam artikelnya di &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; (01/12/08) masing terngiang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tetangga kehilangan pekerjaan, itu namanya resesi. Kalau Anda juga kehilangan pekerjaan, itu depresi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tulisan salah satu begawan ekonomi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkesan akan dua kalimat tadi. Lucu, tapi membuat nyinyir perasaan ini. Saya tersenyum, tapi bukan senyum kegelian. Mungkin senyum pembenaran, yang berarti mengiyakan sebuah pesimisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups, lupa mengingatkan. Tulisan tadi memang paling cocok untuk kami-kami yang TDB alias Tangan Di Bawah (baca : pekerja), dan mungkin kurang tidak cocok bagi Anda yang sudah TDA (Tangan Di Atas alias pengusaha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, kalau misalnya --ini misalnya lho, hehe-- itu diganti : "Kalau tetangga terpaksa menutup usaha, itu resesi. Kalau Anda juga terpaksa menutup usaha, itu depresi", bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eits, nggak boleh pesimis, Jar! Apalagi berandai-andai yang enggak-enggak... Apalagi "cari temen" yang bisa diajak depresi! Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enggak lah. Kendati mungkin sebentar lagi memang ada salah satu unit usaha yang harus kami tutup, saya enggak depresi kok. Saya tetap optimis. Karena, saya masih punya banyak harapan yang lebih besar dari sekedar yang ada sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, mari kita nilai "ucapan" Bang Rhenald di atas sebagai lecutan bagi kita semua, untuk bersama-sama membuktikan, bahwa apa yang disampaikan Bang Rhenald itu tidak akan mewujud dalam kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nggak usah ada resesi, tak perlu juga jadi depresi. Jayalah kita semua! Amien...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setuju, Kawan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://i45.photobucket.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-6965783330048519545?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/6965783330048519545/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=6965783330048519545' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6965783330048519545'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/6965783330048519545'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/jangan-resesi-jangan-depresi.html' title='JANGAN RESESI, JANGAN DEPRESI'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUPdOccm0cI/AAAAAAAAAjM/93vaUCPnkGo/s72-c/DEPRESSION+(i45.photobucket.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5101501040524865369</id><published>2008-12-13T05:45:00.009+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.496+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>BAHKAN SEKEDAR KEINGINAN...</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUL3hlW9W_I/AAAAAAAAAjE/H7hVdlX368g/s1600-h/no+motivation+(farm1.static.flickr.com).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5279053869567794162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 213px" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUL3hlW9W_I/AAAAAAAAAjE/H7hVdlX368g/s320/no+motivation+(farm1.static.flickr.com).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, dalam sebuah wawancara kenaikan jabatan, dalam bilangan tak sampai lima menit pertama, sebagai pewawancara saya menyatakan, "Cukup! Saya tidak akan bertanya apapun lagi." Saya lempar pernyataan ini ke forum, utamanya kepada dua pewawancara lainnya. Bagi saya, wawancara kepada sang calon tak ada gunanya, dan kesimpulan saya adalah : yang bersangkutan tidak lolos!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, emangnya kenapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutlah seleksi itu untuk posisi X. Ketika sebagai penanya pertama saya bertanya mengenai motivasi sang calon untuk menjadi seorang X, ia hanya menggelengkan kepala. Jelas saya heran. Saya &lt;em&gt;dhedhes&lt;/em&gt; (&lt;em&gt;apa ya, bahasa Indonesianya "dhedhes"? Hehe... saya "kejar" lagi lah, begitu mungkin&lt;/em&gt;) lagi, sebenarnya ia kepingin jadi X nggak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu jawabnya? "Tidak," plus ketegasan sikap berupa gelengan kepala, meski disampaikannya sembari tertunduk lemah tanpa gairah dan tatapan mata yang tak berani memandang ke arah pewawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hah? Sekedar ingin pun tidak?" tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ia tetap menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih penasaran, dan karena saya tahu bahwa bahkan orang tuanya adalah "alumnus" yang cukup sukses di perusahaan yang sama dengannya, serta dengan asumsi ia sangat paham mengenai "peluang karir" di perusahaan itu, saya tanya lagi ke sang calon, yang terus tertunduk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hari ini, berapa umur Saudara?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga puluh satu." Sebuah jawaban, yang --lagi-lagi-- disampaikan tanpa gairah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga puluh satu. Berarti, perjalanan karir Anda masih memungkinkan hingga dua puluh empat tahun ke depan," kata saya. "Masih cukup panjang untuk bisa mengejar suatu target posisi atau jabatan tertentu mestinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah," lanjut saya, "Saudara tahu bukan, jenjang karir yang ada di perusahaan Saudara?" Sang calon mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau begitu, Anda masih mungkin menjadi Y, Z, A ataupun B," simpul saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa 'cita-cita' Anda, apa 'obsesi' Anda, atau posisi minimal apa yang menjadi target Anda dalam berkarir di perusahaan ini sebelum Anda pensiun?" kata saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam. Hening. Sang calon tak menjawab apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tak punya cita-cita atau target?" kejar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih cukup lama terdiam, sebelum akhirnya ia menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak!!! Emosi saya yang "naik".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar, Anda tak punya keinginan tertentu?" Saya mencari ketegasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia mengangguk. Lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya ampuuun... Dalam hati saya bertanya, bagaimana ia bisa sampai ke ruangan ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat --saya, dua pewawancara lain dan si calon-- masih mencipta hening. Sampai akhirnya, "kata hati" saya terlontarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas, kalau begitu, Anda datang ke sini untuk apa?" saya bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada suara apapun. Hanya desahan dari beratnya tarikan nafas yang terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya lagi. "Mas, kalau Anda tak punya keinginan untuk posisi ini, bagaimana Anda bisa sampai ke ruangan ini?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sempat tak menjawab beberapa detik, dengan sangat lirih ia menjawab, "Ya kemarin disuruh Pak C ke sini, ya saya datang...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disuruh? Lha sebenarnya, Anda tahu nggak, di sini untuk apa?" saya mulai kehilangan kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk test X...," jawabnya lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Padahal Anda nggak berminat untuk posisi X, dan bahkan nggak punya keinginan untuk berkarir lebih tinggi dari posisi Anda sekarang?" tanya saya cepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, si calon pun mengangguk...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak lagi! Lhadalah, bagaimana bisa ada "calon" seperti ini "diijinkan" masuk ruangan seleksi!? Saya tak habis pikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, saya yang menyatakan "&lt;em&gt;walk out&lt;/em&gt;" dari ruangan itu, jika wawancara masih mau diteruskan. Bagi saya, jawaban dia adalah sebuah kesimpulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh, saya pusing sekali. Saya kehilangan nalar. Kok ada ya, orang yang seperti ini di perusahaan sebesar itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu kisah nyata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata ada, seseorang yang bahkan tak memiliki keinginan tertentu. Jangankan aspirasi atau obsesi, sekedar keinginan pun tak dimilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, semangat apa yang mewarnai aktivitas kerjanya sehari-hari selama ini!?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ia menjadi sangat tidak layak, bahkan untuk posisinya yang sekarang! Tanpa adanya keinginan untuk maju, mungkinkan ia akan memberikan yang terbaik pada &lt;em&gt;job description&lt;/em&gt;-nya yang sekarang? Saya yakin tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia akan bekerja seadanya. "Tanpa hati". Konsekuensi kerja baik adalah promosi. Dan ketika ternyata ia pun tak ingin memperoleh promosi, tentu yang dikerjakannya adalah sesuatu yang dirasakannya tak akan membuat dia dipromosikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cek ke unit kerja asal, dan dugaan saya benar adanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena saya masih penasaran, saya bertanya kepada atasan langsungnya, tentang "kisah" bagaimana ia bisa sampai ke ruangan wawancara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bangganya, sang atasan mengatakan, bahwa membuat si calon mau datang sudah merupakan prestasi tersendiri. Prestasi "besar", menurutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski jelas-jelas ia tak memiliki keinginan?" tanya saya kepada si atasan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, Pak!" jawab beliau tegas. Masih dalam balutan bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebanggaan, yang bagi saya justru sangat absurd. Sangat aneh. Bagi saya, itu bukan sesuatu yang layak dibanggakan, tapi bahkan sebuah kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin patut berbangga, jika ia mampu mengubah seorang anak buah yang semula tanpa motivasi untuk maju, menjadi seseorang yang penuh gairah kerja dan keinginan untuk berkembang. Bukan sekedar mendorongnya datang untuk sebuah kemubaziran...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan saya : tengok kembali produktivitas si calon, bahkan untuk posisinya yang sekarang. Nah lo....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Quote of the day &lt;/em&gt;:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tragedi sesungguhnya dari orang-orang miskin adalah kemiskinan mereka akan aspirasi," kata Adam Smith.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tragedi sesungguhnya dari kita yang memiskinkan adalah kemiskinan kita akan keinginan dan motivasi," kata saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada &lt;em&gt;qoute &lt;/em&gt;tambahan dari Anda sidang pembaca? Saya tunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://farm1.static.flickr.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5101501040524865369?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5101501040524865369/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5101501040524865369' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5101501040524865369'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5101501040524865369'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/bahkan-sekedar-keinginan.html' title='BAHKAN SEKEDAR KEINGINAN...'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SUL3hlW9W_I/AAAAAAAAAjE/H7hVdlX368g/s72-c/no+motivation+(farm1.static.flickr.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-8847886050703691028</id><published>2008-12-07T21:36:00.004+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.497+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>IBU DI SEGALA WAKTU</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STvgGV_0BSI/AAAAAAAAAi8/8oeAJcgznTo/s1600-h/bakti+(gallery.photo.net).jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 213px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STvgGV_0BSI/AAAAAAAAAi8/8oeAJcgznTo/s320/bakti+(gallery.photo.net).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5277057787983299874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1 //&lt;br /&gt;Ibu bergerak melingkariku&lt;br /&gt;berbentangkan sayap yang meneduhkan&lt;br /&gt;meliukkan kanan menepiskan kiri&lt;br /&gt;sekedar memastikan kenyamananku&lt;br /&gt;meletihi hidup, menelantarkan duka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 //&lt;br /&gt;Ibu mendendangkan gumam kemudian&lt;br /&gt;Meninabobokan kegundahan rasa derita&lt;br /&gt;Tak perlu bangun, wahai petaka&lt;br /&gt;Biarkan sukaria yang mengisinya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 //&lt;br /&gt;Ibu menyadarkanku dari kematian yang semu&lt;br /&gt;Membangunkan jiwa menegakkan raga&lt;br /&gt;Mengenalkanku kembali kepada terang&lt;br /&gt;Seraya berbilang, hadapi dunia hadapi nyatanya!&lt;br /&gt;Jemputlah ia sang bahagia&lt;br /&gt;Dari rumah-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rawasari, 071208&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;untuk mengenang kedua ibu kami : &lt;br /&gt;Ibu Sri Rejeki dan Ibu Siti Syamsiyah.&lt;br /&gt;Kami selalu berdo'a untukmu, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://gallery.photo.net&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-8847886050703691028?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/8847886050703691028/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=8847886050703691028' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8847886050703691028'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/8847886050703691028'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/ibu-segala-waktu.html' title='IBU DI SEGALA WAKTU'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STvgGV_0BSI/AAAAAAAAAi8/8oeAJcgznTo/s72-c/bakti+(gallery.photo.net).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-346146340065591994</id><published>2008-12-07T15:33:00.004+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.517+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>KEPERGIAN ITU, BUKAN UNTUK MENINGGALKAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuK8jfnvoI/AAAAAAAAAi0/UGZxw4YxD1Q/s1600-h/ibu1+(destiutami.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuK8jfnvoI/AAAAAAAAAi0/UGZxw4YxD1Q/s320/ibu1+(destiutami.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276964161319321218" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ibu harus pamit padamu&lt;br /&gt;Sementara yang memiliki hidup adalah Ia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu tahu kau akan bertemu geganas luka&lt;br /&gt;Ibu paham jika setelahnya&lt;br /&gt;Goresan rasa akan menyobek hatimu&lt;br /&gt;Rasa sesal rasa salah rasa duka rasa rindu&lt;br /&gt;Karena Ibu tahu kau menyimpan cinta itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah Ibu harus pamit padamu &lt;br /&gt;Sementara yang memiliki hidup adalah Ia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak boleh ada muram dan juga durja&lt;br /&gt;Dalam ramuan keseharian hidupmu&lt;br /&gt;Hidupmu sepenuhnya milikmu&lt;br /&gt;Dan ibu, hanya mengantarkanmu kepada halaman hidup&lt;br /&gt;Sebagaimana Ibu mengantarmu ke sekolahmu dulu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam padanya, Ibu hanya bertugas melayanimu&lt;br /&gt;Di tengahnya, Ibu hanya berwenang melindungimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, Nak…&lt;br /&gt;Apakah Ibu harus pamit padamu&lt;br /&gt;Jika memang waktu adalah awal sekaligus akhir&lt;br /&gt;Yang membatasi pelaksanaan tugas Ibu sebagai Ibumu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, yang memiliki hidup adalah Ia?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Rawasari, 071208&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;untuk mengenang kedua ibu kami : &lt;br /&gt;Ibu Sri Rejeki dan Ibu Siti Syamsiyah.&lt;br /&gt;Kami selalu berdo'a untukmu, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://destiutami.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-346146340065591994?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/346146340065591994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=346146340065591994' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/346146340065591994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/346146340065591994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/kepergian-itu-bukan-untuk-meninggalkan.html' title='KEPERGIAN ITU, BUKAN UNTUK MENINGGALKAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuK8jfnvoI/AAAAAAAAAi0/UGZxw4YxD1Q/s72-c/ibu1+(destiutami.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-2009254927625212883</id><published>2008-12-07T15:26:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.518+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>MENGENANG IBU</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuJ-jO9KMI/AAAAAAAAAis/K6ymRIbqR-A/s1600-h/ibu+(bp2.blogger.com).jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276963096097532098" style="DISPLAY: block; MARGIN: 0px auto 10px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 255px; TEXT-ALIGN: center" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuJ-jO9KMI/AAAAAAAAAis/K6ymRIbqR-A/s320/ibu+(bp2.blogger.com).jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Haruskah aku menunggu ibu meninggalkan dunia fana ini; hanya sekedar untuk bisa mengenangnya?&lt;br /&gt;Mustikah aku merasakan kehentian kasih ibu; semata untuk bisa menikmati sedihnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang Ibu, tak sekedar hadir dalam nyata. Ia pun menyentuh dalam maya.&lt;br /&gt;Sosok Ibu tak semata yang ada di depan mata. Tapi ia pun yang menggendong kita dalam jaraknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tertanamkah getar manakala kita menggurat do’a untuk orang tua? Tergerakkah ketika terdengar dongeng tentang Baginda Nabi yang menyebutkan namanya tiga kali sebelum nama yang lain untuk dibakti-i? Tersengatkah saat seorang anak meneteskan air mata ketika menembangkan lagu Bunda di televisi kecil kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasakan getar gerak dan sengat itu. Hunjamkan ke dalam hatimu, riuh perasaan sayang yang mendatangimu. Lekatkan ke kedalaman dinding sebongkah daging merah dalam dadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rabalah dan nikmati.&lt;br /&gt;Itulah kasih sayang Ibu, Nak….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#000000;"&gt;Rawasari, 071208&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;untuk mengenang kedua ibu kami : &lt;br /&gt;Ibu Sri Rejeki dan Ibu Siti Syamsiyah.&lt;br /&gt;Kami selalu berdo'a untukmu, Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://3.bp.blogspot.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-2009254927625212883?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/2009254927625212883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=2009254927625212883' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2009254927625212883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/2009254927625212883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/mengenang-ibu.html' title='MENGENANG IBU'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STuJ-jO9KMI/AAAAAAAAAis/K6ymRIbqR-A/s72-c/ibu+(bp2.blogger.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3762254681014502561</id><published>2008-12-06T06:26:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.531+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>HARI INI</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STnGdH5ppVI/AAAAAAAAAic/txZ-guVgymc/s1600-h/time+(eriksupit.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5276466642080605522" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; WIDTH: 320px; CURSOR: hand; HEIGHT: 208px" alt="" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STnGdH5ppVI/AAAAAAAAAic/txZ-guVgymc/s320/time+(eriksupit.files.wordpress.com).bmp" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mau apa ya, hari ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Long weekend&lt;/em&gt; 3 hari, &lt;em&gt;include&lt;/em&gt; libur Idul Adha, mau ke mana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati sudah saya mantapkan hati, bahwa libur (cukup) panjang ini kami tetap di Jakarta dan tidak pulkam alias pulang kampung, tapi detail rencana liburan ini, terus terang belum saya putuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semula saya tak merasa "bersalah" manakala saya belum memiliki "agenda khusus" berkaitan dengan hari-hari yang akan datang. Tapi, setelah membaca salah satu tulisan Samuel Tirtamiharja yang berjudul "Hari Ini", saya merasa ditohok untuk kesekian kalinya mengenai manajemen waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berulang kali? Ya, karena sebenarnya sudah banyak "peringatan" yang dikirimkan Tuhan melalui ucapan sahabat, melalui buku-buku para "suheng", melalui kutipan-kutipan dalam &lt;em&gt;success story&lt;/em&gt; seseorang yang telah menjadi "orang besar", sudah "jadi orang", dan istilah orang sukses lainnya. Bahkan juga melalui "takdir" Tuhan untuk saya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kata Sam Tirta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"&lt;em&gt;Strike while the iron is hot&lt;/em&gt;!" katanya, menirukan sebuah pepatah lama.&lt;br /&gt;"Jangan menunda suatu cita-cita yang indah untuk hidup ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu intinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan dalam hidup, ditentukan oleh apa yang kita lakukan setiap hari. Juga apa yang kita ubah setiap hari. Mau diubah ke arah yang lebih baik, sama seperti kemarin, atau malah mau diubah menjadi lebih buruk dari kemarin? Keputusannya ada pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hari ini akan kita jadikan "hampa", "tanpa makna", atau justru "sarat makna", kita sendiri yang memutuskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari, kita dihadapkan pada pilihan : (1) &lt;em&gt;bayar sekarang, main kemudian&lt;/em&gt;; atau&lt;br /&gt;(2) &lt;em&gt;main sekarang, bayar kemudian&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;Sedikit "bersusah" dulu, bekerja keras saat ini, untuk "bersenang-senang" dan menikmatinya kemudian; atau bersenang-senang dahulu, baru susah kemudian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya semakin merasa "terlambat" untuk memutuskan "isi" hari-hari yang akan saya lalui....&lt;br /&gt;Ah!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih dari Sam Tirta, ada sebuah inspirasi penting : "Jadikan hari ini sebagai hari terpenting Anda!"&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Jika Anda menjadikan hari ini sebagai hari terpenting bagi Anda, maka Anda siap untuk menikmati sesuatu yang belum pernah Anda alami&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, jika prinsip bahwa "hari ini adalah hari terpenting" kita laksanakan setiap hari, maka hari-hari kita akan senantiasa menjadi hari yang bermakna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang paling sukses dalam kehidupan ini adalah mereka yang cepat menuntaskan persoalan-persoalan penting dan mengelolanya setiap hari," kata John Maxwell.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So lagi, mari kita tetapkan, bahwa hari adalah hari terpenting bagi hidup kita. Bagi keluarga kita. Bagi pasangan hidup kita. Bagi anak-anak kita. Bagi teman-teman kita. Bagi sahabat-sahabat kita. Bagi perusahaan kita. Bagi bisnis kita. Bagi masa depan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, mau apa ya hari ini? Mau ngapain saja ya, di tiga hari libur ini? Mau mengagendakan apa ya, untuk pekerjaan di minggu depan? Untuk &lt;em&gt;weekend&lt;/em&gt; minggu berikutnya? Untuk minggu depannya lagi? Dan seterusnya dan seterusnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, ada pekerjaan kantor yang terpaksa saya bawa pulang. Ada janji untuk mempersiapkan makalah karena ada pemintaan "bicara" di depan para calon pensiunan sebuah institusi. Ada permintaan tulisan yang belum saya buat. Ada kelanjutan pertandingan bulutangkis dalam rangka ulang tahun perusahaan. Ada janji untuk mempersiapkan perayaan sederhana ulang tahun anak saya. Ada rencana mberes-mberesin koleksi buku yang mulai amburadul lagi. Ah, begitu banyak yang harus saya lakukan, dan itu semua pasti kacau balau --bahkan banyak yang akan tak terselesaikan-- bila saya tidak me-&lt;em&gt;manage&lt;/em&gt; waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, saya lebih baik pamit dulu. Mau segera bikin &lt;em&gt;schedulle&lt;/em&gt;. Mau segera "berbuat", agar waktu ke depan semakin bermakna. Agar masa depan yang cemerlang itu semakin nyata. Amien...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;NB :&lt;br /&gt;Inspirasi-inspirasi Sam Tirta (Prof. Ir. Samuel H. Tirtamihardja, MSc) bisa Anda baca dalam buku &lt;em&gt;Inspirasi 5 Menit&lt;/em&gt;, diterbitkan oleh Yayasan YASKI-Heartline Center, 2008.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : eriksupit.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3762254681014502561?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3762254681014502561/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3762254681014502561' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3762254681014502561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3762254681014502561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/hari-ini.html' title='HARI INI'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STnGdH5ppVI/AAAAAAAAAic/txZ-guVgymc/s72-c/time+(eriksupit.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3016158600043690364</id><published>2008-12-02T04:55:00.008+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.536+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>PRODUKTIVITAS</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STXH8Sy5GRI/AAAAAAAAAiU/OpsJpVjEmYg/s1600-h/semangat+(azuranime.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 276px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STXH8Sy5GRI/AAAAAAAAAiU/OpsJpVjEmYg/s320/semangat+(azuranime.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5275342377185777938" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa teman yang kemarin menanyakan, "Kok tumben berpuisi lagi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada juga yang sekedar menanya, "Ada maksud apa nih, kok postingnya dalam bentuk puisi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ini berkaitan dengan posting saya sebelum ini (&lt;em&gt;Ujung Lembata Masih di Mata&lt;/em&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah. Saya jelaskan. Bahwa "puisi" (&lt;em&gt;saya kasih tanda petik, soalnya saya sendiri nggak ngeh banyak soal puisi, meski cukup banyak puisi saya yang "diakui" oleh redaksi media massa yang kemudian memuatnya, hehe...&lt;/em&gt;) yang saya buat kemarin hanyalah salah satu bentuk apresiasi saya atas sebuah produktivitas yang ditunjukkan seorang F. Rahardi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri belum pernah mengenalnya secara langsung. Saya hanya sering membaca tulisan-tulisannya. Baik karya yang sastrawi (puisi, novel), esai (sastra, pertanian, agribisnis, bahkan politik) maupun karya dalam bentuknya yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang produktivitas, apa yang sedang dilakoni oleh F. Rahardi tak ubahnya seperti apa yang dilakoni oleh Cak Eko (lihat posting "&lt;em&gt;Luar Biasa, Cak Eko!&lt;/em&gt;"). Dalam waktu singkat --sejak Juli 2008, ia sudah mengeluarkan 2 buku (&lt;em&gt;15 Jurus Antirugi Buka Usaha Rumah Makan &lt;/em&gt;dan &lt;em&gt;"Obat" Paling Mujarab Sembuhkan Penyakit Penyebab Kebangkrutan Usaha&lt;/em&gt;), di luar buku pertamanya yang terbit tahun lalu (&lt;em&gt;Resep Paling Manjur Menjadi Karyawan Kaya Raya&lt;/em&gt;). Hebatnya, dalam waktu dekat akan segera terbit buku ke-4-nya, yang direncanakan berjudul &lt;em&gt;Kiat Menggapai Sukses dengan Modal Tekad dan Sedekah&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau juga produktivitas "gila-gilaan" seorang Arswendo Atmowiloto. Hanya dalam rentang bulan, setidaknya tercatat 5 buah novelnya diterbitkan pihak Gramedia : &lt;em&gt;Horeluya&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Blakanis&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;3 Cinta 1 Pria&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Dewi Kawi&lt;/em&gt;, dan &lt;em&gt;Mereka Memanggilku Malaikat&lt;/em&gt;. "Gila" dalam arti yang positif : luar biasa...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Rahardi pun saya nilai sangat produktif di novel belakangan ini. Setelah &lt;em&gt;Lembata&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Ritual Gunung Kemukus&lt;/em&gt;, sebentar lagi kita "dijanjikan" akan bertemu novel ketiganya : &lt;em&gt;Para Calon Presiden&lt;/em&gt;. Lagi-lagi, ck ck ck.. luar biasa....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Omong-omong tentang produktivitas, maka kita semua juga dituntut untuk produktif, di bidang kita masing-masing. Bukan begitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, apa sih sebenarnya definisi produktivitas itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Definisi sederhana dan mudah dimengerti salah satunya adalah : perbandingan antara jumlah keluaran (&lt;em&gt;performance&lt;/em&gt;) dengan energi (waktu dan tenaga) yang dikeluarkan. &lt;br /&gt;Ini definisi "singkat padat" versi KH. Toto Tasmara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan omong-omong lagi tentang produktivitas, tahukah Anda bahwa tingkat atau derajat produktivitas bisa diukur dari beberapa indikator, yang salah satunya adalah kecepatan jalan kaki per satuan waktunya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau sudah tahu, Alhamdulillah. Kalau belum, mari kita lihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasil penelitian Levine (1984), Guru Besar Psikologi dari California State University terhadap kecepatan jalan para pejalan kaki di beberapa negara menunjukkan perbandingan yang lurus dengan produktivitas manusia di negara yang bersangkutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat kata, dari enam negara sampel hasilnya adalah sebagai berikut :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;Untuk menempuh jarak 100 kaki (23,8 meter), maka manusia di :&lt;br /&gt;1. Jepang, membutuhkan waktu 20,7 detik&lt;br /&gt;2. Inggris, membutuhkan waktu 21,6 detik&lt;br /&gt;3. Amerika, membutuhkan waktu 22,5 detik&lt;br /&gt;4. Italia, membutuhkan waktu 23,6 detik&lt;br /&gt;5. Taiwan, membutuhkan waktu 24,2 detik&lt;br /&gt;6. Indonesia, membutuhkan waktu 27,2 detik.&lt;/blockquote&gt;Hmm.... &lt;br /&gt;Kesimpulannya, manusia Indonesia paling lamban (santai) dalam hal berjalan kaki. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ini bisa dibandingkan dengan tingkat produktivitas? Karena, perspektif penggunaan waktu berkorelasi dan berpengaruh kuat terhadap proses psikologis, mulai dari motivasi, emosi, spontanitas, kesiapan menempuh risiko, kreativitas dan penyelesaian persoalan. Nah lo....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak cuma itu. ada juga riset "iseng" (tapi serius kok) tentang kecepatan mengetik manual. Di Indonesia, jarang sekali yang bisa mengetik dengan jumlah hentakan sebanyak 300 hentakan per menit. Bahkan, kursus mengetik di negara kita sudah akan menyatakan "lulus" jika kemampuan mengetik kita ada di angka 120 hentakan per menit. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara, tahukah Anda berapa kecepatan mengetik para sekretaris berkebangsaan Amerika di Kedubes AS di Indonesia? Lebih dari 300 hentakan per menit, dengan tingkat kesalahan kurang dari 10 persen! Nah lo lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*** &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yakin, itu bukan masalah kaki kita lebih pendek dari orang Jepang, Inggris, Amerika, italia, atau Taiwan. Juga bukan masalah jari para sekretaris berkebangsaan Amerika itu lebih panjang atau lebih lentik dari gadis-gadis asli negeri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri sering mengalami, betapa saya harus "bersusah payah" mengikuti para pengusaha sukses (enggak peduli ia orang Cina, Jawa atau Padang), ketika melakukan survey keliling pabrik, meninjau lokasi usaha dan sebagainya. Rata-rata kecepatan jalan kaki mereka di atas rata-rata! Buktikan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inti pertama, mari kita berbesar hati jika kita masih dinilai belum atau kurang produktif. Inti kedua, yakinlah, bahwa tak ada alasan fundamental bagi kita untuk "kalah produktif" dibanding orang lain. Inti ketiga, yakini bahwa kita semua masih bisa meningkatkan derajat produktivitas kita sampai taraf optimal, atau bahkan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, kita bisa, Mas, Mbak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;F. Rahardi, Cak Eko dan Arswendo Atmowiloto sudah membuktikannya! Sekarang, giliran kita, Kawan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam semangat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://azuranime.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3016158600043690364?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3016158600043690364/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3016158600043690364' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3016158600043690364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3016158600043690364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/12/produktivitas.html' title='PRODUKTIVITAS'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STXH8Sy5GRI/AAAAAAAAAiU/OpsJpVjEmYg/s72-c/semangat+(azuranime.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5004848836183587751</id><published>2008-11-30T19:17:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.549+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>UJUNG LEMBATA MASIH DI MATA</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STKGkqIYSVI/AAAAAAAAAiM/GwToSTMsyW4/s1600-h/lembata+(image53.webshots.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 212px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STKGkqIYSVI/AAAAAAAAAiM/GwToSTMsyW4/s320/lembata+(image53.webshots.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274426077947119954" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;:: F. Rahardi &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung Lembata masih di mata&lt;br /&gt;ketika kau ajak aku menyeberang pulau bernusa&lt;br /&gt;Bahkan pun bau tanah Lewoleba&lt;br /&gt;masih tersangkut dalam bulu hidung&lt;br /&gt;yang tegak berdiri pada kedua lubang buatan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujung Lembata masih di mata&lt;br /&gt;ketika gegar Gunung Kemukus kau hadirkan&lt;br /&gt;secara tegak berdiri menutup sapuan pandang&lt;br /&gt;kedua mata hasil ciptaan-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan merasa bau badan Ola sang Luciola&lt;br /&gt;masih menempel lekat pada seringai tubuh hitamku&lt;br /&gt;Sebagaimana sosok Romo Pedro&lt;br /&gt;yang demikian kuat beriman &lt;br /&gt;dalam godaan kasih asih yang menggelora&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekuat ingat juga pada asap ikan bakarmu yang membubung&lt;br /&gt;setelah menyapa Solor, Adonara dan Ile Mandiri-mu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesiap aku malam ini manakala&lt;br /&gt;Romo Drajad menjemputku &lt;br /&gt;juga Romo Islam yang Romo Jowo itu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada selubung keinginan mereka yang lain kecuali&lt;br /&gt;sekedar untuk menggugatku&lt;br /&gt;sehanya mempertanyakanku&lt;br /&gt;karena aku telah menjadi Badrun &lt;br /&gt;dalam kisahmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;                                   &lt;em&gt;Jakarta, 301108&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Catatan : &lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebuah apresiasi untuk wawasan pandang baru dari seorang F. Rahardi. &lt;br /&gt;Agustus lalu, saya "diajak" beliau melihat Lembata di Nusa Tenggara Timur, melalui kisahnya dalam novel &lt;em&gt;Lembata&lt;/em&gt; (Lamalera, Juli 2008). Kini, saya sudah "bersama" beliau di Gunung Kemukus Jawa Tengah, membacakan halaman demi halaman dalam novel &lt;em&gt;Ritual Gunung Kemukus&lt;/em&gt; (Lamalera, November 2008). Sebuah kinerja sastra riset sekaligus sastra historis yang luar biasa menurut saya.&lt;br /&gt;Selamat, Bung! Saya tunggu &lt;em&gt;Para Calon Presiden&lt;/em&gt;-mu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : Sebuah pemandangan salah satu gunung volcano di Lembata. Diambil dari image53.webshots.com.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5004848836183587751?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5004848836183587751/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5004848836183587751' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5004848836183587751'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5004848836183587751'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/ujung-lembata-masih-di-mata.html' title='UJUNG LEMBATA MASIH DI MATA'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/STKGkqIYSVI/AAAAAAAAAiM/GwToSTMsyW4/s72-c/lembata+(image53.webshots.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5503181115395018603</id><published>2008-11-27T05:16:00.005+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.566+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>ORANG CERDAS</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3OUzD6OvI/AAAAAAAAAiE/hDSFSDITNpg/s1600-h/cerdas+(inibukuanak.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 302px; height: 302px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3OUzD6OvI/AAAAAAAAAiE/hDSFSDITNpg/s320/cerdas+(inibukuanak.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273097595420031730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari jalan-jalan ke blognya Bang Eben (&lt;em&gt;http://www.sarimatondang.blogspot.com&lt;/em&gt;), ketemulah saya dengan kata-kata Einstein yang ada dalam artikel Sang Guru Etos, Jansen Sinamo yang diposting Bang Eben.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata Einstein, &lt;strong&gt;"Orang cerdas ialah orang yang mampu membuat perkara sulit jadi mudah dipahami, sedangkan orang bodoh sebaliknya, membuat perkara mudah jadi sukar dimengerti."&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya yang pada awal memulai menulis artikel perbankan untuk UMKM di media massa dengan gaya dan bahasa yang sangat "lugu" dan "polos" (&lt;em&gt;ehm!&lt;/em&gt;) --ini sangat beda dengan tulisan-tulisan saya terdahulu di bidang politik dan sastra-- rada-rada malu, kini jadi sangat bangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, saya terinspirasi dengan Mas Safir Senduk. Tulisannya sangat membumi. Bahasanya sederhana, tanpa mengurangi inti materi yang mau disampaikan. Membaca tulisannya, seolah merasakan Mas Safir sedang "bicara" dengan saya. Dan ternyata, "gaya" seperti itu menciptakan respon yang baiknya luar biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah kecerdasan Mas Safir. Ia mampu menjelaskan sesuatu yang baru dan semula "sulit" menjadi mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua buah pesan pendek dari orang yang sama di hp saya, tadi malam (26/11/08) pukul 23:47:06 dan 23:58:46 berbunyi :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"AssWrWb.Mas Fajar,sy Budi 26th dr Probolinggo-Jatim. 1 thn yg lalu sy mmbli buku Anda "RAHASIA SUKSES NGUTANG DIBANK", saat ini sy mmbthkn dana u/ pngmbgn usaha toko&amp;sy mngajukn kredit di BRI Cab.PROB yg msh dlm proses.Sy mngucapkn trmksh yg bnyk krn dgn trik2/ilmu dr Buku Mas Fajar sy lbh mngenal prBankan."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;"Ohya Mas,slma 4 thn sy mengmbgkn usaha toko retail perlengkpn sekolah sdh mmiliki 3 otlet. Sltlh mengkti Seminar Purdie Chandra di Entrepreneur University sy Jd ikut praktekkan "BOSOL" Dan dibimbing jg dari Buku krgn Mas Fajar. Skli lg trmrh bnyk, smoga Mas &amp; keluarga sht w afiat slalu, amin3X. Budi-PROB."&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini salah satu kebahagiaan saya. Tak sedikit pembaca yang berkabar karena merasa terbantu. Tak sedikit yang berkirim sms bahkan telpon langsung untuk "konsultasi". Apa yang bisa saya berikan, Insya Allah akan saya sampaikan. Tapi tentu saja, juga tak hanya satu dua kritik --bahkan "gugatan"-- yang masuk untuk pengembangan diri saya. Untuk semuanya, saya berbahagia dan berterima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(&lt;em&gt;catatan red : mudah-mudahan tidak dianggap sebagai ketakaburan, amien&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, naskah bakal buku saya yang saat ini ada di penerbit, juga kembali menggunakan bahasa-bahasa yang ringan. Bahkan "sangat ringan". Dengan model "obrolan", apalagi. Mudah-mudahan saya bisa mentransfer sesuatu menjadi lebih mudah dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dengan itu, saya bisa tergolong sebagai bagian dari orang-orang yang cerdas... hahaha! Amien....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://inibukuanak.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5503181115395018603?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5503181115395018603/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5503181115395018603' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5503181115395018603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5503181115395018603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/orang-cerdas.html' title='ORANG CERDAS'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3OUzD6OvI/AAAAAAAAAiE/hDSFSDITNpg/s72-c/cerdas+(inibukuanak.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-3906929433372873781</id><published>2008-11-27T03:53:00.005+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.574+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>KAMBING</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3F8WJ7MWI/AAAAAAAAAh8/VdqdX-HGU-U/s1600-h/Sheep+Grazing+(bp2.blogger.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 217px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3F8WJ7MWI/AAAAAAAAAh8/VdqdX-HGU-U/s320/Sheep+Grazing+(bp2.blogger.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5273088379250749794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai dua minggu ke depan, Idul Adha. Ingat hari raya kurban, ingat kambing. Ingat sapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tengah membaca bagian awal kisah seorang Matari Anas, seorang tokoh sentral dalam novel &lt;em&gt;9 Matahari &lt;/em&gt;karya Adenita (Grasindo, 2008), ketika saya menjadi teringat akan sesuatu. Sesuatu itu juga "berbau" kambing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah Matari Anas, seorang muda yang diceritakan tinggal di pinggiran Jakarta --bahkan &lt;em&gt;pingsel&lt;/em&gt; alias pinggiran sekali-- yang sangat tinggi semangatnya untuk sekolah, namun terkendala masalah klasik : biaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pada akhirnya ia "berhasil" berkuliah, tentu itu merupakan sebuah perjuangan yang tak ringan yang musti ia lakoni. Dan itu salah satu inti dan pembelajaran dari kisah dalam novel setebal 359 halaman + xii itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat kejadian tahun 1992 dulu. Tahun di mana saya lulus SMA, dan kemudian memutuskan untuk terus sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya, Jar. Kalau kamu nggak diterima di negeri, Bapak nggak sanggup membiayai kamu di swasta. Bapak akan belikan saja kamu beberapa ekor kambing, dan jadilah gembala. &lt;em&gt;Angon&lt;/em&gt;*) sana!" kata bapak saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Deg! Meskipun seharusnya saya tidak perlu kaget, mau tak mau itu jadi beban. Saya paham kondisi keluarga, sekaligus kemampuan ekonomi orang tua waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu sebabnya, saya ambil IPC waktu itu, yang memungkinkan adanya lebih banyak pilihan fakultas dan universitas. Strateginya : dua pilihan teratas adalah pilihan ke fakultas-fakultas "berat" (terutama karena persaingannya), dan satu pilihan "ringan" sebagai pilihan ketiga. Pikir saya, kalau dua pilihan utama nggak masuk, saya optimis diterima di pilihan terakhir. Yang penting, bisa kuliah di universitas negeri. 'Daripada angon kambing di kampung?' batin saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan benar. LoA yang bicara, mungkin. Karena optimisnya di pilihan ketiga, ya pilihan terakhir itulah yang saya dapatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, akhirnya saya diijinkan kuliah, lulus 6 tahun kemudian (&lt;em&gt;hehe, saya termasuk "mapala" : mahasiswa paling lama...&lt;/em&gt;), dan akhirnya jadi pekerja seperti sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tidak bersyukur, ketika saya ingat kejadian di atas. Kenapa sih, waktu itu saya berbuat seolah hanya demi menghindari jadi gembala kambing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mencoba mencari &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;. Mencari pemakluman --bahkan pembenaran-- diri atas pilihan yang saya ambil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;Ya, karena dulu saya belum terkena virus wirausaha. &lt;em&gt;Entrepreneurship&lt;/em&gt;. Ini salah satu &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt; saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, kalau dulu saya sudah memiliki jiwa wirausaha, saya tak akan risau dengan opsi yang bapak saya berikan. Jadi gembala kambing, kenapa tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dari dua ekor kambing, bisa menjadi banyak kambing? Entah dengan dikembangbiakkan, entah dengan memeliharanya secara baik hingga menjadi besar, bernilai lebih, dijual, dibelikan "bakalan" lagi, dan seterusnya sehingga pada akhinrya saya bisa menjadi juragan kambing?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang bilang, bahwa "gaji" juragan kambing lebih kecil daripada pegawai kantoran? Ya, kalau kambingnya tak sampai sepuluh ekor. Kalau puluhan? Kalau ratusan atau bahkan ribuan? Nah lo...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika beberapa minggu lalu saya ke Pekanbaru, saya berkesempatan menengok sebuah peternakan sapi. Di sana, sapi impor dari Australia digemukkan. Sekitar 3 bulan kemudian, baru dijual, dengan harga yang tentunya memiliki margin keuntungan yang berlipat dibanding harga beli plus harga pokok pemeliharaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan siapa yang "menunggui" peternakan di hamparan 300 hektar serta berada di daerah "kampung" yang jauh dari perkotaan itu? Seorang anak muda, umurnya baru kepala dua, yang bersedia tinggal di sebuah rumah di tengah-tengah hamparan lahan peternakan dan bersedia meninggalkan glamouritas kehidupan Jakarta yang sesungguhnya bisa ia temui dan ia ikuti setiap hari!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia merasa jauh lebih berbahagia hidup di tengah sapi-sapinya daripada hidup di tengah keruwetan Jakarta. Baginya, memandang dan "bergabung" dengan ribuan sapinya, "berkotor-kotor" dengan kotoran sapi di kandang-kandang, dan mengelus badan sapi sebagaimana mengelus "seorang kekasih" dengan hayatan perasaan cinta, jauh lebih menyenangkan. Damai. Toh, ketika sekali waktu atau kapanpun ia ingin kembali ke "peradaban kota", ia tak akan mengalami kendala karena kesuksesan yang telah digenggamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Excuse&lt;/em&gt; kedua : ya, mungkin inilah jalan terbaik yang diberikan Tuhan kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho, kok seperti itu dibilang &lt;em&gt;excuse&lt;/em&gt;? Nggak bersyukur ya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan begitu. Orang mungkin memandang, bukannya sudah enak sekarang bisa jadi pegawai?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, Alhamdulillah. Saya pasti bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ketika orang merasa "cukup", menganggap apa yang dimiliki saat ini adalah "yang terbaik", maka semangat untuk bisa "lebih dan lebih", baik dari segi prestasi, perolehan nafkah, pemenuhan kebutuhan, bahkan kebutuhan ilmu, bisa menjadi sangat kecil. Karena "kepuasan" tadi. Karena merasa sudah "mapan" dan "cukup".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ini "bahaya" lho...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---&lt;br /&gt;Jadi, masih sambil membaca novel Adenita di atas, saya membayangkan. Seandainya saat itu saya memilih jadi gembala kambing, sangat bisa jadi saat ini saya tinggal di sebuah lahan peternakan yang besar, dengan ribuan kambing yang menemani keseharian saya dan keluarga, di sebuah kampung yang adem ayem, sejuk, dan hangat kekeluargaannya dengan warga desa; dengan kebutuhan primer, sekunder bahkan tersier yang dapat terpenuhi dengan kendala tak berarti, hmmm....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya tak memilih itu ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memang sebuah pilihan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, jangan pernah remehkan sebuah kesempatan. Jangan pernah lihat sebelah mata sebuah pilihan hidup. Di manapun, menjadi apapun, selama kita terus menjaga semangat untuk maju, semuanya adalah pilihan yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modernitas atau justru ke-konvensional-an gaya hidup, tinggal di kota atau di desa, bekerja dengan dasi mencekik leher setiap hari atau dengan celana pendek dan berlepotan kotoran kambing pada sepatu boot kita, tak perlu di-dikotomi-kan bahwa salah satu lebih baik. Semuanya baik, selama itu semua dilaksanakan dengan benar dan menuju ke satu tujuan utama : beribadah, bersyukur, dan demi kebahagiaan dunia akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan begitu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, hidup memang sebuah pilihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) &lt;em&gt;angon&lt;/em&gt; = menggembala&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://3.bp.blogspot.com.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-3906929433372873781?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/3906929433372873781/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=3906929433372873781' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3906929433372873781'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/3906929433372873781'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/kambing.html' title='KAMBING'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SS3F8WJ7MWI/AAAAAAAAAh8/VdqdX-HGU-U/s72-c/Sheep+Grazing+(bp2.blogger.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7675460703878533948</id><published>2008-11-20T05:52:00.005+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.577+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>DUA KALI LIPAT</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSSiTK_GbEI/AAAAAAAAAh0/-kqcaw_LeIQ/s1600-h/dua+kali+(img177.imageshack.us).gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 298px; height: 265px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSSiTK_GbEI/AAAAAAAAAh0/-kqcaw_LeIQ/s320/dua+kali+(img177.imageshack.us).gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5270515914180553794" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hati-hati dengan permulaan yang kecil, namun memiliki kemampuan membesar dua kali lipat pada tiap periodenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau lebih tepatnya, warning ini bukan berbunyi "hati-hati". Mungkin lebih tepat "jangan remehkan". So, jangan remehkan permulaan yang kecil, yang memiliki kemampuan membesar dua kali lipat tiap periodenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sebuah cerita. Seorang lulusan S2 yang lulus test kerja hanya meminta gaji sangat kecil untuk awal bekerjanya. Hanya Rp 250.000,- per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau saya dinilai bisa bekerja baik, silakan Bapak lipatduakan gaji saya untuk bulan berikutnya. Itupun tak perlu Bapak bayar setiap bulannya. Silakan Bapak bayar pada akhir tahun, ketika Bapak merasa benar-benar puas atas hasil kerja saya," kata sang calon pekerja itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak tua yang juga bos perusahaan besar itu tentu senang sekali. Ia merasa mendapat sumber daya manusia yang sangat baik, sekaligus murah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka bekerjalah si S2 itu. Hasil kerjanya memang luar biasa. Dan sesuai komitmen, tiap akhir bulan sang bos membuat keputusan, bahwa bulan depannya ia tetap diminta bekerja kembali, dengan gaji sesuai yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genaplah satu tahun si S2 bekerja. Sesuai yang diminta di awal bekerja, pada akhir tahun ia meminta haknya. Ia sodorkan sebuah "tagihan gaji" kepada sang bos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang bos, yang sedang bersantai menikmati laba tahunan terhenyak, dan bahkan melompat dari kursinya saat itu juga! Ia kaget. Syok!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu, nilai tagihan yang disodorkan anak buahnya itu? Rp 1.023.750.000,-!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, satu milyar dua puluh tiga juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah, untuk satu tahun!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau, pernahkah Anda mendengar cerita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang petani, membawa kudanya ke seorang pemasang paku tapal kuda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sang petani menanyakan ongkos pasang paku, dijawab oleh sang tukang, "Murah, Pak. Hanya Rp 1 untuk paku pertama, Rp 2 untuk paku kedua, Rp 4 untuk paku ketiga, dan seterusnya...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menganggap ongkos pasang paku itu sangat murah, si petani segera menginstruksikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pasang ke semua kaki kudaku!" kata si petani berbinar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak sampai dua jam, semuanya selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua berapa, Pak? tanya sang petani jumawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paku per kaki ada 8. Kaki kuda Bapak ada 4. Jadi semuanya ada 32 paku. Total biayanya menjadi Rp 2.147.483.648,-, Pak. Saya diskon jadi 2 milyar saja...," kata si tukang kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah? Dan si petani pun pingsan. Nggeblak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda heran? Silakan hitung pakai &lt;em&gt;microsoft excel&lt;/em&gt;. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah ingatkan di awal. Jangan remehkan sesuatu yang kecil, yang memiliki kemampuan mengganda pada tiap periodenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai bulan ke-6, gaji si karyawati dalam cerita di atas secara total baru mencapai Rp 15.750.000,-. Berarti, rata-rata perbulan Rp 2.625.000,-. Masih murah untuk ukuran kerja yang sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi lihatlah begitu menginjak bulan ke-12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula ongkos pemasangan paku tapal kuda itu. Sampai paku ke-16 --yang berarti separuh dari total paku yang akan dipasang--, nilai tagihannya baru Rp 65.535,-. Itu berarti, setara dengan Rp 4.369,- per paku. Belum tergolong mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, sampai ke paku ke-32? Wow....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lipatan atau penggandaan yang membuat segalanya melonjak tinggi memang terjadi di masa-masa akhir, ketika "nilai kita" semakin tinggi. Satu "lompatan" saja akan menciptakan keuntungan yang luar biasa tinggi, jika kita sudah memiliki "modal awal" yang baik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modal itu bisa berupa kemampuan diri, kecakapan bekerja, semangat, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bisa bayangkan, bagaimana kalau diri kita mampu melipatduakan semangat, melipatduakan kemampuan, melipatduakan kecakapan pada setiap periode tertentu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak peduli berapapun "nilai" kita di awal, maka ia akan bisa menjadi sebuah kekuatan dan kemampuan dengan nilai yang mungkin tak akan terbayangkan sebelumnya oleh kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ingat, jangan pernah kita berhenti jika apa yang kita usahakan belum maksimal. OK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam introspeksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7675460703878533948?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7675460703878533948/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7675460703878533948' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7675460703878533948'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7675460703878533948'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/dua-kali-lipat.html' title='DUA KALI LIPAT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSSiTK_GbEI/AAAAAAAAAh0/-kqcaw_LeIQ/s72-c/dua+kali+(img177.imageshack.us).gif' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-4944362348957232440</id><published>2008-11-18T04:28:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.591+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='motivasi'/><title type='text'>DAFTAR TUNDA = DAFTAR TUNGGU KEGAGALAN</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSHqg57EU6I/AAAAAAAAAhs/4Tc-dqKQl7U/s1600-h/delayed+(mastermindconsulting.files.wordpress.com).bmp"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 320px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSHqg57EU6I/AAAAAAAAAhs/4Tc-dqKQl7U/s320/delayed+(mastermindconsulting.files.wordpress.com).bmp" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269750890025472930" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa yang seringkali menghalangi kesuksesan seseorang, padahal ia sudah memiliki niat bagus sekaligus "&lt;em&gt;success blueprint&lt;/em&gt;" alias "cetak biru" gambaran sukses yang begitu baik, begitu indah, yang sudah senantiasa ia bayangkan, yang sudah senantiasa ia visualisasikan, bahkan ia afirmasikan kepada semesta?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sederhana. Yakni : "kekalahan" negosiasi dalam pikiran kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Negosiasi apa yang terjadi di pikiran kita itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini. Ketika memiliki niat dan gambaran sukses, kita sesungguhnya sudah sangat faham apa yang sesungguhnya harus kita kerjakan. Pada saat itu, pada hari itu. Namun, ketika yang disebut "kewajiban" atau "konsekuensi" dari "mimpi sukses" hari itu bukan sesuatu yang ringan untuk dilakukan, maka kehakikian sifat manusia masih saja berusaha untuk mencari langkah yang termudah. Yang ter-ringan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, negosiasi yang alot terjadi dalam pikiran ini. Kadang berdalih "mencari strategi". Padahal, seringkali usaha keras memang satu-satunya jalan yang harus ditempuh. Ujung-ujungnya, yang menjadi "juara" sejati dalam negosiasi bukan strategi A atau B, tapi justru si &lt;em&gt;procrastination&lt;/em&gt;, alias penundaan pekerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Darmadi Darmawangsa, seorang master motivasi alumnus &lt;em&gt;Massachusetts Institute of Technology &lt;/em&gt;menyebutkan, ada dua tipe penundaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pertama&lt;/em&gt;, penundaan yang mengakibatkan kita tidak pernah mengambil tindakan awal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kedua&lt;/em&gt;, penundaan yang mengakibatkan tidak terselesaikannya pekerjaan yang ingin kita selesaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mana yang lebih buruk, atau mana yang lebih baik? Saran saya, sebaiknya kita singkirkan saja pertanyaan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kesuksesan, tak ada yang lebih baik. Semuanya "buruk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu? Ya jangan menunda. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menangi negosiasi dalam pikiran kita dengan keputusan : sebuah &lt;em&gt;action&lt;/em&gt;. Masalah &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; itu berat atau ringan untuk dilakukan, itu relatif. Untuk sebuah niat, itu konsekuensi yang seringkali tidak mengenal istilah berat atau ringan. Masih ingat cerita saya tentang kesuksesan Cak Eko di bidang kepenulisan, sekaligus pembuktiannya tentang "sukses dua kuadran"? Itulah gambaran kemenangan &lt;em&gt;action&lt;/em&gt; dalam negosiasi pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat sekali lagi, bahwa penghambat kesuksesan tidak selalu berupa alasan-alasan yang "wah", seperti ketiadaan modal, minimnya pendidikan, kekurangberuntungan sebuah trah alias keturunan, kekurangan dalam hal fisik, kondisi ekonomi makro yang tidak mendukung, dan sebagainya. Seringkali, penghambat kesuksesan kita itu hanya masalah "sepele" tadi : kegemaran untuk menunda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, mari kita terus belajar dan berusaha untuk menjadi pemenang dari negosiasi pikiran, agar kita terhindar dari hambatan sukses berupa "menunda" pekerjaan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak gampang memang. Tapi yang terpenting, kita bersedia belajar. Kita mau berusaha. Sesegera mungkin minimalisir "daftar tunda" obsesi-obsesi kita. Karena "daftar tunda", sesungguhnya adalah identik dengan daftar tunggu kegagalan, yang satu demi satu akan menghampiri kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam introspeksi,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : http://mastermindconsulting.files.wordpress.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-4944362348957232440?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/4944362348957232440/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=4944362348957232440' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4944362348957232440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/4944362348957232440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/daftar-tunda-daftar-tunggu-kegagalan.html' title='DAFTAR TUNDA = DAFTAR TUNGGU KEGAGALAN'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSHqg57EU6I/AAAAAAAAAhs/4Tc-dqKQl7U/s72-c/delayed+(mastermindconsulting.files.wordpress.com).bmp' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-1273632304808508072</id><published>2008-11-17T04:30:00.010+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.618+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>KUMPULAN ORANG TANPA MASALAH</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSCfuX5YxmI/AAAAAAAAAhk/jyCpyqGBC_8/s1600-h/STEPS+(www.cvfamilycenter.org).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 214px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSCfuX5YxmI/AAAAAAAAAhk/jyCpyqGBC_8/s320/STEPS+(www.cvfamilycenter.org).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5269387183060993634" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sabtu malam, di Sukabumi, seorang kawan memberikan sebuah hadiah manis buat saya : sebuah buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, rupanya keluarga itu tahu, hadiah apa yang paling pas untuk orang seperti saya. Buku, yang pastinya akan membuat wajah saya jauh lebih bersinar, setelah sebelumnya sudah banyak bersinar karena pantulan lampu di jidat saya yang lebar. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku itu : &lt;em&gt;CHAMPION, 101 Tip Motivasi &amp; Inspirasi SUKSES Menjadi Juara Sejati&lt;/em&gt;. Segera saya buka dan baca malam itu. Apalagi pembatas bukunya sangat cantik : sebuah kartu ucapan bergambar keluarga pemberi buku, The Eriandoko's.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam temaran lampu penginapan, di antara istri dan kedua anak yang sudah terlelap dan berselimut udara dingin, saya masih membaca. Meloncat-loncat dari satu tips ke tips yang lain. Dari satu kisah inspirasi ke kisah motivasi yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu cerita yang membuat saya tersenyum. Sebuah kisah pendek dari Dr. Norman Vincent Peale. Seorang motivator dan penulis buku laris &lt;em&gt;The Power of Positive Thinking&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikisahkan, ada seorang pemuda dengan raut wajah suram datang kepada Dr. Peale. Dengan putus asa, ia memegang baju Dr. Peale dan berkata, "Mr. Peale, tolong saya. Saya tidak mampu menghadapi masalah saya, dan ini hal berat buat saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dr. Peale berkata, ia tak punya banyak waktu saat itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi, saya bisa menunjukkan kepada Anda, sebuah tempat di mana banyak orang tidak lagi memiliki masalah," kata Dr. Peale kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang pemuda segera saja bersemangat. Ia merasa sangat antusias. Kata si pemuda, "Jika Anda dapat menunjukkannya kepada saya, saya akan memberikan segala yang saya punyai untuk dapat berada di tempat itu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda mungkin tidak tertarik untuk pergi ke tempat itu. Tapi, tak apa. Saya antar Anda. Toh jaraknya hanya dua blok dari tempat ini," kata Dr. Peale kalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengantar si anak muda menuju tempat dimaksud, Dr. Peale akhirnya berhenti di sebuah kuburan umum di kota New York, dan berkata, "Di sana terbaring lebih dari 150.000 orang yang tidak lagi memiliki masalah dalam hidup ini..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang ingin segera bergabung dengan kumpulan orang-orang tanpa masalah tadi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, tidak. Atau, belum. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini memang penuh masalah. Masalah itu sendiri adalah tantangan. Keluhan dan omelan, tidak akan banyak membantu. Ia hanya bisa menjadi katarsis sesaat, sebagaimana menangis. Melegakan hati, secara jangka pendek. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk lega jangka panjang, ya hadapi dan mari kita selesaikan masalah itu. Sekaligus, buat hati kita bahagia. Toh, bahagia itu adalah pilihan. &lt;em&gt;Don't worry be happy&lt;/em&gt;, kata Bobby McFerrin yang disitir sebagai tajuk &lt;em&gt;Mario Teguh Golden Ways&lt;/em&gt; di Metro TV semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran selalu ada di depan kita. Masalah juga begitu. Cara kita menyikapinya, itulah pilihan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang perlu diingat, kekhawatiran dan masalah itu seringkali datang karena kita menuju sebuah kemajuan langkah. Perbaikan karir, misalnya. Kesuksesan usaha yang lebih besar, adalah contoh lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah pencapaian yang lebih tinggi, angin masalah dan dorongan kekhawatiran seringkali lebih kencang. So, jika kita hanya ingin terhindar dari masalah atau kekhawatiran baru, stag-lah di tempat Anda berada kini. Berhentilah. Tak usah maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya, apakah Anda merupakan salah satu orang yang tidak menghendaki kemajuan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : www.cvfamilycenter.org&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-1273632304808508072?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/1273632304808508072/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=1273632304808508072' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1273632304808508072'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/1273632304808508072'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/orang-orang-tanpa-masalah.html' title='KUMPULAN ORANG TANPA MASALAH'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SSCfuX5YxmI/AAAAAAAAAhk/jyCpyqGBC_8/s72-c/STEPS+(www.cvfamilycenter.org).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-7721202479041531149</id><published>2008-11-15T06:52:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T19:13:29.627+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>"UJI FISIK"</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SR4Una3sXbI/AAAAAAAAAhU/f96G8mvLuoU/s1600-h/P1010089.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 320px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SR4Una3sXbI/AAAAAAAAAhU/f96G8mvLuoU/s320/P1010089.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268671281530428850" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari ini, Sabtu. Libur. Sesuai rencana jauh-jauh hari, saya dan temen-temen kantor plus keluarga masing-masing sudah merencanakan untuk &lt;em&gt;refreshing&lt;/em&gt; ke Cisaat, Sukabumi. Menginap semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lhah, kondisi kesehatan kamu gimana?" Mungkin ada yang bertanya begitu pada saya. Hanya mungkin lho... hehe.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya itulah. Ya inilah. Itulah saya. Inilah aku. Kalau sudah janji, apalagi saya yang menjadi fasilitator dari semua ini, ya superndableg-nya yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ini saatnya uji nyali, eh, uji fisik. Soalnya, ketika kemarin nekat masuk, siang harinya saya terpaksa "ngungsi" sebentar dari kantor ke rumah untuk mencari pembaringan yang enak buat ngelenturin tulang yang rasanya ngilu semua, dan menjelang sore baru kembali lagi ke kantor sampai malamnya. (&lt;em&gt;Buat Bos, sorry kalo sedikit bolos! Hehe...&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toh tujuan pergi ini adalah baik. Satu, untuk refreshing semua pribadi anggota tim. Bahkan yang saya ajak bukan hanya dari tim kantor baru, tapi juga tim dari kantor lama. Kedua, ada tujuan untuk mempererat tali silaturahim antar keluarga pekerja. Karena itu pula, syarat ikut kegiatan ini adalah : mengajak keluarga! Hehe... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pingin antar anggota keluarga saling kenal, saling mengerti dan memahami sekilas aktivitas di kantor, hingga pada akhirnya justru bersama-sama mendukung pasangannya yang bekerja. Juga dengan anak-anaknya. Saya pingin mereka saling mengenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, ini juga "katarsis" bagi kantor-kantor yang kadang melupakan aspek refreshing-isme (halah, apa itu?!) untuk pekerjanya. Padahal, refreshing itu penting lho!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, bagi saya sendiri, ya sekalian uji fisik tadi. Siapa sih, yang betah sakit berlama-lama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, untuk antisipasi supaya tak kecapekan, saya ajak seorang joki setir alias driver. Saya ajak juga seorang security kantor. Siapa tahu saya perlu digotong...(hus! kagak boleh bilang begitu.... pamali!). Astagfirullah. Enggak kok. Saya ajak sang security untuk menemani bobok sang driver... (lhah, apa nggak lebih parah ini? Hehe...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya udah lah. Posting ini hanya bersifat laporan. Pelajarannya kagak ada. Mudah-mudahan sepulang dari sana, banyak hikmah positif yang bisa saya sharing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;OK? See you next!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : foto istri (baju ijo) dan adiknya sewaktu refreshing di tempat yang sama tahun lalu.&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-7721202479041531149?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/7721202479041531149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=7721202479041531149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7721202479041531149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/7721202479041531149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/uji-fisik.html' title='&quot;UJI FISIK&quot;'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SR4Una3sXbI/AAAAAAAAAhU/f96G8mvLuoU/s72-c/P1010089.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-5666345320189312804</id><published>2008-11-14T05:49:00.007+07:00</published><updated>2009-03-09T19:23:48.397+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='gado-gado'/><title type='text'>SEKEDAR KISAH TENTANG SAKIT</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SRy5B_VxLhI/AAAAAAAAAhM/o17imb3sKk0/s1600-h/bedrest+(www.cartoonstock.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 294px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SRy5B_VxLhI/AAAAAAAAAhM/o17imb3sKk0/s320/bedrest+(www.cartoonstock.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5268289107950382610" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku benar-benar sakit. Kalau aku bilang aku sakit, itu berarti aku sudah benar-benar "takluk" akan ketidakberdayaan badan ini untuk beraktivitas. Kalau cuma pusing, migrain, mual, capek, pegel, panas dingin, dan sebagainya yang bagi orang lain sudah berarti 'sakit", mungkin bagi saya itu "belum sakit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kataku pada kawan Nur Mursidi, sakitku itu lebih karena ke-superndableg-anku. Anda tahu arti "super ndableg"? Ndableg itu ngeyel, bebal, nggak mau mengerti, nggak mau nerima masukan, ehm... apa lagi ya? Pokoknya gitu deh. Super itu sendiri berarti "banget".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendek kata, pokoknya aku ngeyelan banget soal sakit. Dokter bilang bahwa aku sakit, aku merasa tidak. Tepatnya "belum". Dokter bilang aku harus istirahat, aku tetap saja ngantor. Ngeyel. Ndableg.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa tahun terakhir, setidaknya ada tiga kasus kesuperndableganku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, pada tahun 2003. Pada waktu itu, aku sudah merasa demam, panas tapi menggigil, keringat dingin selalu keluar dan pusing selama seminggu lebih. Aku nggak mau ke dokter, meski sudah dipaksa istri. Aku tetep ngantor. Waktu itu, aku masih di kantor Solo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai suatu ketika --aku masih ingat itu hari Rabu-- aku masih nekat ngantor. Kerjaan yang cukup banyak dan membutuhkan kecepatan kerja, coba kulaksanakan sebaik-baiknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam baru menunjukkan pukul 10 pagi, ketika bajuku mulai basah kuyup di dalam ruangan kantor yang ber-AC itu. Keringat dingin. Badan mulai gemetar. Bergetar. Pandangan mulai kehilangan fokus. Memudar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kawan-kawan seperjuangan (bukankah kawan-kawan sekantor sama-sama sedang berjuang menuju sebuah tujuan bersama? hehe) yang melihat aku limbung, padha berteriak, "Jar, kenapa kamu?" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berduyun mendatangiku, yang bahkan tak mampu menjawab pertanyaan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masya Allah, kamu basah kuyub begini!" &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ampun, Jar... panas banget badan kamu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, dalam sebuah gerak cepat, seorang sopir dan satpam membawaku ke mobil dinas (boleh dibayangkan seperti seorang bandit yang ketangkep security kok, hehe...), dan segera saja meluncur ke rumah sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai ke rumah sakit, masuk UGD, dan akhrinya saya ditetapkan sebagai pasien mondok rawat inap, dengan vonis diagnosa : Thypus level menengah! Ya, aku dianggap telat berobat...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walhasil, hampir dua minggu aku harus opname, masih ditambah istirahat total di rumah sehampir dua minggu juga. Genaplah satu bulan aku libur. Alhamdulillah, Tuhan masih sayang, sehingga walaupun telat berobat, aku masih diberi kesembuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian kedua, tahun 2005. Waktu itu, aku masih lajo Solo-Surabaya tiap minggu. Kantorku ada di Gresik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika aku merasa sakit. Pergilah aku ke dokter. Dokter yang juga merawatku ketika aku thypus waktu itu. Waktu itu malem Minggu. Menurutnya, sakitku cukup parah, sehingga aku diminta bed rest selama seminggu. Beliau kasih aku surat keterangan sekaligus surat untuk ijin ke kantor, sembari berpesan, "Istirahat total. Ingat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, dasar superndableg, besok malamnya, aku tetep berangkat ke Surabaya, dan tetep ngantor di Gresik. Seminggu full aku tetap masuk. Hasilnya, sakitku tak kunjung hilang. Ketika Sabtu berikutnya aku balik ke Solo, aku kembali berobat ke dokter yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum sembuh, Dok...," kataku memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter memeriksaku. "Kamu nggak bed rest ya?" tanyanya curiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malu dan tersipu, aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ini ngeyelan kok," kata dokter bersungut. Dokter ini memang sudah cukup akrab, sehingga sudah kayak bapak ke anaknya kalau ngomong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gini aja. Saya beri surat keterangan istirahat untuk seminggu lagi, tapi kamu harus benar-benar istirahat. Jika tidak, minggu depan jangan datang ke tempat saya lagi!" kata beliau tegas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah, wah.. baru kali itu aku diancam dokter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya wis, aku mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beruntung, kali itu Tuhan lebih "memihak" saya, karena meskipun saya tetep ndableg masuk kantor dan mengabaikan perintah si dokter untuk istirahat, sakitku berangsur ilang. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah tentang sakit yang terakhir ini, sebenarnya sudah dimulai sejak hari Senin. Senin itu sebenarnya aku sudah over capasity. Aku sudah nggak mampu. Super capek, dan kurang tidur akibat perjalanan darat yang kami lakukan malam hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bahkan sudah cuek tidur di kantor Senin malam itu, sampai ketika aku bangun, tinggal seorang cleaning service dan dua orang security yang piket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selasa, kondisi makin parah. Ya dasar aku, nekat. Rabu, tidak juga membaik, sampai aku  merasa nggak kuat benar-benar. Jam 11, aku undur diri. Pulang cepat. Diketawain ama bos. Ketika aku bilang, aku muntah-muntah, beliau bilang, "Hamil kali, kamu." Pas bertemu sebelum aku pulang, beliau bilang, "Anak muda kok pileren..." Hehe. Begitulah kalo bosnya gaul. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu aku langsung ke rumah sakit. Aku dicurigai antara thypus, atau demam berdarah. Bahkan malaria, karena aku baru pulang dari Sumatera. Sehingga, aku langsung diminta test darah di lab. Ya wis, aku test. Alhamdulillah, bukan itu sakitku. Hanya LED-ku yang tinggi. 19, dari yang seharusnya antara 0 - 10. Plus diagnosa Thypus BH yang positif, sementara Thypus O-nya negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diminta istirahat 3 hari ke depan. Kemarin aku sudah nggak masuk. Tapi hari ini aku mau masuk, meskipun belum sembuh bener. Aku telanjur janji untuk berkunjung ke nasabah-nasabah yang cukup besar, di Bogor dan arah Bogor sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yach, aku memang ndableg. Doakan saja aku kuat ya? Amien... &lt;br /&gt;(&lt;em&gt;Duh, dramatis bener... hehe&lt;/em&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam, &lt;br /&gt;&lt;em&gt;dengan sebuah pesan : jangan tiru aku! :)&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Fajar S Pramono&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Ilustrasi : www.cartoonstock.com&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1433350958635503180-5666345320189312804?l=fajarspramono.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://fajarspramono.blogspot.com/feeds/5666345320189312804/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1433350958635503180&amp;postID=5666345320189312804' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5666345320189312804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1433350958635503180/posts/default/5666345320189312804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://fajarspramono.blogspot.com/2008/11/sekedar-kisah-tentang-sakit.html' title='SEKEDAR KISAH TENTANG SAKIT'/><author><name>FAJAR S PRAMONO</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03981975296766526884</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SbTjk7ZO6YI/AAAAAAAAArw/Ks4uOrKx9wY/S220/fajarspramono.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SRy5B_VxLhI/AAAAAAAAAhM/o17imb3sKk0/s72-c/bedrest+(www.cartoonstock.com).jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1433350958635503180.post-708406463003297545</id><published>2008-11-12T05:09:00.006+07:00</published><updated>2009-03-09T19:23:48.399+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='perenungan'/><title type='text'>BEING OR HAVING</title><content type='html'>&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SRoMRHk4Q4I/AAAAAAAAAhE/euWtOypgF5c/s1600-h/being+(www.odyssei.com).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 239px; height: 320px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_dsNAI1Zseyo/SRoMRHk4Q4I/AAAAAAAAAhE/euWtOypgF5c/s320/being+(www.odyssei.com).jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5267536202394256258" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dari sebuah data lama milik John Naisbitt dan Patricia Aburdene yang dikutip Wandi S Brata dalam &lt;em&gt;Be Wero&lt;/em&gt;-nya (2003), terkuak kenyataan bahwa "mitos" di mana orang Barat lebih mementingkan &lt;em&gt;having&lt;/em&gt; daripada &lt;em&gt;being&lt;/em&gt; dalam bekerja adalah salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara sederhana, &lt;em&gt;having&lt;/em&gt; adalah sebuah konteks ke-materialisme-an. Keinginan untuk memiliki materi. Sementara &lt;em&gt;being&lt;/em&gt;, lebih pada keinginan berkonteks spiritual, yakni "dimanusiakan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mitos tentang orang Barat itu konon berkebalikan dengan mitosnya orang Timur. Kata si konon, orang Timur itu mementingkan &lt;em&gt;be
